TRANSMIGRASI SI AGENT CANTIK

TRANSMIGRASI SI AGENT CANTIK
Renovasi rumah


__ADS_3

Hyun mencari orang untuk merenofasi rumah yang baru ia beli. Namun Yin lah yang akan ia suruh untuk bertransaksi.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Yun yang merasa tak enak karena ditatap secara intens oleh Hyun.


"Kakak bisa merenofasi rumah ini tidak?"bukanya menjawab, Hyun malah menanyakan hal lain padanya.


"Apa itu renovasi?"tanya Yun bingung. Yin dan Lion menyimak sambil menikmati makanannya.


Sarapan yang mereka makan lagi-lagi pemberian dari penjaga sistem. Kali ini mereka hanya sarapan semangkok mie instan. Mau bagaimana lagi dapurnya juga belum bida digunakan.


"Bukankah rumah ini tidak layak dihuni?" lagi-lagi Hyun menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Ingin rasanya Yun protes, tapi dia bukan tipe orang yang suka berdebat.


"Biasa saja sih kalau menurutku," jawab Yun santai.


Yin dan Yun memang sudah terbiasa tinggal dirumah seperti ini. Sebab kondisi rumah yang ada di desa mati hampir sama seperti yang mereka tinggali.


"Kok biasa sih?"protes Hyun tidak terima. Rumah bobrok begini kok biasa saja. Hyun sepertinya lupa asal Yun dan Yin.


"Kan tempat yang kami tinggali sebelumnya juga tidak lebih baik dari ini. Betul tidak, Yin?" Yun meminta persetujuan dari Yin.


Yin mengangguk membenarkannya. Hyun menepuk keningnya. Dia lupa jika keduanya merupakan siluman yang terkurung di desa mati. Begitupun dengan Lion.


"Maaf...bukankah kalian sudah melihat tampilan berbagai rumah selama perjalanan. Aku ingin kalian membandingkannya dengan rumah-rumah tersebut. ?"


"Oh...begitu. Sebenarnya kalau boleh jujur sih, tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok dari rumah-rumah itu. Banyak juga rumah seperti ini yang kita temui di perjalanan."


"Iya deh..."


"Terus apa itu merenofasi?"


"Memperbaiki rumah inilah."


"Oh...bilang dong dari tadi, bukanya malah muter-muter. Bagaimana caranya?"


"Lupakan deh. Lebih baik kita cari saja orang untuk memperbaikinya." Hyun sudah tidak mood menjelaskannya.


"Cari dimana?"


"Kita cari informasi saja dulu. Sekalian melihat kondisi sekitar. Kalau kita tidak menemukannya, kita bisa minta tolong pada petugas yang kemarin.


"Jadi kita akan kembali ke gerbang kota?"


"Bisa jadi. Tapi semoga saja tidak harus kesana."


"Terus rencananya kapan kita akan berkeliling?"


"Hari ini juga. Lebih cepat lebih baik. Pokoknya nanti Kak Yun harus pandai berkomunikasi."


"Akan aku usahakan."


"Harus bisa pokoknya. Tenang saja, kita nanti jalan bersama."


"Aku tidak mau ikut. Lebih baik tinggal di rumah,"ucap Lion.

__ADS_1


Meskipun sudah lama menggunakan tubuh manusia, tapi dia masih belum terbiasa. Namun sebenarnya dia memang suka menyendiri. Jadi berada dikerumunan banyak orang membuatnya kurang nyaman.


Hyun pun mengangguk, sepertinya dia sudah faham dengan karakter Lion. Selain tidak suka keramaian dia juga tidak suka bersosialisasi.


"Baiklah. Apa kamu ingin pesan sesuatu?"


"Aku nanti mau makan daging bakar," jawab Lion sambil membayangkan daging bakar yang nanti akan ia makan. Tidak sadar bibirnya meneteskan air liur.


"Idih...jorok banget sih kamu. Lihat air liurmu menetes seperti itu!" seru Yin sambil begidik.


Yin bagi Lion merupakan siluman yang sangat menyebalkan sekali. Ada saja ucapan yang membuatnya greget. Kini dia terpaksa menghentikan lamunannya yang sedang makan daging bakar gara-gara Yin.


"Cerewet!"


"Ye...dibilangin kok malah marah."


"Sudah...soal daging ma itu ma gampang. Nanti aku belikan."


Selesai sarapan Hyun, Yin dan Yun keluar dari rumah. Mereka akan berkeliling sekaligus mencari orang buat memperbaiki rumah mereka.


Namun sebelum berangkat mereka berkenalan dengan orang yang tinggal di samping rumahnya. Kebetulan pemilik rumah berada didepannya rumah.


Jarak rumah satu dengan rumah lainya tidak terlalu rapat. Bahkan disamping kanan kiri rumah Hyun masih ada halaman yang luas.


"Selamat pagi Bibi," sapa Hyun dengan ramah


Wanita paruh baya itu menoleh kepadanya. Sebelumnya wanita itu sedang menyapu halaman.


"Siapa ya?" tanya wanita itu bingung. Baru kali ini dia bertemu dengan mereka. Membuat wanita itu agak waspada.


"Oh...jadi kalian penghuni rumah tua ini."


"Benar Bi. Karena mulai sekarang kami tetangga, semoga kita berhubungan baik dimasa depan."


