Transmigrasi Genius Girl

Transmigrasi Genius Girl
Bab 13 Intimidasi


__ADS_3

Geng Phoenix sedang nongkrong di parkiran sekolah sebelum bel masuk berbunyi.


"Eh Din, lo tau gak perbedaan lo sama matahari itu apa?" Tanya Rafaell siap-siap melancarakan aksi gombalannya.


Dino yang mendengar perkataan Rafaell memutar bola matanya malas, sudah yakin dirinya akan dijadikan objek uji coba.


"Gak" Ketus Dino, meskipun tau dijadikan percobaan tapi tetap menjawab saja kalau gak nih anak gak akan berhenti.


Rafaell yang mendengar nada ketus Dino tidak perduli tetap melanjutkan aksinya.


Sementara Robert, Michaell dan Jakson hanya menyimak. Lumayan hiburan pagi hari batin mereka.


"Kalau matahari menyinari dunia ini kalau kamu menyinari hatiku" Ujar Rafaell dengan senyum manis.


Ke empat sahabatnya hanya menatap datar Rafaell, dasar buaya sukanya cari mangsa batin mereka.


"Gimana bagus gak?" Tanya Rafaell sambil menatap sahabatnya dengan mata berbinar.


"Hmm" Jawab mereka hanya dengan deheman.


"Alah gak seru lo pada, pasti kalau gue tanya pendapat tentang gombalan gue. Kalian kalau jawab selalu cuma hmm doang" Cerocos Rafaell dengan berapi-api pertanda emosi.


Sementara ke empat sahabatnya hanya melihat acuh tidak perduli.


"Pasti nih pasti, gue udah hafal kalau kayak gini bukannya tenangin gue atau minta maaf malah acuh kalian. Dasar jahat" Rafaell lalu menatap mereka sok mengusap air mata padahal gak ada air mata yang keluar.


Dino yang melihat tingkah Rafaell hanya mengelengkan kepala, terlalu lelah dengan sikap lebay Rafaell.


"Eh buaya, ketimbang lo sok nangis gitu sono cari mangsa. Capek gue denger lo nyerocos mulu" Hardik Dino dengan tampang sinis.


Rafaell yang mendengar ucapan Dino seketika menghentikan tingkah sok tersakitinya lalu menatap Dino berbinar.


"Eh lo bener sob, ya udah gue cabut ya bye" Rafaell lalu pergi dengan tampang ceria seolah tadi tidak ada kejadian apa-apa.


Ke empat sahabatnya yang melihat kepergian Rafaell hanya menatap datar, sudah kebal dengan tingkah ajaib anak itu.


"Kelas" Ujar Robert lalu segera pergi diikuti ke tiga sahabatnya.


¤¤¤¤¤¤¤¤


Di Sepanjang perjalanan, Ketua dan Inti Phoenix minus Rafaell diiringi dengan teriakan dan tatapan kagum siswi Sma Cipta Bangsa.


"Robert makin hari makin ganteng jadi makin cinta"


"Michaell dinginmu meluluhkanku"


"Jakson lihat sini dong sayang istrimu dari tadi udah menunggu"


"Dino Jangan manis-manis beb entar pabrik gula tutup"

__ADS_1


"Eh Rafaell Playboy kesayanganku mana kok gak kelihatan"


Itulah teriakan siswi Sma Cipta Bangsa sekaligus merangkap sebagai fans Phoenix. Ya, hampir semua siswi di sini tergila-gila dengan Geng meresahkan satu ini.


Sementara yang diteriaki tetap melanjutkan jalan tidak perduli.


Tapi di tengah perjalanan, langkah mereka dihentikan oleh Raina yang berdiri ditengah jalan yang akan mereka lewati.


Otomatis mau tidak mau, mereka menghentikan langkah sambil menatap sinis Raina.


Raina yang ditatap sinis begitu menelan ludah takut tapi jika tidak seperti ini, ia tidak akan bisa bicara dengan Robert.


"Ro-Robert" Cicit Raina takut-takut memanggil Robert.


Robert yang mendengar tidak perduli, ia tetap melanjutkan langkahnya menabrak Raina yang menghalangi jalan. Diikuti ke tiga inti Phoenix yang melakukan hal sama seperti Robert.


Sementara murid yang melihat kejadian itu mencibir Raina, mereka berani karna Robert sekarang sudah tidak begitu memperdulikan Raina.


