Train to The Dungeon

Train to The Dungeon
Bab 25: Penghabisan Terakhir


__ADS_3

Jantungku berdebar, napasku terasa putus-putus karena mengatasi rasa syok. Kepalaku dipenuhi suara pesan-pesan dari sistem. Layar-layar berwarna biru setengah transparan bermunculan di depanku.


[Warning! Fatigue Level meningkat 70%]


[Warning! Durability Nightshade’s Mantel menurun 43%]


Celaka, armorku rusak hanya dalam satu serangannya. Ditambah rasa sakit luar biasa yang mendera tubuhku. Buru-buru kuaktifkan kemampuan pasif Pain Absorber untuk menghilangkan rasa sakit. Lalu kutambah dengan kemampuan Heal untuk memulihkan luka dan mengembalikan bar HP yang tadi tersisa 13%.


Aku bangkit dan menatap Ogre yang tersenyum meremehkanku. Aku harus tenang, menahan diri agar tidak terprovokasi olehnya. Maju secara gegabah hanya akan membuat tubuhku terluka kembali. Lukaku memang bisa disembuhkan, tapi kalau armorku sampai hancur, durability yang diberikan armor akan berkurang drastis.


Menggunakan dua armor saja damage Ogre sudah sangat mengerikan, apalagi jika aku bertarung tanpa menggunakan armor.


Ogre itu kembali maju menyerang, kecepatannya sungguh di luar jangkauanku. Kemana pun aku melompat untuk menghindar, dia berhasil menyusulkan dalam sekejap. Tangannya mengayunkan kapak berkali-kali, aku mati-matian berkelit untuk menghindar. Namun, ia sudah menyiapkan serangan susulan dengan tinju atau tendangan.


Aku tidak bisa menghindari serangan lanjutannya dan sering terkena pukulan. Tubuhku terpelanting keras ke rumput. Mulutku memuntahkan darah.


“Heal!” seruku.


Cahaya hijau bersinar di sekujur tubuh, bar HP-ku kembali terisi. Walau aku bisa bertahan dari serangan Ogre, staminaku mulai habis sedikit demi sedikit. Fatigue level akan terus meningkat seiring dengan terkurasnya mana yang kupakai.


Ogre itu berteriak lantang, tubuhnya mengeluarkan aura merah yang menambah daya hancur serangan dan kecepatannya. Ia lompat ke udara sambil mengangkat kapak dengan kedua lengannya. Sekonyong-konyong, ia menghantamkan kapak itu ke tempatku tadi berpijak.


Diikuti oleh benturan dahsyat, dataran tanah itu seketika hancur menjadi lubang besar yang dialiri lelehan lava. Kapak Ogre itu tampak diselimuti aura berwarna hitam. Aku dapat merasakan tekanan energi besar dari monster itu. Ia mengaum lalu lompat ke arahku sambil mengayunkan kapak lagi.


Aku buru-buru menghindar, tapi Ogre itu dengan tangkas mendarat lalu mengubah haluan serangannya. Ia mengejarku dengan cepat dan mengayunkan kapak itu tepat ke arah leherku.


“Shadow Move!” aku menyerukan skill lagi.


Tubuhku seketika menghilang, lalu muncul di tempat lain. Ogre itu mengikuti arah gerakku dan mengulangi serangan yang sama. Aku menggunakan Shadow Move lagi untuk menghindar dan berhasil selamat dari sabetan kapak Ogre.


Napasku terasa berat dan pandanganku mulai berbayang. Kulihat layar sistem memberi peringatan kenaikan Fatigue Level mencapi 82%.


“Sial, kalau aku mengandalkan Shadow Move untuk menghindar, aku akan kehabisan mana bahkan sebelum sempat menyerang.”


Aku memanfaatkan jeda waktu yang sempit untuk memikirkan cara bertarung dengan monster ini. Dari segi status kekuatan, aku jelas jauh berada di bawah Ogre itu. Namun, aku ingat masih memiliki beberapa status poin. Kurasa, aku akan menggunakannya sekarang.


Setelah menganalisis beberapa kekurangan dalam diri, aku pun memberi perintah pada sistem untuk menambahkan status poin pada atributku.


“Tambahkan 10 poin untuk STR, 15 point untuk INT, 10 point untuk VIT dan 10 point untuk DRB!” perintahku pada sistem.


Tring!


Name: Arkana Ganendra | Level: 35


Race: Human | Job: -


Element: - | Path: -


Title: Goblin Slayer


Guild: - :


Pet: -


HP: 550 (+350)


MP: 600


STR: 60 (+15) | INT: 50

__ADS_1


VIT: 45 | DRB: 45 (+15)


DXT: 56


Status point: 12


Aku melihat bar HP dan bar mana ku bertambah panjang, tapi aku harus segera mengisi ulang bar mana yang hampir kosong tersebut untuk mengurangi Fatigue Level yang semakin mendekati 100%.


