Train to The Dungeon

Train to The Dungeon
Bab 30: Bobora Piguie


__ADS_3

Sementara Lisa mengumpulkan Cadaliflower, aku pun memutuskan untuk membersihkan dungeon tersebut dari monster-monster. Dimulai dari gua paling kanan, aku masuk dan membunuh setiap Pinktail Piggy yang datang. Mereka begitu mudah dibunuh, rasanya tidak terlalu menantang, tapi yang kubutuhkan saat ini efisiensi agar bisa menyelesaikan misi lebih cepat.


Selesai dengan terowongan paling ujung kanan, aku melanjutkan ke terowongan di sebelahnya. Setiap terowongan gua itu setidaknya diisi oleh 20 sampai 40 ekor Pinktail Piggy. Dengan kemampuanku yang sekarang, aku bisa membunuh setiap dari mereka hanya dengan satu serangan.


Tanpa terasa, aku sudah membersihkan semua monster sampai terowongan di gua paling ujung kiri. Namun, aku menyisakan gua ketiga untuk diselesaikan terakhir karena disana adalah lokasi bos dungeon.


Tring!


[Quest: Bunuh Pinktail Piggy (300/300)]


Bunuh Bobora Piguie (0/10)]


Aku melirik papan quest yang muncul, ternyata aku sudah menyelesaikan salah satu misi yang diberikan. Namun, bukan berarti aku akan berhenti membunuh Pinktail Piggy.


Di terowongan ketiga, keberadaan Pinktail Piggy jauh lebih banyak dibandingkan kesembilan terowongan lainnya. Aku berhasil membunuh mereka semua dan tiba di bagian dalam terowongan yang lebih lebar dan luas. Langit-langitnya sangat tinggi dan permukaannya dipenuhi rumput-rumput tegak sampai satu meter.


Kemampuan Super Sense-ku dapat merasakan keberadaan bos dungeon dari balik lubang gelap besar yang tampak seperti sarang monster.


Sepasang mata merah memancar dari kegelapan di dalam lubang itu, terdengar suara tapak kaki yang mengais-ngais tanah, seperti sedang mengambil ancang-ancang untuk berlari. Aku sudah bersiap andai ada serangan kejutan.


Seekor monster babi raksasa keluar dan maju dengan kecepatan penuh, kepalanya dilapisi oleh metal, rambut hitamnya menjuntai sampai punggung. Babi itu bertubuh gelap dengan sepasang taring mencuat dari bibir bawahnya. Ketika kepalanya menghantam dinding gua, seketika terowongan itu bergetar hebat.


Permukaan dinding itu hancur dan runtuh. Ternyata kekuatannya lumayan juga. Aku memindai monster tersebut untuk mendapatkan informasi.


Di atas kepalanya muncul nama Bobora Piguie dengan garis bar merah panjang sebagai indikator HP-nya. Namun, yang membuatku terkejut karena nama monster itu tertulis dengan warna putih. Artinya, bos dungeon itu levelnya berada jauh dibawahku.


Aku penasaran apa bisa membunuhnya dengan sekali serang.


Dari permukaan batu tempatku bertengger, aku lompat turun, beberapa meter dari keberadaan Bobora Piguie. Monster itu memutar badannya, tepat ke arahku. Ia mendengus sambil bersiap-siap untuk menerjang lagi dengan serudukan kepalanya yang mematikan.


Disertai dengan suara dengkur keras, bos dungeon berbentuk babi hutan raksasa itu memelesat ke tempatku. Aku pun mengaktifkan Shadow Move, lalu maju ke arahnya sambil mengayunkan kedua sabit di tangan.


Aku menggeser langkah kakiku sedikit ke kiri, tubuhku berlari melewati Bobora Piguie, sementara kedua tanganku memberikan luka goresan memanjang dari sisi kepala monster, bagian perut sampai pahanya.


Aku memutar tubuh dan menatap Bobora Piguie yang terus berlari ke depan. Kepala monster itu menabrak dinding lagi, tapi sejurus kemudian, Bobora Piguie lunglai dan jatuh ke samping. Ia mendengus untuk terakhir kalinya dan tidak lama kemudian mati. Mataku melihat bar HP monster itu seketika habis dalam satu serangan.


