Tuan Vampir Dan Darah Suci

Tuan Vampir Dan Darah Suci
Serangan Pertama


__ADS_3

Lucas tersenyum sinis. Lelaki itu menatap Riana dengan tampang menantang. Mengingat apa yang terjadi dengan Hansel tadi, membuat Lucas semakin ingin membuat Riana meronta dan menderita.


"Hansel? Kau meminta pertolongan pada pangeran lemah itu?" tanya Lucas mendekat. Lelaki itu menghela nafas kasar, menatap Riana yang gemetar ketakutan. Ketika jaraknya dengan Riana sudah dekat, raut wajah Lucas menjadi dingin. "Dengar, pangeran lemah itu tak akan pernah bisa menolongmu. Dia sudah—"


"Berhentiii!" teriak Riana tiba-tiba. Akibat teriakan itu Lucas mundur beberapa senti. "Hansel akan menolongku! Dia akan datang padaku!" Riana tak ingin mendengar Lucas, meski ia tak tau pasti, namun Lucas sepertinya ingin memberi kabar buruk mengenai kerajaan vampir murni yang diambang kehancuran.


Lucas menutup kedua telinganya. Giginya terkatup. Namun, sebisa mungkin ia menahan emosinya. "Teruslah panggil nama pangeran lemah itu berulang kali, bahkan sampai suaramu habis, dia tak akan datang. Hanya aku yang akan datang untukmu. Kau harus tau itu," ujar Lucas dengan nada dan bias wajah yang berusaha tenang. Bagaimana pun Riana adalah gadis yang ia cintai.


Riana menggelengkan kepalanya kuat. "Dia akan datang padaku!"


"TIDAK AKAN!" Kali ini, Lucas menyentak. Membuat gadis yang tengah dirantai itu membeku. Lucas memangkas jarak wajahnya dengan Riana, menatap manik gadis itu dengan emosi yang siap diledakkan dan otot leher yang menonjol. "Pangeran Hansel sudah terinfeksi oleh gigitanku. Dia sudah menjadi bagian dari kami sekarang. Dan kau, tak akan pernah diselamatkan oleh dia!" jelas Lucas. Tak ingin menutupi apapun, sebab Lucas sudah muak dengan tangisan menyedihkan Riana yang selalu menjeritkan nama Hansel.


Riana nampak terkejut bukan main. Dengan manik penuh air, ia menatap Lucas terbelalak. "A-apa ... yang kau katakan ...?"


Lucas mengangkat salah satu sudut bibirnya. Lelaki itu menangkup sebelah pipi Riana yang menunggu jawabannya. "Hansel yang kau harapkan tak ada lagi. Sekarang hanya ada Hansel, Black Vampire yang akan memangsa seluruh ras-mu. Camkan itu," bisik Lucas penuh arti.


Air mata Riana jatuh, isakannya meledak. Bersamaan dengan itu, Lucas menghilang di balik pintu dengan perasaan puas dan senyum yang terus terukir, tau bahwa Riana akan menyerah untuk bersama dengan Hansel, mantan sahabat Lucas sendiri sekaligus kekasih Riana, gadis yang dicintai Lucas sejak pertemuan pertama.


Sepeninggalnya ia dari tempat Riana dikurung, Lucas beranjak menuju ruangan pribadi milik anggota inti pertahanan. Pintu dibuka dengan sekali tendang, membuat beberapa lelaki yang ada di sanah melirik ke arah sumber suara.


"Nah, bos berandalan kita sudah kembali!" Niels tersenyum lebar. Sementara beberapa orang yang ada di sana nampak biasa saja dengan kehadiran Lucas.


Lucas melirik anggota pertahanan inti satu persatu. Kelompok ini dinamakan Deepdark, mengikuti ras mereka yang memiliki mata gelap seutuhnya. Lelaki itu melangkah, mendekati anggota yang saat itu masih memakai tudung hitam yang menutupi setengah wajahnya.

__ADS_1


"Kau ikut?" tanya Lucas serius.


Si lelaki tak menjawab. Hanya mengusap dan membersihkan dengan pelan sebuah jam pasir yang saat itu menjadi liontin kalungnya. "Aku adalah kartu As. Kartu As datang paling akhir, aku hanya akan menyimak."


"Ck! Pria sombong! Aku pastikan kau akan ditembak Black Blood-ku karena menjadi anggota paling malas di Deepdark!" komentar Cristop. Lelaki berambut hitam kelam cukup panjang dengan setelan yang sama dengan rekannya—memakai jubah—namun tudung yang memiliki bulu menjadi pembeda penampilannya dengan yang lain.


