
Jackson Loidreen Rod, begitu nama lengkapnya. Rambut pirang dengan wajah tampan rupawan. Vampir muda yang begitu diperhitungkan, meski saat kecil memiliki nasib yang tak mujur—ia disembunyikan keluarganya dengan suatu alasan yang amat dirahasiakan. Kini, ketika besar, Jackson enggan bersembunyi lagi. Ia memperlihatkan taringnya ketika tanah lahirnya mulai dikuasai Black Vampir.
"Pangeran, bertahanlah. Kita akan segera sampai ke perbatasan," ujar Exander. Lelaki itu memapah Jackson. Ia melompat rendah. Dengan kaki yang memiliki tingkat hentakan cukup tinggi, Exander bisa melompat dengan rentang jarak tujuh meter. Melewati Black Forest, hutan di ujung kota yang dihuni para Black Vampir, memiliki pohon pohon menjulang yang besar dan sangat lebat. Hal ini membuat Exander mudah melarikan diri.
Jackson hanya meringis kecil. Mereka berdua sampai di perbatasan antara dunia manusia dan vampir. Tanpa ragu mereka melewatinya. Sensasi terbakar adalah hal yang pertama kali mereka rasakan saat melewati garis pembatas. Lereng gunung membuat kaki Exander terpeleset, alhasil ia dan Jackson berguling. Namun, dengan sigap Exander meraih salah satu batang pohon untuk menahan tubuhnya. Ia memegang erat lengan Jackson. Sial, melewati perbatasan antara dunia manusia dan vampir benar-benar terasa sekali perbedaannya. Tenaganya terkuras habis, pantas saja, karena sepertinya hanya Black Vampir yang mampu mempertahankan tenaganya saat melewati perbatasan.
"Pangeran, kau baik-baik saja?" tanya Exander, lanjut memapah Jackson.
"Ya ... Aku baik-baik saja. Teman-teman kita sudah di depan," balas Jackson dengan wajah lesu dan nafas pendek. Ia memegang luka di perutnya, akibat dari Black Blood sangat fatal. Semakin sering mengeluarkan tenaga, semakin membuat luka melebar.
Mereka turun, hingga sampai di kaki gunung, ada dua orang lelaki memakai jubah yang sama dengan mereka tengah berdiri menatap pemandangan dari ketinggian lebih dari 50 meter.
Kedua lelaki itu melirik ketika mendengar suara gemerisik daun yang telah gugur terinjak oleh Exander. "Ah, kalian akhirnya tiba, aku sebelumnya khawatir kalian terjebak di sana," ujar seorang lelaki berambut coklat dengan poni rambut ditarik ke belakang. Lelaki itu memiliki tinggi yang sama dengan Jackson.
"Jackson, lukamu cukup parah," komentarnya, menelisik kondisi perut Jackson yang darahnya mendidih ketika lukanya melebar.
Jackson mengangguk pelan. "Black Blood memang separah itu, Reider. Karena terlalu banyak bergerak, lukanya semakin dalam," balas Jackson sambil membuka pakaian yang ia kenakan dengan kasar hingga robek. Perutnya yang memiliki kulit putih ternodai dengan darahnya.
"Joshua, obati Jackson," titah Reider sembari mengerling ke arah seorang lelaki pendek yang memiliki rambut coklat gelap dengan potongan rambut wolf cut.
__ADS_1
Lelaki bernama Joshua itu cukup tersentak, ia mengangguk. Ia duduk di samping Jackson. "Aku minta maaf karena tak membantu kalian tadi. Karena itu ... Aku hanya bisa melakukan ini," ujar Joshua. Ia menggigit tangan kanannya sangat kuat hingga kulitnya robek. Darah yang mengucur ia alirkan pada luka Jackson. Seketika, Black Blood yang tengah menggerogoti luka Jackson berhenti. Jackson menghela nafas.
"Kau berguna sekali," komentar Jackson lega, tertawa lebar. Meski ia akui, Joshua adalah anggota paling lemah yang pernah diangkat menjadi pillar utama. Joshua tak memiliki tenaga besar, kemampuan bertarungnya kaku dan tak percaya diri. Namun, keistimewaan Joshua terletak pada darahnya yang istimewa. Darahnya bisa menghilangkan rasa sakit dan memulihkan luka dengan cepat. Ini adalah kekuatan paling langka yang pernah ada.