Tring!


[Quest: Bunuh Pinktail Piggy (300/300)]


Bunuh Bobora Piguie (1/10)]


Aku terkejut saat meliha pesan di layar sistem. Kukira, aku sudah berhasil mengalahkan bos dungeon dan menyelesaikan misi terakhir. Namun, masih ada sembilan Bobora Piguie di dalam dungeon ini. Tampaknya aku melewatkan sesuatu.


Aku melancarkan kembali kemampuan Super Sense, samar-samar, aku merasakan hawa keberadaan monster. Hawa itu sangat lemah, aku mungkin tidak akan menyadarinya kalau tidak mengecek ulang. Sepertinya keberadaan monster itu tertutupi oleh kehadiran Bobora Piguie raksasa tadi.


Indraku menuntun ke lubang gelap tempat monster tadi datang. Di dalam kegelapan, mataku beradaptasi dan dapat melihat keadaan dengan jelas. Telingaku menangkap suara ringkihan seperti babi. Begitu melangkah lebih dalam, aku menemukan sembilan ekor anak babi yang tengah tertidur di sarang tersebut. Di atas kepala mereka tertera nama Bobora Piguie.


Tidak tampak seperti monster, mereka seperti bayi babi hutan dengan ukuran satu meter. Wajah anak-anak babi itu tidak ganas. Mereka tertidur pulas dan tenang, mengira induknya hanya pergi keluar sesaat dari sarang dan tidak merasakan bahaya sama sekali.


Sial, kenapa aku jadi ragu. Aku harus membunuh monster-monster ini. Namun, wajah mereka yang tertidur dan tidak berdaya membuat tanganku bergetar karena ragu.

__ADS_1


Bahkan kepalaku sempat memikirkan hal konyol. “Bagaimana, kalau aku tidak usah membunuh monster-monster ini?”


Tidak bisa. Aku harus menyelesaikan misiku. Mereka memang saat ini terlihat lucu dan polos, tapi dalam beberapa bulan, anak-anak babi ini akan berubah menjadi monster besar yang ganas.


Aku menarik napas berulang kali dan menguatkan tekad. Tanpa ragu, kali ini aku membunuh anak-anak babi itu dengan cepat. Tidak ada suara yang keluar dari monster-monster tersebut karena aku langsung memenggal kepala mereka.


Tring!


[Quest: Bunuh Pinktail Piggy (300/300)]


Bunuh Bobora Piguie (10/10)


Reward: Piggy Teardrop, Pink Coat Stylish, Boar Hornet, Status Point +5]


[Anda telah naik level!]


[Anda memperoleh Fragrance Lard x369]


[Anda memperoleh Tender Meat x342]


[Anda memperoleh Bobora’s Ham x100]


[Anda memperoleh Bobora’s Head x10]


[Anda memperoleh Bobora’s Tusk x10]


Sepertinya aku banyak mendapatkan bahan makanan mentah dari membunuh monster-monster babi ini. Sebagian besar monster dungeon memiliki daging yang enak dikonsumsi, aku bisa menjual daging-daging babi ini kepada pedagang di Gedung Pengrajin nantinya.


Name: Arkana Ganendra | Level: 39


Race: Human | Job: -


Element: - | Path: -


Title: Goblin Slayer


Guild: - :


Pet: -


HP: 590 (+1050)


MP: 1140 (+500)


STR: 64 (+15) | INT: 54 (+50)


VIT: 49 | DRB: 49 (+45)


DXT: 60 (+50)


Status point: 44

__ADS_1


Seusai mengecek status di sistem, aku pun kembali ke tempat Lisa berada. Sesampai di kebun bunga Cadaliflower, aku lihat gadis itu mengepak karung yang sudah terisi penuh oleh bunga-bunga. Ia memasukkan karung besar itu ke dalam ruang penyimpanannya.


“Fiuh, selesai!” ucap Lisa, wajahnya tampak puas.


Ia menepuk tangannya untuk membersihkan tanah dan debu yang menempel. Matanya tidak sengaja melihatku yang baru datang dari arah terowongan.


