Transmigrasi Genius Girl

Transmigrasi Genius Girl
Bab 14 Si Pengancam


__ADS_3

"Richard" Beo Christin dengan tatapan bingung tertuju pada Robert.


"Iya, Richard" Ujar Robert sambil melepaskan pegangan tangannya di pundak Christin.


Mendengar Ucapan Robert, Christin tidak habis fikir bagaimana bisa Robert menyimpulkan hal sekonyol ini? Rasanya ia ingin tertawa puas mengejek Robert.


"Atas dasar apa, lo nyimpulin perubahaan gue karna Richard?" Tanya Christin sambil menahan tawanya.


"Gue tau lo dekat dengan Richard" Jawab Robert menahan kesal karna musuh bebuyutannya dekat dengan tunangannya Christin, meskipun hubungannya dengan Christin tidak harmonis.


Melihat ekspresi Robert yang tidak mengenakan membuat Christin bahagia, ingat dengan hobi Christin yaitu menyulut emosi Robert.


"Gue gak begitu dekat dengan Richard" Ujar Christin dengan nada santai.


"Cih" Decih Robert lalu menatap lekat ke arah Christin.


"Dan darimana lo tau kalau gue kenal Richard?" Tanya Christin dengan curiga, ia berfikir jika Robert mungkin memata-matainya.


Mendengar pertanyaan Christin, Robert tersenyum miring lalu melangkahkan kakinya untuk berhenti tepat dihadapan Christin.


Sedangkan Christin hanya menatap datar tingkah Robert, ia tau ini cara Robert untuk mengintimidasi dirinya. Sayang sekali ia tidak merasa terintimidasi.


"Gue ngikutin lo ke-"


"Cih, dasar penguntit" Ujar Christin memotong perkataan Robert


Sementara yang perkataannya dipotong memejamkan mata menahan emosi.


Robert menetralkan emosinya dengan menghembuskan nafas pelan, lalu membuka matanya guna menatap Christin tajam.


"Diam, jangan potong ucapan gue" Perintah Robert pada Christin sambil menujuk Christin di depan wajahnya.


Christin mendengus lalu menurunkan jari Robert yang menunjuk tepat di wajahnya.


"Ya"


"Gue ngikutin lo kemarin, jadi gue tau kalau lo deket sama Richard dilihat dari interaksi kalian yang gak canggung"


"Oh"


Mendengarkan ucapan Christin,


Robert sedikit kaget. Bagaimana Christin bisa menanggapi hal ini sesantai itu bahkan bisa dibilang terkesan tidak perduli.


"Lo tau kan kalau Sekolah kita musuhan sama Sekolah yang ditempati Richard terutama Richardnya sendiri" Ujar Robert dengan tersenyum miring.


"Tau kok dan dari ucapan lo ini, gue juga tau kalau lo yang ngirim surat ancaman ke gue" Sinis Christin menatap Robert sebal.


Robert bertepuk tangan dan tertawa renyah seolah yang dikatakan Christin adalah hal menyenangkan.


Christin hanya menatap jengah apa yang dilakukan Robert, ia tau tipikal orang seperti Robert tidak akan mudah disudutkan seperti sekarang.

__ADS_1


Menghentikan bertepuk tangan dan tawanya, ekspresi wajah Robert langsung berubah datar. "Iya gue yang ngirim ternyata lo sekarang pintar juga ya"


Melihat pergantian cepat ekspresi wajah Robert, Christin sudah tidak kaget. Ia hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Robert.


"Lo tau kalau gue sebarin foto itu, otamatis hampir semua Anak Cipta Bangsa bakal musuhin lo" Ujar Robert dengan seringai sadis.


Mendengar ancaman Robert, ia hanya tertawa geli. Tidak percaya ketua geng motor seperti Robert mengancam perempuan seperti dirinya.


Melihat Christin tertawa bukannya takut, Robert bingung apa Christin sudah tidak waras?


