TRANSMIGRASI SI AGENT CANTIK

TRANSMIGRASI SI AGENT CANTIK
Pangeran Ji Won sadar


__ADS_3

Pangeran Ji Won memuntahkan darah hitam dari mulutnya. Hal itu terjadi berturut-turut setelah Hyun selesai melakukan akupunktur pada tubuhnya.


Awalnya tuan besar Yue takut dan hampir memarahi Hyun. Namun saat tahu bahwa itu racun yang berhasil keluar membuat tuan besar Yue bernafas lega.


Hyun membantu tuan besar Yue mengganti pakaian pangeran Ji Won setelah berhenti memuntahkan darah. Luka yang ada ditubuh pangeran Ji Won juga sudah dibalut perban.


Tok tok tok


"Siapa?


"Aku," jawab Menteri Li dari luar.


"Masuk saja paman."


Ceklek!


Menteri Li masuk dengan membawa ramuan yang baru saja ia rebus. Dia langsung kaget melihat darah hitam hasil muntahan pangeran Ji Won.


"Ada apa ini?"tanyanya sambil berjalan cepat. Dia takut terjadihsl buruk dengan pangeran Ji Won. Bahkan dia sampai menumpahkan minuman yang ia bawa.


"Hati-hati Paman. Kalau sampai ramuan itu tumpah semua Paman harus mulai dari awal lagi."


"Maaf...paman cuma kaget melihat darah itu."


"Tidak perlu khawatir. Darah itu merupakan racun yang kak Hyun muntahan. Sekarang, tolong minumkan ramuan itu pada kak Ji Won."


"Baiklah."


Hyun membiarkan Menteri Li meminumkan ramuan yang sudah ia rebus dibantu oleh Tuan besar Yue. Sedangkan Hyun sendiri membersihkan darah yang berceceran.


Semua pelayan ataupun penjaga di kediaman ini sudah di isolasi. Hal itu Menteri Li lakukan agar tidak ada satupun yang keluar dari rumah ini. Termasuk tabib Ji.


Untung saja Menteri Li masih memiliki pengawal bayangan yang rela mati untuknya. Jadi dia masih mempunyai anak buah yang dapat dipercaya.


"Sudah," ucap paman. Dia juga sudah membaringkan tubuh pangeran Ji Won kembali.


"Tolong sekarang paman buang darah ini terlebih dahulu. Maaf saya mau buang sendiri tapi tidak tahu tempatnya," ucap Hyun tak enak hati.


"Serahkan saja pada Paman. Lebih baik kamu istirahat dulu sebentar. Seperti wajahmu agak pucat."


Tuan besar Yue yang awalnya geleng-geleng kepala dan ingin tertawa mengurungkannya. Dia menatap Hyun yang saat ini duduk dikursi yang kosong.


Wajah Hyun memang terlihat pucat. Hampir saja dia berteriak untuk menyuruh mengambilkan makanan untuknya. Namun langsung terbelalak begitu Hyun mengambil makanan dan minuman dari dalam tasnya.


"Maaf ya, Kek. Hyun butuh energi jadi makan dulu," ucapnya dengan santai.


Ada sandwich dan juga hot dog beserta teh botol. Lion yang mencium bau makanan langsung masuk kedalam.


Ceklek!


Dia tidak memperdulikan pandangan tuan besar Yue yang menyorotinya. Yang penting perutnya diisi.


"Makan," ucap Lion begitu sampai di depan Hyun.


Hyun tak banyak kata, dia mengambil lagi dari dalam ransel setelah sebelumnya meminta pada penjaga sistem.


Hal itu tentu saja membuat tuan besar Yue kaget. Seberapa banyak benda yang masuk dalam ransel itu.


"Kakek juga mau?"tanya Hyun yang melihat tuan besar Yue menatap makanan ditangannya.


"Ha?"


Hyun berdiri dan memberikannya pada tuan besar Yue. Tuan besar Yue menerimanya dengan linglung.

__ADS_1


"Makan Kek enak kok."


Melihat Lion makan dengan lahap, tuan besar Yue tergugah untuk memakannya. Dia pun menggigit sandwich dan memasukkannya kedalam mulut.


Begitu mengetahui rasanya, dia tidak malu untuk menyantapnya dengan lahap. Gaya makannya sekarang sudah persis dengan Lion. Hyun terkekeh geli melihatnya.


"Makanan ini enak. Rotinya lembut, isinya juga enak," ucap tuan besar dengan mulut penuh.


"Kalau kakek kurang saya masih ada."


"Ini sudah cukup."


Ketiganya makan dengan lahap, tanpa menyadari pangeran Ji Won sudah membuka matanya. Namun karena sudah lama koma mau bicara pun sulit.


Ceklek!


Menteri Li masuk dengan wajah berkeringat. Sepertinya pria paruh baya itu kelelahan.


"Ji Won...kamu bangun!" seru Menteri Li sambil berlari menghampirinya.


Tentu saja seruan itu membuat ketiga orang yang sedang makan itu terkejut. Ketiganya turut melihat kearah Pangeran Ji Won.


"Syukurlah...akhirnya kamu sadar juga," ucap tuan besar Yue dengan penuh syukur.


Pangeran Ji Won ingin berbicara namun rasanya sulit. Mau menggerakkan tangannya pun sulit.


"Kakak diam saja dulu. Racun dalam tubuh kakak baru saja keluar. Saya pikir masih nanti malam kakak siuman . Ternyata lebih cepat dari perkiraan."


Begitu melihat Hyun, pangeran Ji Won langsung melotot. Sayangnya mau bicara masih sulit.