"Tentu. Panggil saja Bibi Liu. Kalau begitu kalau boleh kalian ingin pergi kemana?"


"Apa bibi mengetahui orang yang pandai memperbaiki rumah?"


"Kalian bisa tanya langsung pada agen yang menjual rumah ini. Biasanya mereka mempunyai hubungan dengan para pekerja pembuat rumah."


"Betul juga. Terima kasih pemberitahuannya Bi."


"Sama-sama. Bukankah kamu bilang tadi, kita harus mempunyai hubungan baik," ucap bini Liu sambil tersenyum.


"Sekali lagi terima kasih Bi. Kalau begitu saya akan pergi kesana sekarang.


" Hati-hati. Semoga urusan kalian berjalan dengan lancar."


" Terimakasih."


Kemudian ketiganya melanjutkan perjalanan mereka.


Suasana kota memang lebih ramai desa-desa yang sudah mereka lalui. Berbagai toko juga berjejer di pinggir jalan. Tidak jauh beda dengan suasana pasar di zaman modern.

__ADS_1


Hanya saja bedanya bangunannya. Kalau dizaman modern banyak bangunan bertingkat yang tingginya lebih dari sepuluh tingkat. Namun disini paling tinggi hanya dua tingkat.


Kendaraan juga begitu. Jika di zaman modern, banyak sepeda dan mobil yang melaju kesana kemari, disini hanya ada kuda, kereta kuda, dan gerobak. Sebagian besar juga lebih memilih berjalan kaki.


Hyun memilih untuk ketempat agen penjualan rumah. Apalagi keberadaan mereka terbilang baru di kota. Bisa-bisa mereka malah kena tipu.


Kedatangan mereka disambut dengan hangat oleh petugas. Kebetulan petugas tersebut yang melayani mereka kemarin.


"Selamat datang...ada yang bisa kami bantu?"


"Paman masih ingat sama kami kan?"


"Tentu saja nona muda. Bukankah kemarin kita baru saja bertemu. Apa ada masalah dengan rumah yang anda beli."


"Syukurlah kalau begitu. Sebenarnya tidak ada masalah dengan rumah itu, namun kondisinya tidak layak huni."


"Apa kalian ingin pindah? tapi mungkin itu akan agak sulit. Apalagi surat-suratnya sudah selesai diurus. Kenapa tidak dari kemarin saja?"


"Bukan itu maksud kami. Sebenarnya yang kami butuhkan pekerja yang mau memperbaikinya. Menurut tetangga yang ada disamping rumah, lebih baik bertanya pada anda. Apa paman bisa membantu kami?"


"Oh...soal itu. Kalau itu mah gampang. Berapa banyak orang yang kalian butuhkan?" tanya petugas itu dengan tersenyum.


"Lima orang cukup. Kalau bisa tolong carikan orang yang jujur dan pekerja keras."


"Tenang saja, serahkan urusan itu pada kami. Besok akan saya antar mereka ke rumah kalian. Kalian boleh menilai sendiri kejujuran mereka dan kerja kerasnya. Kalau tidak sesuai kalian bisa bicara dengan saya."


"Baiklah paman, kami lega mendengarnya. Kalau begitu ini ada sedikit koin buat paman. Terimakasih sudah membantu kami. Kami tunggu kedatangannya besok pagi disana."


"Baik."


Karena urusannya sudah selesai, mereka melanjutkan perjalanan. Kini Hyun mengajak keduanya untuk berbelanja. Dia berencana untuk membeli peralatan dapur seadanya. Kurangnya akan mengambil dari ruang sistem.


Selain membeli alat-alat dapur, Hyun juga membeli berbagai bahan masakan. Banyak yang dibeli oleh Hyun. Karena tidak mungkin membawa semuanya, Hyun memasukkannya kedalam cincin ruang. Namun sebelum itudia harus mencari tempat yang agak sepi.


Namun hal tak duga terjadi. Hyun dan kawan-kawan bertemu dengan petugas penjaga gerbang yang kemarin. Dia sedang di keroyokan oleh beberapa orang berpakaian hitam.


Tidak menunggu lama Hyun pun membantunya. Begitupun dengan Yin dan Yun. Tak butuh waktu lama orang-orang yang berpakaian hitam itu pun tewas. Namun menyisakan satu orang untuk diinterogasi.


"Paman tidak papa kan?"


"Tidak papa. Terimakasih atas batuan kalian se_"


Bruk!


Ternyata dia terkena sabetan pedang. Namun yang membuatnya langsung pingsan karena ada racun dipedang tersebut.


"Waduh...ayo kita bantu dia kerumah. Keburu ada orang yang datang kesini," ucap Hyun.


Dia meminta Yun untuk menggendongnya. Untuk menghindari kecurigaan mereka menggunakan kecepatan angin untuk sampai ke rumah. Dengan hal itu tidak akan ada yang melihat mereka, kecuaki orang yang berkekuatan tinggi.


Setibanya dirumah, Hyun meminta Yun membawa petugas itu kekamar yang ia tempati. Setelah itu Hyun lekas mengobatinya.


Untung racun itu tidak terlalu ganas. Jadi Hyun tidak terlalu bersusah payah. Selain mengeluarkan racun, Hyun juga menjahit lukanya.

__ADS_1


Selesai mengobati, Hyun mengajak Yin dan Yun membersihkan dapur. Dapurnya terletak terpisah dari rumah utama.


__ADS_2