"Lo ngancem perempuan lemah kayak gue?" Tanya Christin sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Gue gak perduli lo perempuan atau gak karna lo dekat dengan Richard" Tekan Robert pada Christin.


Mendengar Robert yang menekan kata-katanya, Christin tau Robert sangat membenci Richard. Apapun yang berhubungan dengan Richard, Robert membencinya kecuali mama Richard.


Hubungan Robert dan Richard bisa dibilang cukup rumit untuk sekarang, mereka saling memusuhi dan mendendam satu sama lain.


Jika di alur novel dulu Raina yang ada diposisi ini, Ia disuruh Robert untuk menjauhi Richard sebelum anak Cipta Bangsa dan Geng Phoenix lainnya tau. Maka Raina langsung menurutinya karna ia bucin Robert. Apapun yang dilakukan Robert, Raina akan menyetujui dan menurutinya.


"Kebencian lo dengan Richard itu urusan pribadi lo, jangan libatin gue"


"Iya, tapi ini juga menyangkut Anak Sma Cipta Bangsa. Mereka membenci apapun yang berhubungan dengan objek kebencian mereka begitupun gue"


Mendengar perkataan Robert, Christin terkekeh meremehkan lalu menatap Robert tajam.


"Anak-anak disini itu membenci Richard karna lo" Ucap Christin dengan jari menunjuk dada Robert.


"Dan alasan kebencian siswi disini karna hampir mereka semua adalah fans lo, ketika fans lo tau lo membenci Richard maka mereka juga ikut membenci Richard"


"Jadi lo tau kan seberapa besar pengaruh gue disini, jadi gimana kalau gue sebar foto lo dengan Richard?" Ancam Robert sambil mengoyangkan ponsel miliknya yang menampikan foto Richard yang membonceng Christin dengan motor.


Christin hanya tersenyum tipis menanggapi ancaman Robert tidak ada sorot mata ketakutan disana.


"Kalau lo ngancem gue, gue juga bisa ngancem lo balik Robert" Tantang Christin sambil menatap Robert remeh.


"Apa anceman lo?" Tanya Robert penasaran, apa yang dimiliki Christin hingga bisa mengancamnya.


Christin mengambil Ponsel miliknya lalu membuka galeri di sana. Christin kemudian menujukan pada Robert foto kedekatan Robert dengan Raina.


Robert yang melihat itu, segera merampas ponsel Christin dan menghapus semua foto dirinya dan Raina di sana.


"Gue udah hapus semuanya, lo gak punya apapun buat ngancem gue lagi" Ujar Robert dengan senyum puas.


Mendengar ucapan Robert, Christin hanya tersenyum tipis.


"Lo fikir gue bodoh Robert? gue punya banyak salinan foto lo dan Raina bukan hanya di Ponsel gue" Ucap Christin dengan seringaian.


Robert mengepalkan kedua tangannya, ia lalu mencoba berfikir jernih dan ia tidak boleh terbawa emosi atau melakukan tindakan gegabah.


"Foto gue dengan Raina tadi hanya sebatas pegangan tangan, gue yang ngobatin kaki Raina, dan gue yang tertawa sama Raina. Ini bukan bukti kuat kalau gue selingkuh dari lo" Ujar Robert dengan nada yang lebih tenang.

__ADS_1


"Bukan hanya foto itu yang gue punya, gue punya foto lo pelukan sama Raina dan lo yang ciuman sama Raina. Menurut lo kalau gue beritahu keluarga gue dan lo, apa yang bakal mereka lakuin?" Tanya Christin dengan senyum manis menatap Robert.


Robert sudah tidak dapat membendung emosinya, ia mencengkram kedua pundak Christin dengan tatapan mengelap.


"Jangan main-main sama gue Chris" Gumam Robert dengan suara rendah.


