Tuan Vampir Dan Darah Suci

Tuan Vampir Dan Darah Suci
Empat Pillar


__ADS_3

Tendangan vampir murni berambut perak barusan sukses membuat dinding mansion ambruk.


"Sial, kekuatan macam apa itu?" Cristop geram sembari memegang perutnya.


"Kekuatan jarak dekat." Lucas berdiri dengan nafas terengah-engah. "Trevada! Kemarilah!"


"Percuma. Trevada tak akan datang!" sanggah Niels.


"Yang benar saja?!" Lucas menggeram, menatap Niels tajam.


"Hey! Jangan menatapku seperti itu!" protes Niels saat Lucas melimpahkan amarahnya pada Niels.


Terdengar kembali gemuruh di langit mansion. Vampir murni berambut perak tadi membantu temannya yang sempat tertembak oleh Black Blood. Lucas bertanya-tanya mengapa bisa ada vampir murni yang mampu mengendalikan elemen alam selain dari putra mahkota. Setahunya kekuatan langka itu diwariskan oleh sang raja pada putra mereka melalui ikatan darah.


"Kembali ke formasi tadi. Cristop memulai serangan pengecoh, Niels kau menyerang setelahnya, sebelum itu aku pastikan sudah mengunci mereka dalam controller," titah lelaki itu. Lucas tak boleh goyah!


"Baik!" Niels dan Cristop menjawab serentak.


Sesuai arahan Lucas, kdua tangan Cristop terarah pada vampir murni tadi. "Black Blood!"


Dor!


Bak senapan, darah dari jarinya meluncur keras menuju lawan. Namun, vampir murni berambut perak langsung lompat sembari menarik temannya yang sempat tertembak oleh Cristop. "Aish ... Tidak mudah juga," keluh Cristop. Namun, ia tak menyerah. Ia berusaha melemparkan Black Blood kembali untuk mengecoh perhatian musuh.


"Niels! Sekarang!"


Niels berlari kencang, ia meraih lengan Cristop. Lelaki itu melompat dan melayang di udara berkat controller triple yang digunakan Lucas. Controller dapat mengendalikan benda atau manusia dengan batas jumlah tertentu. Kali ini, Lucas hanya perlu fokus membidik tanda agar mengenai vampir murni tadi.

__ADS_1


Si rambut perak hanya menatap Lucas dari kejauhan. Temannya yang nampak kesakitan akibat Black Blood berdesis. "Exander, seharusnya ini cukup," ujar lelaki berambut pirang dan berkulit seputih susu itu.


Exander—vampir berambut perak dan mata tajam—menjawabnya dengan gumaman. "Baik, Pangeran," sanggup Exander. "Serahkan padaku."


Dibanding waspada dengan serangan Black Vampir, Exander memilih untuk mengerahkan kekuatan kakinya menuju ke puncak benteng. Kekuatan yang ia punya adalah hentakan yang luar biasa. Bahkan ketika di udara sekalipun, massa tekanan dari hentakannya begitu besar.


"Hey! Mau ke mana kau!" Niels terheran-heran.


Dengan penuh tanda tanya, Lucas mengatupkan jarinya, sebagai tanda bahwa ia menutup tanda controller-nya. Ia pikir Exander akan menyerang. Mengingat betapa besarnya kekuatan yang lelaki itu punya bersama pangeran berambut pirang tadi. Namun, Exander memilih lari. Niels dan Cristop yang sebelumnya melayang seketika jatuh.


Dugh!


"Argh!! Lucas!" sentak Niels. "Jika kau tak bisa menggunakan controller berikan saja kekuatannya padaku!" Lagi-lagi, Niels protes. Cristop yang bangkit hanya menatap Niels dengan gelengan.


Exander tak ingin membuang waktu, ketika ia berhasil di atas benteng, ia segera lompat bersama pangeran yang memiliki luka cukup serius akibat Black Blood.


"Hentikan!" teriak Lucas dari kejauhan. "Biarkan dia lari," sambungnya.


Niels memutar bola matanya. Sementara, Cristop berjalan mendekati Lucas diikuti Niels yang dengan malasnya terus menggerutu. Andai saja ia yang jadi ketua, pasti mengejar vampir murni dan menghabisinya sampai babak belur.


"Kita diskusikan soal penyerangan ini di dalam," ujar Lucas ketika kedua temannya sampai di dekatnya.


