Tuan Vampir Dan Darah Suci

Tuan Vampir Dan Darah Suci
Prolog


__ADS_3

Festival musim panas tengah berlangsung. Berbagai macam tontonan dipertunjukkan. Salah satu yang paling mencolok adalah banyaknya pernak pernik khas musim panas yang tersusun rapi di kios-kios. Membuat siapapun yang mengunjungi pesta itu akan merasa takjub sekaligus senang. Bagi 'mereka', festival ini adalah yang paling ditunggu-tunggu tiap tahun.


Anak-anak kecil berlarian dengan bahagia sembari membawa kembang api merah menyala dan pakaian khas negri mereka.


Sementara, ada seorang wanita berambut panjang semampai berwarna hitam kelam tengah berdiri di balik pepohonan rimbun. Black Forest adalah hutan yang berada di tempat yang sangat jauh dari jangkauan manusia. Bahkan untuk sampai ke tempat ini perlu mendaki bukit sampai ratusan meter.


Rambut wanita itu terhempas angin dengan lembut.


"Sayang," panggil seorang lelaki di sampingnya.


Veronica Smitson, begitu namanya. Melirik ke arah suara. Seorang lelaki dengan potongan rambut panjang ke belakang dan mata sipit menatapnya dengan serius.


"Ada apa?" tanya Veronica tanpa ekspresi.


"Kau lihat, 'kan?" Floch menuntun Veronica untuk melihat semakin luas area festival. "Ras kami, sedang mengadakan festival dan acara penyerangan akan segera dimulai," lanjut lelaki tampan dengan dagu runcing.


Veronica menatap Floch serius. "Lalu."


Floch tertawa menyeringai ketika mendengar jawaban Veronica yang begitu dingin dan tak berminat. "Apa kau tak takut? Ras kami akan menyerang kotamu," ujar Floch masih tak menurunkan senyumannya, hingga giginya yang bertaring terlihat jelas.


Manik Veronica mulai melebar namun seketika gadis itu buang muka. Sial, dalam hati Veronica berusaha untuk menyembunyikan keterkejutannya.


"Kau tau 'kan, Sayang? Jika aku mengajakmu ke sini di saat festival darah akan dimulai?" Floch beralih menarik salah satu lengan Veronica. Keduanya saling tatap untuk beberapa saat. "Aku akan melindungimu."


Set!


Sekejap mata tubuh Veronica ada di atas pohon tinggi. Degup jantung Veronica lebih cepat dari biasanya ketika sadar akan hal itu. Bahkan jantungnya terasa ingin loncat dari tempatnya.

__ADS_1


"Floch! Kau!" bentak wanita itu memukul bahu Floch kuat.


Floch tertawa terkikik. Menimbulkan sirat kekesalan di wajah Veronica. "Tenanglah. Tak akan ada yang bisa mencium aroma manusiamu di sini. Para vampire itu ... akan mulai menyerang ke kota di bawah bukit ...." Floch menatap ke bawah mengajak Veronica untuk melihat para vampire yang sedang berputar mengelilingi api malam kemudian beberapa dari mereka mulai menggeliat, berjalan beriringan menuju sebuah tempat yang menjadi pemisah antara dunia manusia dan vampire.


"Kau tak akan berburu, Floch?" tanya Veronica dengan manik yang masih tak lepas dari beberapa vampire yang mulai meninggalkan area festival untuk berburu, kemudian ketika mereka berhasil mendapatkan mangsa mereka kembali dengan membawa persembahan apapun untuk raja mereka.


"Untuk apa aku berburu sementara ada manusia di sampingku," jawab Floch santai.


Deg!


Veronica terbelalak, menatap Floch yang saat itu tersenyum penuh arti padanya. Senyumannya makin lebar, menyeringai dengan taring-taring yang terlihat. "Aku haus. Boleh kucicipi darahmu?"


"Tidak!" tolak Veronica cepat. Wanita itu menjauh dan mencari ranting lain untuk pegangan agar tak jatuh dari pohon dengan tinggi sangat menjulang itu.


"Ayolah, Veronica!" Floch mencengkeram kedua bahu Veronica erat. "Kau lupa? Kau bisa berkunjung ke sini tanpa diketahui prajurit kerajaan adalah berkat diriku!" bentak Floch geram. "Kalau tidak, aku akan menjatuhkanmu dari sini! Jika kau memberiku sedikit darahmu, aku akan melindungimu!"


