Tuan Vampir Dan Darah Suci

Tuan Vampir Dan Darah Suci
Rencana Jackson


__ADS_3

"Krista! Aku serius!" Marven menyentak. Ia memegang kedua bahu Krista. "Dengarkan aku, jujurlah. Bagaimana perasaanmu saat melihatku dengan Gaby?"


Pertanyaan yang membuat Krista sesak. Karena hanya ada rasa sakit yang ia rasakan saat melihat Gaby dan Marven bermesraan. Namun, sebagai sahabat keduanya Krista harus mengerti.


"Aku ... aku biasa saja," jawab Krista agak pelan. "Aku senang melihat kalian bahagia," lanjutnya menunduk.


"Jangan bohong, aku tau sesekali kamu cemburu. Aku pun cemburu dengan kedekatanmu dengan Mr. Hansel. Apa harus aku mengakhiri hubungan dengan Gaby agar kau tak terlihat sedih seperti ini?"


Plak!


Satu tamparan keras dilayangkan. Wajah Marven berpaling. Pipinya memerah akibat tamparan Krista yang cukup kuat.


"Apa yang kamu maksud mengakhiri hubungan hanya karena aku terlihat sedih?" tanya Krista menuntut. "Apa kamu tak bisa mengerti bagaimana perasaan Gaby jika mengetahui ini?! Lupakan aku! Aku tak sedih sekalipun!" lanjut gadis itu emosi.


"Krista. Dengarkan aku, baiklah! Baiklah! Aku—"


"Cukup!" Krista menunjuk Marven, tatapannya sangat tajam. "Jangan pernah berpikir aku bisa memaafkanmu jika membuat Gaby sakit hati. Aku akan menolak tawaranmu. Camkan!" Krista beranjak. Marven panik, ia mengejar gadis itu.


"Tunggu. Dengarkan aku!"


"Lepas!" Krista menepis. "Tak ada yang harus dibicarakan lagi soal itu!"


"Krista! Kamu akan berangkat bersamaku!" Marven panik.


"Jangan ikuti aku. Aku berangkat sendiri," jawab Krista tanpa mau mendengarkan Marven.


Marven menatap punggung Krista dengan serib. "Andai kau tau, aku pernah berpikir bahwa aku pacaran dengan Gaby adalah untuk membuatmu cemburu," lirih Marven.


Marven menyandarkan tubuhnya pada pagar rumah. Namun, keberadaan Niwel yang baru keluar membuat Marven menyingkir.


"Sudah selesai kalian bertengkar? Aish ... membuat pagiku buruk saja," gerutu Niwel, yang kemudian beranjak menuju halte.


Marven menghela nafas kasar. "Sialan," gerutunya. Lelaki itu memilih untuk menyalakan mesin motor dan memakai helm. Namun, saat hendak menarik pedal gas, tubuhnya tiba-tiba terasa kaku.


Marven bertanya-tanya dalam hati. "Ada apa ini?"


Tubuh Marven seperti patu. Tak mungkin dirinya mengalami keram? Lagi pula, itu mustahil. Apalagi, sekarang tanpa Marven tau mengapa, tangannya menarik pedal gas dengan sendirinya. Sangat kuat, hingga manik Marven terbelalak karenanya. "Tunggu! Hey!"


BRUUUUUMMM!!!!


Motor milik Marven melaju. Marven sama sekali tak tau mengapa tubuhnya bergerak sendiri. Jika saja ia bisa mengendalikan tubuhnya, tangan Marven akan bergetar sekarang. Sebab, ini terjadi di luar nalar. Seakan Marven adalah boneka yang dikendalikan.


"Hey! Ada apa ini?! Hentikan!" Marven panik. Terlebih laju motornya di atas rata-rata, sementara keadaan jalanan begitu ramai. Dengan sekuat tenaga Marven berusaha menggerakkan tubuhnya. Ia menatap jalan raya di depannya. Sial, terdapat banyak orang.


Lelaki itu tak tau apa yang terjadi padanya, namun kemungkinan tabrakan adalah hal yang paling ia takutkan sekarang.


