Tuan Vampir Dan Darah Suci

Tuan Vampir Dan Darah Suci
Gadis Cantik


__ADS_3

Keluarga Anderson tak memiliki banyak anggota. Sebab, sebagian besar keluarganya ada di desa. Di kota Glerida, Irenica hidup bersama suami dan dua anak kembarnya—Niwelly dan Emily. Sedangkan Krista, hanya ikut tinggal sampai ia lulus kuliah dan mencari kerja.


"Makanlah. Kau seharian ini sibuk sekali membagikan undangan ulang tahunmu." Irenica menyodorkan semangkuk sup daging.


Krista tersenyum kecil. "Terima kasih, Tante." Ia mengambil sendok. Sementara Emily kesal dengan perhatian ibunya pada Krista.


"Krista, hari ini kau yang cuci piring, ya. Oh, ya jangan lupa buang sampah, sudah menumpuk," ujar Emily. "Kau keluyuran sepanjang hari. Aku sudah gantian membersihkan rumah siang tadi," lanjutnya.


Krista hanya mengangguk. Namun, Irenica merasa tak enak. "Besok saja, Krista. Ini sudah malam, sebaiknya kamu istirahat."


"Jangan memanjakan dia, Ma. Dia hidup gratis di rumah kita. Seharusnya punya kesadaran untuk—"


"Niwelly!" bentak George—suami Irenica. "Jangan berbicara seperti itu pada sepupumu. Dia anak dari tante kalian. Rumah ini pun dulu diberikan Tante Veronica untuk kita. Jadi, jangan berbicara seperti itu," tegur George menatap Niwel anak laki-lakinya yang berusia 18 tahun.


Niwel memutar bola matanya. Lelaki itu menatap kemnarannya, Emily.


"Tidak apa-apa, Om. Aku akan cuci piring dan membuang sampah. Lagi pula, aku sudah istirahat tadi," sanggup Krista berusaha memecahkan suasana yang tegang.


Tak lama kemudian, setelah makan malam Krista melakukan aktivitasnya. Ia menyimpan sampah di tong. Gadis itu menatap langit. Malam yang sungguh gelap, bahkan bintang-bintang pun tak ada.


Dzzzrt! Dzzzrt!


Ponsel Krista berdering. Dengan cepat gadis itu mengangkat telpon masuk, dari Niwel. "Halo, Niwel. Ada apa?"


"Kau sedang membuang sampah, 'kan? Bisa tolong ke mini market dan belikan aku soda? Aku akan membayar uangnya nanti," pinta Niwel.


"Ini sudah larut. Mungkin sudah tutup."

__ADS_1


"Tak mungkin. Jika sudah tutup, coba ke tempat lain. Ayolah, aku sudah tak lama meminum soda." Niwel memelas.


Krista memajukan bibirnya. Ia menutup telpon sepihak. Niwel ataupun Emily, kedua saudara kembar itu menyebalkan. Dengan terpaksa, ia menuju minimarket.


Tak begitu jauh, namun tetap saja ia harus berjalan kaki menuju tempat tersebut. Suasana larut malam yang begitu sepi. Beberapa lelaki nakal kerap kali nongkrong di dalam gang sambil merokok atau mabuk-mabukan. Bahkan, ketika ia ke minimarket, di terasnya ada beberapa lelaki sedang bernyanyi tak jelas.


Krista membuka salah satu kaleng soda dan meminumnya. Ia menatap layar ponsel. Marven mengirimkan sebuah foto padanya, foto ketika lelaki itu dan Gaby berkencan.


'Aku dan Gaby membelikanmu sesuatu. Aku akan menyerahkannya besok.' Begitu pesan yang dikirim Marven. Krista memandangi wajah tampan Marven. "Harusnya aku yang di sana," gumamnya.


Tiba-tiba, terdengar suara geraman di gang yang Krista lewati. Gadis itu terdiam. Gang yang gelap, sempit, bahkan mungkin buntu. Untuk waktu yang lama, Krista berdiri di sana. Geraman yang sungguh menyeramkan. Krista penasaran. Dengan bodohnya, ia menyalakan flash dari ponsel miliknya.


Dari jarak 5 meter, Krista melihat pemandangan mengerikan. Empat orang lelaki dengan mata menyala tengah menggigit tubuh pria paruh baya yang nampaknya sudah mati. Darah berceceran di mana-mana, bau anyir menusuk hidung. Soda yang dipegang Krista jatuh tanpa sadar. Keempat lelaki itu melirik dengan mulut penuh darah.


