
Hyun sudah kembali kerumah Yin dan Yun. Di tangannya ada dua ekor kelinci dan beberapa tumbuhan yang bisa ia gunakan untuk membuat makan malam.
Dari singa penjaga selain mendapatkan buku, Hyun juga mendapat cincin ruang. Semua itu sudah dipersiapkan oleh pemilik sebelumnya. Agar buku yang ia berikan tidak jatuh ke tangan orang jahat.
"Kenapa lama sekali?" tanya pangeran Ji Won yang sudah menunggu kedatangannya di depan rumah.
Dia sudah menunggu dari tadi. Andai ia tidak tertidur setelah meminum obat, pasti ia sudah menyusul.
"He he he Hyun bertemu mainan menarik," jawab Hyun sambil tersenyum.
Dia membayangkan wajah imut singa kecil. Dia bermain cukup lama dengannya. Itulah yang membuatnya pulang terlambat.
"Maksudnya?"
"Rahasia. Kak Ji Won sudah makan belum?"
"Mau makan apa?"sindir pangeran Ji Won.
"Ups Hyun lupa," ucap Hyun sambil nyengir.
"Memangnya kamu sudah makan?"
"Ya belum lah. Tapi jangan khawatir, Hyun sudah bawa sesuatu untuk kita makan. Terus bagaimana kondisi kakak sekarang?"
"Tidak terlalu buruk. Tapi kamu harus melihat siluman rubah wanita itu, sampai sekarang dia masih belum sadar."
"Nanti dulu. Aku mau menyimpan ini di dapur."
Setelah itu Hyun pun pergi kedapur diikuti pangeran Ji Won dibelakangnya.
"Kenapa kakak ikut kesini?" tanya Hyun heran. Padahal dia hanya ingin meletakkan barang bawaannya saja.
Pangeran Ji Won tidak menjawab. Sebenarnya dia sendiri bingung kenapa jadi mengikutinya. Padahal awalnya ingin ke kamar.
"Mau minum."
"Oh... Kalau begitu Hyun mau bersih-bersih dulu."
"Hemm.."
Pangeran Ji Won keluar dari dapur. Sedangkan hyun menuju sumur yang ada di belakang rumah.
Yin memang masih belum sadar. Hal itu membuat Yun khawatir. Bahkan dia tidak keluar dari kamar Yin.
Hyun yang selesai membersihkan dirinya langsung ke kamar itu.
"Apa kak Yin sudah sadar?"
Yun menggelengkan kepalanya dengan lesu. Hyun pun mendekat untuk memeriksanya.
Di tangannya sudah ada stetoskop dan beberapa alat medis lainya yang akan ia gunakan untuk memeriksa kondisi Yin.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kondisinya sudah lebih membaik dari tadi. Sebentar lagi juga akan siuman," ucap Hyun begitu selesai memeriksa kondisi Yin.
"Tapi _"
"Ehm..."
Yun baru saja mau hendak menyela, namun tiba Yin sadar. Diapun menghampiri sang adik dengan mata berbinar.
"Kamu sudah sadar, Yin?"
"Ka-kak."
__ADS_1
"Iya...kakak disini. Apa yang kamu rasakan?"
"Haus."
Dengan cepat Yin mengambil air yang berada di atas meja. Kemudian meminumkannya pada Yin secara perlahan.
Bukan hanya Yin saja yang senang, Hyun pun turut senang. Yun memandang Hyun dengan rasa terima kasih.
"Terimakasih."
"Kakak tidak usah sungkan."
"Maaf atas perlakuan kami sebelumnya."
"Tidak masalah."
"Apa kalian akan segera meninggalkan desa ini?"
"Tentu saja."
Bukan Hyun yang menjawabnya, namun pangeran Ji Won yang baru masuk kedalam kamar itu.
"Bisakah kalian tinggal lebih lama disini?" pinta Yin dengan lemah. Dia masih belum rela jika mereka meninggalkannya.
"Tidak bisa!"
"Kami akan tinggal didesak ini mungkin seminggu lagi."
"Hyun!"
"Maaf kak...ads sesuatu yang harus Hyun lakukan."
"Apa itu?"
"Rahasia dong."
"Ada yang harus aku lakukan. Tapi sebelum itu aku akan mengantar kamu pulang dulu ke desa Karo."
Deg!
