Transmigrasi Genius Girl

Transmigrasi Genius Girl
Bab 11 Pembalasan


__ADS_3

Suasana kantin sangat tegang sekarang, dilihat dari Dua Most Wanted ini sedang bertengkar.


"Lo sadar apa yang udah lo lakuin?" Tanya Robert sambil mengepalkan tangannya emosi.


"Sadar dong, gue udah nyiram ketua Phoenix. Bangga banget gue. oh ya yang punya vidio kejadian tadi, entar bagi ke gue ya" Ujar Christin gak ada takutnya sama sekali.


Orang yang mendengar perkataan Christin hanya menggelengkan kepala mereka, salut dengan keberanian Christin tapi prihatin juga dengan nasibnya nanti.


"Christin, kamu harusnya minta maaf ke Robert bukannya malah minta vidio" Tutur Raina dengan ekspresi polos tapi di dalam kalimatnya terdapat sindiran untuk Christin.


Murid lain hanya memutar bola mata mereka malas, terlalu enek melihat tingkah Ppb ini.


"Emang salah gue apa sama Dia?"


"Kamu kan udah jegal kaki Robert sama nyiram dia"


"Sayangnya gue gak mau tuh, kan nyulut emosi Robert udah jadi kegemaran gue" Ujar Christin lalu menatap Robert dengan pandangan menantang.


Robert yang mendengarnya melangkah maju mendekati Christin lalu membisikan peringatan pada Christin.


"Tunggu pulang sekolah dan lihat apa yang terjadi pada lo nanti" Bisik Robert sarat akan ancaman.


Robert lalu menjauhkan diri dari Christin, setelah itu berjalan keluar menuju kantin diikuti antek-anteknya.


¤¤¤¤¤¤¤¤


Ketua dan inti Geng Phoenix memasuki markas mereka lalu mendudukan diri mereka di shofa.


"Eh bos, lo gapapa kan?" Tanya Dino sambil menatap Robert.


Rafaell menatap malas Dino yang menanyakan pertanyaan yang sudah pasti jawabannya.


"Eh Din, lo liat pakai mata kepala lo sendirikan tadi si bos kena siram Christin. Ya jelas dia kenapa-kenapalah" Hardik Rafaell dengan nada tidak slow.


"Ya biasa aja dong gak usah nyolot dan jangan panggil gue Din, kesannya kayak cewek" Ujar Dino tidak terima mendengar perkataan Rafaell.


Melihat Dino yang emosi, Rafaell pun semakin gencar menyulut emosi Dino lumayan bisa dijadikan hiburan.


"Din, Din, Din, Din, Din" Ejek Rafaell semakin menjadi sambil menatap Dino dengan muka jahil andalannya.


Dino yang tidak terima langsung mendekati Rafaell untuk memberikan pelajaran padanya.


Rafaell yang melihat Dino akan membalaskan dendam langsung berlari tapi Dino mengejarnya.


Setelah aksi kejar-kejaran itu, mereka pun saling meminting leher satu sama lain.


Michell dan Jakson yang melihat hanya memutar bola mata mereka malas.


"Dasar bocah" Cibir Michaell


Jakson yang melihat Robert hanya terdiam berinisiatif untuk mengajaknya bicara.


"Apa rencana lo buat balas Christin?" Tanya Jakson sambil menatap Robert, lumayan penasaran apa yang akan dilakukan Robert nanti.


"Lihat aja nanti" Balas Robert sambil menyeringai.


¤¤¤¤¤¤¤¤


Kringgg....Kringggg....Kringgg..Kringgg


Bel pulang sekolah berbunyi, para murid pun langsung menuju parkiran. Begitu juga dengan Christin bersama Diandra.


"Chris gue duluan ya, udah dijemput supir gue tuh" Pamit Diandra pada Christin sambil menujuk supirnya.


"Oke hati-hati" Ujar Christin lalu melambaikan tangan pada Diandra.


Christin lalu berjalan menuju mobilnya. Setelah sampai, ia melihat mobilnya sudah penuh dengan coretan pilok dan ban mobilnya kempes semua.


Dengan penuh emosi, Christin mengedarkan pandangan mencari pelaku. Kemudian pandangan Christin tertuju kepada geng Phoenix, Christin lalu menetralkan emosinya melihat Robert yang sedang menampilkan senyum menjengkelkan.


Tidak ingin memperpanjang masalah, Christin lalu menelpon sopir pribadinya.


"Hallo" Baru ia mengucapkan satu kata tapi ponsel itu langsung di rebut oleh seseorang dan ketika melihat siapa orang itu, ia ternyata adalah Robert.


Robert lalu mematikan sambungan telpon itu dan tidak mengembalikan ponsel Christin.


"Balikin ponsel gue" Ucap Christin dengan suara rendah dan nafas memburu menahan emosi.

