Transmigrasi Genius Girl

Transmigrasi Genius Girl
Bab 7 Kehancuran


__ADS_3

Christin berjalan anggun menuju ke kelasnya. Diiringi decakan kagum murid sekolah yang melihat.


Setelah sampai di kelas, kebetulan bel masuk sudah berbunyi. Chirstin mengikuti pelajaran selanjutnya, sampai waktu pulang sekolah.


Christin berjalan dengan anggun menuju ke arah parkiran. Saat melewati Geng Phoenix yang sedang nongkrong, Ia hanya mengabaikannya.


Geng Phoenix yang melihat Christin hanya diam, karna mereka tau Christin tidak akan seperti dulu yang selalu mengintili mereka.


Saat Christin hampir sampai ke mobilnya ada kejadian yang menjengkelkan. Yaitu dirinya ditabrak seseorang dan yang menabrak malah yang jatuh, sedangkan dirinya yang ditabrak masih kuat untuk berdiri.


Christin hanya menatap datar orang yang menabaraknya yang kini sedang menangis tersedu.


Siapa lagi jika bukan protagonis wanita kita. Raina Sintiya.


Kini Christin dan Raina sedang menjadi tontonan murid-murid lain yang sedang berada di parkiran. Tentu hampir semua murid menonton karna ini sudah waktu pulang sekolah jadi masih banyak yang stand by di parkiran.


"Lo masih mau tetap dibawah kayak gitu, gak ada niatan buat berdiri?" Sinis Christin karna queen drama ini waktu pulangnya jadi terhambat.


"Hiks hiks hiks, sakit Chris. Kaki aku masih sakit" Isak Raina lengkap dengan air mata yang berjatuhan.


"Ada apa ini?" Suara Robert terdengar dan ia sudah berada tepat di antara Raina dan Christin.


Orang yang menoton semakin antusias karna geng phoenix sudah datang. Semakin menarik pikir mereka.


"Bagus, Pacar brengsek lo udah datang. Bawa putri bangkai lo ini pergi, gue muak ngeladenin drama dia yang gak ada habisnya" Sinis Christin sambil melihat Raina dan Robert jengah.


Geng Phoenix dan murid lain yang mendengar ucapan Christin, menatap terperangah ke arah Christin.


"Jaga ucapan lo Chris" Peringat Robert, sambil menatap Christin dengan tajam.


"Berdiri Raina"


Raina yang mendengar ucapan Robert, segera berdiri tapi tetap memasang wajah menyedihkan.


Christin yang melihat hanya berdecih.


"Gue tanya sekarang, kenapa Raina bisa jatuh?" Ujar Robert sambil memandang Christin dan Raina dengan wajah datar.


Semua Murid yang mendengar ucapan Robert diam tidak menjawab. Tidak dipungkiri mereka juga kaget. Karna biasanya Robert langsung membully Christin jika Raina diganggu atau terluka oleh Christin.


"Christin jawab" Perintah Robert karna tidak ada yang mau membuka suranya.


Sedangkan Christin, hanya diam. Malas menjawab pertanyaan Robert karna jelas masalah ini akan semakin panjang.


"Jawab aja Chris, biar cepat clear masalahnya" Dino menyarankan Christin untuk langsung menjawab.


"Kalau kamu gak jawab gak bakal pulang-pulang nanti kita Chris" Ucap Jakson, sambil memandang Christin.


"Pacar lo yang nabrak gue, eh malah dia yang jatuh sendiri" Jawab Christin dengan muka malas.


"Benar Raina?" Tanya Robert sambil meneliti wajah Raina.


"Gak Robert, tadi Christin yang dorong aku" Raina menjawab dengan wajah yang dibuat semeyakinkan mungkin.


Christin yang mendengar tertawa sinis.


4 inti Geng Phoenix hanya memasang raut wajah datar.


Robert menyeringai sekilas.


"Gue tanya, sekarang sama lo Raina" Christin melangkah maju mendekati Raina.


Setelah berhadapan dengan Raina, Christin menyungingkan senyum sinis.


Sedangakan Raina, menundukkan kepalanya.


"Lo takut atau gak sama gue?" Tanya Christin dengan suara lantang.


