
Menjadi ibukota Australia,nyatanya Canberra tak kalah indah dibandingkan dengan Sydney dan Melbourne. Kota terbesar ke 8 di Australia ini memiliki pesona nya sendiri.
Aga menatap keluar jendela Bus yang membawa mereka ke penginapan. Terlihat banyak gedung gedung yang menjulang tinggi saling berjejer,tak heran jika mengingat Canberra merupakan pusat pemerintahan Australia.
Perjalanan panjang kali ini sangat melelahkan. Penerbangan dua kali dari Jakarta ke Singapore dan Singapore ke Australia membuat semua orang di bus itu tertidur karena kelelahan. Sedangkan Aga masih terpaku melihat salju salju itu turun dari langit.
Aga menempelkan tangannya ke dinding kaca,dingin sekali. Lalu ia menempelkan pipinya,kemudian menghembuskan nafasnya lewat mulut,dan melukis betuk hati.
Silla yang menyaksikan ke norak an Aga dari bangku nya pun terlihat jijik. Dia sangat bersyukur terlahir menjadi manusia. Jika menjadi kaca bus,dia pasti sudah mencium bau jigong cowok freak seperti Aga.
Bus mereka berhenti di salah satu Restaurant. Tak terasa hari sudah petang,mereka memutuskan makan malam di Restaurant Barbeque ini.
Memasuki restaurant,mata Aga memperhatikan bangunan klasik ini. Sangat nyaman. Beberapa pengunjung pun riuh ramai. Aga melirik meja makan salah satu pengunjung,daging asap mereka menggelitik hidungnya. Perutnya pun meronta ronta.
"Kalian cari tempat duduk ya,nanti waitters akan menghampiri meja satu persatu" Tukas bu Indah.
Mereka segera mencari tempat duduk. Dalam satu meja terdapat 4 kursi. Aga langsung duduk dengan Bimo disampingnya.
Saat melihat lihat isi restaurant dengan teliti,Aga dan Bimo dikejutkan oleh dua cewek yang tiba tiba nyelonong duduk didepan mereka.
"Duduk sini ya guys" Sapa Gita
Aga mendelik saat Silla didepan matanya.
"Gausah gitu liatnya bisa nggak? Kek mau makan gue aja lo" Ucap Silla
"Idih,gak doyan gue daging macan tutul. Lagian lo yang tanpa permisi duduk disini ngapain? Pengen banget deket gue?"
"Idih najis,lo buta? Semua tempat udah keisi nyet. Terpaksa juga ini gue" Sahut Silla
"Merusak pandangan gue aja lo" Ucap Aga tak mau kalah.
"Yaudah sih lo kan tinggal tutup mata aja. Lo makan sambil merem aja kalo gak mau liat gue!"
"Ogah ,Lo aja" Ketus Aga
__ADS_1
"Ya lo lah" Silla tak mau kalah
"Lo aja"
"Lo!"
"Heh udah sih,bisa diem sehari aja gak sih kalian?" Ujar Gita sambil menggebrak meja,mencoba menengahi mereka.
Silla dan Aga langsung kicep.
Pelayan pun mengantar pesanan mereka. Melihat Daging sapi premium di depan matanya,Aga tak membutuhkan waktu banyak untuk menghabiskannya. Suapan pertama yang masuk mulutnya membuat dirinya seperti di Syurga.
Sementara dua cewek didepannya juga tak kalah girang saat makanannya terasa enak dan memanjakan lidah mereka. Silla dan Gita menggoyang goyangkan bahu nya setiap suapan demi suapan masuk kedalam mulut. Aga sudah tak heran,cewek emang gitu,terlalu berlebihan reaksinya.
"Kampungan banget,kayak gak pernah makan daging" Sindir Aga pada Silla
"Ngomong sekali lagi,gue cabut mulut lo!" Ketus Silla.
.....................
Makin malam,suasana semakin dingin. Aga masih terjaga saat teman temannya sudah menuju pulau kapuk,dan lenyap oleh mimpi mereka.
Aga mengabaikan telepon dari Stalkernya itu. Sudah 2 minggu sejak aga menolak panggilan si Stalker,hari ini ia menerima panggilan itu lagi.