Hyun mengambil tangannya untuk diperiksa. Lalu mengambil stetoskop yang ada di dalam ransel.


"Apa itu?"tanya tuan besar Yue penasaran.


Hyun memeriksa perut dan dada pangeran Ji Won dengan stetoskop itu. Setelah mendapatkan hasil, ia kembali memasukkan stetoskop itu kedalam ransel.


"Syukurlah...tinggal sedikit pengobatan dan pemulihan kak Ji Won sudah bisa beraktivitas seperti biasanya lagi."


"Kamu tidak bohong kan?"


"Kenapa aku harus bohong. Kalau aku bohong, Kak Ji Won tidak mungkin sadar saat ini."


"Terimakasih," ucap tuan besar Yue dengan tulus.


"Sama-sama Kek. Sekarang kalau boleh saya ingin pinjam dapurnya dulu sebentar. Saya akan membuatkan makanan sekaligus obat untuk kak Ji Won."


"Mari aku antar," ucap Li dengan lembut.


"Terimakasih, Paman. Lion...kamu mau ikut apa tidak?"


"Ikut lah."


"Oke!"


Pangeran Ji Won menatap kepergian Hyun dengan pikiran berkecamuk. Bagaimana bisa gadis itu berada di rumah kakeknya?


"Kamu mengenal gadis itu?" tanya tuan besar Yue yang melihat arah tatapan pangeran Ji Won.


Pangeran Ji Won mengangguk. Tuan besar Yue lega mendengarnya.


"Gadis Itu sangat luar biasa. Kamu yang koma selama setahun bisa langsung sadar. Padahal sudah banyak tabib yang megobatimu. Namun hasilnya sia-sia."


Pangeran Ji Won sudah tidak kaget mendengarnya.

__ADS_1


"Padahal belum sehari gadis itu mengobatimu. Kakek tidak keberatan jika seandainya kamu menikah dengannya. Tak masalah mes_"


Brak!


"Ji Won!"


Selir Agung berlari kearah putranya sambil menangis. Rasanya mimpi bisa melihat pangeran Ji Won sadar. Padahal tadi dia hanya diberitahu jika ada yang bisa mengobatinya. Tapi keadaan pangeran Ji Won saat ini membuatnya tak bisa berkata-kata karena senangnya.


Selir Agung memeluk pangeran Ji Won dengan erat. Sampai pangeran Ji Won sulit bernafas.


"Aduh...meluknya jangan erat gitu. Kasihan putramu baru sadar," ucap tuan besar Li dengan suara beratnya.


"Maaf sayang. Ibu hanya terlalu senang. Siapa tabib hebat yang sudah mengobatinya?apa beliau guru tabib Ji?" tanya selir Agung penasaran. Siapapun orang itu pasti sangat hebat sekali.


"Nanti kamu lihat saja sendiri."


Banyak kata yang diucapkan selir Agung dalam mengungkapkan kebahagiaannya. Tuan besar Yue dan Pangeran mau tak mau menjadi pendengarnya.


"Permisi..." ucap Hyun dengan sopan.


Karena pintunya tidak ditutup jadi Hyun langsung masuk saja kedalam. Ditangannya ada nampan yang berisi bubur serta ramuan obat yang telah ia seduh.


"Siapa kamu?" tanya selir Agung dengan tegas. Dia tidak suka diganggu saat berkumpul dengan keluarganya.


"Waduh...maaf ya kakak cantik. Kak Ji Won mesti makan dulu sebelum minum obat. Jadi kalau mau marah di pending dulu. Permisi!"


Bukan hanya selir Agung saja yang terperangah mendengar ucapan Hyun. Tuan besar Yue dan Pangeran Ji Won pun sampai bertukar pandang.


"Kamu tadi panggil dia siapa?" tanya tuan besar Yue sambil mengusap telinganya.


"Kakak cantik, memangnya kenapa?"


"Kamu tahu tidak dia siapa?"


"Kalau dilihat-lihat dari wajahnya sih mirip banget sama kak Ji Won. Pasti kakak cantik ini kakaknya kak Ji Won," ucap Hyun dengan bangga.


"Apa?!"


"Ha ha ha ha ha..."


"Kenapa Kakek tertawa...memangnya ada yang lucu?"


"Kamu yakin dia kakak Ji Won?"tanya tuan besar Yue sekali lagi.


Hyun menganggukkan kepalanya tanpa ragu. Selir Agung memang nampak lebih muda dari usianya. Kecantikannya tak diragukan lagi.


Selir Agung Agung entah mau menangis entah tertawa mendengarnya. Dia sampai bingung menanggapinya.


"Aduh...maaf nih ya, Kak Ji Won harus makan dulu agar tenaganya pulih. Kasihan sepertinya dia mau ngomong tapi nggak bisa."


Pangeran Ji Won yang mendengar hal itu mukanya memerah. Sedari tadi dia memang sedang menahan tawa. Tak menyangka jika Hyun menyadarinya.


"Makanan apa itu?" tanya selir Agung ketika melihat bubur serta puding buatannya.


"Oh...ini bubur ayam sama puding buah. Karena kak Ji Won sudah lama koma jadi harus makan yang halus dulu."


"Kamu pelayan baru atau pelayan yang dibawa oleh tabib Ji?" tanya selir Agung penasaran.


"Dibilang pelayan baru bukan. Kalau pelayan tabib Ji apalagi," jawab Hyun santai.


"Kalau begitu kamu siapa?kenapa panggil pangeran Ji Won kakak?"


"What!!pangeran!"

__ADS_1


Pyar!!


__ADS_2