
Aku berhasil menghancurkan pemukiman keempat dan ketiga. Namun, berapa goblin mencoba lari dari pengawasanku. Mereka melompati pagar-pagar tajam dan mencoba kabur ke pemukiman paling ujung. Namun, Chika dan Ravi yang mengawasi tempat itu dengan ketat langsung menghabisi goblin-goblin yang mencoba melarikan diri.
Mesin pintal di kedua tangan Chika mengeluarkan percikan listrik, di saat bersamaan benang-benang itu terurai dan Chika langsung melesat cepat ke para goblin tersebut. Ia melompat di atas mereka, kedua lengannya bergerak mengikuti pola tertentu, seketika benang-benang yang terurai bergerak dan mengikat tubuh para goblin tersebut.
Saat Chika berseru, listrik menyebar dan menyetrum para goblin itu sampai hangus. Mereka mati seketika.
Ravi mengejar gerombolan Goblin Raider yang mencoba melarikan diri ke arah hutan. Ia merentangkan kedua tangannya, angin berputar di sekelilingnya dan seketika mengangkat tubuh pemuda itu dua meter dari tanah.
Menggunakan kekuatan dorongan dari angin, Ravi melesat dengan cepat, seperti terbang. Ia sampai di jarak yang cukup, kedua tangannya di angkat ke atas dan terbentuk kumpulan angin yang memanjang dengan lengkungan seperti sabit.
Ravi melontarkan angin-angin berbentuk sabit itu. Setiap serangan dari angin sabitnya memotong-motong tubuh Goblin Raider dan hewan yang ditunggangi mereka.
Beberapa Goblin Raider tampak menunjukkan perlawanan. Mereka yang membawa panah-panah dan lembing melempari Ravi dengan senjata tersebut. Ravi bergerak gesit menghindari setiap serangan, ia mengempaskan angin di belakangnya, tubuhnya maju ke depan seketika dan Ravi menciptakan bola angin di tangannya. Ia menembakkan bola tersebut ke arah para Goblin Raider yang menyeranngya.
Bola itu memiliki inti angin hitam yang berputar, begitu mengenai salah satu goblin, bola angin itu meledak dan tercipta pusaran kecil yang menyedot semua goblin-goblin serta hewan tunggangan mereka ke dalam. Dari pusaran-pusaran tampak darah memercik. Setelah pusaran mereda, tubuh-ubuh goblin dalam keadaan terpelintir dan berdarah-darah terjatuh ke permukaan.
Ravi dan Chika mengerjakan tugas mereka dengan baik. Kini, aku menuju ke dua pemukiman goblin terakhir.
Dua pemukiman tersebut letaknya berdekatan dan tampak lebih luas dari tiga pemukiman sebelumnya. Aku harus meningkatkan kewaspadaan. Seperti yang kuduga, semakin jauh ke dalam, keberadaan Hobgoblin akan semakin bertambah banyak.
Tiba-tiba, bola-bola api memelesat dari arah menara penjaga yang terletak di sisi kanan kiri pemukiman. Aku berlari zig-zag untuk menghindari setiap serangan yang datang, lalu mengaktifkan Skill Shadow Move.
Pijakanku tiba-tiba goyah dan kepalaku terasa berat. Muncul layar peringatan dari sistem.
[Warning! Fatigue level saat ini 12%]
Aku buru-buru melirik ke bar biru di pojok kiri pandangan. Mana-ku sudah berkurang lebih dari setengah. Itu karena sejak tadi aku terus menerus menggunakan Skill Shadow Move.
“Seharusnya aku tidak hanya menaikkan stat STR atau DEX,” gumamku.
Aku menyadari bahwa ada satu stat lain yang harus dinaikkan, yaitu INT. INT memang berpengaruh terhadap besar damage yang dihasilkan oleh serangan sihir. Sementara, seranganku lebih berfokus pada fisik. Namun, skill yang berkali-kali kugunakan—Shadow Move, membutuhkan jumlah mana yang tidak sedikit. Itu sebabnya. Aku merasa harus segera menaikkan stat INT untuk menambah jumlah mana.