'Angkat atau gue bongkar rahasia lo'
Aga membaca pesan itu. Rahasia apa yang diketahui orang asing selain dirinya? Lagi lagi Aga mengabaikan.
'Gue tau lo pernah bunuh temen lo Ga,mau gue bongkar?'
Tangan Aga bergetar membaca isi pesan itu,dengan segera dia menelfon si stalker.
"Apa maksud lo ngomong gitu!" pekik Aga.
"Nah. Ternyata lo emang harus di ancem ya Ga" katanya
__ADS_1
"Lo gak waras!"
"Gue? Hahahah!!! Bukannya elo? Kan lo dirawat di Rsj anak selama 2 tahun Ga,gara gara ngebunuh temen lo sendiri. Masa gak inget?"
Aga terkejut. Bagaimana dia bisa tau bahwa Aga pernah dirawat di psikiater anak? Dan..bagaimana dia tau tentang cerita itu?
"Mau lo apa?" Tanya Aga
"Mau gue...lo jadi cowok gue"
"Gila lo! Jangan ngimpi" Bentak Aga.
"Santay dong sayang, pelan pelan ngomongnya ke aku, aku selalu menjaga rahasia kamu selama ini..dan mana mungkin aku tega membuat orang yang aku cintai terpuruk lagi? Baik..aku gak bakal bongkar rahasia kamu kok..asal kamu juga jangan menolak panggilanku,okey?"
Aga memejamkan matanya,mencoba mengatur nafasnya dan emosinya. Kenangan kenangan buruk itu satu persatu mulai muncul dan menyerang fikirannya. Aga berkeringat dingin mengingat kejadian yang merenggut masa kecilnya yang indah.
"Bukan gue..bukan gue.." ucapnya lemas
"Iya,aku percaya bukan kamu yang bunuh dia.. Hanya aku yang percaya kamu..hanya aku yang mengerti kamu..jadi jangan dekati cewek lain...atau..aku akan menghancurkannya"
Aga tak menyahut. Ia mencoba menepis ingatan ingatan buruk itu. Sudah sejak lama dia sembuh dari gangguan gangguan itu. Aga tak mau kembali mengingat hal hal yang menyakitkan untuknya.
Sementara itu cewek itu tertawa puas saat Aga tak berkutik. Dia sudah cukup putus asa,sehingga mengeluarkan kartu *** yang selama ini disimpannya.
Rahasia tentang Aga yang membunuh teman kecilnya nyatanya bekerja dengan baik. Kini Aga menjadi nurut padanya. Dia tidak akan di abaikan Aga lagi.
"Gue bakal lakuin segala cara buat dapetin lo Ga,meskipun dengan cara membuat lo hancur,asal gue bisa dapet lo,gue bakal tega" ucapnya.
Kebenaran dibalik kasus Aga pun masih dipertanyakan. Saat itu masih terlalu kecil bagi Aga untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada temannya. Aga membela diriny sendiri,dia tak tega melukai seekor semut,bagaimana dia bisa mencelakai temannya? namun tak ada satupun kata yang dia ucapkan. Semuanya terlalu menakutkan untuk Aga kecil untuk diceritakan kembali. Seingat Aga, siang itu dirinya dan temannya itu sedang bermain di taman. Lalu mereka diberi permen oleh seseorang,dan saat itu Aga tak sadarkan diri. Saat membuka matanya,Aga kaget melihat darah melumuri tangannya.
Dia berteriak meminta tolong saat pandangannya bahkan masih buram. Di pojok taman itu,Aga melihat temannya tergeletak lemas dengan luka tusuk disekujur tubuhnya. Aga tersungkur lemas.
Seorang pria paruh baya menghampirinya dan segera mengambil sebuah belati yang digenggam Aga.
"Apa yang sudah kamu lakukan pads temanmu!!" pria itu berteriak,membuyarkan lamunan Aga.
__ADS_1
"Saya tidak tau pak..saya tidak ingat" jawabnya dengan suara bergetar.
Dan kemudian polisi datang menginterogasi Aga. Karena masih kecil,Aga pun tidak bisa memberikan pernyataan. Ketakutan yang Aga rasakan saat itu,masih teringat jelas hingga kini.