
Seorang lelaki berambut hitam dengan pakaian berwarna senada tengah berlari, salah satu tangannya memegangi leher. Langkahnya cepat sekali, menyusuri hutan yang begitu sepi. Banyak sekali pepohonan tinggal rating yang batangnya menghitam. Lelaki itu meraih salah satu batang dan berhenti sejenak.
Masih menetralkan nafas dengan kaki bergetar. "Sialan ... Mereka terlalu ganas," gumam lelaki itu dengan rahang mengeras.
"STEVERUS!!"
Teriakan keras dan menggema membuat lelaki tadi teralihkan.
"MAU KE MANA KAU, HAH? KAU TAK BISA PERGI KE MANA PUN. DARAHMU BERCECERAN DI HUTAN INI! KAMI AKAN MEMANGSAMU!"
"Sial!" geram Hansel. Lelaki itu masih memegangi lehernya yang nyaris tergorok. Darahnya memang berceceran sedari tadi, tidak bisa berhenti. Dengan tangan bergetar, lelaki itu menatap telapak tangannya yang penuh darah. Darah merah yang tercampuri cairan hitam, ia berdesis dengan urat-urat wajah yang mulai mengeras.
"Aku harus ... pergi—" Ucapannya terputus-putus seiring dengan sulit dikendalikannya pikiran, apalagi penglihatan Hansel saat itu mulai memburam. "Pergi ... Dari sini!"
Dengan langkah terhuyung-huyung, lelaki itu berlari. Jangan sampai pasukan Black Forest menemukan dirinya. Meski darahnya akan tercium setidaknya Hansel bisa menjauh dari musuhnya.
'Kau harus ingat ini, Hansel! Bawa dia! Penyihir yang merubah bangsa kita!'
'Jika kau ingin menjadi Raja! Kembalilah dengan kunci terbaik untuk menghancurkan mereka!'
'Kakak! Tolong selamat aku!!'
'Hansel! Aku mencintaimu!'
"Arghhh!"
Hansel frustasi ketika ia mengingat jeritan kesakitan dan penderitaan dari keluarganya yang kini sudah berada di ambang bahaya. Apalagi, ketika mengingat sosok adiknya yang berusaha meraih tangannya membuat Hansel tak tega.
Dug!
Tanpa sengaja, kaki Hansel tersandung semak belukar yang melilit pohon, tubuh Hansel ambruk. Kondisi tanah yang miring membuat Hansel berguling dengan kuat. Tak terelakkan sampai akhirnya lelaki itu berhenti karena tubuhnya terantuk akar pohon dengan kuat.
"Hgn!" Hansel memegang perutnya. Gawat, lukanya semakin banyak, kalau begini pasukan Black Forest bisa menyusulnya. Dengan cepat, ia bangkit. Melangkah menuruni Black Forest dengan tergesa. Hansel melihat ada sebuah jalan setapak yang seharusnya merupakan perbatasan antara manusia dan vampir. Ketika lelaki itu sampai tubuhnya berlari ke tengah jalan.
__ADS_1
TIIIIIN!!
Brak!
"Aaaa!"
Teriakan seorang gadis terdengar cukup keras dari dalam mobil. Sementara Hansel kesakitan luar biasa. Namun, ingatan bahwa ia tengah dikejar membuatnya tak bisa bergelut dengan sakit lebih lama. Hansel merangkak, kemudian melanjutkan pelariannya. Sementara, dua orang manusia keluar dari mobil yang baru saja menabrak Hansel.
"Sialan, siapa orang tadi? Kenapa melintas tiba-tiba?" tanya anak lelaki berambut pirang sembari memeriksa keadaan. Namun, ia tak menemukan apapun. "Lho, hey! Ke mana dia?!"
Seseorang yang lain keluar, gadis dengan overall pendek dan rambut yang dikepang mengikuti jejak temannya. "Tak ada apa-apa di sini. Aneh, padahal aku melihat jelas ada orang yang tertabrak mobil kita," ujar Krista merasa keheranan.
"Entahlah. Aku pun tak mengerti. Sosok hantu? Bayangan? Atau hanya halusinasi?" Si anak lelaki mengendikkan bahunya. "Sudahlah, sebaiknya kita segera ke rumah Gaby."
Krista tak mengindahkan ucapan Marven, sahabatnya. Gadis itu melirik ke sana kemari, memastikan keberadaan orang yang mereka tabrak tadi. Krista terdiam dengan tatapan yang terkunci pada siluet yang kini tengah terseok, berjalan tertatih-tatih hingga menghilang di balik pohon-pohon cemara. Kening gadis berkulit putih itu mengernyit.