“Arka? Sudah selesai?” tanyanya, tampak terkejut.


“Bos dungeon sudah kukalahkan,” kataku. “Bagaimana dengan pekerjaanmu?


Lisa menganga, tapi ia buru-buru mengendalikan dirinya. “Ehem, tugasku juga sudah selesai.”


Aku tersenyum. “Baguslah, ayo, kita kembali sekarang ke stasiun.”


Lisa mengangguk menurut dan mengikutiku berjalan sampai kembali ke stasiun dungeon. Kami pun naik ke DRT. Melalui intercom yang terpasang di gerbong, aku mengabari pihak operator kereta agar memberangkatkan kereta.


Biasanya, pekerjaan ini dilakukan oleh perwakilan Asosiasi Hunter. Namun, karena Denis melarang perwakilan Asosiasi Hunter ikut, jadinya aku yang melakukanya. Denis melarang Asosiasi Hunter ikut juga karena permintaan dariku—untuk menjaga rahasia kemamapuan yang kumiliki.


Kereta mengumumkan keberangkatan. Pintu gerbong tertutup dan benda tersebut mulai bergerak perlahan meninggalkan dungeon.


Aku dan Lisa duduk berhadap-hadapan. Gadis itu menatapku penuh rasa ingin tahu. Aku jadi kasihan melihatnya penasaran seperti itu, jadi kuizinkan ia untuk bertanya.


Mata Lisa seketika berapi-api dan ia memberondongku dengan banyak pertanyaan.


“Kamu Hunter Peringkat berapa? Bagaimana kamu bisa mengetahui lokasi Cadaliflower dengan persis? Mengapa kamu bisa membersihkan dungeon ini sendirian, bahkan dalam waktu singkat? Apakah kamu memilih Path? Apakh—”


“Oke, cukup,” potongku. Bisa bahaya kalau tidak kuhentikan. Menjawab pertanyaan yang baru dilontarkannya pun aku bingung.


“Aku Hunter Tanpa Peringkat, aku tahu lokasi Cadaliflower karena sempat mencari tahu informasi tentang bunga itu, aku bisa membersihkan dungeon ini ya karena aku bisa, aku tidak punya path.” Aku tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan Lisa dengan jujur. Beberapa hal memang lebih baik kubiarkan menjadi misteri.


“Jawaban apa itu?” sentak Lisa, gemas. Malu-malu di wajahnya menghilang. Gadis itu tampak berubah menjadi orang yang berbeda. “Aku ingin tahu, berikan jawaban yang detail!”


Aku menggeleng. “Bukankah sudah kubilang? Tidak semua pertanyaan akan kujawab.”


Lisa menggembungkan pipinya, kesal karena jawabanku tidak memuaskannya. Aku merasa tidak enak tapi aku pun sudah memutuskan untuk tidak cerita soal sistem dan kemampuanku kepada sembarang orang.


“Jika kamu masih penasaran, silakan bertanya kepada Denis.”


“Jadi, Denis tahu semua?”


Aku berbohong lagi. “Iya, dia tahu sebagian hal tentangku.”


“Baiklah, nanti aku akan tanya ke Ketua!” Mata Lisa berbinar bahagia.


Aku merasa lelah. Menghadapi satu orang penasaran ternyata lebih menguras energi ketimbang melawan bos dungeon.


Percakapan tadi membuat perjalanan di DRT terasa lebih singkat. Begitu topik kami berakhir, kereta pun sudah sampai di Stasiun Klender. Kami berdua keluar dari gerbong dan berpisah di depan stasiun. Lisa menundukkan kepalanya berkali-kali sambil mengucapkan terimakasih.


Ia bilang berkat bantuanku, pekerjaan yang seharusnya membutuhkan tiga hari bisa diselesaikan kurang dari tiga jam.


Aku melambaikan tangan padanya sebelum masuk ke dalam taksi online. Lisa masih membalas lambaian tanganku sampai mobil yang kunaiki menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


Di perjalanan kembali ke rumah sakit, aku menghubungi Denis dan mengabarkan bahwa pekerjaanku hari itu sudah selesai.


__ADS_2