"Minggir! Semuanya! Minggir!" teriak Marven, membuat para pengendara melirik Marven dengan risih.

__ADS_1


"Tidak ... Kumohon berhenti," ujar Marven saat melihat truk besar tengah melaju lambat di tikungan yang ia lewati.


"AARRGHHHH! Marven memejamkan matanya.


DUAGHH!!!!


Benturan keras antara motor Marven dan truk itu sangat keras. Tubuh Marven terpental jauh, motor miliknya hancur dan penyok.


"Krista ...," lirih Marven dengan tubuh tak berdayanya. Darah merambas mengucur di wajahnya. "Tolong aku ...." Nafas Marven sangat pendek dan tak karuan.


Akibat kecelakaan itu, pengendara yang lain berhenti dan segera memeriksa keadaan Marven. Laju kendaraan menjadi macet dan kepanikan terjadi.


"Anak muda, tolong bertahanlah!"


Sayup-sayup suara terdengar. Namun, Marven tak kuasa. Ia hanya terus mengingat pertengkarannya dengan Krista sekaligus rasa sakit yang lambat laun mati rasa.


Marven dikerumuni banyak orang. Pengendara lain meminta sopir truk untuk bertanggung jawab, si sopir langsung keluar.


Seorang lelaki tinggi, berambut perak, dengan kaca mata hitam itu turun.


Exander menatap para pengendara tanpa ekspresi. Ia berjalan mendekati kerumunan. Semua orang tertuju pada Exander, merasa terhipnotis dengan aura Exander yang sangat berbeda dari manusia normal.


Exander menatap tubuh Marven yang sudah tergeletak dengan luka. Ia membopong tubuh lelaki SMA itu. "Serahkan padaku, aku akan tanggung jawab," ujar lelaki itu sambil berlalu menuju truk yang ia kemudikan.


Di sisi lain, Krista yang tadi bertengkar dengan Marven masih berjalan menyusuri gang sempit. Kata-kata makian dalam hatinya membuncah. Ia kecewa sekaligus sedih. Karena Marven dengan entengnya mengatakan hal seperti tadi. Bagaimana jika Gaby tau akan hal itu?


Krista menendang dinding gang dengan kesal. Sedetik kemudian ia meringis. Tak ada gunanya ia melampiaskan kemarahannya. Akhirnya ia memutuskan untuk segera sampai ke sekolah. Tanpa Krista ketahui, seorang lelaki tampan dengan rambut pirang duduk di atas dinding gang, memperhatikan tingkah gadis itu dengan tatapan penuh gairah.


"Gadis cantik yang menggemaskan," komentar Jackson, menatap punggung Krista yang semakin menjauh. "Ah ... Sebaiknya aku memeriksa Reider sekarang," gumamnya.


Lelaki itu melompat, segera beranjak menuju pos kecil di depan jalan. Ia masuk ke sana. Dilihatnya Reider tengah duduk bersila, matanya terpejam dengan Joshua yang duduk di belakangnya untuk menahan tubuh Reider.


"Apa sudah selesai?" tanya Jackson pada Joshua.


"A-aku tidak tau, Pangeran. Ini sudah 7 menit sesuai instruksi darimu dan rencana Exander," jawab Joshua.


"Huh? Jelas ini rencanaku ...," ralat lelaki itu sambil duduk. "Nah, sepertinya dia sedang kesakitan sekarang." Jackson membayangkan wajah Reider saat kesakitan. Terlebih, sudah cukup lama Reider ada di dalam tubuh Marven.


Tangan Jackson diletakkan di ujung kepala Reider. Ia membaca mantra khusus untuk menarik roh Reider kembali ke tempatnya.


Hghhh!


"Hahhhhhhhhh!" Manik Reider terbelalak, nafasnya terengah-engah.


"Kakak! Syukurlah ...!" Joshua menghela nafas.


"Bagaimana? Apa Exander berhasil?" tanya Jackson.

__ADS_1


Reider tak menjawab, lelaki itu masih mengatur tempo nafasnya. Ia melirik ke arah Jackson dengan mata memerah. "Kau ... Pangeran ... Kenapa lama sekali?!" geram Reider. "Kau berjanji menarik rohku saat truk Exander ada di depan anak tadi!" Reider protes.