"Aduh Kasihan diabaikan"


"Makanya gak usah sok jadi orang"


"Ada orang sok polos jijik gue"


"Pergi yuk gays entar di playing victim lagi"


Raina yang mendengar cacian mereka menunduk malu, lalu langsung berlari pergi tidak kuat mendengar hinaan mereka.


¤¤¤¤¤¤¤¤


Robert yang tepat berhadapan dengan Christin menatap dengan penuh arti.


Ia langsung menarik tangan Christin dan memojokan tubuh Christin ke tembok.


Robert langsung berbisik di telinga Christin "*****" Ujar Robert lalu melihat Christin dengan tersenyum meremehkan.


Christin mengepalkan tangan emosi lalu menatap Robert tajam. "Apa maksud lo sialan" Sinis Christin tidak terima dengan perkataan Robert.


"Bukannya yang gue omongin benar hah?" Tantang Robert pada Christin makin menjadi.


3 Anggota inti yang melihat perdebataan ini bingung, bukannya Robert udah gak benci sama Christin?


Mereka masih ingat jelas kemarin sepulang sekolah Robert mencium Christin, lah sekarang berantem lagi bagai kucing dan tikus. Sebenarnya apa yang dibisikan Robert sampai membuat Christin emosi seperti ini?


"Atas dasar apa lo nilai gue kayak gitu?" Tanya Christin to the point, enggan berdebat lebih jauh.


"Lo yakin gue bilang alesannya di sini, sahabat gue bakal dengar semuanya?" Robert lalu menatap Christin intens.


"Katakan saja" Ujar Christin sambil menghendikan bahunya.

__ADS_1


Robert yang mendengar Perkataan Christin dilema, bukan tidak tega dengan Christin yang akan dimusuhi anak hampir satu sekolah jika ia dekat dengan Richard.


Tapi ia ingin dirinya sendiri yang tau jika Richard dan Christin dekat karna dengan itu ia bisa leluasa mengendalikan Christin.


Dengan ancaman akan memberitahu orang satu sekolah jika Christin dan Richard dekat otomatis Christin akan dimusuhi orang satu sekolah, ibarat ia yang memegang kartu As Christin.


Christin dan 3 inti Anggota Phoenix menatap Robert bingung, gimana tidak bingung Robert hanya diam bagai orang melamun.


Christin lalu tersenyum tipis melihat Robert, ia lalu mendekatakan wajahnya tepat di telinga Robert.


"ROBERT" Teriak Christin keras tepat di telinga Robert.


3 Inti Phoenix sampai melompat ke belakang terkejut.


Robert kaget dengan mata terbelalak dan mulut mengangga.


Rafaell yang baru datang mengelus dadanya kaget.


Sementara pelakunya hanya tersenyum manis tanpa dosa.


"Christin" Gumam Robert rendah lalu menarik tangan Christin untuk mengikuti dirinya.


Christin yang tangannya ditarik hanya bisa pasrah, percuma membrontak buang-buang tenaga karna Robert tidak akan melepaskan cekalan tangannya.


¤¤¤¤¤¤¤¤


Kini mereka berdua ada di Rooftop, jika kalian bertanya kenapa harus tempat ini?


Jawabannya adalah ini tempat paling aman agar tidak ada yang tau pembicaraan mereka nanti.


"Christin gue tanya sama lo jawab yang benar" Tekan Robert pada suaranya.


Christin yang mendengar nada penekanan Robert pada suaranya dan raut datar serta dingin itu, sudah tau ini pasti masalah serius.


"Iya, apa?" Tanya Christin sambil menatap Robert.


"Apa alasan perubahan lo?" Mendengar pertanyaan Robert, Christin memutar bola matanya malas.


"Gue pengen jadi orang yang lebih baik" Jawab Christin dengan raut wajah santai.


Mendengar jawaban Christin, Robert lalu melangkahkan kakinya ke depan kemudian berhenti tepat dihadapan Christin.


Melihat posisi Robert yang sangat dekat dihadapannya, Christin tau ini trik Robert untuk semakin mengintimidasi dirinya. Jadi ia tidak boleh lengah.


"Lo yakin itu alasan lo berubah?" Tanya Robert sambil menatap mata Christin.


"Tentu" Jawab Christin balas menatap mata Robert.


Melihat keberanian Christin membuat Robert semakin tertantang, ia lalu mencengkram pundak Christin dan berkata.

__ADS_1


"Bukan karna Richard?" Tanya Robert dengan nada menyeramkan


__ADS_2