TRANSMIGRASI SI AGENT CANTIK

TRANSMIGRASI SI AGENT CANTIK
Hyun kerumah tuan besar Yue


__ADS_3

Menteri Li tinggal di kediaman Hyun hingga tiga hari. Hari ini dia akan kembali bersama dengan Hyun dan Lion.


Yin dan Yun akan tinggal dirumah dirumah. Keduanya akan mengawasi sekaligus memberi konsumsi pada para tukang.


Sejak kemarin sudah ada orang yang datang untuk memperbaiki rumah. Hyun sudah memberitahukan apa saja yang perlu para tukang kerjakan. Menteri Li saja sampai kaget mendengarnya.


Sebenarnya Hyun ingin pergi sendiri. Namun Lion tidak mengijinkannya kecuali dia diajak.


"Apa kalian sudah siap?" tanya menteri Li pada Hyun dan Lion yang sudah berdiri di depannya.


Di punggung Hyun terdapat ransel yang sering ia bawa. Bagi Hyun ransel ini sudah seperti kantong ajaib milik doraemon.


Setiap dia meminta sesuatu kepada penjaga sistem, benda itu akan masuk kedalam ranselnya. Lalu Hyun akan mengambil dari dalam ransel.


Lion berdiri disamping Hyun dengan patuh. Tangannya juga memegang tangan Hyun dengan erat.


"Sudah Paman. Memangnya rumah Paman jauh tidak dari sini?"


"Tidak terlalu jauh sih. Tapi tidak dekat juga."


"Kita jalan kaki atau bagaimana nih?"


"Kita akan jalan kaki dulu sebentar. Lalu kita akan sewa kereta buat kendaraan."


"Paman tahu tempat persewaan kereta?"


"Tentu saja tahu. Paman kan sudah lama tinggal disini."


"Kenapa tidak jalan saja?"


"Kan lebih cepat lebih baik."


"Baiklah kalau begitu. Ayo kita berangkat!"


Ketiganya pun berjalan meninggalkan rumah. Menteri Li sebenarnya ingin menggendong tubuh Lion. Tentu saja Lion menolaknya.


"Kamu paman gendong saja," bujuk Menteri Li dengan lembut.


Dia tidak tega melihat anak sekecil Lion berjalan kaki sendiri. Dia seperti orang tua yang tidak punya perasaan.


"Tidak!" jawab Lion tegas.


"Kenapa?" tanya Menteri Li heran.


"Buat apa punya kaki jika tidak digunakan untuk berjalan?"


"Itu_"


"Sudahlah Paman. Biarkan saja Lion berjalan. Dia memang tidak suka digendong."


"Tapi _"


"Lebih cepat lebih baik Paman."


"Baiklah kalau begitu. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah pemilik kereta. Semoga saja orangnya ada dirumah."


Sebenarnya rumah yang ia tuju kali ini merupakan rumah salah satu anak buahnya.


Tak lama kemudian sampailah mereka di rumah itu. Kebetulan anak buah Menteri Li sedang ada diluar. Sepertinya dia ingin pergi.


Begitu melihat kedatangan mereka, orang itu berlari menghampiri. Tentu saja hal itu membuat Hyun curiga.


"Akhirnya Tuan datang juga. Kami sudah mencari Anda sejak kemarin," ucap orang itu begitu sampai didepan mereka.


Hyun memicingkan matanya kearah Menteri Li. Sedangkan Menteri Li hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Maaf...nanti akan Paman ceritakan semuanya."

__ADS_1


"Awas kalau bohong!"


"Paman janji."


Kini Menteri Li menatap anak buahnya. Lalu memintanya untuk membawa mereka ke rumah orang tuanya.


"Tolong antar kami ke rumah ayah."


"Tapi Nyonya sudah menunggu anda dirumah."


"Nanti setelah kamu mengantar kami, kamu bisa ambil nyonya di rumah."


"Baiklah..."


Sebenarnya masih banyak yang ingin ia tanyakan. Namun melihat keberadaan Hyun dan Lion membuatnya mengurungkan niatnya.


Baru kali ini Hyun naik kereta seperti ini. Rasanya tidak terlalu buruk. Dari pada harus panas-panasan berjalan kaki.


Setelah setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai ke rumah yang dituju. Hyun sampai terbelalak melihat rumah didepannya.


Kini ia yakin jika orang yang ia tolong bukanlah orang sembarangan. Dia tinggal menunggu apakah orang itu akan berbicara jujur akan identitasnya.


"Ayo masuk!"


"Ini rumah Paman?"


"Bukan. Ini rumah kedua orang tua paman."


"Bagus juga. Pasti keluarga paman seorang bangsawan."


"Kamu bisa saja," ucap Menteri Li sambil tertawa.


"Apakah keluarga paman punya daging untuk dimakan?" tanya Lion yang baru kali ini bicara sejak tadi.


"Kenapa yang ada dipikiran kamu hanya daging saja sih," ucap Hyun geleng-geleng kepala.