Jackson terkikik. "Yah ... Sorry. Aku terpaku pada gadis cantik itu," tutur Jackson yang langsung dibalas tatapan sebal.


"Sungguh, sakit sekali saat truk tadi menghantam. Exander benar-benar punya tenaga besar. Lalu ... Keren sekali, kendaraan yang dipakai anak lelaki tadi!" serunya.


"Itu bukan tenaga Exander. Melainkan tenaga dari truk. Yah, memang keren. Jika kita memiliki kekuatan, manusia memiliki teknologi. Itu kelebihan mereka," timpal Jackson.


"Seperti sihir ...." Joshua ikut menimpali.


Setelah tenaga Reider benar-benar pulih Jackson tak ingin membuang waktu lagi. "Kalian berdua, kita harus segera bertemu dengan Exander. Ini rencana awal, untuk menggiring Nona Krista dalam jebakan kita. Apakah akan berguna seperti dugaan Hansel?"


***


Anggota pillar saat itu sudah berkumpul di satu ruangan. Yang tak lain adalah apartemen di mana Hansel tinggal. Kelima vampir itu fokus menatap Marven yang duduk di kursi kayu dengan tangan terikat dan bibir ditutup lakban. Bahkan ketika tubuh Marven memiliki banyak luka dan darah, mereka tak peduli.


"Jika saja aku lapar, aku akan membunuh dia sekarang," ujar Reider sambil melipat tangan.


"Kita akan bertahan 2 minggu ke depan. Tanpa darah," jelas Joshua. "Daya tahan tubuh kami cukup baik. Aku juga bisa memberi kalian pil penahan rasa haus agar kita bisa bertahan saat menjalankan misi," lanjutnya panjang.


"Hansel, bagaimana pendapatmu?" tanya Jackson menatap Hansel dengan senyum miring. Sebagai anak tiri Jackson kerap kali iri dengan keluarga utama, selain itu ia pun membenci ayahnya.


"Aku tak tau, lakukan sendiri," jawab Hansel singkat. Dengan mata fokus membaca buku-buku tebal dan duduk di sudut ruangan.


Jackson memutar bola matanya. "Kau tak ingin membantu kami? Bukankah kau ingin segera menyelamatkan Riana dan adikmu?"


Seketika, Hansel melirik. Ada raut terkejut ketika Jackson tau keinginannya. "Kau tak harus melibatkan manusia lain untuk membujuk Krista."


"Jangan terlalu baik pada manusia. Ingat, mereka ada untuk kami mangsa," timpal Exander. Membuat Hansel merasa harus diam.


"Tidak apa-apa jika dia tak mau. Aku punya rencana lain." Jackson melipat tangan sambil berjalan menuju jendela besar.


"Apa itu, Jack?" Reider yang awalnya masih ketakutan, lantas bertanya.


"Kita menyusup ke sekolah Krista. Ini lebih menghemat waktu. Daripada meminta Hansel untuk membantu kita," jawabnya.


Hansel terbelalak. Tanpa sadar, ia sudah ada di depan Jackson dan menendang perutnya.


DUAGH!!!


"Hghn!" Jackson menghantam tembok cukup kuat, gelas-gelas pecah. Anggota pilar yang lain ikut terkejut dan berdiri.


"Pangeran!" Exander yang memang seorang pengawal Jackson begitu panik melihat tuannya diserang. "Kau!" Ia menatap ke arah Hansel dengan tajam, namun seketika tatapannya berubah menjadi terkejut.


Bukan hanya Exander, Reider, Joshua dan Jackson pun ikut terkejut. Di depan mereka, Hansel berdiri dengan sebelah mata hitam dengan tangan keluar cakar-cakar, nafasnya tak beraturan, terlihat sekali Hansel amat marah.


"Kau ...," gumam Jackson sulit berkata-kata. "Kenapa matamu seperti itu?"

__ADS_1


Pertanyaan Jackson membuat Hansel membeku.


__ADS_2