Aku mengeluarkan satu botol small mana potion dari Inventory dan langsung meminumnya. Bar mana mulai bertambah. Selain itu, aku juga baru menyadari kegunaan dari sebuah item di Inventory. Lucunya, item itu sudah ada di Inventory-ku sejak awal, tapi aku baru menyadari kegunaannya.
[Item: Energy Drink
Item Class: A
Type: Drink
Minuman segar rasa raspberry untuk memulihkan energi. Satu kaleng dapat menghapus efek fatigue pada tubuh sebesar 30%].
Aku langsung mengambil salah satu Energy Drink. Isi kaleng berwarna kuning dengan gambar simbol petir itu langsung habis dalam sekali teguk. Tubuhku kembali terasa fit. Pusing di kepalaku menghilang dan layar dari sistem menunjukkan penurunan pada Fatigue Level.
Mendapati kondisi tubuh kembali prima, aku pun meningkatkan kecepatan lari, lalu melompat tinggi sampai tiba di atas salah satu menara pengawas. Aku bergelantung pada pinggir atap menara, lalu mendarat di ruang pengawasan. Di sana terdapat dua Goblin Shaman. Aku langsung membunuh keduanya.
Ada satu menara lagi. Yang berjaga di atas sana adalah dua Goblin Champion dengan panah. Mereka menembakiku dari kejauhan. Aku berhasil menghindari semua serangan, lalu lompat ke menara satunya dan seketika menghabisi kedua goblin itu.
__ADS_1
Penyerang jarak jauh sudah di atasi, kini aku melompat ke tengah pemukiman. Aku mengepalkan tangan kanan, lalu meninju permukaan tanah sekuat tenaga ketika mendarat. Tanah itu retak dan hancur, menimbulkan lobang besar yang merobohkan rumah-rumah para goblin seketika.
Beberapa goblin terperosok masuk ke dalam lubang besar itu. Aku membidik posisi para goblin di sekeliling. Ketika aku merapalkan Skill Shadow Move, dalam sepersekian detik kepala-kepala para goblin itu sudah terpisah dari badan masing-masing.
Aku lompat dan keluar dari lubang yang kubuat. Beberapa Hobgoblin berlari ke arahku sambil mengerahkan senjata. Aku maju sambil menghindari setiap serangan, sesekali, aku menendang tubuh para Hobgoblin tersebut. Kadang, kulayangkan tinju yang kuat sampai mementalkan raksasa yang besarnya lima kali lipat dari tubuhku tersebut.
Grasscutter bersimbah oleh darah para Hobgoblin dan Crimson Edge tampak menyala di antara warna merah darah para monster yang mengeluarkan uap. Aku mencabut kedua senjata dari dada Hobgoblin yang terakhir kubunuh.
Tring!
[Quest: Capai lokasi pemimpin goblin (0/0)
Bunuh Hobgoblin (132/100)
Bunuh goblin jenis apa pun (256/200)
Reward: Eruption of Stamina x3, Inventory Expansion Scroll, Status Point +10 ]
[Anda telah naik level!]
[Anda telah naik level!]
[Anda telah naik level!]
[Anda memperoleh Mithril Ore x325]
Anda memperoleh Goblin Meat x367
Anda memperoleh Goblin Teeth x172
Anda memperoleh Goblin Ring x12]
[Anda memperoleh Title “Goblin Slayer”: Penggunaan Title akan menambahkan 50% damage serangan terhadap monster jenis Humanoid]
Aku mendapat title baru. Berhubung saat ini aku sedang bertarung di sarang goblin, lebih baik mengganti title-ku dengan Goblin Slayer.
Kepulan asap memerangkap pemukiman tersebut. Begitu Ravi tiba, ia menyibaknya dengan embusan angin. Tampak di tanah yang tadinya terdapat pemukiman, kini hanya ada lubang besar dan puing-puing bangunan. Aku berdiri di atas tumpukan mayat Hobgoblin, sedang membersihkan mata pisau kedua senjatanya.
Begitu melihat kehadiran keduanya, aku melompat turun dari tumpukan tubuh-tubuh tersebut dan mendarat di depan Ravi dan Chika.
