Tuan Vampir Dan Darah Suci

Tuan Vampir Dan Darah Suci
Bidadari Dalam Kegelapan


__ADS_3

"Tak mungkin. Aku manusia biasa, bagiku—"


Shhh!


Rambut Krista berayun pelan. Hansel berpindah ke belakang tubuhnya, menutup mulut Krista erat. Krista membeku degup jantungnya dua kali lebih cepat. Krista berusahauntuk tak menunjukkan rasa takutnya.


"Aku ini gurumu, kau harus menghormatiku. Sekarang, tolong dengarkan penjelasanku. Ini sangat penting bagi kami," bisik Hansel dengan suara dalam yang dingin.


Krista pasrah. "Baiklah."


"Ini adalah peta dunia kami." Hansel membuka buku, sebuah peta yang dimuat dalam dua halaman menampilkan daerah-daerah dengan nama yang belum pernah Krista dengar sebelumnya.


"Kami adalah bangsa vampir, yang belum pernah bercampur dengan darah manusia. Kami vampir murni, kerajaan yang sudah berdiri selama ribuan tahun. Kota Apratas adalah ibu kotanya, Euthora, Greenwalk, Cassohuira dan Black Forest. Kelimanya adalah kota kami, semuanya hidup dengan aman. Namun, semua itu goyah karena di daerah ini, terjadi pemberontakan." Hansel menunjuk peta Black Forest, kota paling besar bahkan dari Apratas.


"Di tempat ini, dimensi dua dunia berada. Kami harus melewati Black Forest jika ingin masuk ke dunia manusia," jelas lelaki itu.


Krista mengernyitkan kening. "Black Forest? Apa itu sama dengan Black Forest di dunia manusia?"


"Benar. Tempat yang sama, kita bertemu di Black Forest waktu itu."


"Lalu, pemberontakan apa yang kamu maksud?" Krista mulai tertarik.


"Jenis vampir baru muncul di Black Forest, lihatlah. Dua kota sudah terinfeksi oleh Black Vampire. Vampire yang memiliki mata hitam sepenuhnya, mereka hidup dengan memakan vampir murni. Sangat terbalik dengan kami, meminum darah manusia untuk bertahan hidup."


"Tapi bukannya matamu juga hitam ...?" Krista ragu. Pertanyaan itu membuat mereka berdua saling menatap dalam jarak dekat, beberapa detik. Hingga Krista berpaling. "Sepertinya kau juga terinfeksi," simpulnya.


"Aku setengah Black Vampire. Aku juga masih vampir murni."


"Setengah vampir? Sebelum menggigitku, kedua matamu hitam. Itu artinya kau sempat menjadi Black Vampir seutuhnya! Benar, 'kan?!" tebak Krista.

__ADS_1


Hansel tak mengindahkan. "Itu tak penting. Lanjutkan saja!" Hansel kembali menatap peta.


"Black Vampire mendirikan kekuasaan mereka sendiri dan mengisyaratkan untuk membantai habis klanku. Dari banyak catatan milik mereka, Black Vampire menyembah seorang wanita dari dunia manusia. Dia yang membuat jenis baru. Kami menyebutnya penyihir, entah sihir apa yang wanita itu gunakan," tutur Hansel, menghela nafas berat.


Krista terdiam, memikirkan ucapan Hansel sambil menatap sketsa penyihir wanita. Rambut panjang bergelombang dengan tampilan seperti manusia biasa. Tak ada yang aneh, entah apa yang dimaksud 'sihir' dari wanita ini.


"Lalu, tujuanmu membicarakan ini semua denganku apa?" Krista menatap gurunya serius.


"Aku datang ke sini mencari penyihir itu. Mengembalikan daerah kami menjadi semula. Kau kebal terhadap kami, apa kau ... memiliki hubungan dengan penyihir ini?"


'Apa kau bisa membantuku ...? Tolong cari penyihir itu!' Mendadak, ucapan Hansel ketika di Black Forest terngiang. Jadi itu sebabnya, mengapa Hansel terlihat seperti zombie, dan mengapa lelaki itu meminta hal yang tak dimengerti oleh Krista.


"Di dunia manusia ini tak ada penyihir. Kami menyebutnya fiksi. Itu tak nyata." Krista menutup buku milik Hansel. "Aku tak memiliki hubungan apapun, dengan dirimu, para vampir, atau penyihir yang dibicarakan. Aku tak bisa membantumu, maaf," ujar Krista sembari bangkit dan berlalu. Namun, Hansel menahan lengan gadis itu, memegangnya erat.