Beberapa Black Vampir yang menghuni mansion bermunculan dari tempat persembunyian. Para rakyat biasa diarahkan untuk pergi ke ruang perawatan, sementara para petinggi berkumpul di aula mansion. Ketegangan begitu terasa, apalagi kerusakan yang ditimbulkan oleh pertempuran barusan cukup parah.


Lucas tak bisa berpikir jernih atau pun bersikap tenang. "Kita laporkan dulu kejadian ini pada Ayahanda," tutur Lucas dengan langkah cepat diikuti Niels dan Cristop.


Brak!

__ADS_1


Pintu ruang utama dibuka dengan cukup keras, seorang pria berambut hitam legam duduk di kursi paling besar. Matanya hitam, namun tak pernah bisa pulih. Inilah tanda bagi bangsa Black Vampir. Pemimpin mereka memiliki bola mata hitam seluruhnya yang tak bisa berubah walau dalam kondisi aman sekalipun.


Pria itu melirik, kedua taringnya yang panjang bahkan timbul di ujung bibir. "Ada apa?" tanyanya.


Lucas dan kedua temannya tunduk di hadapan pria itu. Lord Floch Alexander Black, begitu nama lengkapnya, menatap Lucas tanpa ekspresi untuk menunggu penjelasan anaknya.


"Ayahanda, vampir murni telah menyerang benteng kita," jelas Lucas. Cristop dan Niels tunduk di belakang Lucas.


"Jelaskan," titah Floch.


"Mereka berjumlah sekitar empat orang. Aku yakin sebab bilangan pillar yang dia sebut sampai empat orang. Namun, yang nampak hanya ada dua. Salah satu di antaranya memiliki kekuatan mengendalikan elemen alam dan tendangan dengan dampak kuat sekali. Sepertinya, mereka pillar baru," lanjut Lucas.


"Hm? Kenapa kau begitu yakin mereka pillar baru? Dengan kekuatan besar dan berkarakter seperti itu, mereka bukanlah baru, Lucas," ujar Floch. Ia menatap anaknya serius. "Apa kau tak tau, anggota pillar memiliki organisasi pelatihan sendiri. Mereka yang keluar sebagai yang terbaik, akan bergabung dengan pillar utama. Kenapa kau masih tak mengerti?"


Lucas mendongak. "Aku mohon maaf, Ayahanda," ujar Lucas. Ia agak risau dengan kemunculan Exander tadi. "Tapi, dari mana Ayah tau bahwa pillar memiliki organisasi seperti itu?"


"Sebab aku pernah menjadi anggota pelatihan mereka," sambar seseorang entah dari mana datangnya. Semua mata tertuju pada Trevada. Lelaki itu entah sejak kapan ada di belakang Cristop dan Niels yang saat itu begitu terkejut dengan kehadiran Trevada.


"Trevada, jelaskanlah," titah Floch.


"Kalian semua tau, aku diculik oleh kalian saat umur 10 tahun dan bergabung dengan organisasi rahasia pilar saat itu. Jika aku tak dijadikan Black Vampir oleh kalian, mungkin yang menyerang kalian tadi adalah aku," jelas Trevada menatap Floch tanpa ekspresi. Ada raut keseriusan di maniknya.


Hal itu membuat Floch mendengus kecil. Ia menatap Lucas serius. "Kau berdirilah, Lucas," titahnya. "Bersikaplah seperti Trevada, meski aku ini ayahmu, kau harus lebih bersikap kejam dan tegas. Aku perintahkan kalian untuk membalas balik serangan ke kastil Apratas. Dengan syarat kalian kembali setelah berhasil mencari tau siapa pillar utama itu, terutama dua vampir murni yang muncul!"


"Dia seorang pangeran, Ayah. Hanya pangeran yang bisa memiliki kekuatan mengendalikan elemen alam." Lucas melirik Trevada. "Jika kekuatan pangeran mahkota ada di pangeran biasa, apa kau tau apa penyebabnya?" tanya Lucas serius.


"Aku tak tahu," balas Trevada cepat. "Bagaimana pun aku baru bergabung dua minggu saat kalian culik. Tapi aku tau siapa lelaki berambut pirang tadi." Ucapan Trevada sukses mencuri perhatian Floch.

__ADS_1


"Dia adalah Jackson Loidreen Rod, namun aku tak menyangka kalau dia seorang pangeran."


__ADS_2