“Bagaimana kondisi belakang?” tanyaku.
“Aman, kami sudah membunuh sisanya,” jawab Chika, semangat.
Aku mengangguk bangga padanya. “Baiklah, tinggal lokasi terakhir.”
Aku berbalik dan menatap pemukiman yang paling megah di ujung dataran. Pemukiman itu tampak rawan karena terletak di tepi tebing yang menjadi ujung dari dataran ini.
__ADS_1
Kami bertiga berdiri tidak jauh dari pemukiman tersebut. Tampak beberapa menara pengawas menjulang dengan beberapa Goblin Shaman dan Champion di atasnya. Lalu, suara tangisan yang samar-samar terdengar, aku yakin itu milik para manusia yang goblin-goblin ini culik.
“Dengar, aku akan masuk ke dalam, lalu membunuh para goblin yang masih tersisa,” kataku, memberi instruksi kepada Chika dan Ravi. “Kalian berdua fokus menyelamatkan para sandera dan membawa mereka keluar portal. Paham?”
Chika mengangguk, tapi Ravi tampak keberatan. Aku bisa membacanya dari perubahan raut wajah bocah itu.
“Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanyaku kepada Ravi.
“Di sarang goblin ini pasti ada bos mereka,” ucap Ravi. “Kamu akan bertarung dengannya sendiri?”
“Tentu saja.”
“Walau tidak ada jaminan menang? Aku bisa membantu!”
“Kamu bantu Chika, lindungi para sandera sampai keluar dari tempat ini,” jawabku, tegas.
“Ravi, sudahlah, dengarkan kata-kata Arka!” timpal Chika. “Aku percaya padanya, dia pasti bisa mengatasi bos para goblin itu.”
Ravi masih memandangku dengan ragu, tapi sejurus kemudian ia mengangguk.
Aku tersenyum tipis padanya. “Begitu lebih baik.”
Setelah membagi tugas, aku memutuskan untuk maju duluan. Rencananya, aku akan membuat keributan dan mengalihkan semua perhatian goblin, termasuk bos mereka. Sementara, Ravi dan Chika akan mulai membebaskan para sandera.
Rencanaku memang dangkal dan terkesan gegabah, tapi hanya ini yang bisa kulakukan.
Jarakku semakin dekat dengan sarang terakhir. Aku sudah siap, kedua tanganku menggenggam kencang Grasscutter dan Crimson Edge. setelah menggumamkan Skill Shadow Move, aku menyelinap masuk ke sarang itu dan membunuh Goblin Shaman mereka terlebih dulu.
Serangan dadakanku membuat para goblin itu terkejut. Saat para Goblin Shaman sudah dihabisi, Goblin-Goblin Champion mulai menembakiku dengan anak panah, tapi aku berhasil berkelit dan membunuh mereka.
Hobgoblin muncul dari dalam rumah-rumah beratap coklat, mereka membawa pedang dan gada. Aku menghindari hujaman serangan benda tajam tersebut, menyelinap ke belakang mereka dan memotong bagian belakang leher monster-monster itu.
Sekejap, para goblin yang tersisa berhasil kukalahkan. Kondisi aman jauh melebihi ekspetasiku. Ravi dan Chika bisa masuk dengan leluasa dan berlari menuju ke empat kurungan besar di dekat bangunan tertinggi pemukiman.
Di dalam sana ada sebelas wanita yang dikurung. Ravi langsung menghancurkan pintu kayu kurungan itu dan mengeluarkan semua orang.
Chika tampak kebingungan, beberapa saat kemudian ia berseru padaku.
“Arka, mama tidak ada disini!”
Aku terkejut. Kalau Tante Tara tidak ada di sana, jangan-jangan ia…
Aku baru akan memikirkan kemungkinan terburuk, tapi jeritan Tante Tara tiba-tiba memecah keheningan di antara kami. Aku menengadah ke atas, memandang bangunan tinggi yang kutebak adalah tempat tinggal bos suku goblin.
Mataku melotot, khawatir kalau kemungkinan terburukku benar.
Tante Tara saat ini berada di dalam cengkraman monster tersebut.
__ADS_1