Tuan Vampir Dan Darah Suci

Tuan Vampir Dan Darah Suci
Kembali Ditolak


__ADS_3

"Memanfaatkan?" Reider mengernyitkan kening.


Jackson tak langsung menjawab, ia menyandarkan tubuh Krista pada dinding. "Ya. Aku tak ingin membunuhnya. Tapi, manusia bisa dimanfaatkan. Kita tak memiliki rumah, bagaimana kalau aku mengancam gadis ini siapa tau memberi tumpangan untuk kita?" Jackson melirik temannya satu persatu.


"Benar juga. Kenapa aku baru berpikir hal ini sekarang?" Reider terkejut. "Hey, Bro. Bagus juga idemu!" Kali ini ia menepuk cukup kuat bahu Jackson.


"Lepaskan dia," timpal seseorang dengan suara dingin.


Keempat vampir itu melirik. Tepat di depan mereka, seorang lelaki tinggi berdiri, meski berada di bawah kegelapan dengan gang yang sempit, vampir dapat melihatnya dengan jelas.


Jackson yang sedari awal tersenyum dengan idenya, tiba-tiba luntur. "Hansel," ujar Jackson.


"Hansel?! Akhirnya kita bertemu lagi!!!!!" Reider tersenyum senang. Berbeda dengan Jackson, lelaki itu berlari kencang dan hendak memeluk Hansel. Seketika, Hansel menyingkir. Ia enggan sekali melayani tingkah konyol Reider.


Hansel mendekat. Lelaki itu lebih tinggi dari adik tirinya—Jackson. "Lepaskan gadis ini," titah Hansel sambil menarik lengan Krista yang masih tak sadarkan diri.


Jackson menjauh. "Apa yang lakukan? Dia mangsa kami. Apa kau kenal dengan gadis ini?!" tanya Jackson kesal.


Bagaimana Hansel harus menjawab tentang apa status Krista dengannya? "Dia muridku."


Jackson dan ketiga temannya seketika terkejut. "Apa? Kau punya murid di dunia manusia?" tanya Jackson. "Mengejutkan."


Hansel menarik paksa agar Krista lepas dari pangkuan Jackson. Ia menatap gadis yang sudah tak sadar itu. Dalam hati, Hansel cukup khawatir jika Krista benar-benar dimangsa oleh Jackson. "Kalian tak bisa memangsa gadis ini. Dia istimewa," ujarnya.


"Apa maksudmu istimewa?" tanya Reider.


"Gadis ini sepertinya memiliki hubungan dengan dunia vampir. Dia mampu kebal terhadap kekuatanku," jelas Hansel, masih menatap Krista dengan serius.


Jackson mengernyit. "Kebal? Bagaimana bisa?"


"Aku tidak tahu," balas Hansel cepat. "Aku sempat berpikir bahwa dia—"


"Penyihir yang menciptakan Black Vampire," potong Jackson. "Aku benar, 'kan?"


"Ya. Aku berpikir seperti itu. Tapi gadis ini tak mengetahui apapun, sepertinya."


"Tunggu, apa dia tau identitasmu?" tanya Exander.


"Iya. Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Bagus! Sekarang, jika dia tau identitas kita, dan kebal terhadap kekuatan kita, lalu harus bagaimana?" Reider tiba-tiba gusar dan khawatir.


"Bunuh dia saja. Jika dia tidak berguna," tegas Exander. Membuat Hansel dan Jackson menatap lelaki itu tajam.


"Jangan gegabah. Sudah kubilang, Exander. Kita bisa memanfaatkan dia," tegur Jackson. Lelaki itu menatap Krista lamat-lamat. "Jika dia kebal terhadap kaum kami, ada alasan mengapa itu terjadi. Kita bisa mencari penyihir lewat gadis ini," ungkapnya.


"Baiklah. Jika kalian ingin memanfaatkan dia, tolong lepaskan dia untuk malam ini. Keluarganya akan mencarinya." Hansel menatap anggota pilar satu persatu.


Jackson tersenyum sinis. "Pada awalnya aku ingin membawanya bersamaku. Tapi, baiklah. Aku akan melakukannya lain kali. Exander, berikan barang barang miliknya," titahnya. Exander menyerahkan paper bag berisi soda yang tadi sempat dibeli Krista.


Sebelum Hansel pergi, Jackson menatap Krista lamat-lamat, lalu mengusap pelan rambutnya. "Kita akan bertemu lagi, Cantik," ujarnya. Tak lama kemudian, Hansel menghilang, melakukan teleportasi tepat di depan rumah bibi Krista.


"Krista," panggil Hansel lembut. "Buka matamu. Aku tau kau pura-pura," lanjutnya.