Tanganku dengan gesit mengeluarkan satu botol mana potion ukuran sedang dan menegaknya. Bar mana ku seketika terisi penuh. Lalu disusul dengan menegak Energy Drink yang seketika menurunkan Fatigue Level-ku sampai 0%.


“Fuah!” Aku menghela napas keras-keras. Kekuatan memenuhi sekujur tubuhku. Pusing dikepalaku menghilang dan kedua kakiku seperti mendapat kekuatan untuk berpijak dengan kokoh.


Aku sudah siap kembali bertarung melawan Ogre sialan itu.


Monster itu sepertinya menyadari peningkatan kekuatanku. Wajahnya terlihat tidak suka dengan hal tersebut. Ia berteriak lagi dan memelesat ke depan sambil mengayunkan kapaknya.


Kali ini, aku bisa menangkap gerakan monster itu. Aku menangkis gagang kapaknya dengan tangan kiri, lalu tangan kananku menusukkan Grasscutter di pinggangnya.


Lenganku menarik Grasscutter dengan kasar, meninggalkan luka robek memanjang di pinggang Ogre. Raksasa itu meraung dan aku langsung lompat ke belakang untuk menjaga jarak.


Kulihat bar HP Ogre berkurang sampai 30%. Mungkin ini karena pengaruh title “Goblin Slayer”, jadi damage yang kuberikan jadi sangat menyakitkan bagi tipe monster seperti Ogre.


Ogre itu meningkatkan kecepatannya, aku hampir tidak melihat arah datang serangannya. Beruntung, aku mengaktifkan Shadow Move dan bisa menghindarinya.


Benar juga, bar mana ku sudah bertambah lebih banyak. Mungkin kali ini aku bisa sedikit lebih boros menggunakan skill-skill milikku.


“Shadow Move!” aku berseru mengaktikan skill itu lagi. Kali ini bukan menghindar, aku bergerak dalam bayangan dan berhasil menyelinap ke belakang Ogre. Kecepatan dasar dari atributku ditambah oleh kecepatan dari Shadow Move membuatku bisa menyabetkan mata pisau Crimson Edge.


Normalnya, senjata ini bisa memberikan efek paralisis pada monster yang kulukai. Namun, pesan dari sistem muncul di atas kepala Ogre tersebut.


[Warning! Level monster terlalu tinggi, efek paralisis dibatalkan.]


Mau tidak mau, aku harus membunuhnya dengan cara manual. Aku mengaktifkan Shadow Move lagi dan menyerangnya secara membabi buta. Berkali-kali aku mengaktifkan skill itu untuk menghindar, lalu menyerang Ogre.


Terus seperti itu sampai batas HP Ogre tersisa 45%. Saat kukira keadaanku sudah lebih unggul darinya. Ogre itu meraung keras sampai menggetarkan tanah. Gelombang energi tidak terlihat mengempaskan tubuhku beberapa meter. Aku merunduk sambil menancapkan kedua ujung senjataku ke tanah agar tubuhku tidak terseret kekuatan gelombang.


Energi yang dahsyat menguar dari Ogre. Setelah itu, warna kulitnya berubah menjadi merah dan rambutnya bertambah panjang. Tubuhnya menjadi lebih besar dan ototnya memadat.


Tulisan “Rage Mode” muncul di bawah namanya.


Di dalam game, istilah Rage Mode biasanya untuk menggambarkan status abnormal pada bos yang sedang dilawan. Dalam status tersebut, bos akan menjadi lebih kuat dan kebal terhadap serangan tertentu.


Padahal aku sudah ngos-ngosan bertarung dengan mode normalnya. Aku tidak boleh patah semangat. Aku harus bertahan dan mengalahkannya.


“Tinggal sedikit lagi, aku pasti bi… eh?”


Aku kaget karena melihat Ogre itu tiba-tiba muncul di depanku. Kecepatan macam apa ini, aku bahkan tidak bisa melihatnya bergerak. Aku tidak siap menghindar. Lengan Ogre yang berotot itu memukul tenggorokanku. Terdengar bunyi ‘krek’ dari leherku.


Badanku langsung menghantam tanah yang ambruk seketika. Daya hancurnya mengerikan, benar-benar jauh di atas kemampuan normalnya.


[Warning! Durability Nightshade’s Mantel menurun 82%]


Satu kali lagi terkena serangannya, armor-ku akan hancur. Aku harus menghindar. Ayo berdiri! Berdiri!


Aku berusaha mengangkat kepalaku, tapi berat. Bar HP-ku terus menyusut. Aku menggumamkan skill Heal, luka di leher pulih. Dalam sekejap, aku lompat dari lubang dan menghindari hantaman dari sikut Ogre tersebut.


Melihat kehancuran yang diciptakannya, aku pasti akan langsung mati kalau terkena serangan itu.


Aku tidak bisa bertarung dengan status normal seperti ini. Aku juga harus meningkatkan kemampuanku.

__ADS_1


Benar juga, item itu mungkin bisa kugunakan. Aku membuka inventory dan mengambil item bernama Eruption of Stamina. Tadi, aku sempat membaca informasi dari kegunaannya.


