TRANSMIGRASI SI AGENT CANTIK

TRANSMIGRASI SI AGENT CANTIK
Kondisi pangeran Ji Won


__ADS_3

Kondisi pangeran Ji Won belum ada perubahan. Sejak kepulangannya dari medan perang, dia tinggal di kediaman pangeran yang ada di istana.


"Bagaimana kondisi pangeran, Tabib Si?"tanya selir Agung saat tabib memeriksa kondisinya.


Kaisar Tan menyuruh tabib Si sebagai tabib pribadi pangeran Ji Won . Tabib Si diminta untuk tinggal di kediaman pangeran hingga kondisi pangeran pulih.


Tabib SI tinggal di salah satu kamar yang tidak jauh dari kamar yang ditempati pangeran Ji Won.


Hal itu bertujuan agar dia bisa memantau perkembangan pangeran Ji Won. Segala cara sudah ia coba namun kondisi pangeran Ji Won tidak ada perubahan.


Sebenarnya bukan hanya tabib Si saja yang sudah mengobati pangeran Ji Won. Hanya saja khusus tabib Si di perkenankan untuk tinggal disana.


"Maafkan hamba yang mulia," ucap sang tabib dengan menunduk.


Selir Agung tidak menjawab. Dia menatap sang putra yang terbaring diatas ranjang. Sebagai seorang ibu siapa yang tidak akan sakit melihat kondisi putranya seperti itu.


Tubuh selir Agung makin kurus. Bahkan berkali-kali jatuh sakit karena memikirkan kondisi pangeran Ji Won yang tidak kunjung sembuh.


"Maaf yang mulia...ada jenderal Kim yang datang berkunjung," ucap pelayan menyadarkan lamunan dari sang putra.


"Suruh beliau masuk."


Selir Agung keluar dari ruangan itu. Dia ingin menyambut kedatangan jenderal Kim.


Selama peperangan jenderal Kim hanya mendapatkan luka ringan. Namun tanpa orang pun tahu pangeran Ji Won terluka karena melindungi jenderal Kim.


"Hormat kami yang mulia selir Agung," ucap Jendral Kim serta keluarganya.


Jenderal Kim memang tidak hanya datang sendiri. Dia datang bersama ketiga anaknya. Selain itu dia juga membawa tabib Li.


"Hormat kalian saya terima. Silahkan duduk," ucap selir Agung dengan ramah.


Setelah mendapatkan izin dari selir Agung keluarga jenderal Kim duduk di kursi yang tersedia di ruang tamu.


"Bagaimana kondisi pangeran Ji Won, Yang Mulia?"


"Masih seperti sebelumnya."


"Maafkan hamba yang Mulia. Seandainya pangeran tidak menjadikan dirinya sebagai tameng mungkin beliau tidak akan seperti ini," ucap Jendral Kim penuh sesal. Dia tidak pernah menyembunyikan fakta ini untuk mendapatkan penghargaan.


"Anda tidak perlu minta maaf, Jendral. Ini sudah menjadi pilihan putraku. Apalagi pangeran Ji Won sangat mengagumi Anda," jawab selir Agung bijak.


Sudah bukan rahasia umum lagi memang. Sebab sejak kecil dia sudah mengatakannya dengan lantang. Karena kekaguman itulah yang menyebabkan pangeran Ji Won bercita-cita menjadi seorang Jendral.


"Bolehkah kami melihat kondisinya?"


"Tentu saja. Mari!"


Selir Agung membawa mereka kedalam kamar pangeran Ji Won. Ha Neul yang melihat kondisinya langsung menangis.

__ADS_1


"Bolehkah aku merawatnya?"pinta Ha Neul tiba-tiba.


"Apa!!?"


Shock....


Itulah yang dirasakan oleh, selir Agung, jenderal Kim serta kedua putranya saat mendengar ucapan Ha Neul. Mereka tidak menyangka jika Ha Neul akan berani meminta hal tersebut.


"Apa maksud anda nona Ha Neul?" tanya selir Agung setelah pulih dari terkejutnya


"Bolehkah aku menikah dengan pangeran Ji Won?"


Ha Neul menatap wajah selir Agung dengan sendu. Selir Agung melihat cinta dan kejujuran dimatanya.


"Maafkan saya nona...saat ini bagiku yang penting kesembuhannya. Untuk urusan hati biarlah pangeran sendiri yang menjawabnya."


"Tapi_"


"Putriku...tolong hargai keputusan selir Agung. Kau doakan saja semoga pangeran segera sembuh."


