
Hansel menghadap Krista seutuhnya. Jelas sekali raut penuh keterkejutan di wajah Hansel. Sedari dulu, ketika ia menghapus ingatan, korbannya akan pingsan dalam waktu satu jam. Namun, belum satu menit ia beranjak, Krista sudah sadar dengan ingatan yang nampaknya tak menghilang.
Hansel mendekat. Krista masih berusaha menetralisir dampak dari kekuatan penarik ingatan milik Hansel. Lelaki itu menarik kedua tangan Krista, menutup pandangan gadis itu untuk melakukan penarikan ingatan kedua kalinya. Namun, Krista menepis tangan Hansel, gadis itu menatapnya penuh emosi. "Lepaskan! Jangan sentuh aku!"
"Kau tak boleh mengetahui identitasku!" balas Hansel, tak peduli dengan Krista yang terus menepis tangan Hansel.
"Aku tak tau identitasmu. Kau sendiri yang memberitahuku identitasmu sendiri, Vampir Bodoh!" maki Krista tak mau kalah. Ia mendorong kuat tubuh Hansel untuk menjauh darinya, seketika Hansel terdiam. Krista menatap Hansel tajam, matanya berair, nafasnya tak karuan. "Jangan memaksaku!" Krista menjauh sambil merapikan seragamnya yang agak kusut.
Beberapa detik, Hansel tertegun dengan tatapan yang tak teralihkan dari Krista. "Kau tak takut denganku?" tanya lelaki itu menuntut.
"Dibanding takut denganmu, aku lebih benci denganmu. Lelaki mana yang memaksa seorang gadis untuk kehilangan ingatannya," jawab Krista menggerutu embuat Hansel tertohok. Krista tak ingin berlama-lama bersama orang aneh di kelas ini, ia memutuskan untuk menyusul Marven, namun lagi-lagi Hansel menahannya.
"Ish! Jangan sentuh aku!" Untuk kedua kali, Krista berontak.
"Diam atau aku bunuh kau sekarang!" bentak Hansel, membuat Krista membeku, tak bergerak oleh efek kekuatannya. Terpaksa, Krista menuruti apa kata lelaki itu. Ia menatap Hansel yang tengah menelisiknya penuh arti. "Sebenarnya siapa kau ini? Kenapa kau bisa kebal dengan kekuatan penarik ingatan milikku?" tanya lelaki itu.
Krista memicingkan mata. "Apa? Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Aku seorang manusia normal. Dan apa itu! Kekuatan penarik ingatan? Aku ingin percaya hal itu sejak tubuhku tiba-tiba ambruk olehmu, tapi semua itu terasa omong kosong!" bentak Krista. Namun tubuhnya masih membeku oleh kekuatan Hansel.
Hansel tak menjawab, ia mengaktifkan mata kirinya menjadi mata Black Vampire. Krista mundur, dengan bergeraknya gadis itu, membuat Hansel semakin heran sebab rupanya Krista bisa menangkal kekuatannya.
"15 detik," ujar Hansel menatap Krista serius.
"A-apa? Apa yang kau bicarakan?"
"Kekuatanku mampu menyerangmu hanya sampai lima belas detik. Manusia biasa tak bisa menangkal kekuatanku sedikit pun," jelas Hansel.
Krista semakin tak mengerti. Ia muak dengan bualan dan omong kosong ini. Gadis itu menutup telinganya. "Sudahlah! Jangan katakan apapun lagi! Aku tak mengerti dan aku tak mau tau!" Krista menghentakkan kaki. Tak peduli bahwa Hansel adalah gurunya, ia memilih keluar dari kelas untuk menyusul Marven.
"Jangan mengikutiku!" tambah Krista kesal.
Brak!
__ADS_1
Pintu ditutup. Hansel menatap jejak kepergian Krista penuh tanda tanya. Gadis yang aneh, berbeda. Mata kirinya yang menghitam kembali pulih. "Kenapa? Aku baru pertama kali bertemu manusia seperti ini," gumamnya.
"Apa karena setengah tubuhku sudah menjadi Black Vampir? Aku dengar, Black Vampir memakan vampir murni untuk melindungi manusia."
***
Bel pulang berbunyi. Krista dan Marven menuju kelas Gaby. Tak lama, gadis berambut coklat panjang itu keluar.
"Krista, kau tau kan guru baru itu? Sempat ke kelasmu, 'kan? Dia sungguh tampan sekali!" seru Gaby penuh semangat. Gadis itu berjalan di antara Krista dan Marven.
