
Seminggu berlalu sejak terjadinya Outbreak, sesekali aku kembali ke rumah Tante Tara yang sudah porak poranda untuk mengambil barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Rumah itu sudah hancur, mau dibangun ulang pun harganya bisa lebih mahal daripada membeli rumah baru.
Saat ini aku berharap uang 3.5 miliar yang kudapat dari menjual Dragon’s Breath masih ada, sayangnya semua sudah kupakai untuk bayar utang. Hanya tersisa uang di ATM tidak sampai 400 juta rupiah.
Berhubung Tante Tara masih dirawat dan Chika harus kembali ke akademi, mengurus tempat tinggal kini menjadi tanggung jawabku.
Sore ini aku baru selesai membereskan barang terakhir yang bisa dibawa dari bekas rumah tersebut. Kompleks perumahan yang tadinya berisi rumah-rumah dengan desain apik kini kosong ditinggal oleh penghuninya.
Aku sempat bertemu Mang Asep tiga hari lalu. Mang Asep masih trauma. Rencananya ia akan pulang ke kampung halaman hari ini. Aku akan merindukan rasa bubur ayamnya yang legendaris itu.
Punggungku membawa tas gunung besar yang berisi barang-barang pribadiku. Barang-barang berharga seperti televisi, kulkas, komputer, semua sudah dijual. Hanya tersisa pakaian dan barang-barang kecil yang bisa dipindahkan.
Saat sampai rumah sakit, aku menurunkan barang bawaan dan menyapa Tante Tara yang sedang asik menonton televisi.
“Bagaimana keadaan Tante hari ini?” tanyaku sambil duduk di samping bangsalnya.
“Mendingan,” jawab Tante Tara. “Sudah semua, barangnya?”
“Sudah, tadi tinggal foto-foto, album, beberapa pakaian. Semua di dalam tas itu.”
Tante Tara terdiam. Ia meletakkan piring salad ke meja di sampingnya, lalu menatapku penuh keprihatinan. “Setelah Tante keluar dari sini, kita mungkin sewa apartemen dulu ya.”
Aku mengangguk menurut. Namun, di dalam hati aku ingin membelikannya sebuah rumah. Tante Tara pernah bilang kalau rumah itu peninggalan suaminya. Ia mencintai rumah itu, tapi saat tahu biaya pembangunan ulang yang mahal, ditambah lingkungan tempat tinggal yang sepi karena ditinggalkan penghuni lain, Tante Tara akhirnya merelakan rumah tersebut rata oleh tanah.
“Developer akan menggusur rumah-rumah yang sudah kosong,” cerita Tante Tara. “Kita dapat kompensasi, tapi tidak banyak.”
“Tidak cukup untuk beli rumah baru.”
“Tapi masih cukup untuk sewa apartemen,” kata Tante Tara, ia tersenyum optimis. “Arka, maaf merepotkanmu lagi, maukah kamu survey beberapa apartemen yang harganya terjangkau dengan uang tabungan Tante?”
Aku mengangguk. “Tentu saja. Aku akan mulai mencari besok.”
***
Keesokan hari, aku berencana untuk mulai mencari apartemen setelah mengerjakan Daily Quest. Misi harian itu berhasil kukerjakan kurang dari dua jam. Aku menuju ke tempat penjemputan penumpang taksi online di depan rumah sakit. Namun, saat aku sedang membuat pesanan, Denis tiba-tiba menghubungiku.
“Halo, Arka!” suara Denis terdengar dari panggilan telepon.
“Kau menelpon? Tumben.” kataku.
“Saat aku kembali ke Jakarta banyak hal yang terjadi! Aku melewatkan banyak berita. Oh iya, ini terkait hal yang mau kamu bicarakan. Aku ada waktu luang sekarang, jadi langsung mengabarimu. Kamu mau bertemu?”
Aku melirik jam di layar handphone, hari belum terlalu siang. Kurasa tidak terlalu buruk menerima ajakan Denis. “Tentu. Ayo.”
“Oke, kita bertemu di Sun-Sun Cafe ya.”
“Dimana itu?”
__ADS_1
“Kafe baru di Gedung Pengrajin,” jawab Denis.
“Aku mengerti, baiklah aku ke sana sekarang.”
Panggilan telepon kumatikan lalu mengubah arah tujuan di aplikasi taksi online. Tidak lama, kendaraan yang kupesan menjemput dan aku melaju ke kawasan Asosiasi Hunter.
***
Aku dan Denis duduk berhadapan di sebuah kafe bertema naga. Minuman yang kupesan adalah jus lemon dengan campuran rempah yang sedikit terasa pedas. Kombinasinya dengan soda menghasilkan rasa yang, secara mengejutkan, enak.
Walau tidak makan berat, aku dan Denis memesan beberapa side dish seperti kentang goreng, kroket dan bola-bola berisi daging. Suasana kafe ini enak, posisinya strategis dan tidak terlalu ramai.
Kami baru selesai membicarakan tentang fenomena Outbreak yang terjadi minggu lalu. Walau media tidak memberitakannya, bahkan Asosiasi Hunter pun tidak tahu siapa yang membunuh bos para goblin (Ravi dan Chika tidak melaporkannya), tapi Denis bisa menebak itu perbuatanku.
“Darimana kamu berasumsi kalau itu aku?” ucapku sambil tersenyum miring.