[Item: Eruption of Stamina


Item Class: A


Type: Potion


Ramuan yang diracik oleh Goblin Shaman untuk para goblin petarung. Dapat digunakan untuk meningkatkan semua atribut sebesar 30 dalam waktu 30 detik]


Tanpa pikir panjang, aku menegak item cairan berwarna hijau tersebut. Seketika, tubuhku merasakan energi yang meluap-luap. Untuk sementara, seluruh stat atributku meningkat drastis.


Tubuhku bergetar merasakan sensasi yang menggelitik. Adrenalin memacu seluruh organku untuk bekerja lebih keras. Ini luar biasa, perasaan antusias dan girang melanda pikiranku. Hasrat bertarungku meningkat berkali-kali lipat.


Aku tahu posisiku lebih lemah dari Ogre itu, tapi, bibirku perlahan menyugingkan senyum yang menantang monster itu. Sorot mataku memandangnya, seakan berkata, “Maju sini, monyet!”


Ogre itu meludah, ia seperti merespon isi pikiranku. Raksasa itu pun memelesat ke arahku. Kecepatannya memang berada di atasku, tapi berkat peningkatkan atribut yang drastis, aku kini dapat melihat arah geraknya.


“Shadow Move.”


Aku merapal skill, tubuku menghilang ditelan bayangan. Ogre gagal menghabisiku, sementara aku muncul di belakangnya dan menyabet punggungnya dengan kedua aritku. Ogre yang marah seketika berbalik sambil melayangkan kapaknya. Aku menggunakan Shadow Skill lagi untuk menghilang, lalu muncul di sampingnya dan menyerang lengan monster itu.


“Arrgh!” Ogre itu menggeram marah.


Aku mengambil jarak aman, bar HP Ogre saat ini tersisa 35%. Sedikit lagi, aku akan mengurangi HP nya sampai tersisa 30% lalu mengaktifkan Skill Elimination untuk penghabisan terakhir.


Aku menghela napas, siap menggunakan kemampuan Shadow Move lagi. Namun, tindakanku terhenti karena kemunculan sebuah papan sistem di hadapanku.


[Anda mendapatkan kesempatan Upgrade Skill Clairvoyane II.


Terima atau tidak?]


“Terima,” putusku tanpa ragu.


[Anda telah memperoleh Skill Pasif Super Sense].


“Aktifkan Skill Super Sense,” perintahku.


Awalnya, aku tidak merasakan perubahan apa pun saat mengaktifkan skill tersebut. Sampai saat Ogre mulai menyerang kembali, aku bisa merasakan darimana arahnya datang serangan itu. Rasanya seperti bisa memprediksi gerakan monster tersebut. Kelima indraku pun menjadi sangat sensitif.


Kulitku bisa merasakan perubahan arah angin, hidungku menangkap aroma yang jauh lebih kuat dan dalam, mataku bisa melihat sesuatu dengan lebih detail dan tajam. Termasuk Ogre, aku bisa melihat gerakannya dengan sangat jelas.


Ogre itu akan menjatuhkan serangan dari sebelah kiri, aku langsung memasang aba-aba untuk menghindar. Ketika kapak itu datang aku sudah berputar ke samping tubuhnya dan menghujamkan kedua senjataku ke punggungnya.


Ogre itu berteriak seiring dengan bar HP-nya yang berkurang sampai ke angka 27%.


Ini kesempatan emas bagiku. Setelah memasang kuda-kuda menyerang, aku mengaktifkan Skill Elimination. Pandanganku menyempit dan aku bisa melihat garis lurus memanjang ke arah leher monster itu. Seranganku tidak akan meleset.


Kakiku menderap cepat di atas rumput. Satu kesempatan ini tidak akan ku sia-siakan, kukerahkan semua tenagaku. Namun, benang itu tiba-tiba terputus. Aku kaget karena itu seharusnya jalur yang tidak bisa diputus atau dihentikan. Ogre itu tiba-tiba menoleh ke arahku. Ini jebakan, ia sudah tahu aku akan datang dari arah sini.


Namun, aku tidak bisa mundur. Aku sudah kepalang menggunakan Skill Elimination. Kemampuan Super Sense-ku mendeteksi datangnya serangan tinju dari atas.


Benar, aku masih bisa menghindar dan melanjutkan skill Elimination-ku.


Mengikuti prediksi Super Sense, aku berkelit tepat sebelum Ogre itu melayangkan pukulan. Begitu monster itu bergerak, ia tampak terkejut karena melihatku sudah berhasil menghindar duluan. Dari posisi menyamping aku lompat dan berputar di udara.


Benang pemandu dari Skill Elimination yang tadi putus kini tersambung kembali. Jaraknya lebih dekat, sehingga kali ini tidak ada yang bisa meginterupsi seranganku.


Mengerahkan segenap tenaga, aku menebas leher Ogre dengan kedua senjataku.

__ADS_1


__ADS_2