
Di Parkiran Sma Cipta Bangsa, Geng Phoenix dan Raina masih terdiam, hingga suara Dino memecah keheningan itu.
"eh eh gays, itu beneran si Christin gays?" Tanya Dino pada temannya, saat ia melihat sosok yang diyakini murid-murid disini sebagai Christin dengan terheran-heran.
"Iya Din, itu si Christin" Jawab Rafaell memberitahu temannya ini.
"Lo jangan sok tau deh, lo tau darimana kalau itu Christin?" Dino lalu melihat Rafaell dengan tajam.
"Ya elah biasa aja kali ngelihatnya, gue tau kalau gue ganteng. Bukannya gue gimana, cuma gue takut aja lo belok terus suka sama gue" Rafaell menjawab sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan muka kelewat PD.
Dino yang mendengar jawaban Rafaell emosi gays, entah kenapa setiap dia ketemu Rafaell bawaanya emosi mulu. Emang si Rafaell pinter banget kalau bikin Dino darah tinggi.
"Ngelawak lo hah" Dino kemudian melihat Rafaell dengan tajam, ia tidak habis fikir punya dosa apa ia di masa lalu sampe punya temen kayak Rafaell.
"Santai dong Din, iya gue jawab nih yang bener. Dia emang Christin, tadi waktu dia lewat gue lihat di name tagnya. Soalnya gue juga penasaran" Rafaell menjawab dengan serius
Sementara Robert, Michaell, dan Jakson yang mendengar omongan sahabatnya hanya terdiam membisu. Dalam fikiran mereka adalah Bagaimana mungkin Christin bisa berubah sederastis itu.
Sedangkan Raina, ia mengepalkan kedua tangannya emosi melihat perubahan Christin.
"Kelas" Ucap Robert, lalu melengang pergi diikuti 4 inti geng Phoenix dan Raina disampingnya.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Sementara Christin kini sudah sampai di depan pintu kelasnya, berbekal ingatan Christin yang asli ia bisa menemukan kelas ini dengan mudah.
Christin masuk ke dalam dan ia ingat bahwa ia duduk di belakang dengan Robert. Oh No Christin tidak mau sekarang.
Melihat ke sekelilingnya, mata Christin berbinar ketika melihat bangku di depan papan tulis di samping perempuan yang sedang makan. Ternyata bangku itu adalah bangku kosong tidak ada penghuninya.
Christin melangkah ke arah situ dan menyapa perempuan ini. Menghiraukan pandangan seisi kelas yang menatapnya dengan memuja seolah melupakan tingkah buruknya di masa lalu.
"Permisi" Christin menyapa dengan tersenyum manis
"i-iya" Perempuan itu Diandra gugup di sapa Christin
"Apa bangku di samping kamu kosong?" Tanya Christin, sambil menatap bangku di samping perempuan ini.
"i-iya ini kosong, enggak ada yang nempatin" Diandra menjawab sambil mengagumi wajah Christin.
"Boleh aku duduk di sini?" Tanya Christin sambil menatap Diandra.
"Boleh silahkan" Jawab Diandra sambil tersenyum manis, senang mendapatkan teman sebangku seperti Christin.
Mendengar jawaban itu, Christin sangat senang karena dari dulu Christin menyukai bangku di depan papan tulis. Karna itu sangat menyenangkan dan membantu kita untuk belajar lebih maksimal.
__ADS_1
Christin langsung menduduki bangku itu, kemudian meletakan tasnya dan mengajak perempuan tadi berkenalan.
"Boleh kenalan?" Christin bertanya dengan senyum ramah.
"Boleh, Nama aku Diandara Atmaja kalau kamu siapa?" Tanya Diandra dengan senyum ramah.
"Aku Christin Queenesha Smith" Christin menjawab, sambil menunggu reaksi Diandra ketika ia selesai mengenalkan diri.
Diandra yang mendengar itu sontak membelalakan matanya tidak percaya, ia langsung melihat ke arah Name tag gadis dihadapannya ini dan ketika membaca Name tag itu. Benar gadis dihadapannya adalah Christin.
Diandra tidak menyadari tadi, karna ia terlalu terpesona untuk melihat wajah Christin.
Melihat wajah Diandra yang terkejut Christin tersenyum tipis, lucu pikirnya
"Kamu kalau mungkin berubah pikiran atau keberatan untuk aku duduk di sini, aku bisa pergi" Christin menatap Diandra dengan wajah melas seperti kucing minta dipungut.
Melihat Christin menampilkan wajah seperti itu, Diandra jadi tidak tega. Ia lalu melihat Christin sudah berubah, tidak hanya penampilan tapi sifatnya juga menjadi baik. Karena itu tidak ada salahnya Diandra menerimanya.