Menteri Li sudah tidak kaget lagi dengan keinginan Lion. Meskipun hanya tinggal sebentar bersama mereka, tapi dia sangat tahu jika anak kecil itu memang menyukai daging.


"Ha ha ha ha...tenang saja. Nanti Paman akan menyuruh para pelayan untuk memasak daging kesukaan kamu. Tapi _"


"Tapi apa?"


"Mungkin rasanya tidak seenak buatan kakakmu," jawab Menteri Li sambil meringis.


"Tidak masalah yang penting dagingnya ada."


"Lebih baik sekarang kita masuk dulu," ajak Menteri Li pada Hyun dan Lion.


Menteri berjalan dulu didepan. Hyun dan Lion mengikutinya dari belakang. Mereka sudah ditunggu oleh tuan besar Yue yang mendengar kedatangan mereka.


"Ayah..."


"Dari mana saja kamu anak nakal. Kenapa tidak ada kabar sama sekali?"


"Maaf."


Tiba-tiba pandangan tuan besar Yue menyoroti Hyun dan Lion yang berdiri di belakang Menteri Li.


"Siapa mereka?"tanya tuan besar Yue dengan pandangan menyelidik.


"Salam kenal tuan. Saya Hyun dan ini adik saya Lion," sapa Hyun dengan ramah. Tidak sedikitpun ketakutan di wajahnya.


"Biarkan kami duduk dulu ayah," pinta Menteri Li saat melihat ayahnya ingin mengeluarkan suaranya.


"Duduk lah!"


"Ayo duduk anak-anak!"

__ADS_1


Hyun dan lion duduk di kursi mengikuti Menteri Li. Tuan besar Yue juga duduk di kursi yang kosong.


"Ibu belum pulang?"


"Belum."


"Sampai kapan ibu akan tinggal di kuil?"


"Sampai keponakanmu sadar."


"Kenapa ayah tidak melarang?"


"Menurutmu aku akan diam saja ketika istrinya menyakiti tubuhnya? tapi ibumu sangat keras kepala. Jalan satu-satunya, kamu harus bisa membuat keponakanmu sadar."


Nyonya besar Yue memang memutuskan untuk tinggal dikuil. Hal ini ia lakukan untuk mendoakan sang cucu agar cepat sembuh. Bahkan dia menjalani puasa agar doanya terkabulkan.


"Sekarang ceritakan dari mana saja kamu?"


"Kemarin saat sedang bertugas, ada beberapa orang yang menyerang. Hampir saja nyawa saya tidak tertolong jika tidak ada Hyun dan kedua saudaranya. Namun saya mendapatkan luka yang cukup serius."


"Kamu tidak sedang bercanda kan?"


Tuan besar Yue merasa jika putra sulungnya itu sedang bercanda dengannya. Katanya lukanya serius. Tapi dia lihat keadaannya baik-baik saja.


Menteri Li tahu jika ayahnya meragukan ucapannya. Jadi dia membuka pakaian atasnya.


Tuan besar Yue hampir saja mengutuk putranya, namun dia melihat bekas luka ditubuhnya. Luka itu seperti selesai dijahit. Bahkan dokter istana tidak bisa melakukannya.


"Siapa yang sudah mengobatimu?"


"Sekarang ayah sudah percaya jika ada yang menyerangku?" sindir Menteri Li.


"Tidak usah banyak tanya. Sekarang katakan siapa yang mengobatimu?"


"Apa yang ingin ayah lakukan?"


"Tentu saja memintanya untuk memeriksa kondisi keponakanmu. Apa kamu tidak ingin melihat dia sembuh?"


"Apakah tabib Ji masih disini?"


"Tentu saja. Bukankah kamu sendiri yang menyuruhnya untuk tinggal disini?"


"Apakah ada perkembangan?"


"Tidak. Kondisinya tetap seperti biasa."


"Kalau begitu mari kita memeriksanya," ajak Menteri Li sambil berdiri. Pakaian yang tadi ia lepas sudah dipasang kembali.


"Katakan dulu siapa yang mengobatimu?"


"Gadis kecil inilah yang sudah menolongku."


Tuan besar Yue terperangah mendengarnya. Sedetik kemudian dia tertawa terbahak-bahak.


"Becandamu tidak lucu!"


"Siapa yang bercanda. Dia memang orang yang sudah menolong dan masih mengobati lukaku," ucap Menteri dengan serius.


Melihat hal itu membuat Tuan besar Yue yakin jika ucapan putra sulungnya jujur. Namun Menteri Li masih bingung, bagaimana gadis kecil itu mempunyai keahlian seandai itu?


"Kamu yakin?"


"Seratus persen yakin."


"Baiklah kalau begitu. Mari kita masuk kedalam kamarnya.," ajak tuan besar Yue dengan datar.


Mereka pun berjalan kekamar pangeran Ji Won. Betapa terkejutnya Hyun melihat siapa yang tidur diatas ranjang. "

__ADS_1


"Kak Ji Won", "pekik Hyun dengan suara yang tinggi.


__ADS_2