Hyun menatap pangeran Ji Won penuh tanya. Sepertinya ada beban berat yang sedang ditanggung oleh suaminya. Namun dia tidak bisa meninggalkan desa ini begitu saja.
"Maaf kak. Aku tidak bisa meninggalkan desa ini begitu saja."
"Apa maksudmu?"
Bukan hanya pangeran Ji Won saja yang terkejut dengan jawaban Hyun. Namun Yin dan Yun pun kaget mendengarnya.
"Aku tahu...ada sesuatu yang mendesak yang tidak bisa kakak ucapkan padaku. Namun aku juga punya alasan untuk tidak di desa ini untuk sementara waktu."
Sekarang dia tidak perlu buru-buru untuk keluar dari desa ini.
"Alasan apa?"
"Kakak sendiri kenapa harus pulang besok?"
Deg!
Pangeran Ji Won menatap Hyun dengan pandangan rumit. Andai saja dia bisa berkata jujur padanya.
"Maaf...tapi kamu harus pulang. Apa kamu tidak merindukan ibu dan kedua adikmu?"
Yin dan Yun saling pandang. Mereka kira keduanya adik kakak kok sekarang begini.
__ADS_1
"Memangnya jika aku kembali, apa yang akan kakak katakan saat kakak akan pergi lagi?"
Skak!
Pangeran Ji Won terdiam. Bukankah jika dia ingin meninggalkan Hyun dia harus berpamitan dengan keluarganya?
Terus alasan apa yang akan ia kemukakan?
Pangeran Ji Won bingung menjawabnya. Tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Hyun sendiri di desa ini.
Meskipun kekuatan Hyun tidak bisa ia remeh kan, dia masih anak kecil. Bagaimana kalau dia ingin pulang?
"Kakak tidak perlu khawatir denganku. Ada kak Yin dan kak Yun yang menemani ku."
"Terus bagaimana kalau kamu ingin pulang?"
"Aku akan membawa mereka," jawab Hyun dengan santai.
"Mana bisa! kami tidak bisa keluar dari desa ini," ucap Yun.
"Tenang saja. Aku sudah tahu caranya. Untuk itulah aku butuh waktu lebih lama untuk tinggal di desa ini."
"Apa!!!"
Hyun tidak berbicara omong kosong. Dia mampu membawa kedua siluman rubah itu keluar dari desa mati. Namun dia masih butuh waktu.
Selain itu dia juga ingin melatih kekuatannya. Menurutnya desa ini sangat cocok digunakan untuk tempat berlatih.
Tidak akan ada orang yang tahu akan latihannya. Mungkin beberapa siluman yang tinggal di hutan. Sebab dia akan berlatih di dekat goa tempat singa penjaga berada.
"Kamu serius?" tanya ketiganya serius.
"Dua rius malah."
Pangeran Ji Won tidak lagi memaksa. Dia tahu jika istri kecilnya memiliki banyak rahasia seperti dirinya.
Andai kondisi perbatasan aman, dia akan dengan senang hati menemaninya. Namun ada sinyal perbatasan diserang.
Sinyal yang diberikan oleh anak buahnya menandakan betapa seriusnya kondisi di perbatasan. Itulah yang menyebabkan dia harus secepatnya kembali.
Keesokan harinya pangeran Ji Won benar-benar pulang. Hyun menitipkan kepingan emas yang ia pinta dari penjaga sistem.
Hyun meminta pangeran Ji Won untuk memberikan emas itu pada ibunya. Selain itu dia juga meminta perlindungan buat mereka
Pangeran Ji Won menerimanya dan berjanji akan menyuruh anak buahnya untuk melindungi mereka. Hyun pun lega mendengarnya.
"Kamu tidak papa?" tanya Yun yang berdiri disamping Hyun.
Keduanya menatap kepergian pangeran Ji Won yang semakin jauh. Baik Yin maupun Yun masih belum mengetahui hubungan keduanya.
"Tidak papa lah."
"Kamu tidak takut tinggal bersama kami di desa mati seperti ini?"
"Buat apa takut? apa kak Yun sudah melupakan janji kakak?"
"Tidak. Hanya saja aku masih heran kenapa kamu tidak ikut dengan kakakmu?"
"Dia bukan kakakku."
"Ha?"
"Dia suamiku."
__ADS_1
"Apa?!"
Bruk!