"Tidak apa-apa kok, Aku tidak berubah pikiran atau keberatan. Aku justru senang punya teman satu bangku" Ujar Diandara dengan ceria dan memeluk Christin
Christin yang dipeluk Diandara membalas memeluk Diandara. Ia senang tentu saja karena gadis ini, ia bebas untuk tidak satu bangku dengan Robert sialan itu.
Setelah selesai berpelukan, Christin langsung mengeluarkan buku mata pelajaran yang akan dipelajari untuk jam masuk nanti. Setelah itu ia langsung membuka dan membacanya.
Geng Phoenix dan Raina memasuki kelas. Mereka terkejut karna Christin membaca buku dan duduk di depan.
Hey, Christin yang dulu memaksa Robert dan meminta orang tua Robert untuk membujuk Robert agar duduk bersamanya. ini sekarang malah Christin meninggalkan Robert.
"Wah Christin benar-benar berubah" batin mereka
Robert yang melihat hal ini mengepalkan kedua tangannya dan menatap Christin tajam.
Temannya yang melihat Robert kehilangan kendali lantas menenangkan Robert.
"Biar gue yang bicara, lo tenang aja" Jakson laki-laki paling peka diantara mereka menenangkan.
"Lo duduk di tempat lo Rain" Raina mengangguk mengiyakan ucapan Dino, ia langsung ke tempat duduknya.
"Ayo kita samperin sekarang" Michaell mengajak mereka ke arah Christin.
Setelah sampai Jakson menyapa Christin.
"Christin" Christin yang dipanggil, lantas mendongakan kepalanya menatap mereka semua.
Kaget memang, tapi ia pandai mengendalikan ekspresinya.
__ADS_1
"Ada apa?" Christin bertanya dengan sopan kepada Jakson.
Geng Phoenix yang melihat Christin dari dekat, sebenarnya sangat mengagumi paras cantik Christin tapi mereka pandai menyembunyikannya.
Setelah mendengar suara sopan Christin terhadap panggilan Jakson, sungguh mereka tidak menyangka kalau suara Christin bisa semerdu ini.
"Kenapa kamu duduk di sini? Meja kamu di belakang bersama Robert" Jakson bertanya dengan menggunakan aku kamu karna Christin sopan, maka dia juga membalas dengan sopan.
"Aku pengen duduk di depan sekarang, maka dari itu aku sekarang duduk di sini" Christin menjawab dengan senyum ramah.
Geng Phoenix yang melihat senyum Christin menelan ludah mereka. Sungguh menghadapi Christin yang sekarang harus mempunyai stock kesabaran yang banyak untuk tidak mencubit pipinya.
"Lalu bagaimana dengan Robert kamu mau meninggalkannya sendirian? "Jakson bertanya sekaligus memastikan apa benar Christin sudah berubah.
"Iya, karna aku tidak nyaman jika duduk di belakang sekarang dan juga aku rasa Robert senang dengan tidak adanya kehadiranku" Christin menjawab dengan yakin pertanyaan Jakson.
Sontak itu mengejutkan semua orang lagi-lagi mereka tercengang dengan perubahaan Christin.
"Duduk di belakang" Robert bersuara sambil memandang Christin tajam
"Maaf tapi saya tidak bisa" Christin menjawab dengan tegas sambil memandang Robert dengan sorot meremehkan.
Melihat tatapan Christin yang meremehkannya dan Penolakan yang terang-terangan dilakukan Christin membuat Robert emosi.
Sontak Robert langsung menarik tangan Christin, sampai Christin menabrak dada bidangnya.
Mereka bertatapan dengan jarak yang sangat dekat sampai hidung mereka nyaris bersentuhan.
Robert yang memandang wajah Christin dengan tatapan memuja dan Christin yang mengamati wajah Robert. Protagonis pria yang memang pesonanya tidak main-main.
Sekelas yang melihat kejadian itu mengganga tidak percaya, mereka membatin jika kedua manusia ini sangat cocok. Christin cantik dan Robert tampan sungguh perpaduan yang sempurna.
Sedangkan Raina mengepalkan tangannya emosi, ia cemburu dan tidak ingin mengakui bahwa mereka serasi.
4 inti Geng Phoenix melihat mereka dengan beragam ekspresi. Dino dan Rafaell yang menampilkan raut kaget tidak percaya.
Michaell dan Jakson yang menatap mereka datar tapi tidak dipungkiri bahwa mereka tadi sekilas terkejut.
Setelah tersadar, Christin langsung mendorong wajah Robert.
"Jika Anda Pria, tolong jangan menarik tangan wanita sembarangan. Asal Anda tau itu sakit" Christin berbicara sambil menunjukkan pergelangan tangannya yang memerah.
Robert yang melihat itu, lantas menampilkan raut wajah yang bersalah secara sekilas lantas menampilkan raut datar kembali.
Geng Phoenix langsung mengajak Robert ke bangkunya, setelah Dino meminta maaf pada Christin atas nama Robert.
__ADS_1