"Di dunia manusia, vampir juga fiksi, 'kan?" tanya Hansel serius.


"Benar," balas Krista cepat sambil menatap Hansel tanpa ekspresi. "Vampir hanya fiksi."


"Aku hanya percaya dengan hukum manusia. Itu urusan kalian, jangan libatkan manusia," final Krista sembari menepis lengan Hansel. Gadis itu buru-buru keluar kelas, atau tidak, Hansel menceritakan hal di luar nalar lagi.


"Krista!" teriak Hansel menggema di seluruh penjuru kelas. "Selain duniaku, duniamu yang sedang kau pijaki sedang ada dalam bahaya. Black Vampir akan—"


Brak!


Krista tak memberi Hansel kesempatan untuk berbicara. Ia menggerutu dalam hati, ketika ia menatap lorong yang akan ia lewati, Krista langsung tersentak. Ada Marven di depannya, lelaki itu menatap Krista dingin.


"Marven? Aku kira kamu sudah pulang dengan Gaby." Krista terkejut.


"Kau sedang apa dengan guru baru itu?" tanya Marven. Krista mendekat dengan pandangan yang diturunkan.

__ADS_1


"Aku menerima tugas remedial sejarah," balas Krista berbohong.


"Oh, ya? Bukankah kau selalu unggul dalam pelajaran Sejarah? Aku mendengar dia berteriak padamu."


"Marven." Krista menatap dingin sahabatnya. "Moodku sedang buruk. Dia memarahiku karena nilaiku. Aku duluan," pamit gadis itu sambil berlalu.


Marven menatap punggung Krista yang semakin menjauh. Kalau boleh jujur, Marven cemburu. Apalagi, Hansel terlihat masih muda, tak berbeda jauh dengan usia mereka. Lelaki itu akhirnya kembali ke gerbang menuju Gaby.


***


"Tahan." Lucas berhenti, mengisyaratkan anggotanya untuk melakukan hal yang sama. Lelaki itu melirik lewat ekor mata. "Niels, kau ikut aku," perintahnya.


Niels yang saat itu tengah fokus melirik ke sana kemari lantas memutar bola matanya. Ia berjalan mengekor Lucas yang sudah meninggalkan barisan. "Lucas! Apa rencanamu?" tanya Niels setengah malas, meski begitu tak mungkin sekali ia membantah sang pangeran. "Bukankah kita akan menerobos kerajaan vampir murni? Aku tak habis pikir denganmu!"


Lucas melewati lorong mansion dengan santai. "Tenanglah dulu. Mari kita ajak yang lainnya. Aku ingin bertemu dengan wanitaku terlebih dahulu," jawab lelaki itu dengan senyuman sinis dan tatapan penuh arti.


Mendengar jawaban Lucas, Niels semakin tak habis pikir. Ia berbelok menuju ruangan lain untuk menemui rekan-rekannya, sementara Lucas berjalan lurus hingga sampai ke sebuah ruangan. Suara deritan pintu menjadi sambutan bagi Lucas, ruangan gelap itu mulai bercahaya karena kedatangannya.


"Selamat siang," ujar lelaki itu sembari melangkah memasuki ruangan. "Apa kau belum makan?" sambung Lucas. Lelaki berparas tampan dengan dagu tajam dan rambut disisir ke belakang itu berjalan menuju jendela, membuka gorden.


Setelahnya, Lucas melirik seorang gadis berambut panjang bergelombang dengan wajah tertunduk yang tengah duduk di atas dinginnya lantai bermarmer. Kedua tangan gadis itu diikat oleh rantai yang dipasang di kedua sisi tangannya. Riana mengatupkan gigi ketika langkah Lucas berhenti di depannya.


"Jawab pertanyaanku. Apa kau belum makan? Mengapa kau nampak tak bersemangat?" tanya Lucas lagi. Tatapannya berubah dingin dan tajam. "Kau terlihat sangat kurus, padahal aku baru menangkapmu kemarin." Lucas menghela nafas kasar. Berkacak pinggang, Lucas masih enggan mengalihkan tatapan dari gadis cantik bak bidadari itu.


"Kubilang jawab pertanyaanku!"


Brak!!


Lucas membentak, suaranya menggema di seluruh penjuru ruangan yang hanya diterangi samar samar cahaya mentari. Selain membentak, lelaki itu juga menendang balok kayu di dekatnya dengan kuat hingga hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Riana tersentak. Ia tetap menunduk, namun gemetar tubuhnya menjadi sinyal bahwa ia amat ketakutan sekarang. "Hansel ... Tolong aku ...! Hiks ...!"


__ADS_2