“Kamu tinggal di daerah sana, bukan? Aku menduga kamu pasti berbuat sesuatu, tapi kalau ada yang bisa membersihkan sebagian besar pasukan goblin dan membunuh bosnya, aku rasa itu dirimu,” terang Denis, kata-katanya terdengar yakin.
“Bukankah masih banyak Hunter Peringkat A?”
“Tetap saja, membutuhkan banyak Hunter Peringkat A untuk membersihkan area yang terkena Outbreak, aku bicara dari pengalaman. Namun, kamu berbeda. Aku yakin dengan kemampuanmu, sendiri pun bisa.”
Aku mengangkat kedua bahu. “Baiklah, kamu benar. Itu perbuatanku.”
“Apa rumahmu baik-baik saja?”
“Rata oleh tanah. Maksudku, hari ini rata karena Developer menggusur semua bangunan yang rusak dan sudah tidak berpenghuni.”
Aku menggeleng pelan. “Entahlah, aku masih akan mencari.”
Denis menepuk tangannya. “Kamu boleh tinggal di rumahku, kalau mau.”
“Aku tinggal bersama Tante-ku, lagipula, tidak sopan menumpang di rumah orang asing.”
“Rumahku memiliki banyak kamar.”
“Tidak terima kasih, kalau kamu mau membantu, beri aku rekomendasi unit apartemen untuk menampung tiga orang dengan harga sewa bulanan terjangkau.”
“Itu sedikit sulit.” Denis yang biasanya terlihat pintar kini merengut seperti orang idiot. “Maaf, aku kurang paham harga properti.”
Aku menghela napas. “Ya sudah, kamu tidak usah ikut pusing soal itu. Lebih baik kamu dengar usulanku.”
“Oh, ini terkait hal yang mau kamu bicarakan?”
Aku mengangguk. Denis tampak antusias.
“Apa akhirnya kamu memutuskan bergabung dengan Moon Orchid?” tanya Denis.
__ADS_1
“Sayangnya, tidak.”
Wajahnya berubah kecewa.
Aku tertawa kecil. “Tenanglah, aku memang tidak mau bergabung dengan Moon Orchid, tapi hal yang ingin kubicarakan denganmu masih terkait dengan Moon Orchid.”
“Apa itu?”
“Aku akan membantu Moon Orchid mencari tumbuhan obat. Namun, ada tiga syarat yang harus kamu penuhi.”
Aku mengangkat ketiga jariku. “Pertama, aku hanya akan membantu mencari di Dungeon Tingkat 2 dan 3. Kedua, aku yang akan membunuh semua monster. Ketiga, Guild Moon Orchid harus melakukan Booking Dungeon.”
“Booking Dungeon?” Denis menyentak, kaget. Kedua tangannya menggebrak meja sampai mengalihkan perhatian beberapa pengunjung. “Kamu pikir berapa biaya untuk Booking Dungeon? Itu sangat mahal!”
Booking Dungeon adalah sistem yang dibuat oleh Asosiasi Hunter. Beberapa Guild yang cukup kaya bisa memiliki hak atas sebuah dungeon dengan membelinya dari Asosiasi Hunter. Jika Dungeon tersebut sudah dibeli, maka hanya Guild yang memiliki hak tersebut yang boleh memasukinya.
Booking Dungeon umumnya hanya dilakukan oleh Guild-Guild peringkat atas yang kaya raya. Mereka membeli hak dungeon karena biasanya ingin memburu logam mineral berharga atau untuk melatih anggota baru di guild mereka.
“Dengarkan dulu.” Aku berusaha menenangkan Denis. “Kamu cukup melakukan Booking Dungeon yang mendatangkan keuntungan.”
“Maksudnya?”
“Kamu sendiri yang bilang, bukan? Guild kalian bisa mendapatkan informasi tumbuhan berharga di dalam suatu dungeon. Artinya, kalian cukup membeli hak dungeon dengan harga sumberdaya yang lebih mahal dari biaya membeli hak dungeon.”
Denis terdiam sesaat, ia berpikir. “Benar, memang bisa seperti itu. Masih ada selisih untung.”
“Jadi, tidak ada masalah, bukan?”
“Bagaimana dengan Hunter petarungnya, Arka? Kalau pun aku membeli hak untuk Dungeon Tingkat 2 dan 3, siapa dari Guild-ku yang bisa membersihkan monster-monster itu? Kamu lihat sendiri, aku bahkan tidak bisa bertarung.”
“Kamu benar-benar Hunter Peringkat A menyebalkan, diberi berkah Path pun tidak bisa bertarung. Aku tidak mengerti.”
“Kamu sendiri Hunter Tanpa Peringkat tapi kemampuanmu setara Hunter peringkat atas.”
Kami berdua saling menatap dalam sunyi. Canggung.
“Ehem, kembali ke topik. Aku yang akan membersihkan monster di dungeon itu.”
Denis memang tidak meragukan kemampuanku, tapi ia tampak berat memberi keputusan. Apa ia mengkhawatirkan anggotanya.
“Aku bisa melindungi anggotamu, kamu lupa apa kemampuanku?”
“Kamu Hunter dengan kemampuan penyembuh.” Sorot mata Denis berubah menjadi optimis. “Baiklah, aku percaya padamu.”
“Jadi, kamu mau menerima tiga persyaratanku?”
Denis menghela napas. “Selama syarat ketiga bisa dikondisikan, aku setuju. Kuterima tawaran darimu.”
__ADS_1
“Oke, kita sepakat.”
Aku berjabat tangan dengan Denis. Memang tidak ada perjanjian tertulis, tapi aku tahu bisa mempercayainya.