
Christin melangkahkan kakinya menuju kamar. Setelah sampai, ia langsung merebahkan diri di kasur.
Sembari menatap langit-langit atap kamar. Ia berfikir, ternyata dampak dari perubahan dirinya sangat besar.
"Aku harus mencari tau, Apa yang terjadi di balik layar? karna sudah banyak alur yang melenceng tidak seperti seharusnya" Gumam Christin, sambil memikirkan alur novel yang sangat berbeda.
Padahal ini sudah berjalan setengah alur, Seharusnya kedekatan Raina dan Robert sangat lengket. Seolah memang tidak bisa dipisahkan.
"Ah ya, Sebelum itu Aku harus mencari tau latar belakang Raina. Meskipun di novel sudah dijelaskan, Aku harus memastikannya" Christin lalu berjalan menuju ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Ia berencana untuk membeli sayur dan buah ke Supermarket.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Selesai mandi, Christin berganti baju lalu berdandan. Setelah selesai, ia keluar dari kamar.
Saat sampai di ruang tamu, langkahnya dihentikan oleh suara Varo. Kakak Christin.
"Mau kemana? Baru tadi di bilang tumben langsung pulang, eh sekarang pergi lagi" Tanya Varo dengan cerewetnya.
"Supermarket"
"Supermarket atau ke markas Phoenix nemuin Robert?" Sepertinya Varo sangat hobi membuat Christin darah tinggi.
"Serah Kak Varo, mikirnya gimana" Christin langsung melengang pergi. Terlalu malas meladeni kakaknya ini.
"Woy, dasar gak ada sopan santun. Kakak belum selesai ngomong main ditinggal aja" Sinis Varo, menatap kepergian Christin.
"Woy Christin" Teriak Varo, tidak terima diabaikan Adiknya.
Christin tidak perduli, ia tetap melengang pergi. Mengacuhkan kakaknya yang masih berteriak bak orang kesetanan.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Saat sudah sampai di supermarket, Christin berbelanja buah dan sayur. Setelah selesai, ia langsung menuju kasir untuk membayar.
"Totalnya 200 ribu Dek" Ucap kasir itu sambil menatap Christin dengan pandangan kagum.
Christin yang mendengarnya kemudian langsung membayar dengan uang pas.
"Terima kasih, ini belanjaanya" Kasir itu tersenyum sambil menyerahkan belanjaan Christin.
"Sama-Sama" Christin mengambil belanjaanya lalu keluar dari supermarket.
¤¤¤¤¤¤¤¤
Christin melajukan kendaraannya ke jalan pulang tapi ketika ditengah jalan yang sepi. Christin melihat adegan pengroyokan tujuh lawan satu, sungguh tidak seimbang.
Setelah mengamankan mobilnya Christin bersembunyi kemudian membunyikan sirine polisi di ponselnya.
Mendengar adanya sirine polisi,
tujuh Pria yang sedang memukul Pria lainnya langsung kabur.
Setelah melihat Pengroyok itu kabur, Christin menghampiri Pria yang sudah babak belur tadi.
__ADS_1
"Lo gapapa kan?" Tanya Christin sambil memperhatikan kondisi orang ini.
Sementara orang yang ditanya, terkejut dengan kehadiran Christin.
"Lo siapa? Pria ini bertanya, sambil memandang Christin intens.
"Gue Christin Queenesha Smith, orang yang udah bantuin lo dengan membunyikan sirine polisi tadi" Christin mengulurkan tangannya bermaksud untuk mengajak berkenalan. Entah kenapa, ia merasa akan beruntung jika kenal dengan orang ini.
"Gue Richard Aldebaran" Richard membalas uluran tangan Christin.
Christin lalu tersenyum manis, sudah ia duga. Ia akan beruntung karna berkenalan dengan Richard.
Richard adalah Antagonis pria di novel "Dark Love" Dimana peran Richard sangat rapi dengan membalaskan perlakuan Christin pada Raina. Hingga membuat Christin Depresi tapi Christin sangat pandai menutupinya dihadapan orang-orang.
"Terima kasih udah nolongin gue" Ujar Richard dengan tulus kepada Christin.
Jujur, Christin yang mendengar itu sangatterkejut. Haruskah ia sangat bangga pada dirinya sendiri?
Seorang Richard, Pria dengan harga diri yang sangat tinggi itu. Mengucapkan terima kasih padanya sungguh sangat mengherankan.
Melihat Christin hanya menatapnya dengan sorot mata tidak percaya membuat Richard tersenyum tipis sekilas. Christin tidak menyadarinya, karna dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Hey, are you okay?" Richard menyentuh pundak Christin untuk menyadarkannya dari lamunan.
"Oh I'm okay" Ujar Christin segera tersadar dari lamunan. Setelah Richard menyentuh pundaknya.
"Sebaiknya lo ke mobil gue, biar gue obatin luka lo. Gak baik di tengah jalan begini" Tawar Chrstin sambil menatap Richard menunggu jawabannya.