Tiin!
"Oy!"
"Marven!" pekik Krista marah.
"Kau mau ke rumah Gaby atau tidak?! Jika tidak, minggir dari mobilku karena aku akan meninggalkanmu di sini!" peringat Marven.
"Ish iya sebentar!" balas Krista kesal. Di antara Marven yang terburu-buru, Krista memiliki rasa penasaran terhadap siluet tadi. Jika itu memang benar orang yang tertabrak Marven, bukankah seharusnya ia memastikan keadaannya? "Kau ... duluan saja. Nanti jemput aku lagi ke sini. Aku ada urusan," ujar Krista tiba-tiba. Tanpa menunggu jawaban Marven, gadis itu berlari menuju jejak Hansel.
"Lho? Hey? Krista!" panggil Marven di balik kaca mobil. Lelaki itu termagu, apalagi ketika melihat punggung Krista yang semakin jauh. Namun, ketika ia ingat dengan senyuman Gaby, Marven memilih untuk menuruti saja keinginan Krista. Tak lama, ia pergi.
Sementara Krista dengan rambut kepangnya yang bergoyang lantas menghentikan langkah. Matanya mengedar, hutan cemara semakin tinggi menjulang. Orang bodoh mana yang nekat masuk jauh ke dalam hutan hanya untuk memastikan keselamatan orang lain. Ya, itu adalah Krista, gadis nekat yang bahkan tak mempedulikan dirinya sendiri.
"Apa hanya halusinasiku saja?" tanya gadis itu. Matanya menangkap segerombolan orang berpakaian serba hitam turun dari Black Forest. Dari jaraknya yang cukup jauh, Krista mengernyitkan kening.
Gerombolan orang itu selain memakai jubah hitam dan bertudung, beberapa dari mereka juga memegang sebuah tongkat berbentuk aneh dan memiliki aura serta kabut hitam yang mengiringi mereka. Krista tanpa sadar mundur, ia tak bodoh. Sepatutnya memang sembunyi ketika melihat rombongan orang asing yang mencurigakan. Setidaknya itu yang diingat dari wasiat ibundanya.
__ADS_1
Namun, karena tak melihat area pijakan, kaki Krista tak sengaja tersandung akar pohon, tubuh gadis itu seketika jatuh di mana jurang kecil berada.
"Argh! Aww!" pekik Krista ketika sikunya menghantam batu cukup kuat. Dengan segera ia berdiri, membersihkan bajunya yang kotor.
"Tuan, kami mendengar suara dari sana."
Deg!
Manik Krista terbelalak mendengarnya. 'Tunggu? Apa itu perkataan dari gerombolan orang aneh barusan?' pekik gadis itu dalam hati.
Krak!
Krista bodoh! Tanpa sengaja ia menginjak batang ranting cukup kuat. Sembari mendesah frustasi, gadis itu berlari kencang. Tak peduli dengan derap langkahnya yang menimbulkan suara kasar.
"Argh!!" Lagi, Krista berteriak ketika tubuhnya masuk ke dalam ranjau di antara semak belukar.
"Oh, tidak! Tolong aku!" Krista terkejut ketika dirinya berada di dasar ranjau sekarang, kondisi lubang ranjau yang penuh dengan dedaunan kering dan sampah membuat Krista tak nyaman. Gelap, sempit dan dalamnya lubang itu membuat Krista kesulitan untuk kembali ke atas.
"Jika aku terus berada di sini, maka aku akan terjebak selamanya! Dan orang-orang tadi akan menemukanku! Tak boleh! Aku harus—"
"Stttt."
Krista terdiam kaku. Saat telapak tangan seseorang tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang. Tangan yang awalnya hendak meraih dedaunan itu seketika membeku.
"Diamlah. Yang mereka cari adalah diriku, bukan gadis berisik sepertimu," bisik Hansel tepat di telinga Krista.
Krista masih membutuhkan waktu untuk mencerna perkataan Hansel. Hingga akhirnya ia bisa sadar. 'Apa orang ini adalah orang yang ditabrak oleh Marven tadi?'
Mengapa bisa ia ada di dalam ranjau yang sama dengan Krista? Bukankah sebelumnya hanya Krista yang terperangkap di ranjau itu?
***
__ADS_1
Bersambung-