
"Bagaimana ini, Kak?" tanya pangeran Jung Hwa.
Mereka baru saja berdiskusi dengan tabib istana. Ucapan tabib istana membuat Jung Hwa frustasi.
"Kenapa?" tanya pangeran Jung Hee seolah-olah tidak mengetahui apa yang ada di pikiran adiknya.
"Sepertinya kita akan tinggal di desa ini selamanya deh."
"Tidak usah berfikir macam-macam."
"Tabib istana saja tidak bisa mengobati penyakit itu. Bagaimana mereka bisa sembuh?"
"Akupun bingung. Apalagi ayah kaisar menyuruh kita untuk mengatasinya."
Jung Hee menghela nafas lelah. Ini sudah menjadi keputusannya. Jadi apapun yang terjadi tidak boleh menyerah.
"Apa sudah ada informasi tentang pangeran Ji Won?"
"Belum ada. Semoga saja dia benar tiada. Jadi kita tinggal menyingkirkan pangeran mahkota," jawab pangeran Jung Hwa dengan tersenyum smirk.
"Jangan meremehkan kemampuan pangeran mahkota. Meskipun dia tidak pandai beladiri, namun kemampuannya dalam menyusun strategi tidak bisa kita remehkan," ucap pangeran Jung Hee memberi peringatan.
Mendengar ucapan sang kakak, membuat pangeran Jung Hwa berdecak kesal. Menurutnya pangeran mahkota tidak ada apa-apanya baginya.
"Jangan pernah meremehkan kekuatan musuh. Sebab bisa saja kekuatannya lebih besar dari yang kita perkirakan," ucap pangeran Jung Hee memberi nasehat.
"Kakak selalu saja begitu. Padahal kekuatan kita sudah cukup kuat untuk menggantikan kekuasaan ayah kaisar."
__ADS_1
"Apa kamu ingin nama kita jelek di mata rakyat?"
"..."
"Meskipun kakak ingin menjadi kaisar, tapi kakak tidak berniat menggulingkan kekuasaan ayah. Kakak ingin ayah memberikan posisi itu dengan baik-baik."
"Terus kenapa kita menargetkan pangeran Ji Won? padahal dia juga tidak terlihat jika menginginkan posisi itu."
"Kamu tidak tahu... pangeran Ji Won lebih berbahaya dari pangeran mahkota. Jika dia tidak ada maka menyingkirkan pangeran mahkota tidak terlalu merepotkan."
"Sudahlah...pusing aku memikirkannya."
Keduanya terus berbincang entah hingga berapa lama. Sedangkan yang sedang di perbincangkan lagi enak-enakan memperhatikan Hyun yang sedang meracik obat.
Obat yang dibuat Hyun terbukti membuahkan hasil. Baru meminum satu kali namun ketiganya sudah bisa duduk sendiri.
"Kak Ji Won tidak ingin keluar?"
"Kakak lebih suka tinggal disini dari pada harus keluar."
"Kenapa?"
"Lebih aman."
"Tapi jangan malas-malasan juga kali!"
"Ini bukan malas-malasan namanya."
__ADS_1
"Terus apa dong namanya?"
Pangeran Ji Won terdiam mendengar pertanyaan Hyun. Entahlah...namun dia merasa tidak rela meninggalkan Hyun dirumah ini sendiri.
Apalagi melihat interaksi Hyun dengan si anak pertama. Dapat terlihat jelas jika remaja yang kini menjadi pasien Hyun itu benar-benar jatuh cinta pada Hyun.
Padahal Hyun biasa saja. Dia menganggap remaja itu mengalami cinta monyet. Jadi dia bersikap biasa saja.
Hal itu membuat pangeran Ji Won secara tak sadar bersikap posesif. Dia masih belum menyadari perasaan kagum itu telah berubah menjadi rasa suka atau bahkan cinta.
Pangeran Ji Won tidak ingin istri kecilnya berdekatan dengan lelaki lain selain dirinya. Jadi kemana pun Hyun melangkah dia ikut berjalan dibelakangnya.
Awalnya Hyun merasa risih. Namun dia juga terbantu akan sikapnya.
Pangeran Ji Won dengan suka rela memberi obat pada ketiga lelaki yang ia obati. Selain itu meski pangeran Ji Won lebih banyak diam, namun dia langsung sigap saat Hyun membutuhkan bantuan.
Setelah meminum obat selama satu minggu ketiganya langsung sembuh. Tentu saja berita itu bukan hanya membuat ketiganya bahagia. Namun juga menjadi langkah awal untuk menyembuhkan semua penduduk yang terkena penyakit yang sama.
Dao dan yang lain juga mulai memberi pengobatan pada penduduk yang lainya. Itupun atas izin dari pangeran Jung Hee yang datang ke desa.
Setelah mendapat informasi dari tabib istana, pangeran Jung Hee memutuskan untuk datang kesana. Menurutnya tidak baik melewatkan kesempatan yang ada.
Pangeran Ji Won memutuskan untuk keluar dari desa Ruo. Semua pengobatan untuk desa itu ia serahkan pada Dao dan yang lain.
Meskipun penjagaan di perbatasan desa ketat, namun mereka berdua dengan mudah keluar dari desa itu. Kini mereka sudah berada jauh dari desa Ruo,
Berita kesembuhan itupun sudah sampai ke istana. Tentu saja yang mendapatkan penghargaan itu pangeran Jung Hee dan pangeran Jung Hwa.
__ADS_1
Kaisar Tan tidak menyangka jika keberangkatan kedua putranya ke desa Ruo tidak sia sia. Dia meminta keduanya untuk kembali ke istana.