Jika orang lain yang berada diposisi Christin mungkin ia sudah bergetar ketakuan menghadapi Robert di posisi seperti ini tapi ini Christin, ia tidak memperdulikan apa yang dilakukan Robert. Christin tetap melanjutakan perkataannya.


"Semua fasilitas lo bakal ditarik sama orang tua lo dan untuk orang tua gue, mereka bakal nyuruh lo buat minta maaf sama gue begitupun keluarga lo" Christin melanjutkan perkataannya, menunjukan pada Robert bahwa ia bukan perempuan lemah yang gampang diancam. Sebaliknya ia yang akan mengancam.


"Jadi kita sama-sama punya Kartu AS masing-masing Robert, jadi mari saling bungkam. Kalau lo bocorin Kartu AS gue otomatis gue bakal ngelakuin juga begitupun sebaliknya" Ujar Christin dengan senyum puas.


Robert hanya terdiam membisu, masih tidak terima ia masih belum bisa menang melawan Christin.


"Gue bisa ngehajar lo sekarang disini Chris" Ujar Robert dengan suara rendah sarat akan emosi.


"Gue rasa lo pintar Robert, jika lo ngehajar gue disini itu hanya akan semakin ngerugiin diri lo sendiri. Karna kalau keluarga gue dan lo tau, tentu lo mengerti konsekuensinya" Jawab Christin dengan santai.


"Gue gak perduli"


"Ya udah Silahkan"


Robert hanya terdiam membisu tanpa melakukan pergerakan.


Melihat Robert hanya diam, Christin menampilkan senyuman remehnya. Orang seperti Robert jika dihadapankan situasi seperti ini, tentu lebih mengutamakan akal sehat. Ia tidak akan mengambil resiko yang sudah jelas akan merugikannya.


"Gak beranikan lo, makannya gak usah sok" Ucap Christin kepada Robert, ia kemudian langsung keluar dari pintu Rooftop.


Robert yang melihat kepergian Christin dengan nafas memburu karna menahan emosi.


"Aaarghhh Sial" Teriak Robert sambil memukul dinding di sampingnya menggunakan tangan dengan kekuatan penuh.


"Darimana Christin mendapatkan foto itu?" Gumam Robert sambil menatap ke atas.


"Apa mungkin dulu Christin selalu ngintilin gue dan dia memfoto kebersamaan gue sama Raina?" Robert berfikir segala kemungkinan yang terjadi.


"Tapi buat apa Christin ngelakuin hal itu bukannya dia dulu cinta sama gue, dengan memfoto kebersamaan gue sama Raina. Itu bisa semakin menambah sakit hatinya karna foto itu bisa dilihat kapan saja" Heran Robert dengan jalan fikiran Christin.


Tapi jika memang benar seperti itu, sama saja Robert seperti senjata makan tuan. Niatnya ingin membuat Christin sakit hati, ini malah Christin memanfaatkan momen untuk membalas Robert.


"Aaarghhh sialan, kenapa sih Chris lo berubah? Perubahan lo malah nyulitin hidup gue aja" Gumam Robert frustasi.


Sementara Christin masih diam berdiri di pintu Rooftop yang sudah ia tutup.


Christin bersyukur, ia mendapatkan foto Raina dan Robert di laci meja belajar Christin yang asli. Sebenarnya Christin merasa miris pada nasib Christin yang asli, untuk apa ia memfoto kedua bajingan itu yang tentu semakin menyakiti hatinya karna rasa cintanya pada Robert.


Berfikir mungkin Christin asli akan menggunakan foto itu untuk membatalkan pertunangannya dengan Robert, tapi rasanya mustahil dilihat dari seberapa besar rasa cinta yang Christin asli miliki.


Tapi sekarang Christin berterima kasih pada Christin asli, karna berkat foto itu ia bisa membungkam mulut Robert.


Tidak ingin berlama-lama ditempat ini Christin lalu melengang pergi.

__ADS_1


__ADS_2