Tuan Vampir Dan Darah Suci

Tuan Vampir Dan Darah Suci
Lelaki Asing


__ADS_3

Pernyataan Hansel begitu ambigu. Sudah cukup, gadis itu tak ingin berlama-lama dengan lelaki ini.


"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan," ujar Krista pelan, namun terdengar jelas di telinga Hansel. Penuh perhitungan, Krista mundur kemudian berlari, secepat yang ia bisa. Sementara Hansel terdiam di tempat, menatap jejak kepergian Krista penuh pikiran.


'Marven ... Tolong aku.' Entah mengapa ucapan Krista yang satu ini terngiang di telinganya. Hansel teringat akan sesuatu. Ia pernah merasakan atmosfer di mana orang yang ia cintai ketakutan dengan menyebutkan namanya.


'Hansel! Pergilah! Selamatkan dirimu! Aku mencintaimu, Hansel!'


Hansel benar-benar lemah sekarang. Kedua matanya sudah kembali ke asal. Hansel sudah terinfeksi Black Vampir. Dengan kenyataan seperti itu, apa ia akan bisa mencari penyihir yang bisa mengubahnya kembali menjadi semula?


Di lain sisi, Krista terus berlari. Ia sampai di ujung hutan, senyumnya merekah saat melihat sebuah mobil yang tak asing datang.


"Tunggu! Aku di sini, Marven!" teriak Krista merentangkan tangannya di depan mobil Marven yang melaju kencang.


TIIIIN! CKIIIIIT!


"Hey!" Terdengar bentakan dari dalam mobil. Sepertinya Marven kesal karena Krista muncul mendadak.


Krista masuk ke dalam mobil. Nafasnya terengah-engah. "Jalan," perintah gadis itu tanpa menyadari raut wajah Marven.


Marven menatap Krista lewat cermin, wajah gadis itu begitu ketakutan. "Apa yang terjadi padamu?" tanya lelaki itu sembari menjalankan mobil.


"Aku ... tadi terjatuh dan bajuku sobek karena tertarik ranting kering," jawabnya berbohong, sibuk membersihkan bajunya.


"Apa kau yakin? Aku tau kau mengejar pria tadi," sela Marven sambil fokus menyetir.


Krista terdiam. Ia kembali mengingat bagaimana ia bertemu dengan lelaki aneh yang mengejarnya seperti zombie kehausan. Jangan lupakan perubahan mendadak Hansel membuat Krista muak untuk sekedar berpikir sekarang, meski ia sebenarnya ingin tau apa maksud 'penyihir' yang dikatakan Hansel.


"Aku tak tau. Aku tak bertemu dengan pria tadi. Dan aku hanya terjatuh," jawab Krista asal.

__ADS_1


***


Sekelompok orang memakai jubah hitam menjuntai dengan tudung menutupi kepala. Tongkat yang berbeda-beda dengan asap hitam mengitari mereka sesaat setelah keluar dari dimensi vampir semakin menambah aura kejahatan dan kegelapan.


Seorang lelaki tinggi mengisyaratkan kelompoknya untuk berhenti. Ia membuka tudungnya.


"Tuan sepertinya bau darahnya tak tercium lagi," ujar salah seorang bawahan yang wajahnya tersembunyi oleh tudung.


Lelaki tinggi itu tak menjawab apa-apa, ia mengedarkan tatapannya ke seluruh penjuru hutan pinus dengan manik tajam layaknya elang.


"Sebaiknya kita kembali saja," jawab lelaki tersebut, santai.


Salah satu dari kelompok itu bereaksi ketika mendengar jawaban lelaki barusan. Ia maju ke hadapan ketuanya. "Apa maksudmu, Lucas?" Ia membuka tudungnya, menatap Lucas dengan kerutan di dahi, tanda tak terima. "Apa tak akan ada pertarungan? Hey, ayolah! Aku ingin mencabik-cabik si Murni itu!" protesnya. "Dan dengar! Jujur, kalian semua tak bisa mencium bau darahnya lagi, 'kan? Benar-benar payah! Aku masih mencium baunya!"


Lucas menatap anggotanya yang nampak tak terima itu. Ia mendengus. "Tutup mulutmu, Niels!" bentak Lucas menatap Niels tanpa ekspresi. "Jangan pikir kamu akan menemukan pangeran yang sudah terinfeksi itu. Kau tau sendiri, apa kekuatanku. Menerima gigitan dariku akan membuatnya menjadi anggota ras kita. Kau hanya akan mati saat memakan vampir yang sudah terinfeksi ras kita," jelas Lucas serius. "Ini penjelasan terakhir. Jangan berisik atau aku akan melemparkanmu pada darah suci!" Tanpa menunggu apapun, Lucas berbalik kemudian berjalan lebar menuju bukit Black Forest, di mana dimensi mereka berada.


