
Desa yang terkena wabah penyakit itu bernama Desa Ruo. Perjalanan dari desa Karo ke desa Ruo butuh waktu hingga tujuh hari. Itupun jika ditempuh dengan naik kuda.
Hyun naik satu kuda bersama pangeran Ji Won. Bukan karena Hyun tidak bisa berkuda. Namun kuda yang tersedia tidak cukup untuknya.
Perjalanan mereka terbilang lancar . Tidak ada hambatan berarti selama perjalanan.
"Kita sudah tiba," ucap pangeran Ji Won sambil menghentikan laju kudanya.
Hyun menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Kemudian turun dari atas kuda.
Sekitar seratus meter dari dari tempat mereka, terlihat beberapa orang yang berdiri di tengah jalan. Dilihat dari pakaiannya, mereka merupakan prajurit kerajaan Api.
Mereka tidak langsung memasuki desa . Namun berhenti sejenak untuk beristirahat.
"Sepertinya penjagaanya cukup ketat, bagaimana kita akan masuk kesana?" tanya Hyun.
"Dao dan Jin Hu akan menjadi tabib gadungan. Semoga saja tidak ada yang mencurigai kita," jawab pangeran Ji Won dengan serius.
Penjagaan memang di perketat oleh pihak pemerintah. Hal ini bertujuan agar orang yang sudah terkena wabah tidak keluar dari desa.
Sebab hingga saat ini obat dari penyakit itu belum tersedia. Semua tabib yang dipanggil dari beberapa daerah juga masih tinggal di sana.
Setelah selesai beristirahat pangeran Ji Won mengajak mereka untuk bersiap. Agar tujuan mereka berjalan dengan lancar.
Setelah itu mereka berjalan bersama. Kuda yang tadinya mereka naiki terpaksa mereka tuntun.
"Berhenti!" teriak salah satu prajurit yang menjaga tempat itu.
Pangeran Ji Won beserta rombongannya berhenti. Orang yang tadi berbicara mendekati mereka.
"Mau kemana kalian?" tanyanya.
"Kami dari desa sebelah. Tujuan kedatangan kami kedesa ini untuk memberi pertolongan semampu kami," jawab Jin Hu dengan sopan.
"Memangnya siapa kalian?"
Dao dan Jin Hu menyamar menjadi tabib. Sedangkan yang lain menjadi pelayan.
"Nama saya tabib Yao dan dia kakak saya tabib Yu. Bolehkah kami masuk kedalam? "
"Kalian yakin mau masuk kedalam?jika kalian sudah masuk kedalam, kalian tidak akan bisa keluar seenaknya," ucap sang prajurit memberi peringatan.
Dia tidak mungkin menghentikan orang yang berniat baik. Siapa tahu kedatangan mereka bisa menyembuhkan warga yang sakit.
__ADS_1
"Kami yakin!" jawab mereka dengan serempak.
"Baiklah kalau begitu. Jangan sampai kalian menyesal sekarang masuklah kedalam desa."
"Terima kasih," ucap Jin Hu dengan tulus.
Karena mereka sudah mendapatkan izin, maka tidak ada alasan lagi untuk berhenti. Satu persatu masuk kedalam desa.
Begitu masuk kedalam delam, suasana langsung berubah. Entah kenapa suasana menjadi menyeramkan.
Hyun mengajak pangeran Ji Won untuk berhenti sejenak. Mereka harus merencanakan semuanya dengan baik. rumah.
"Berhenti dulu kak!"
"Ada apa?"
"Apa yang akan kita lakukan saat ini?"
"Tentu saja melihat kondisi terlebih dahulu."
"Bagaimana kalau kita mencoba untuk memeriksa dulu di salah satu rumah warga?"
"Buat apa?"
"Kenapa tidak langsung saja ke alai pengobatan? Pasti disana sudah banyak orang yang ingin berobat?"
"Apa kakak akn menyuruh Jin Hu dan Dao memeriksa kondisi mereka?"
"Tentu saja tidak. Bukankah kamu yang harus memeriksa kondisi mereka?"
"Memangnya ada yang akan percaya dengan kemampuan yang kumiliki?"
"..."
"Saat ini aku hanya anak yang berusia sepuluh tahun kurang. Apa ada yang akan percaya begitu saja, saat banyak tabib yang tidak bisa menyembuhkan mereka?"
Deg!
"Kamu benar. Terus apa dong yang harus kita lakukan?" tanya pangeran Ji Won dengan serius.
Hyun mengutarakan ide yang ada di pikirannya. Setelah itu barulah mereka bertindak.
Kini mereka berada di depan pintu salah satu rumah warga.
__ADS_1
Tok tok tok
Hyun mengetuk pintu rumah tersebut. Tak lama kemudian pintu pun terbuka. Kemudian muncul seorang wanita bertubuh kurus dari dalam rumah.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu dengan sopan. Jin Hu yang memang bertugas sebagai juru bicara langsung mengutarakan maksud mereka.
"Apa disini ada yang sakit?"
"Suami dan kedua anakku terbaring di atas ranjang. Keadaannya semakin parah," jawab wanita itu dengan sendu.
"Bolehkah kami masuk kedalam? kami merupakan tabib dari desa sebelah."
"Betulkah?" tanya wanita itu dengan mata berbinar. Jin Hu menganggukkan kepalanya.
Wanita itu kemudian menyuruh mereka untuk masuk kedalam. Tapi tidak semuanya masuk kedalam.
Yang masuk kedalam rumah hanya tiga orang. Mereka adalah Jin Hu, Hyun dan Pangeran Ji Won. Sedangkan yang lain menunggu di depan rumah.
Hyun dan yang lain dibawah kedalam kamar. Di sama ada seorang pria paruh baya yang berbaring dengan mata tertutup.
Penampilan lelaki itu sungguh mengerikan. Tubuhnya tinggal tulang dan kulit. Hal itu membuat Hyun merasa terenyuh.
"Bolehkah kami memeriksanya?"
"Silahkan tuan."
"Maaf...tapi bisakah anda keluar dulu sebentar?"
"Kenapa saya harus keluar?" tanya wanita itu dengan bingung.
"Kami perlu berkonsentrasi untuk mengetahui penyakitnya."
"Kok begitu?"
"Anda ingin suami anda sembuh apa tidak?"
"Tentu saja ingin suami sembuh."
"Kalau begitu tolong pengertiannya. Anda tidak perlu khawatir. Kami akan berusaha agar suami anda sembuh."
Meski ragu-ragu namun wanita itu menurut. Dia keluar dari ruangan itu, meninggalkan empat orang didalam kamar.
"Silahkan nona," ucap Jin Hu dengan sopan.
__ADS_1
"Baik...mari kita lihat penyakit apa yang sudah membuat tubuhnya seperti ini. Semoga saja kita bisa mengobatinya."