
Christin masih asik bergelung dengan selimutnya, alarm yang berbunyi nyaring sedari tadi tidak dihiraukannya.
Padahal jam sudah menunjukan pukul 07.30 pagi. Sekolah akan masuk setengah jam lagi tetapi Christin masih asik tidur.
Mendengar suara Alarm yang tidak mau diam lama-lama menganggu dirinya, Christin langsung bangun dan melihat pukul berapa sekarang.
07.30 itu waktu yang ditunjukan jamnya.
"Oh kurang setengah jam lagi masuk, telat dong gue" menatap jam Christin hanya acuh. Ia tidak akan heboh kalau dirinya akan terlambat.
Kalau terlambat ya tinggal manjet tembok belakang sekolah, ngapain di pikir ribet-ribet. Hadeh, emang santuy banget hidup si Christin.
"Oke, saatnya mandi dan siap-siap berangkat ke sekolah" melangkah kakinya menuju kamar mandi sambil bernyanyi. Seakan tidak ada beban hidup itulah Christin.
Setelah selasai siap-siap, penampilan Christin sekarang sudah sangat sempurna. Waktu menunjukan pukul 08.00. Christin tidak perduli sekarang sudah jam masuk dan ia baru berangkat dari rumah. Emang ajaib nih anak.
Melajukan mobil dengan kencang untuk menuju ke sekolah. Setelah sampai, gerbang sudah ditutup. Christin sudah tidak heran karna sudah waktunya masuk.
Ia lalu memarkirkan mobil di toko samping sekolahnya lalu menitipkan pada penjaga toko, setelah itu langsung menuju ke tembok belakang sekolah untuk melakukan aksi memanjat.
Sangat mudah bagi Christin untuk memanjat meskipun menggunakan rok pendek sekolah tanpa celana panjang dan memakai sepatu boots, itu tidak mempersulit dirinya sama sekali.
Di kehidupannya yang dulu, ia juga sering terlambat sekolah. Maka dari itu ia sudah pro dalam hal ini karna ini caranya masuk sekolah saat terlambat.
Selesai mendarat sempurna tanpa lecet, Christin tersenyum puas menatap tembok di depannya.
Christin membalikan diri lalu melangkah untuk ke kantin dulu karna ia yakin sekarang sudah ada guru mengajar.
Baru 5 langkah ia pergi tapi dihadang seorang laki-laki.
Christin menatap laki-laki didepannya bingung, ia lalu mengalihkan pandangan ke nametag siswa itu "Samuel Abraham".
Aduh, emang sial sekali ia sekarang. Samuel Ketua Osis pasti sedang patroli murid telat dan sudah dipastikan ia kena.
"Gak nyangka gue, anak manja kayak lo bisa manjat tembok belakang sekolah" Smrik Samuel sambil menatap Christin.
"Gak usah banyak bacot to the point aja, Apa hukuman gue?" menatap jengkel Samuel. Christin merutuki nasibnya yang sangat sial sekarang.
"Minta maaf sama seluruh kelas disini karna lo terlambat dan makai cara masuk sekolah dengan manjat tembok belakang, gue bakal temenin lo supaya lo gk kabur" Ucap Samuel santai.
Christin yang mendengar itu membelalakan mata tidak percaya, kalau gitu caranya harga dirinya bisa jatuh.
"Gak ada cara lain apa?" Tanya Christin dengan memelaskan wajahnya bagai kucing minta dipungut.
Melihat Christin menampilkan wajah seperti itu membuat Samuel sedikit gugup.
"Oke, kalau gak mau bersihin halaman belakang sekolah. Lo sapu tuh sampai bersih" Perintah Samuel sambil menatap Christin dengan senyum remeh, Samuel berfikir mana mungkin anak manja seperti Christin mau menyapu.
"Oke, gue bersihin halaman belakang" Ucap Christin tanpa ragu. Dibanding harga dirinya jatuh, lebih baik ia menyapu halaman belakang toh dikehidupan sebelumnya ia pandai bersih-bersih.
"Lo yakin?" Tanya Samuel dengan tatapan tak percaya.
__ADS_1
"Yakin, udah cepetan ke sana"
Christin lalu mendorong Samuel untuk menunjukan jalannya.
Saat sudah sampai di halaman belakang sekolah. Samuel langsung memberikan sapu pada Christin.
"Nih sapunya, sana bersihin" Sambil mengibaskan tangannya. Samuel memerintah Christin.
"Iya-iya, bawel banget lo" Ujar Christin menatap tidak suka Samuel.
"Gue tungguin di sini, awas aja lo sampai kabur gue tambahin hukuman lo"
Mendengarkan ucapan Samuel, Christin memeletkan lidahnya untuk mengejek. Lalu setelah itu ia menyapu untuk menyelesaikan hukuman.
Melihat Christin mengejek dirinya Samuel tersenyum tipis,ternyata gosip itu benar. Christin sudah berubah dari penampilan dan sifat, untuk gosip yang mengatakan Christin mengabaikan Robert. Ia tidak tau pasti karna ia belum melihat secara langsung.