__ADS_1


"Gak" Robert menjawab dengan datar, beda dengan hatinya yang sedang kesenangan karna bisa membalas perbuatan Christin.


"Oke, ambil aja gue gak butuh"


"Yakin?"


Christin tidak menjawab hanya menatap datar Robert, malas untuk menanggapi.


"Oh, udah kehabisan kata-kata buat balas gue" Tanya Robert untuk memancing emosi Christin.


Christin tidak memperdulikannya, ia berbalik untuk berjalan pergi tapi baru dua langkah Robert menahan tangannya.


Christin membalik badannya lalu mengigit pergelangan tangan Robert dengan sangat keras. Robert hanya menatap datar Christin yang mengigit pergelangan tangannya.


Inti Phoenix dan Murid yang melihat kaget dengan kebrutalan Christin, mereka akui Christin sekarang tidak mempunyai rasa takut pada Robert bahkan terang-terangan mengibarkan bendera permusuhan.


"Ganas banget ya lo sekarang, gimana kalau gue balas dengan ganas juga" Tutur Robert sambil menyeringai seram.


Christin hanya menatap Robert datar tidak berminat.


Melihat ekspresi Christin, Robert melebarkan senyumannya. Robert semakin mendekat ke arah Christin sehingga posisinya sekarang tepat berada di hadapan Christin.


Melihat ekspresi yang Robert tampilkan dan melihat arah pandangan Robert yang melihat bibirnya intens, membuat Christin was-was jika pria gila ini melakukan hal nekat.


Robert tanpa aba-aba menempelkan bibirnya ke bibir Christin, menyesapnya dengan rakus dan membelitkan lidahnya pada lidah Christin.


"Hmmmph....Lepasin" Berontak Christin dengan memukul dada bidang Robert tapi tidak dihiraukan Robert, ciuman mereka semakin ganas sampai Christin hampir kehabisan nafas.


Inti Phoenix dan murid lain yang melihat kejadian ini terkejut, menatap tidak percaya akan apa yang dilakukan kedua orang ini.


Raina yang melihat mengepalkan tangan emosi lalu pergi dengan menangis.


Christin shock, dugaannya benar Robert memang sudah gila. Bagaimana mungkin Robert mencium dirinya di depan umum? Hancur sudah harga diri Christin.


Christin tetap membrontak dan memukul dada Robert tapi sepertinya Robert sudah terbuai menciumnya sampai tidak memperdulikan penolakan Christin.


Christin tidak kehabisan akal, ia membenturkan kepalanya ke dahi Robert dan terbukti Robert menghentikan ciumannya.


"Dasar gila" Umpat Christin menghardik Robert.


Murid lain yang merasa Christin akan mengamuk sebentar lagi, lalu mengeluarkan ponsel mereka dan memvidio kejadian ini untuk mengunggahnya ke grup sekolah. Lumayan untuk bahan gibah fikir mereka.


PLAK


PLAK


PLAK


PLAK


Robert yang ditampar Christin hanya diam menerima tidak melawan, Christin masih merasa tidak puas. Ia lalu menendang kaki Robert otomatis Robert membungkuk.


Christin langsung menjambak rambut Robert dengan brutal, Robert memekik kesakitan tapi tidak dihirukan Christin.


"Aaakh Chris A-Akhh" Ringis Robert kesakitan membuktikan betapa kuatnya jambakan Christin.


"Rasakan ini Rasakan" Ujar Christin semakin mengencangkan jambakannya sampai rambut Robert tercabut banyak di tangan Christin.


"YAAK LO PADA TOLONGIN GUE"


Inti Phoenix yang tadi melongo melihat adegan penyiksaan ini, segera tersadar dan menolong Bos mereka.


Jakson dan Michaell yang melepaskan tangan Christin dari rambut Robert Sedangkan Dino dan Rafaell yang menarik tubuh Christin menjauh dari Robert.


Meski harus mengerahkan tenaga ekstra karna sepertinya Christin memang sangat berniat untuk membuat rambut Robert botak tapi mereka berhasil menghentikannya, karna kalau tidak ucapkan selamat tinggal pada rambut Robert.


Christin menatap Robert tajam dengan nafas yang memburu pertanda emosi, ia lalu pergi tidak ingin kelepasan lagi. Bisa-bisa ia menganiyaya Robert lagi disini.


Robert lalu memandang kepergian Christin dengan penuh arti.


"Wah, gak nyangka sih gue seorang Robert nyium Christin" Heboh Dino lalu menatap Robert dengan senyuman jahil.


"Iya nih gak nyangka, coba Dino lo cubit tangan gue. Mungkin ini mimpi, gue pengen mastiin" Tutur Rafaeel masih tidak percaya dengan kejadian ini.