Sementara, Lucas tak mengindahkan ucapan Niels. Lelaki itu memilih berpikir. "Pangeran Hansel ... Rupanya tak sulit melawannya," gumam Lucas kembali mengingat pertarungannya dengan Hansel. Lucas menarik sudut bibirnya, tersenyum penuh arti saat sebuah rencana terlintas di otaknya. Lelaki itu berbalik badan, menatap kelompoknya dari atas.


"Dengar," ujarnya, membuat semua anggota kelompoknya menajamkan pendengaran. "Mari kita mangsa si Pangeran Mahkota setelah ini. Mungkin, kau bisa mencabiknya sampai mati, Niels," goda Lucas masih dengan tatapan penuh arti, membuat Niels membalas senyuman Lucas dengan tatapan liar seperti harimau yang tak sabar memakan mangsanya.


***


Keesokan harinya, Krista, Gaby dan Marven berangkat pagi. Bukan tanpa alasan, mereka sedang menyiapkan undangan ulang tahun. Krista dan Marven lahir di tanggal dan bulan yang sama, mereka bak saudara kembar. Sehingga ketiga sahabat itu ingin merayakan bersama-sama.


Namun Krista tak ikut membantu Gaby menulis alamat di undangan, gadis itu hanya sibuk dengan ponselnya sambil sesekali melamun.


"Ada apa denganmu?" tanya Marven membuat Krista mengerjap.


Krista mematikan ponselnya. "Tidak."

__ADS_1


"Apa kamu sakit?" tanya Marven khawatir, terlebih kemarin ia melihat Krista ketakutan dan bersikap aneh sampai saat ini. Krista menggeleng, namun Marven tak langsung percaya. Bagaimana pun mereka sahabat masa kecil dan Marven sudah paham bagaimana sifat Krista.


Akhirnya, Marven menghela nafas. Percakapan mereka mengundang tatapan Gaby. Gaby sudah menjalin hubungan dengan Marven sejak tiga bulan yang lalu, tentu sedikit cemburu melihat kedekatan Marven dan Krista.


Bel berbunyi, semua murid termasuk Gaby kembali ke kelas masing-masing. Sementara Krista yang satu meja dengan Marven masih merenung.


'Sebenarnya siapa lelaki aneh kemarin?' batin Krista sembari mengusap bahunya yang sudah diberi perban.


'Apa mungkin zombie? Ish, tak mungkin! Zombie itu hanya fiksi!' Krista jengkel dengan diri sendiri. Namun, wajah menakutkan Hansel tak bisa lepas dari ingatan. Krista terdiam menerawang.


'Aku haus ... Mau bersenang-senang?'


'Bisakah kau membantuku?'


'Carikan penyihir itu!'


"Penyihir? Apa dia seorang penyihir? Harry Potter?" tanya Krista dengan suara pelan. "Tapi ... Caranya berjalan jelas seperti zombie yang aku lihat di film. Darah hitam, matanya mirip ular. Apa dia Medusa versi lelaki?" Krista masih tak henti-hentinya menebak.


"Apa? Kau bicara apa?" Marven mengernyitkan kening melihat keanehan Krista.


Gadis itu meringis sambil mengacak rambutnya. "Ah entahlah, Marven! Jangan bertanya apapun padaku aku sedang pusing!" bentak Krista. Membuat Marven tak habis pikir dengan gadis itu.


Krista terdiam ketika sebuah jawaban tiba-tiba melintas di otak. Ia kembali teringat bagaimana Hansel menggigit bahu dan darahnya seperti terisap. "Apa lelaki tadi ... Vampire?" bisiknya sangat pelan hingga Marven tak bisa mendengarnya.


"Hey! Krista!" panggil Marven, lelaki itu melambaikan tangannya di wajah Krista, membuat lamunan Krista buyar. "Kamu itu kenapa sih? Jangan melamun terus. Lihatlah, Mr. Edward datang dengan lelaki asing. "


"Lelaki asing?" Krista melirik ke arah depan, betapa terkejutnya gadis itu, saat sadar bahwa orang yang dimaksud adalah lelaki aneh yang sedari tadi ia pikirkan.


Deg!

__ADS_1


__ADS_2