Tuan Vampir Dan Darah Suci

Tuan Vampir Dan Darah Suci
Permintaan


__ADS_3

Krista tak bisa tenang dengan perkataan lelaki aneh itu. Jejak langkah kaki semakin mendekat, Hansel mengeratkan bekapannya. Ia tak bisa menggunakan kekuatannya lagi, ditambah luka di leher membuat Hansel tak bisa bertahan lama.


Namun, tak lama kemudian, jejak langkah kelompok berpakaian hitam tadi mulai tak terdengar lagi. Tubuh Hansel ambruk, lelaki itu tak sadarkan diri.


"T-tuan? Apa kau tak apa-apa?" tanya Krista sambil menekuk kepalanya untuk memeriksa keadaan Hansel. Gadis itu terkejut karena Hansel pingsan tiba-tiba.


Kening Krista mengernyit ketika melihat darah mengalir dari leher Hansel. Jangan lupakan sebelah wajah lelaki itu nampak membiru, entah memar atau apa. Gadis itu yakin luka yang Hansel peroleh bukan karena ulahnya. Krista memikirkan cara untuk keluar dari sana. "Aku harus mengobatinya," gumamnya.


Dengan susah payah Krista keluar dari ranjau, menyeret tubuh Hansel dengan kekuatan ekstra. Krista menyandarkan Hansel di batang pohon cemara. "Sial, Tuan ini berat sekali. Umurnya berapa sih?" Krista kesal.


Ditatapnya leher Hansel dengan seksama. Tak begitu jelas terlihat sumber lukanya, hanya darah yang mengalir deras. Krista mengambil dompet berisi p3k mini dari tas selempangnya. Gadis itu mengoleskan kapas beralkohol pada luka dan membersihkan darahnya. Hampir habis setengah bungkus kapas, membuat Krista risih. "Aish, kenapa darahnya tak berhenti? Apa Tuan ini menderita hemofilia?" gerutunya. Ia menuangkan betadine.


Tanpa disadari, manik Hansel terbuka. Cukup lama hingga Hansel sadar bahwa ada gadis di depannya tengah fokus mengobatinya.


"Oh, kau sudah sadar, Tuan?! Syukurlah!" Mata Krista berbinar. Senyuman gadis itu mengembang.


Hansel tak bereaksi. Ia mengalihkan pandangan pada tangan Krista yang memegang betadine.


"Aku liat Tuan terluka. Jadi aku mengobatinya. Darah Tuan mengalir terus, bisa tolong angkat sedikit kepalamu? Agar aku mudah mengobatinya," pinta Krista yang kemudian menyusapkan kapas betadine pada luka di leher Hansel. Menyadarinya, Hansel langsung terbelalak. Dengan refleks lelaki itu menepis tangan Krista membuat tubuh Krista terpental sejauh tujuh meter.


Wushhh!


Saking kerasnya tepisan Hansel, dedaunan kering di sekitarnya terbang bersamaan dengan kerasnya hantaman tubuh Krista pada batang pohon. Krista merasa ngilu hebat di perutnya. "A-aw! H-hey ... Apa-apaan itu ...?" Krista memegang perutnya, ia mengerang dengan darah keluar dari mulut.


Hansel bangkit. Seolah tak ada rasa sakit lagi ketika ia berhasil menghempaskan Krista. Tatapannya tertuju pada betadine yang kini tumpah. "Manusia menjijikan. Mencampurkan cairan menjijikkan ini pada lukaku. Apa kau ingin aku berubah menjadi rasmu? Dasar rakyat jelata," ujar Hansel dengan nada dingin dan penuh penekanan.

__ADS_1


Namun, lelaki itu tercekat ketika menyadari darah segar keluar dari mulut Krista yang sedang muntah darah. Hingga hasrat memangsa tercipta bersamaan dengan retina mata yang mendadak merah.


Sementara, Krista mengusap mulutnya. Ia bangkit perlahan. Perutnya masih ngilu. Manik Krista terbelalak saat Hansel sudah ada di depannya dengan manik merah menyala. Entah sejak kapan lelaki itu ada di sana, yang jelas Krista tak dapat mendeteksi tindakannya.


Wajah menyeramkan itu bak harimau yang siap menerkam mangsanya. "K-kau ... kenapa ...?" Krista bergetar.


Hansel tak menjawab. Lelaki itu masih mempertahankan tatapan penuh artinya dengan nafsu menerkam yang membara.


"Aku lapar, mau bersenang-senang?"