Dino yang mendengar perkataan Rafael langsung menurutinya, ia mencubit tangan Rafaeel dengan keras hingga yang punya tangan sampai berteriak kesakitan. Rafaeel langsung memukul tangan Dino yang mencubitnya.


"Eh sialan, lo punya dendam apa sama gue?" Tanya Rafaell dengan sinis tidak terima dianiaya Dino.

__ADS_1


"Gak ada tuh, lo sendiri kan yang nyuruh gue cubit tangan lo" Sementara si pelaku membalas santai tidak merasa bersalah sama sekali.


"Tapi gak keras banget cubitnya sat, lo pikir kagak sakit apa" Hardik Rafaell lalu menatap Dino tajam.


"Halah cemen lo, baru gue cubit belum gue gampar"


"Lo sini lo, gue aja yang gampar lo sekarang"


"Bisa diam gak kalian berdua, dah gede kelakuan kayak bocah" Hardik Jakson jengah mendengar pertengkaran mereka berdua setiap saat.


Mendengar perkataan Jakson, Dino dan Rafaell langsung diam.


Lama mereka diam dengan pikiran masing-masing. Michaell membuka suara memecah keheningan.


"Robert, semenjak kapan lo udah gak anti sama Christin lagi?" Tanya Michaell karna setaunya Robert sangat membenci Christin.


"Lupain" Balas Robert yang sangat gak memuaskan mereka semua


"Eh bos, tapi gue penasaran" Ujar Dino karna rasa keponya sudah melambung tinggi.


Robert yang mendengar hanya berlalu pergi tanpa menjawab, meninggalkan mereka dengan segala keingintahuannya.


Jakson yang melihat terdiam dengan segala kemungkinan di fikirannya.


¤¤¤¤¤¤¤¤


Christin berjalan dengan kesal, Robert gila itu apa tidak mempunyai malu? Dia heran bagaimana mungkin ada makhluk seperti Robert di muka bumi ini.


Christin menunggu di halte bus. Terpaksa ia melakukan ini karna sedari tadi tidak ada taksi yang lewat, untung hari sudah sore jadi ia tidak perlu bersusah payah jalan sambil kepanasan.


Tau begini tadi, ia mengambil paksa Hp miliknya dari Robert. Kan lumayan bisa pesen GoCar atau GoJek disitu.


Tiba-tiba sebuah motor sport berhenti di depan halte lalu pemilik motor itu membuka helm full facenya.


Pemuda itu Richard, orang yang ditolong Christin waktu dikeroyok massa malam itu.


Richard mendekati Christin yang masih menatapnya dalam diam. "Christin" Panggil Richard


"Iya, kenapa Richard?" Tanya Christin, ia masih kaget bertemu Antagonis pria ini lagi.


Richard tersenyum tipis mendengar pertanyaan Christin plus ekspresi kaget yang ditampilkan ketika melihat dirinya.


"Gapapa, kenapa kamu naik bus enggak bawa mobil sendiri?"


"Gue bawa tapi ada orang kuker ngempesin ban mobil gue semuanya, mana pakai dipilok lagi"


"Siapa Chris?"


"Males gue nyebut nama dia, bawaanya emosi mulu"


Christin menjawab dengan rasa kesal yang kentara, emang besar banget ya dampaknya si Robert ini.


Richard yang melihat Christin sangat kesal tidak jadi untuk menanyakan lagi sang pelaku.


"Gue antar pulang Chris, ayo" Ujar Richard lalu menuntun tangan Christin untuk menuju ke motornya.


Mengambil helm miliknya, Richard lalu akan memasangkannya ke kepala Christin. Tapi terlebih dahulu, ia akan melepaskan topi baret Christin.


Tapi ketika ia akan melakukannya, Christin menahan tangannya.


"Gk usah lo aja yang pakai helm, kan lo yang nyetir" Tutur Christin dengan senyuman.


"Enggak Chris lo aja, gue gapapa" Balas Richard menolak dengan senyum ke arah Christin.


"Kalau gitu gue gak mau ikut lo, kalau bukan lo yang pakai helmnya" Ngambek Christin lalu mengembungkan kedua pipinya.


"Ya udah, gue yang pakai" Pasrah Richard ketimbang nih bidadari Christin ngambek.


Richard memakai helm lalu naik motor miliknya diikuti dengan Christin.


"Pegangan Chris, peluk perut aku"


"Oke"


Christin memeluk perut Richard lalu motor itu melaju menuju mansion Smith.


Sementara di satu sisi terdapat Robert yang melihat interaksi Christin dengan Richard sedari awal, ia mengepalkan kedua tangannya emosi karna musuh bebuyutannya dekat dengan target miliknya Christin.

__ADS_1


Tapi seketika, ia menampilkan seringaian seram miliknya.


__ADS_2