Sebenarnya Ha Neul masih ingin membantah. Namun melihat tatapan tajam sang kakak membuatnya mengurungkan niatnya.


Kim Won Bin merupakan putra sulung dari jenderal Kim Yu Shin. Kini dia juga menjadi seorang jenderal muda muda mengikut jejak ayahnya.


Kim Won Bin sangat menyayangi adik bungsunya. Apapun yang diinginkan Ha Neul dia akan berusaha untuk mewujudkannya.


Bukanya dia tidak menyetujui jika sang adik menikah dengan pangeran Ji Won. Namun saat ini pangeran Ji Won masih dalam kondisi setengah mati. Hidup tidak, mati pun tidak.


Begitupun dengan jenderal Kim. Meskipun dia sangat berterima kasih karena pangeran Ji Won melindunginya. Namun dia juga tidak ingin sang putri menderita.


"Begini yang mulia...beliau merupakan tabib Li. Kalau yang mulia berkenan bolehkah tabib Li memeriksa kondisi pangeran?"


"Silahkan."


Tabib Li mendekat kearah ranjang, kemudian mengambil tangan pangeran Ji Won untuk diperiksa. Dia mengernyitkan dahinya tanda bingung. Setelah itu menggelengkan kepalanya.


"Maaf..."


Ucapan tabib Li membuat jenderal Kim semakin yakin dengan keputusannya.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Jendral Kim membawa ketiga anaknya kesini. Dia sudah frustasi dengan keinginan sang putri yang ingin menikah dengan Pangeran Ji Won.


Jenderal Kim sudah berjanji untuk menjodohkan Ha Neul dengan putri menteri keuangan. Putra menteri keuangan menyukai Ha Neul sejak kecil.


Jendral Kim berharap Ha Neul mau menerima perjodohan itu setelah mengetahui kondisi pangeran Ji Won.


Setelah berbincang sejenak dengan selir Agung, jenderal Kim mengajak anak-anaknya berpamitan.


Setibanya di rumah Jendral Kim langsung mengutarakan keputusannya. Mau tidak mau Ha Neul harus menikah dengan putra menteri keuangan.

__ADS_1


"Ayah sudah tidak menyayangiku lagi,"seru Ha Neul dengan menangis.


"Ayah sangat menyayangimu. Sampai berapa lama lagi kamu akan menunggu pangeran Ji Won bangun?"


"Pasti pangeran akan bangun!"


"Kapan? Jika dia sampai dia tidak bisa bangun, apa yang akan kamu lakukan?"


"Pangeran pasti akan bangun!" teriak Ha Neul dengan histeris.


Melihat hal itu jenderal Kim membawa Ha Neul kedalam pelukannya. Kini bukan hanya Ha Neul saja yang menangis. Jenderal Kim dan kedua putranya juga ikut menangis.


"Pangeran pasti sembuh, Yah ..."


Bruk!


"Ha Neul!"


.


.


Pangeran Jung Hee terbahak-bahak mendengar laporan dari anak buahnya. Kali ini dia sangat puas dengan hasil kerja mereka.


"Kakak puas sekarang?"


"Sangat puas."


Pangeran Jung Hee tidak menyangka jika dia berhasil membuat pangeran Ji Won bagai mayat hidup. Kini dia makin optimis untuk melakukan gerakan selanjutnya.


"Sekarang apa rencana kita selanjutnya?"


"Sekarang kita tinggal menyingkirkan pangeran mahkota. Kita buat namanya rusak di masyarakat."


"Bagaimana caranya?"


"Bukankah kamu memiliki banyak akal. Siapa tahu salah satu dari rencanamu akan berhasil."


"Apa menurut kakak, pangeran Ji Won masih punya kesempatan untuk sembuh?"


"Menurutmu?"


"..."


"Pangeran Ji Won mungkin masih bisa sembuh, jika hanya mendapatkan luka biasa. Namun racun yang saat ini ada dalam tubuhnya bukanlah racun sembarangan. Meskipun dia minum penawarannya, kondisinya tidak akan normal seperti biasanya."


"Kakak luar biasa!"


"Bagaimana kalau sekarang kita merayakannya?"

__ADS_1


"Tentu saja, siapa takut?"


Keduanya pun merayakan kemenangan mereka dengan mengunjungi rumah bordil. Keduanya memang tidak bisa lepas dengan minuman dan wanita. Entah apa jadinya kerajaan Api jika pangeran Jung Hee berhasil mendapatkan yang diinginkan.


__ADS_2