"Oke, ayo ke mobil lo sekarang" Jawab Richard setuju dengan tawaran Christin, lalu ia langsung menarik tangan Christin agar berjalan bersama.
Christin yang tangannya ditarik Richard hanya mengikuti. Setelah ia memberitahu dimana letak mobilnya.
"Udah selesai" Ujar Christin dengan ceria. Ia segera merapikan kotak P3K, setelah itu meletakan kotak tadi ditempat semula.
"Lo gimana mau pulang sendiri atau gue antar?" Christin menawarkan tumpangan karna kasihan melihat Richard.
"Motor gue dirusakin mereka tadi, jadi gue bareng lo aja" Ujar Richard menjelaskan keadaannya kepada Christin.
"Oke gue anterin, lo tunjukin aja dimana arah jalan rumah lo" Christin sepertinya dalam mood yang baik sekarang, buktinya ia mau repot untuk mengantarkan Richard pulang.
"Iya terima kasih tapi gue tinggal di Apartemen"
"Oke, tunjukin aja jalan ke Apartemen lo"
Richard menganggukan kepalanya.
Richard sebenarnya bukan tipikal Pria ramah yang gampang akrab dengan orang lain. Apalagi mengucapkan terima kasih seperti yang Ia lakukan kepada Christin tadi.
Ia tipikal Pria dingin dan kejam, tapi sepertinya sekarang. Ia sangat keluar dari karakter aslinya, mungkin jasa Christin yang menolong dirinya sangat berarti bagi Richard. Maka dari itu, ia bersikap ramah pada Christin.
Christin lalu langsung melajukan mobil miliknya dengan Richard sebagai penujuk arah agar sampai di tempat tujuan.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, Christin akhirnya sampai di apartemen Richard. ia kemudian menatap bangunan di depannya.
__ADS_1
"Udah sampai Rich" Ujar Christin lalu menatap Richard di sampingnya.
Sementara yang ditatap sedang salah tingkah karna kepergok melihat Christin dari tadi.
Christin yang melihat reaksi Richard hanya tersenyum tipis.
"Lo gak turun Rich?" Tanya Christin, kasihan melihat Richard yang wajahnya memerah malu.
"iya, ini mau turun" Richard lalu turun dari mobil Christin.
"Ya udah Rich, Gue pulang dulu" Pamit Christin hendak menjalankan mobilnya, tapi tertahan dengan suara Richard.
"Bentar Chris"
"Kenapa?"
"Em, makasih udah nolong dan nganter gue" Richard lalu tersenyum kepada Christin.
Christin yang melihat Richard tersenyum padanya hanya terdiam kaku. Tidak menyangka, Pria yang dikenal dingin ini bisa tersenyum juga.
Lantas Christin segera menyadarkan diri, tidak ingin terlihat konyol.
"Iya sama-sama"
"Hati-Hati Chris" Ujar Richard dengan tulus.
Christin membalas dengan tersenyum manis, lalu langsung melajukan mobilnya menuju Mansion Smith.
¤¤¤¤¤¤¤
Saat sudah sampai di Mansion Smith, Christin langsung memarkirkan mobilnya lalu berjalan ke dalam mansion.
Saat melewati ruang tamu, ia mendengus malas melihat Varo menatap dirinya sinis.
"Katanya ke Supermarket tapi lama amat. Oh pasti mampir dulu buat nemuin Robert?" Ujar Varo dengan muka tengil andalannya.
Christin memutar bola matanya malas, ia berniat melangkah pergi. Terlalu jengah menanggapi ucapan unfaedah abangnya.
"Kalau pergi tanpa nyangkal omongan gue. Berarti iya dong lo masih cinta sama Robert. Belum bisa move on" Ujar Varo lagi ketika melihat Christin hendak pergi.
"Lo kenapa sih kak, jadi kepo gini?"
"Maka dari itu jawab pertanyaan gue, biar gue gak kepo lagi"
"Gue jawabnjuga lo gak bakal percaya" Ucap Christin sambil melihat Varo sinis.
"Biasa aja dong lihatnya" Hardik Varo tidak terima disinisi Christin.
"Makannya lo cari pacar sana, biar gak ngurusin hidup gue mulu. Dasar jomblo" Ejek Christin pada Varo tanpa lupa memeletkan lidahnya sebagai bentuk ejekan.
"Biarin gue Jomblo, asal gak Bulol aja" Varo balik mengejek Christin lengkap dengan tatapan meremehkan.
Christin hanya diam, bingung mau menjawab apa? karna Christin asli memang Bulol.
"Hahaha Diem kan lo, dasar Bulol. Bucin tolol" Ejek Varo makin menjadi, puas melihat wajah muram adiknya karna kalah debat tidak bisa membalas perkataannya.
__ADS_1
Sementara Christin cemberut, lalu menghentakan kakinya melengang pergi menuju kamar.
Meninggalkan Varo yang masih tertawa terbahak, bak orang gila