Tuan Vampir Dan Darah Suci

Tuan Vampir Dan Darah Suci
Penghapus Ingatan


__ADS_3

"Lihat itu. Siapa pria di samping Mr. Edward?" tanya Marven tak berkedip. Meski kesal, Krista tetap mengerling, awalnya ia tak peduli, namun sosok tinggi dengan rambut hitam legam itu membuat Krista terbelalak.


'Lelaki itu kenapa bisa ada di sini?!' batin Krista panik.


"Selamat pagi, Anak-anak," sapa Mr. Edward dengan senyum mengembang. Tubuhnya yang cukup gemuk dan pendek kentara jelas ketika berdiri di samping lelaki yang kini mencuri perhatian banyak orang.


"Pagi, Mr," balas semua murid serentak.


"Langsung saja, perkenalkan. Ini adalah guru sejarah kalian yang baru," ujar Mr. Edward memperkenalkan. Ia melirik Hansel sekilas. "Tuan, silakan perkenalkan diri Anda."


Hansel, pria itu menatap setiap penjuru kelas tanpa ekspresi. Semua murid menatapnya, ia bak magnet yang menjadi pusat perhatian. Tak terkecuali dengan Krista yang sedari tadi terus bertanya-tanya bagaimana bisa Hansel ada di kelasnya.


"Hansel Steverus Rod. Salam kenal," ujar Hansel dengan tatapan yang melirik ke arah Krista, menatap gadis itu penuh arti. Krista seketika mengalihkan tatapannya.


Semua murid langsung berbisik-bisik. Terutama murid perempuan. Ketampanan wajah Hansel yang nampak dewasa membuat mereka salah tingkah. Namun, Krista justru bertingkah berbeda.


"Nah, karena Mr. Edward akan beralih menjadi guru Geografi, semua pelajaran dan tugas yang berhubungan dengan Sejarah kalian konsultasikan dengan Mr. Hansel, mengerti?" nasehat Mr. Edward yang langsung dibalas serentak oleh para murid. Tak lama kemudian, Mr. Edward keluar.


"Kenapa mendadak sekali? Dari awal tak ada pemberitahuan akan ada guru baru," gumam Marven heran. "Krista, kenapa kau diam saja?"


Krista mengerjap. Ia menggeleng pelan. "Tidak," jawabnya. Gadis itu menatap Hansel masih berdiri di depan kelas.


Dua jam berlalu, pelajaran selesai. Istirahat tiba. Semua murid berhamburan keluar untuk ke kantin, perpustakaan atau tempat lain. Seorang gadis cantik berambut panjang lurus muncul dari bingkai pintu. "Marven! Krista!" panggil Gaby melambai.


"Oh, hai, Gaby!" Marven balas melambai dengan senang. "Kau mau ke kantin? Sebentar, aku merapikan beberapa buku." Marven bangkit, kemudian menarik lengan Krista untuk mengajaknya ke kantin.


"Aku tak akan ke kantin," potong Krista cepat.

__ADS_1


"Lho, why? Biasanya kau paling banyak makan." Marven heran.


"Undangan ini. Aku belum selesaikan," balas gadis itu cepat.


Marven terdiam. Tapi akhirnya ia pasrah. "Baiklah. Aku akan belikan makanan kesukaanmu nanti," final Marven. Lelaki itu berlalu, sebelumnya Marven menatap Hansel yang tengah duduk di kursi guru sembari membaca absensi.


Di sisi lain, Krista memilih untuk tak memikirkan Hansel. Ia masih fokus dengan pekerjaannya. Menyalin beberapa alamat pada undangan untuk nanti diberikan ke teman-temannya. Namun, Krista terhenyak saat sadar bahwa hanya ada ia dan Hansel di dalam kelas, bulu kuduknya kembali meremang.


"Lebih baik aku menyusul Marven saja," gumam gadis itu. Daripada harus satu ruangan dengan orang misterius seperti Hansel.


Ia berjalan, menuju pintu dengan wajah tertunduk, namun panggilan dari Hansel membuat Krista berhenti. "Krista Isabela Anderson," panggilnya.


Krista tersentak. 'Apa? Dia memanggilku?' tanya Krista dalam hati. Ia memegang kenop pintu dengan erat, berancang-ancang untuk kabur jika seandainya Hansel melakukan hal aneh.


"I-iya, Mr?" Krista tak menoleh.


Deg!