Krista tak mengerti, mundur. Apalagi ketika Hansel tersenyum lebar layaknya psikopat. Manik lelaki itu menghitam seluruhnya. Seolah-olah kornea hitamnya melebar hingga mencapai sklera, persis mata ular.


"Aaaaa!" Gadis itu berteriak, berlari kencang. "Sial! Apa itu?!" tanya Krista berlari sekuat tenaga.


Terdengar geraman kuat di belakang. Krista terkejut bukan main saat mendapati Hansel mengejarnya. Hansel sudah seperti zombie yang kelaparan mangsa.


Dugh!


"Oh!" Tanpa sadar gadis itu menabrak pohon pinus, tubuhnya ambruk. "Aw! Arghh! Sial!" keluh gadis itu.


"Kemari kau!!!"


Manik Krista terbelalak. Ia melirik ke belakang, bak angin, Hansel berlari cepat kemudian menarik kerah bagian belakang Krista dengan kuat.


"Lepas! Lepaskan aku!" Krista bergerak brutal. Namun, tenaga Hansel sangat kuat. Naas, padahal niat Krista ke sini adalah untuk memeriksa keadaan Hansel, namun nyatanya orang yang ingin ia bantu begitu menyeramkan dan siap membunuhnya.

__ADS_1


Hansel sudah di luar kendali, terlihat dari wajahnya yang membengkak dengan urat-urat menonjol.


"Lepaskan aku!" Krista tak menyerah. Tangan gadis itu berusaha mencakar wajah Hansel yang sedang menggeram. Namun, Hansel menyeret tubuh gadis itu pada batang pohon pinus dengan kuat, hingga Krista merasa mual sekali.


Hansel mengunci tubuh gadis itu agar tak meloloskan diri. Ia menarik kerah baju gadis itu hingga robek, memperlihatkan bahu jenjang dan leher mulus gadis itu. Kali ini, Krista memejamkan maniknya, menjerit frustasi, berharap untuk dilepaskan. Krista tak tau, Hansel ini apa. Namun, ia hanya berpikir akan satu hal, bahwa Hansel terlihat seperti orang kesurupan.


Krak!


Krista pasrah ketika Hansel berhasil menggigit bahunya. Gigi tajamnya mengoyak kulit, menyedot darah Krista dengan ganas. "Marven ... tolong aku," ujar Krista dengan suara bergetar.


Hansel seketika terdiam saat bisikan Krista menembus telinganya. Giginya masih menusuk dan menghisap darah Krista, namun perlahan lelaki itu melepaskan gigitannya. Menatap wajah Krista tanpa ekspresi, tepat ketika gadis itu memanggil nama Marven. Merasa sesuatu yang berbeda, perlahan Krista membuka matanya.


Kedua tatapan orang itu beradu dengan jarak yang dekat. Krista terkejut saat melihat mata kiri lelaki itu berangsur kembali ke semula, dengan urat-urat wajah yang juga ikut normal. Tidak dengan wajah bagian kanan. Cukup lama keduanya saling menatap dengan ketidak percayaan, namun Hansel secepatnya mencengkeram kepalanya yang berdenyut kesakitan.


"Argh!" Lutut Hansel ambruk, lelaki itu mengeryit kesakitan. Ia memuntahkan cairan hitam.


Hansel melihat telapak tangannya. Pandangannya aneh sekali. Seolah kesadarannya kembali, lelaki itu nampak ketakutan. "Tak mungkin," gumam lelaki itu dengan nafas cepat. "Aku tak mungkin menjadi bagian dari mereka. Aku harus mencari penyihir itu ...!"


"Sebenarnya kau siapa?!" Ucapan Krista berhasil membuat Hansel teralihkan. Dengan mata hitam sebelah, Hansel menatap Krista yang ketakutan.


Lelaki itu mengusap darah hitam di mulutnya. "Bisakah kau membantuku?" pinta Hansel berharap.


Krista semakin tak mengerti dengan perubahan mendadak ini. Diam-diam ia mengepalkan kedua tangannya. Meminta bantuan setelah menyakitinya? Hanya orang gila yang melakukannya!


"Jawab pertanyaanku. Kau bisa membantuku?" tanya Hansel kembali, tetap menatap Krista. Namun, lawan bicaranya itu justru mengalihkan tatapan, berusaha mengatur strategi untuk pergi melarikan diri dari orang aneh seperti Hansel.

__ADS_1


"Membantu apa?" Krista menunduk, sudah jelas Krista menolak membantu namun ia ingin mengetahui permintaan Hansel sebelum lari.


"Penyihir," ungkap Hansel serius. "Carikan penyihir itu."


__ADS_2