Murid yang mendengar perkataan Christin semakin dibuat bingung. seharusnya Christin menampar Raina seperti dulu atau merengek pada Robert, jika memang benar bukan ia yang mendorong Raina. Lah ini, malah semakin memanaskan suasana.


Sementara Robert dan Inti phoenix hanya diam, melihat apa yang akan dilakukan Christin selanjutnya.


"I-iya, Ak-aku takut sama kamu" Jawab Raina terbata-bata, kemudian terisak menangis.

__ADS_1


"Gue rasa engak tuh" Ujar Christin dengan nada main-main.


"Hiks hiks hiks, jelas aku takut kamu Christin. Kamu selalu bully aku" Tangis Raina semakin kencang.


Sementara murid-murid semakin bingung, karna Geng Phoenix hanya diam tidak melerai mereka. Tapi ada rasa senang untuk mereka, karna tontonan ini otomatis tidak akan berakhir singkat karna tidak ada yang memisahkan.


"Apa alasan gue bully lo?"


"Karna aku dekat dan pacaran sama Robert"


"Jadi, kenapa lo masih tetap pacaran sama Robert kalau lo tau alasan gue bully lo karna Robert?" Tanya Christin dengan raut wajah puas.


Raina yang mendengarnya mati kutu, Ia bingung mau menjawab apa?


Geng Phoenix yang mendengar tidak bisa dipungkiri mereka menatap takjub ke arah Christin, karna permainan katanya yang sangat hebat. Begitupun reaksi murid yang lain.


"Why?" Tanya Christin, membuat Raina lekas tersadar.


"Karna aku cinta sama Robert" Jawab Raina dengan tegas tapi tak bisa dipungkiri dalam hatinya. Ia takut akan reaksi Robert.


"Berarti lo gak bener-bener takut sama gue, karna lo lebih milih nentang gue dengan tetap sama Robert" Jawab Christin sambil menatap Raina remeh.


"Ma-maaf Christin"


"Lo laki-laki pakai kacamata, tas biru. Sini ke hadapan gue" Panggil Christin dengan tegas.


Laki-laki yang dipanggil itu, melangkah ke arah Christin dengan tubuh gemetar ketakutan.


"Lo lihat kan kejadian waktu dia jatuh dihadapan gue?" Tanya Christin, sambil menunjuk Raina.


"iy-iya" Jawab pria kacamata dengan tubuh tetap gemetar ketakutan.


Christin yang melihat reaksi pria ini, tidak perduli. Ia hanya mau segera menyelesaikan drama ini.


"Jelasin kejadian sebenarnya, gak usah takut sama gue atau orang lain. Gue pastiin lo aman kalau lo berkata jujur" Ujar Christin dengan meyakinkan.


Pria itu melirik ke arah Robert ketakutan.


"Katakan saja yang sejujurnya" Ucap Robert, dengan raut muka datar.


"It-itu, bukan Christin yang dorong Raina, Tapi Raina yang nabrak Christin" Pria ini menjelaskan dengan raut wajah ketakutan. Karna berada di dekat Geng Phoenix.


"Oke, lo boleh pergi" Ujar Christin.


Pria kacamata segera pamit undur diri, sudah tidak kuat berada dihadapan most wanted ini.


Murid-murid yang mendengar penjelasan pria kacamata merasa kaget juga tidak menyangka. Raina ternyata tidak sebaik yang mereka kira.


"Huuuu Bisanya playing victim"


"Jijik gue sama dia"


"Iri sama Christin bilang bos, kagak usah fitnah"


"Sok tersakiti nyatanya menyakiti"


Mendengar cacian murid lain padanya, membuat Raina emosi sekaligus ketakutan.


Image yang ia bangun, hancur begitu saja karna kejadian ini.


Ia jadi semakin membenci Christin karna sudah membuatnya berada diposisi ini.


Christin lalu segera pergi menuju mobil miliknya. Ia sudah jengah menghadapi pemain novel ini.


Saat melewati Raina, Ia membisikan sesuatu


"Nikmati kehancuranmu *****"


Christin menyeringai sekilas lalu berjalan menuju mobil miliknya.


Sementara Geng Phoenix dan Raina masih berada di sana.


"Puas hancurin image lo sendiri?" Tanya Robert dengan nada sinis.