Krista terbelalak bukan main. Degup jantungnya seperti berhenti, ketika dari jarak 5 cm ia mendapati Hansel ada di depannya, tepat di depan pintu seolah menghalangi Krista untuk pergi. Krista seketika melepas pegangannya pada kenop, mundur penuh keterkejutan.


"K-kau! Kenapa bisa— ada di depanku?!" tanya Krista setengah berteriak. Ia melirik ke arah meja guru dan Hansel bergantian.


Hansel mengunci pintu, memastikan siapapun tak bisa masuk ke ruangan itu. "Aku berteleportasi," jawab lelaki jangkung berambut hitam itu sambil berjalan mendekati Krista.


"Teleport?! Sebenernya kau ini siapa!?" Krista tak bisa percaya sedikit pun. Bagaimana pun, apa yang diucapkan dan dilakukan oleh Hansel barusan sangat tak masuk akal. Pertanyaan dari Krista tak mendapat jawaban. Seiring mendekatnya Hansel, gadis itu semakin mundur. "Menjauh dariku! Orang aneh!" maki Krista.


"Aku tak bisa menjauh darimu." Hansel menghentikan langkahnya dari jarak dua meter, menatap Krista lamat-lamat. "Aku sengaja datang ke sini karena kau tau identitasku," tutur lelaki itu.

__ADS_1


Krista mengernyitkan keningnya. Identitas? Apa mengenai kejadian saat di hutan itu? "Kau tak bisa menjauh dariku? Apa maksudnya itu? Aku tak mengerti. Aku juga tak tau pasti apa identitasmu, aku pikir kau itu zombie. Benar, 'kan?! Pakai cairan apa kau sampai kau bisa kembali normal seperti ini?!" tanya Krista bertubi-tubi. Sejujurnya, ini tak sopan bagi seorang murid yang berbicara lantang pada gurunya. Namun, garis bawahi, Hansel masih terlihat seperti lelaki berusia dua puluh lebih.


"Zombie?" Hansel memiringkan kepalanya. Sedetik setelahnya, ia tepat berada di depan Krista, tanpa jarak sedikit pun. Bak angin mengembus, rambut Krista berayun karenanya. Hansel tak ingin membuang waktu, ia menutup penglihatan Krista dengan telapak tangannya.


"Dengar ...," bisik lelaki itu halus. Krista tak bisa bergerak sedikitpun, bahkan untuk bersuara pun tak bisa. Seolah patung yang bisu. "Manusia yang tak memiliki urusan dengan kami, tak seharusnya tau identitas kami," lanjut Hansel.


"Kau pikir kami zombie? Kami adalah vampir murni."


Deg!


Krista ingin berteriak. Bulu kuduknya meremang, ia ingin lari sekarang. Namun, sulit sekali. Hansel membuatnya membeku. Terlebih ucapan lelaki itu sungguh membuat Krista mati kutu.


"T-to ... long ...," ujar Krista berusaha menggerakkan bibirnya. Suaranya pelan sekali.


"Aku akan mencabut ingatanmu tentangku, " bisiknya. Hansel mulai menarik telapak tangannya yang saat itu menghalangi kening dan pandangan Krista, menarik ingatan ketika Krista bertemu dengan Hansel.


Krista merasa sesuatu dari dirinya tertarik. Entah apa itu, Krista pun tak pernah merasakan seperti itu sebelumnya.


Ketika ingatan Krista ditarik kuat, tenaga gadis itu terasa menghilang seketika. Krista jatuh, ambruk ke lantai. Sementara, Hansel menatap ingatan Krista berwujud asap putih kecil. Ingatan pertemuan dirinya dan Krista di Black Forest. Ia melenyapkannya dengan udara.


"Setelah ini, kau tak akan tau siapa aku. Urusanku selesai," ujar Hansel menatap Krista yang sudah tergeletak tak berdaya. Ia berbalik badan untuk menuju kantornya. Namun, ringisan kecil Krista membuatnya berhenti.


"Argh ... hey ... Kau ...!" Krista menggeram kecil. Gadis itu bangkit sambil memegang kepalanya yang berdenyut sakit. "Apa yang kau lakukan padaku barusan?" tanya Krista lirih.


Hansel melirik dengan mata terbelalak. Mengapa bisa Krista sadar secepat itu?!


Krista berdiri. Tubuhnya terasa lemas sekali. Pandangannya kabur, ia memegang meja agar tubuhnya seimbang. "Kau bilang apa? Vampir ...? Identitasmu vampir ...?" tanya Krista dengan nafas dangkal. "Kau ingin menghapus ingatanku karena itu?"

__ADS_1


__ADS_2