Trevada, lelaki yang mengaku sebagai 'kartu As' itu melirik, tanpa ekspresi. "Sebelum Black Blood menembus tubuhku, kau akan lebih dulu membeku," timpal Trevada menantang.


Niels memutar matanya malas. "Ayolah, sebagus apapun Black Blood dan jurus pembeku, kalian tetap tak akan mencabik-cabik vampir murni dan mendengar jeritannya. Intinya, kekuatan kalian," Niels menuju Cristop dan Trevada bergantian, "tak ada yang se-istimewa diriku. Benar, 'kan, Lucas?" Lelaki dengan taring yang lebih panjang dari temannya itu melirik ke arah Lucas.


Lucas tak menjawab apapun, bahkan mendengarkan percakapan anggota Deepdark saja tidak. Lelaki itu memilih terdiam, dengan tangan menyentuh meja.


"Lucas?" Cristop mengangkat salah satu alisnya ketika melihat Lucas tiba-tiba terdiam dan aneh. Kedua anggota lainnya—Trevada dan Niels—mengalihkan perhatian pada Lucas.


"Ada yang aneh," gumam Lucas, masih terdiam. Namun, tatapannya jelas menerawang sesuatu.


"Coba rasakan baik-baik. Mansion kita bergetar," ujar Lucas. Lelaki itu masih berusaha menerawang. Getaran kecil ini hanya bisa ia rasakan sebagai vampir hitam dengan tingkat kepekaan paling tinggi, bahkan inderanya seperti seekor semut yang memiliki antena dan segera berlari jika bahaya datang dari sekitar.


Trevada tersenyum miring. "Kurasa, itu mereka."


"Apa?!" Cristop terbelalak.


"Vampir murni." Lucas menegakkan punggungnya.

__ADS_1


DUARR!!


Getaran semakin terasa kuat. Bahkan beberapa bagian mansion dan temboknya agak retak. Terdengar teriakan keras dari luar. Beberapa orang termasuk penghuni mansion dan kerajaan vampir hitam begitu ketakutan. Lucas memunculkan taringnya, bersamaan dengan menghitamnya area mata. Ia berjalan cepat, diikuti yang lainnya. Kecuali Trevada, lelaki itu masih duduk sambil menatap jam pasirnya penuh arti.


Sementara, Lucas, Cristop dan Niels sudah sampai di koridor. Getaran semakin kuat, bahkan langit menjadi hitam kelam. Ketiganya menuju halaman dengan formasi saling membelakangi.


"Sepertinya tadi suara ledakan," ujar Cristop melirik ke arah sekitar dengan waspada.


"L-ledakan? Vampir murni memiliki ledakan?" Niels gugup. Lelaki itu membayangkan dirinya terkena ledakan dan tak sempat mencicipi vampir murni yang memiliki darah kerajaan.


Lucas diam-diam mengepalkan tangannya. Alisnya menukik. "Cristop, kau tau Pangeran Mahkota kerajaan vampir murni?" tanya Lucas dengan nada rendah dan waspada.


"Marsel Nivera, akan menjadi raja dua tahun kemudian," jawab Cristop.


"Benar. Ini kekuatan Marsel." Ucapan Lucas membuat Cristop dan Niels mengerutkan keningnya. "Mengendalikan elemen alam."


"Aku tau tentang hal itu, Lucas! Lalu, inti masalahnya sekarang, kita diserang?!" Niels berteriak kesal.


"Berhenti emosi dan lihatlah di atas benteng!" perintah Lucas dengan manik yang sedari tadi terus fokus pada sebuah objek yang berdiri di atas benteng mansion. Jubah kehijauan nampak berayun karena angin kencang.


Cristop menyipitkan matanya. Obyek dari kejauhan itu terlihat dekat karena kekuatan matanya. Seketika, manik Cristop terbelalak. "Dia bukan Marsel!" sentaknya membuat Lucas dan Niels mengatupkan giginya.


Vampir murni yang berdiri di atas benteng itu, menarik pedang dan mengacungkannya ke udara. Ia tersenyum lebar dengan sorot mata menyala bak iblis.

__ADS_1


"Serang mereka," ujar lelaki itu santai. Bersamaan dengan itu, petir biru datang dari langit, menyambar apapun selain lelaki di atas benteng tadi.


***


__ADS_2