
roy kembali kekantor dengan wajah yang marah.rinna hanya diam membuntuti langkah suaminya.
ia turun dari lift,semua karyawan membungkukkan kepala dan menyapanya.namun roy hanya diam tak memperdulikannya.
roy masuk ruangannya dan membanting tubuhnya kasar di sofa.
rinna merasa bingung,tak tau apa yg harus ia lakukan.
selama menjadi istri,rinna baru kali ini melihat suaminya marah.
rinna menarik nafas panjang dan memeluk suaminya hangat.
"sayang?"panggilnya mesra.
"heem."sahut roy singkat.ia sungguh tak ingin bicara.ia sangat muak dengan sikap yola yg sok manis dan murahan.
"jangan hukum dirimu seperti ini,kita tak perlu kasar padanya.kita harus hadapi dengan cara laen,untuk menjauhi dia."rinna berusaha menenangkan suaminya.sejujurnya rinna juga merasa kesal pada yola,namun rinna punya cara laen untuk menyeleseikannya.
roy melepaskan pelukan istrinya,dan menatap wajahnya dengan tajam.namun roy tak tega mengucap kata kata yg bisa membuat hati rinna sakit.
sebenarnya roy sedikit marah dengan istrinya.
"kenapa ia mencegahku untuk menghukum gadis murahan itu?"
rinna punya cara laen untuk menaklukkan hati suaminya.
"cuups."rinna mencium bibir roy mesra,roy tersenyum tipis dan membalasnya.
setidaknya rinna mampu membuat hati roy sedikit tenang.
anjas masuk ruangan setelah mengetuk pintu berkali kali namun tak ada sahutan dari dalam.
anjas hanya bisa menelan ludahnya ,melihat sepasang kekasih itu bermesraan.
asisten kocak itu balik badan dan ingin segera keluar.
"sungguh nasib jomblo,melihat yg seperti ini,ohh sungguh mengenaskan,kenapa dua kucing ini bisa melakukannya di sini,,hiiih..!"ucap anjas lirih.
rinna menyudahinya,setelah sadar,ada sepasang mata melihat adegan romantisnya.
"dasar,kenapa kau tak ketuk pintu dulu."tanya roy ketus.ingin rasanya memukul kepala lonjong anjas.
"maaf bos,tadi saya sudah mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban dari si bos,jadi aku masuk saja."anjas memberi jawaban.
anjas nyelonong berlari kecil keluar dari ruangan ,bahkan ia sampai lupa, menyerahkan dokumen yg harus di tanda tangani bosnya.
anjas balik badan dan nyelonong begitu saja masuk keruangan bosnya.
"maaf bos ini ada dokumen yg harus bos tanda tangani."anjas melirik ke arah rinna yg sibuk dengan laptopnya.
rinna tertawa kecil melihat gundukan kecil berdiri di bawah paha anjas.
anjas dan roy menatap rinna dengan wajah mlongo heran.
roy dan anjas saling bertatap muka,dan kembali menatap rinna yg ketawa terbahak bahak.
roy dan anjas kembali adu pandang dan kembali menatap wajah rinna.
__ADS_1
rinna ketawa sembari mengetuk ngetuk meja.
anjas dan roy hanya menggaruk kepalanya yg tak gatal.
rinna sadar jika mereka memandangnya.
rinna menahan tawanya dan menutup mulutny.
"sayang,ada apa?tanya roy dan memegang jidat rinna yg tak panas.
rinna membisikkan sesuatu ke telinga roy.
roy ikut ketawa terbahak bahak mendengar bisikan istrinya.
roy menatap anjas dan berjalan mendekatinya.
anjas semakin binggung melihat sepasang suami istri ini terbahak bahak.
"pergilah dan pakek celana dalammu." bisik roy di telinga anjas
wajah anjas berubah menjadi merah menahan malu.dengan cepat anjas mengambil dokumen yg baru di tanda tangani roy,dan menutupi adiknya dengan dokumen itu.
roy berlari kencang keluar ruangan.
rinna dan roy masih tak bisa menahan tawanya.
roy menatap istrinya dengan tatapan membunuh.
rinna menutup mulutnya dan mencoba berhenti dari tawanya.
"kenapa kau melihatnya?"tanya roy sinis.
"tak sengaja."jawab rinna pelan dan lirih.
anjas berlari keruangannya,lalu menelpon seseorang untuk mengantarkan celana dalam ke kantor.
pagi tadi anjas memang lupa tak pakek celana dalam karena buru buru.
anjas sangat malu dengan kedua bosnya.
tak tau mau di taruh mana mukanya,jika ketemu bosnya.
"pikun,kenapa aku lupa,ini semua salah si bos,kalau dia tak bermesraan di kantor,mungkin adikku tak akan berdiri.huuh..bodoh bodoh bodoh,kenapa aku sampek lupa.
maya heran melihat anjas lari terbirit birit.
maya mencoba menemui anjas di ruangannya,namun anjas melarangnya.
maya semakin penasaran dengan tingkah anjas.
maya nyelonong masuk begitu saja.
melihat anjas duduk menyilangkan kedua kakinya ,dan nenaruh buku di atas pangkuannya.
"ada apa denganmu?kenapa lari sekencang itu?"tanya maya penasaran
"ti..tidak ada,tidak ada apa apa!" jawab anjas gagap.
__ADS_1
maya memang jatuh hati sama anjas,namun tak berani mengungkapkannya .
takut merusak pertemanan mereka yg sudah lama terjalin baik.
___
sore ini yola mengikuti mobil roy.
ia sangat marah dengan kejadian tadi siang.
yola telah merencanakan sesuatu.
roy dan rinna masuk mobil dan sopir agus melajukan mobilnya pelan
rinna pingin mampir membeli martabak telur yg berada di pinggir jalan.
selama di dalam mobil rinna dan roy ketawa renyah.
mereka saling menggoda.agus hanya bisa meliriknya dari spion dan tersenyum tipis melihat majikannya ketawa.
"pak berhenti di depan ya?"ucap rinna.
agus menghentikan mobilnya tepat di depan penjual martabak.
rinna turun dan memesan martabak telur yg sudah lama ia idamkan.
yola masih mengikutinya di belakang mobil roy.
kali ini yola tidak mengendarai mobil,tapi ia menyewa seseorang dan naik sepeda motor.
roy tak menyadari jika ada seseorang mengikutinya.
ia sibuk dengan hpnya,membalas beberapa chat yg di kirim anjas dan juga papanya.
pesenan rinna sudah siap dan membayarnya.
rinna kembali ke mobil.rinna memutar balik lewat depan,saat ini ia duduk di sebelah kanan,pas di belakang sopir.
entah apa yg membuatnya duduk di belakang agus.
rinna berjalan santai sambil menenteng martabak yg ia beli barusan.aroma martabak membuat dirinya menelan ludah.
tak sabar rasanya ingin cepat memakannya.
rinna hampir sampai dan ingin meraih gagang pintu mobil.
sebelum tangganya meraih gagang mobil,suara bising knalpot sepeda motor itu membuat rinna kaget.
tiba tiba montor itu menghantam tubuh rinna begitu saja.
"bruuakkk."martabak yg ia bawa lepas dari tangannya,semburat begitu saja,tubuh rinna terpental jauh dari tempatnya berdiri.
roy menjerit dan berteriak keras,melihat istrinya terguling di jalanan.
roy berlari mendekati istrinya.
darah segar mengalir segar,dari hidung dan mulutnya.
__ADS_1
bersambung...