"Tapi tetap lebih tampan aku, 'kan?" Marven melirik, cemburu.
"Maafkan aku, dia sungguh sangat tampan! Namun, yang paling tampan di hatiku tetap dirimu! Hahahaha!" Marven hanya tertawa kecil mendengar candaan Gaby. "Oh, iya! Kekurangan dia hanya terlalu kaku. Sedari tadi, aku terus mengantuk saat pelajaran sejarah berlangsung. Untung tampan!"
Krista hanya melengos mendengarnya. Marven dan Gaby tak tau apa yang terjadi dengan Hansel dan Krista tadi, ia ingin takut. Namun mengingat sikap Hansel, ia berubah haluan menjadi kesal dengan guru baru itu.
"Kalian duluan, ya. Aku sedang ada urusan. Aku juga akan mengirimkan undangan ulang tahun kita pada teman alumni," ujar Krista saat mereka sampai di gerbang.
"Tidak apa-apa. Hari ini tanggal jadian kalian, 'kan? Aku tak ingin jadi nyamuk yang hanya menyimak kalian yang tengah berpacaran. Hahaha! Lebih baik kalian menikmati waktu berdua tanpa aku!" usul Krista tersenyum garing.
Marven terdiam mendengar jawaban Krista. Senyum terpaksa gadis itu membuat perasaannya dongkol. Meski perayaan hari jadinya bersama Gaby, Marven tetap ingin menghabiskan waktu bersama Krista juga.
"Krista." Marven menggenggam tangan gadis itu erat. "Aku tak ingin egois. Ikutlah bersama kami. Mengantar undangan bisa di lain waktu," pinta Marven penuh harap.
Rasanya, Krista ingin memarahi Marven. Ia tak ingin membuat Gaby cemburu. "Ah— tidak ... Sebaiknya aku—"
"Dia akan menghabiskan waktu bersamaku," potong Hansel tiba-tiba. Entah sejak kapan ada di antara mereka.
Seketika, ketiga murid itu terkejut. "Kau!" Krista melonjak.
"Oh! Mr. Hansel!" Berbanding terbalik dengan Krista, Gaby justru kegirangan saat Hansel ada di dekatnya.
__ADS_1
"Kau ikut denganku," ujar Hansel sambil berlalu.
"Tunggu! Kenapa aku harus ikut?!" protes Krista.
"Nilai sejarahmu jelek. Perlu diremedial, sebelum pulang ambil terlebih dahulu tugas dariku," lanjut Hansel beranjak menuju ruangannya.
Krista berdesis kesal. "Marven, Gaby, aku pamit." Ia berlari menyusul Hansel.
Sementara, Marven heran dengan sikap Hansel yang tak seperti orang asing saat berinteraksi dengan Krista. Terlebih, keduanya adalah guru dan murid, tak terlihat seperti pada umumnya.
"Katakan saja di sini, ada apa?" tanya Krista. Membuat Hansel yang tengah mengabsen anak tangga, langsung berhenti.
"Nilai sejarahmu jelek," balas Hansel pendek.
"Aku tau itu bohong. Katakan yang sebenarnya," titah Krista dingin. Ia melirik sekeliling. "Semua murid sudah pulang, jadi kau tak perlu khawatir menghapus ingatan orang, karena tak akan ada yang mendengar ucapanmu," lanjut Krista.
Hansel memilih melanjutkan perjalanannya, membuat Krista terpaksa mengekor hingga sampai di kantor guru sejarah. Ketika masuk, Krista menutup pintu rapat-rapat, ia melihat Hansel tengah mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," tuturnya.
Krista menatap seisi kantor. Baru satu hari menjadi guru namun seisi ruangan sudah dipermak menjadi ruangan yang gelap. Gadis itu duduk di depan Hansel, jarak mereka hanya terpisah oleh meja.
"Kamu ingin aku merahasiakan identitasmu, 'kan? Aku tak tertarik dengan fakta itu," ujar Krista.
"Lalu?" Hansel bertanya tanpa menoleh.
"Itu 'kan yang ingin kamu katakan? Aku ingin pergi sekarang. Aku manusia yang produktif, tak bisa membuang waktu untuk yang tak berguna." Krista bangkit.
"Duduklah!" Hansel kesal, Krista memajukan bibirnya.
Hansel meletakkan sebuah buku di depan muridnya. "Aku akan jujur padamu tentang semuanya. Kau kebal terhadap kami, sepertinya memang kau ditakdirkan terlibat dalam kehidupan vampir," ujar Hansel memulai.
__ADS_1