Jackson bangkit, ia menepuk pelan rambut Joshua. "Kerja bagus. Lain kali aku akan melatihmu untuk bertarung jika misi kita selesai, jarang murung terus, bocah!" timpal lelaki berambut pirang itu, diikuti dengan Exander yang juga tertawa kecil ketika Joshua dipanggil bocah.
Reider Cruz Brown yang merupakan kakak kandung Joshua lantas menggandeng tubuh adiknya dengan bangga. "Kau sudah seperti darah suci. Jadi berhenti merasa bersalah seperti itu, setiap kemampuan ada tempatnya. Paham?" Rider menatap Joshua yang mengerut karena perlakuannya.
Keempat vampir murni itu mengarahkan perhatian mereka pada pemandangan kota Glerida, kota maju yang masih memiliki banyak sekali bukit, gunung dan pepohonan yang mengelilinginya. Angin berhembus kuat, tatapan mereka terus berputar, seolah mengabsen setiap inci sudut kota dari ketinggian di kaki gunung.
"Kenapa dunia manusia terlihat damai sekali." Reider menghela nafas panjang.
"Kita juga membunuh manusia ketika festival tahunan. Apa manusia akan balas dendam juga pada kita?" Rider melipat tangan.
"Kebanyakan manusia tak bisa apa-apa. Tak memiliki kekuatan apapun. Namun, di antara mereka ada yang istimewa, seperti penyihir itu. Merubah ras kami menjadi ras baru." Jackson yang memang sedari kecil dilatih untuk mengenal dunia manusia sejak invasi Black Vampir di beberapa daerah, tentu tahu kebiasaan dan hal apa saja yang berlaku di dunia manusia. Lelaki itu tersenyum sinis.
"Kita akan berbaur dengan para manusia ini untuk beberapa waktu. Sungguh menyenangkan membayangkannya. Ck! Ck! Ck! Aku harap aku bertemu wanita cantik!" Ucapan Jackson sukses mengundang tatapan aneh dari Exander, Reider dan Joshua.
"Pangeran, kita ke sini untuk mencari penyihir itu. Tolong jangan memikirkan harapan tak berguna," tegur Exander jengah.
__ADS_1
Jackson tak menanggapi apapun. Namun, memang kenyataan, sesuai dengan buku yang ia baca, manusia dan dunianya memang seindah itu. Lantas, dunia manusia ada di hadapannya sekarang, akan mereka jelajah untuk menemukan si penyihir dan mengembalikan semuanya ke tempat awal.
***
Tok! Tok! Tok!
Ketukan terdengar, Krista mengerling. "Ada apa, Tante?" tanya gadis yang tengah duduk sambil mengerjakan PR itu.
"Makan malam sudah siap, Krista. Ayo, turun ke bawah," ujar Irenica, adik dari ibu Krista sekaligus bibinya.
"Baik, Tante. Aku segera ke sana."
Setelah Irenica pergi, Krista menyandarkan punggung ke kursi. Gadis itu menerawang. Selain mengerjakan PR, ia pun berpikir tentang kehadiran Hansel. Meskipun benar-benar aneh dan tak masuk akal, entah mengapa Krista percaya ucapan Hansel. Ia menolak tawaran Hansel bukan tanpa sebab. Karena Krista justru ingin mencari tau penyebab ia percaya begitu saja dengan ucapan Hansel tentang bangsa Vampire.
'Kamu kebal terhadap kami. Sepertinya, kamu memang ditakdirkan untuk berurusan dengan dunia vampir.'
Krista mendengus. "Berurusan apanya?!" Krista mendelik. Gadis itu menarik laci dan mengeluarkan sebuah buku yang sangat tebal. Ia mengusap buku dengan kertas dan jilid usang tersebut.
Sudah sejak lama Krista menemukan buku ini. Bahkan pernah diperlihatkan oleh ibundanya sebelum wafat. Namun, Krista tak paham sama sekali. Ia membuka halaman pertama. Halaman yang kosong, Krista ingat sekali bahwa ibundanya pernah menceritakan sebuah kisah lewat buku itu.
__ADS_1
"Aneh sekali," gumamnya. Memilih untuk tak memikirkan hal itu, Krista segera turun untuk makan malam.