"Siapa kau ...?" tanya salah satu dari mereka dengan tatapan tajam, menakutkan.


"Pangeran, manusia tadi terlanjur melihat kita, harus kita bunuh. Jangan sampai dia sadar dengan identitas kita," ujar Exander.


"Exander, ikut aku." Jackson berdiri kemudian berlari mengejar Krista, disusul dengan Exander yang memiliki kecepatan dan kemampuan bertarung yang hebat.


Sementara, Krista terus mengayunkan kakinya kuat. Tak peduli dengan dinginnya udara malam atau pernafasannya yang mulai tak normal. "Sial! Apa itu?! Vampir lagi?!" tanya Krista. "Itu tak mungkin Mr. Hansel, 'kan?!" Krista tak bisa berpikir jernih. Tanpa sadar kakinya tersandung batu, tubuh Krista ambruk dengan keras.


Krista merasa dada dan perutnya mual. Nafasnya tak beraturan. Krista berusaha berdiri. Jangan sampai mereka mengejarnya. Siapapun itu, mau vampir atau penjahat sekalipun. Krista melangkah maju, tapi ia menabrak sesuatu. Ia melirik ke arah objek yang kini berdiri di depannya.


Lelaki tinggi, berambut pirang, mata merah menyala dan senyum bak iblis dari neraka. Krista membeku karenanya, jantungnya seakan berhenti berdetak. Dari jarak yang sangat dekat itu, Krista tak berkedip sedikitpun, melihat aura Jackson yang sangat mencekam Krista terhipnotis.


Senyum Jackson melebar, saat darah di lutut Krista keluar. Sisa darah di mulut Jackson mengalir bak air liur.

__ADS_1


"Aku tak menyangka manusia memiliki jenis darah paling harum sepertimu."


Deg!


Tatapan tajam dan penuh gairah Jackson menusuk ke retina Krista. Gadis itu mundur, berbalik untuk lari. Namun, lagi-lagi ia berhenti. Seorang lelaki berambut perak juga berdiri menghalangi jalannya. Dia adalah Exander, pengawal Jackson yang paling setia.


"Kau tak bisa lari," ujar Exander dingin. Dengan cepat Krista berlari ke sisi kiri, namun Exander memukul tengkuk gadis itu. Krista jatuh, tak sadarkan diri.


Jackson tertawa. "Hey, ayolah. Kenapa tidak seru sekali," keluh lelaki itu, menatap Krista yang sudah terjatuh karena ulah Exander. Jackson duduk di samping gadis itu, menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah Krista.


"Cantik sekali," gumam Jackson membeku.


"Pangeran. Tolong ingat tujuanmu," peringat Exander dengan ekspresi wajah datar. Jackson tak peduli. Lelaki itu menggendong tubuh Krista.


"Kita akan membawanya, 'kan? Sebelumnya, bunuh dia terlebih dahulu."


"Jangan gegabah." Jackson masih memperhatikan wajah Krista. "Kita sudah kenyang. Membunuhnya sekarang hanya akan menyia-nyiakan darah segar," lanjut lelaki itu sambil berlalu.


Exander mengerutkan keningnya. Tak mengerti mengapa Jackson seperti itu.


Tiba di gang buntu tadi, Jackson tersenyum lebar. "Reider, Joshua. Lihatlah," titah lelaki tampan itu.


Kedua Brown bersaudara melirik. Mata mereka terbelalak. "Wow, gila! Kita akan memangsa manusia lagi?" tanya Reider terkejut. "Aku rasa soal makanan lebih senang hidup di dunia manusia dari pada di dunia kita," lanjutnya.


"Jangan salah paham." Jackson menatap Joshua dan Reider serius. "Aku tak ingin meminum darah gadis ini, karena—"


"Karena cantik," potong Exander kesal dengan keputusan Jackson tadi.

__ADS_1


"Hey! Kau berani memotong ucapanku?!" Jackson menatap Exander dengan ekspresi datar. Disusul tawa Reider dan Joshua yang mati matian ditahan. Jackson mendelik. "Aku akan memanfaatkan gadis ini," ujar Jackson setelah menghela nafas kasar.


__ADS_2