__ADS_1


"Dasarannya udah sok, mikir bakal menang lawan Christin. Nyatanya dipermaluin" Ejek Rafaell sambil menatap Raina jijik.


"Ku kira suhu ternyata cupu" Ucap Dino sambil tertawa.


"Waduh, tumben pinter sob" Rafaell mengacungkan jempol ke arah Dino.


Sedangkan Dino menatap datar ke arah Rafaell. Ia sudah terlalu lelah untuk meladeni.


"Udah Diem" Michaell memperingati, udah tau keadaan gak kondusif mereka malah berdebat.


"Ma-Maaf Robert" Ucap Raina dengan wajah menyesal.


"Image lo udah hancur, orang udah gak bakal percaya lagi"


"Aku bakal perbaiki image aku Robert"


"Sulit, kemungkinannya kecil. Orang udah nilai lo buruk" Jakson berpendapat.


"Aku bakal berusaha" kekeh Raina.


"Terserah lo"


Robert berjalan pergi bersama inti phoenix lainnya.


Meninggalkan Raina, yang menatap punggung Robert dengan tatapan menyedihkan.


¤¤¤¤¤¤¤¤


Christin sudah sampai di mansion miliknya, ia lalu memarkirkan mobilnya di Basemant. Setelah selesai Ia membuka mobilnya, lalu berjalan menuju ke arah pintu masuk utama mansion.


Christin masuk ke dalam mansion, Saat ia akan melewati ruang tamu. Ia melihat kakak Christin asli sedang duduk di sana.


"Udah pulang? Tumben gak keluyuran?" Kakak Christin bertanya dengan nada sinis.


Dia adalah Alvaro Mahendra Smith,


Pria berusia 23 tahun. Tapi sudah menjadi pengusaha karna kejeniusannya. Varo sebenarnya tidak begitu membenci Christin tapi ia kecewa pada prilaku adiknya yang makin lama makin tidak beradab.


"Lagi gak mood" Christin menjawab dengan raut wajah datar.


Melihat suguhan dimeja ada puding coklat. Christin langsung duduk dan memakan puding dengan cara berkelas.


Varo yang melihat adiknya, lagi-lagi terkejut. Tadi ia kaget dengan perubahan penampilan Christin yang sangat menawan.


Sekarang cara makan adiknya sangat berkelas. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Christin?


"Sejak kapan kamu ganti penampilan?" Tanya Varo dengan menatap Christin lekat.


Sedangkan yang ditanya, tidak menjawab. Karna masih menikmati puding coklatnya.


"Christin kalau ada orang yang bertanya itu dijawab" Varo memperingati Christin agar kelakuannya makin lama makin tidak menjadi.


Christin yang mendengar itu, kemudian menelan puding coklat yang ia makan lalu minum dengan anggun.


Lagi-lagi, Varo dibuat tertegun dengan perubahan adiknya. Bagaimana Christin bisa menjadi seanggun ini sekarang?


"Aku berubah penampilan, semenjak bangun dari koma" Christin menatap Varo dengan tatapan serius.


"Kenapa?" Varo bertanya dan menatap Christin lekat guna mengetahui jawaban adiknya nanti. Kebohongan atau kebenaran?


"Aku ingin berubah menjadi lebih baik" Jawab Christin dengan tegas tidak ada keraguan di sana.


Varo yang melihat sorot mata adiknya yang mengatakan kebenaranpun tidak dipungkiri dalam hatinya senang.


"Percuma kalau kamu masih mengajar Robert seperti perempuan yang tidak memilki harga diri" Varo menjawab dengan sinis, karna itu adalah alasan dari semua biang masalah perubahan Christin ke arah yang buruk.


"Aku udah move on dari dia" Christin menjawab dengan senyum remeh.


"Kakak gak percaya kamu udah ngejar dia selama 3 tahun. Ya gak mungkin kamu move on secepat ini" Varo menjawab dengan keyakinan yang kuat.


"Terserah kakak, Aku gak nyuruh kakak untuk percaya" Jawab Christin dengan malas lalu bangkit dari duduknya untuk berjalan menuju kamar.


Sementara Varo masih memikirkan jawaban adiknya yang penuh ketegasan dan sorot mata kebenaran itu. Masa iya Christin udah move on dari Robert secepat ini?

__ADS_1


__ADS_2