Kikikan Floch tercipta. Tangannya mengusap pelan dagu Veronica dengan genit. "Tentu saja, Sayang." Tak ingin lama menahan rasa hausnya, lelaki itu mendekati leher Veronica. Mengendus baunya, membuat Veronica mati-matian menahan nafas dan bersiap merasakan tusukan taring-taring tajam.


Namun, diam-diam wanita itu meraih sesuatu dalam saku bajunya. Tak diketahui oleh Floch. Hingga Floch berhasil menggigit lehernya cukup keras.


"Argh!" erang Veronica kesakitan. Namun, Floch nampak menikmati darah wanita itu. Tak ingin membiarkan Floch merebut darahnya semakin banyak, wanita itu mengangkat suntikan yang ia ambil dari saku bajunya. Diam-diam memeluk Floch, mengusap rambut lelaki itu. "Minumlah darahku. Malam ini, untuk terakhir kali."


Zreb!


Suntikan berisi cairan tersebut disuntikkan Veronica ke leher bagian belakang Floch. Membuat Floch tersentak, seketika menjauh dan mengusap tengkuknya.


"Argh! Hey! Apa yang kau lakukan?!" tanya lelaki itu masih kesakitan. Jangan lupakan darah Veronica ada di sudut-sudut bibir lelaki itu.

__ADS_1


Veronica tak menjawab dan hanya menatap Floch serius dan waspada. Ia sendiri menggunakan tudung bajunya untuk mengusap lehernya yang telah digigit.


"Veronica! Apa yang lakukan padaku?!" tanya Floch dengan manik melebar. Entah mengapa sakit di bagian lehernya semakin menjalar bahkan sampai ke area wajah. Urat-urat wajahnya mengeras membuat Floch menggeliat meski kesadarannya masih ada.


"V-veronica! K-kau ...!" Manik Floch seutuhnya menjadi hitam, seluruh tubuhnya bergetar dan bergeliat di atas sana.


"Tubuhmu akan terasa kaku untuk beberapa saat. Itu karena perubahan genetik yang berlebihan dan tubuhmu dipaksa keras untuk berubah. Floch ... kau tak akan pernah merasakan nikmatnya darahku lagi," jelas Veronica dengan santai.


Floch mengeling dengan susah payah. Menatap Veronica, tangannya yang menggembung dan berurat berusaha menggapai wanita itu. "K-kau! Apa yang ... kau inginkan ...?" tanya Floch tertahan.


Brugh!


Sedari tadi Veronica mencari dahan pohon yang sekiranya bisa ia gunakan untuk memukul Floch. Tangan Floch menjadi satu satunya pertahanan agar tubuhnya tak jatuh. "Veronica ... Sialan ... Kau ...!" Manik Floch melotot menatap Veronica penuh dendam sekaligus tak mengerti dengan apa yang terjadi padanya. Lelaki itu tanpa bisa ditahan jatuh dari atas pohon, dengan keras ke atas tanah.


Tanpa ekspresi, Veronica menatap pacarnya itu. Floch menggeliat, bergerak brutal sambil berguling-guling dengan otot-otot yang kaku. "Aaaarghhhh!" Teriakannya menggema di penjuru hutan Black Forest, dengan darah hitam yang mengaliri lubang hidung dan telinganya, menandakan kesakitan yang teramat sangat.


Veronica mengatupkan kedua giginya. Tangannya mengelus perutnya yang mulai membuncit. Sementara, maniknya masih terus menatap Floch yang kini dikelilingi oleh vampire yang berhenti sejenak saat menuju area penyerangan.


"Musnahkan mereka, Floch. Habisi kaummu dan jangan pernah sentuh duniaku lagi," ujar wanita itu. Tanpa sadar air matanya mengalir. Dengan cepat Veronica mengusapnya. "Sayang, bertahanlah. Mama akan segera pulang menemui Ayah." Veronica terus mengusap perutnya yang mengandung 4 bulan.


Sementara, Floch yang tengkurap mulai berhenti menggeliat. Lelaki itu membuka maniknya, para vampire merasa keheranan ketika mata Floch hitam seutuhnya. Bak batu permata hitam ular yang amat menyeramkan. Senyuman Floch terukir, lebar ... dengan air liur yang jatuh.


"Aku haus ... Berikan darah kalian padaku, Vampire Sialan!"


"Arghhgg!!!! Aaaaaaaa!"


"Kyaaaaaa!!!!!!"

__ADS_1


__ADS_2