20 menit kemudian
"Udah nih, untung gak panas cuacanya karna gue gak suka entar keringetan" Ujar Christin sambil menyodorkan sapu pada Samuel.
"Gak nyangka gue, bucin Robert bisa nyapu juga" Ejek samuel lalu mengambil sapu yang disodorkan Christin.
"Udah enggak ya" Teriak Christin di depan Samuel serta menatapnya dengan penuh permusuhan.
"Oh, biasa aja dong" Jawab Samuel dengan nada main-main lengkap dengan tatapan jahilnya.
"Udahlah, bye Ketua Osis tengil" Christin Segera melengang pergi meninggalkan Samuel.
¤¤¤¤¤¤¤
"Aish, ya kali gue ke kelas entar dihukum lagi" Gerutu Christin sepanjang langkahnya menuju ke kelas.
Sibuk mengerutu meratapi nasibnya, Christin tidak melihat ke arah depan. Dimana ada laki-laki yang sedang berdiri melihatnya.
Brukkk
"Aduh, emang apes banget nasib gue hari ini" Keluh Christin sambil mengusap jidatnya, ia lalu membenarkan topi baret yang dipakainya.
Laki-laki itu Robert melihat penampilan Christin dari atas sampai bawah.
Ia akui Christin semakin terlihat sempurna sekarang Cantik, modis, dan pintar. Tapi sangat disayangkan jika berhadapan dengannya akhlak Christin entah tercecer dimana.
"Eh Robert bangsat, gue udah gak takut ya sama lo sekarang. Ngapain lo ngehalangin jalan gue manusia bego" Christin sudah tidak perduli kalau dengan perkataannya ini semakin memupuk kebencian Robert kepada dirinya.
"Lo tau yang namanya sopan santun?" Tanya Robert dengan raut wajah datar.
"Tentu gue tau tapi kalau berhadapan sejenis manusia kaya lo, gue gak akan pakai sopan santun" Christin menyeringai meremehkan menatap Robert.
"Dasar manusia gak ada akhlak" Hardik Robert kepada Christin
"Perlu saya berikan kaca?" Christin tersenyum manis menatap Robert.
__ADS_1
Melihat senyum manis Christin, Robert entah kenapa menjadi salah fokus tapi ia harus sadar ia tidak boleh kalah.
"Lo" Tunjuk Robert pada Christin
"Why?"
"Gue pastiin lo bakal nyesel"
Robert langsung pergi meninggalkan Christin dengan muka memerah menahan amarah.
Melihat Robert seperti ini, Christin semakin tertarik untuk memainkan emosinya.
"Bye bye loser" Melambaikan tangan ke arah Robert lengkap disertai senyum meremehkan.
Mendengar perkataan Christin, Robert mengeram emosi. Lantas membalikan tubuhnya menatap Christin yang tersenyum meremehkan padanya.
Gila, itu mungkin yang difikirkan orang terhadap Christin. Menantang malaikat maut yang akan membunuh dirinya di cerita novel yang ditempatinya sekarang.
Tanpa basa basi, Robert menarik Christin membawanya entah ke mana.
"Udah gue bilang, gak usah narik tangan cewek sembarangan"
Tanpa memperdulikan perkataan Christin, Robert tetap melangkahkan kakinya.
"Robert bangsat"
"Gak ada akhlak"
"Gak tau sopan santun"
"Bego"
Ya, itulah umpatan Christin sepanjang perjalanan mereka. Robert yang mendengarnya tentu panas tapi ia tetap menahan diri.
Mengetahui jalan yang Robert bawa menuju Rooftop, tempat basecamp Phoenix membuat ia menelan ludah.
Ia berfikir, bagaimana kalau Robert akan menghajarnya disana berserta geng phoenix lain yang kebetulan ada di sana atau Robert tanpa basa basi akan membunuhnya. Astaga ajalnya sudah dekat sekali ternyata.
Kabur dari Robert pun kemungkinannya sangat kecil karna ia sudah berada di depan pintu Rooftop. Tinggal Robert membuka pintu itu saja, ajal Christin mungkin sudah menanti.
Robert membuka pintu Rooftop lalu menarik Christin ke dalam tapi tarikannya memberat, Robert lalu melihat ke belakang. Ternyata Christin berpegangan pada pinggiran pintu.
Robert menatap Christin datar, lalu tanpa babibu Robert melepaskan tangan Christin dipinggiran pintu. Kemudian mengangkat Christin selayaknya karung beras tanpa lupa mengunci pintu Rooftop.
Robert melangkahkan kaki menuju sofa lalu menjatuhkan Christin disana.
"Woy SAKIT" Teriak Christin sambil memlototi Robert, lalu seketika ia tersadar kalau nyawanya dalam bahaya.
Kemudian Christin berdiri berhadapan dengan Robert.
"Lo gak niat ngehajar gue disini kan atau lo mau bunuh gue?" Tanya Christin berusaha menatap Robert, pandangan ketakutan jelas tampak di sana.
__ADS_1
Robert yang melihat ekspresi ketakutan Christin menyeringai menyeramkan.