Krista membuka matanya perlahan. Ia terdiam sejenak. Kemudian, menatap Hansel tanpa ekspresi. Guru tampan itu, menggendongnya sekarang. "Terima kasih sudah menyelamatkanku," ujar Krista. Gadis itu turun, masih ada rasa pusing sebab Exander cukup kuat memukul tengkuknya. Untungnya, Krista hanya tak sadarkan diri beberapa detik.


"Ini sodamu." Hansel menyodorkan paper bag pada Krista.


"Eum, ya. Kalau begitu. Aku masuk dulu," pamitnya.


"Tunggu," tahan Hansel. "Kau belum menjawab permintaanku di kelas tadi."


"Kau menerima tawaranku, atau Jackson?"


"Jackson?"


"Pangeran Jackson, adikku."


Krista terdiam. Bagaimana pun tawaran untuk berurusan dengan bangsa vampir bukanlah hal yang bagus. Alhasil, Krista mendengus. "Tawaranmu atau tawaran Jackson, sama saja. Aku tak peduli. Sebab—"


"Krista. Kumohon." Hansel memotong ucapan Krista, membuat gadis itu terdiam, terlebih melihat keseriusan Hansel.


"Kenapa kamu sangat ingin kubantu? Kalian punya kekuatan!" Krista tak mengerti.


"Karena, kupikir kamu punya hubungan dengan semua ini. Aku ingin menyelamatkan keluargaku, lalu kekasihku. Bangsa vampir murni memiliki kelemahan di banding vampir hitam. Kami belum tau apa kelemahan mereka. Jadi ..."


"Jadi apa?"


"Kami membutuhkan manusia. Untuk membujuk bangsa vampir hitam. Mereka menyembah manusia, menganggap penyihir itu dewi. Kekuatan mereka pun akan sulit mengenai manusia, ini karena takdir penyihir wanita. Dan kau, kebal dengan kekuatan kami. Kau adalah orang yang tepat untuk terlibat masalah kami."

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kau bersedia?"


Krista menatap Hansel heran. Ia sudah menolak, namun lelaki itu tak menyerah. Jelas sekali Krista enggan, bahkan anggota pilar yang lain tak kalah misterius dan menakutkan seperti Hansel.


"Krista! Woy!"


Tatapan Hansel dan Krista terputus, Niwel memanggilnya dari lantai dua. Krista melihat Niwel menggedor jendela cukup kuat sebagai tanda bahwa ia kesal pada gadis itu.


"Saudaraku sudah memanggilku. Aku pamit, Mr. Hansel." Krista tak melakukan apapun lagi setelah itu. Ia masuk ke dalam rumah, sementara Hansel menatap kepergian Krista tanpa ekspresi.


***


"Marven, kau tak perlu menjemputku." Krista menjepit ponselnya dengan bahu dan telinga.


'Tak apa-apa. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu,' jawab Marven di seberang telpon.


"Sesuatu? Tapi ... Aku takut Gaby tersinggung."


'Aish ... Kau ini ...." Terdengar gelak tawa dari Marven. 'Aku sudah bilang padanya terlebih dahulu. Jangan khawatir, sebentar lagi aku sampai di rumahmu,' finalnya.


"Mm, baiklah." Krista menyerah.


Dugh!


"Aw!" Tanpa sengaja, tubuh Krista tersungkur pada tembok yang ada di sampingnya. Hal itu terjadi karena Emily datang.


"Kenapa?" tanya Emily dingin saat Krista melayangkan tatapan kesal padanya. "Kau menghalangi jalan. Karena itu kamu harus menepi," lanjutnya berlalu dan menghilang di balik pintu.


Krista menghela nafas. Tak lama Marven datang dengan motornya. "Selamat pagi," sapanya tersenyum.


"Katakan sekarang," ucap Krista to the point. Membuat Marven kaget.


"Aku ingin membicarakannya di kelas. Ayo," ajaknya menarik lengan Krista, dengan sigap Krista menariknya.


"Katakan sekarang."


"Huh ... Baiklah." Marven menyerah. Ia menatap Krista lamat-lamat, membuktikan betapa seriusnya ia sekarang. "Krista, apa kamu tidak apa-apa jika aku pacaran dengan Gaby?"


Krista dan Marven beradu tatapan. Krista terkejut ketika Marven bertanya hal itu. Setelah sekian lama, Marven baru menanyakan hal itu.

__ADS_1


"Apa-apaan pertanyaanmu itu," tukas Krista mendelik. "Jika kamu hanya ingin bertanya hal itu, sebaiknya tarik kembali ucapanmu dan segera berangkat ke sekolah!"


__ADS_2