Unexpected Girlfriend

Unexpected Girlfriend
AKUR


__ADS_3

Lagi lagi Aga tidak bisa tidur malam. Jam sudah menunjukkan pukul 22.30. Setelah ancaman dari Stalker itu benar benar membuat Aga terjaga saat malam. Dia melangkahkan kaki keluar Villa. Diluar sangat sunyi. Mungkin murid murid dan guru sudah tertidur,hanya tersisa dirinya. Aga pun memutuskan akan duduk di teras depan.


Saat membuka pintu, Aga terkejut hingga berteriak saat melihat perempuan berbaju putih didepannya,dia sampai melompat kebelakang.


Begitu juga dengan perempuan yang didepan Aga,juga tak kalah terkejut,suara teriakannya lebih kencang dari Aga.


"Aaaa setan!" Teriak Aga


"Apa lo bilang? Setan? Setan gundulmu!" sahut cewek itu


Gak mungkin banget setan bisa mengumpat seperti itu,Aga memberanikan diri membuka matanya. Dan melihat siapa kiranya cewek itu.


"Anjir,ini mah lebih nakutin daripada setan" Ucap Aga saat melihat Silla didepannya.


"Sialan" jawab Silla


"Lagian lo kenapa ikut ikut teriak?" tanya Aga


"Ya soalnya lo teriak,kan gue kaget nyet"


Aga melengos,dia segera duduk ,menghiraukan Silla


"Malem malem ga tidur lo" Ucap Aga memecah keheningan


"Serah gue,ngurus amat" Jutek Silla


"Buset,lo kenapa sih ga bisa santay sama gue" tanya Aga kembali


"Gatau,kalo liat lo gue pengen banget garuk muka lo bawaanya"


"Kebetulan banget punggung gue gatel,garukin dong" pinta Aga


"Idih ogahh!"


Setelah perseturuan singkat,mereka kembali diam. Saling tenggelam dalam fikiran masing masing. Di teras ini hanya mereka berdua dan tengah duduk berjauh jauhan.


"Mau jalan jalan ga?" Usul Aga


"Ngapain jalan sama lo? Malem malem lagi ,lo mau macem macem ya?" Selidik Silla.


Aga memutar bola matanya malas.


"Yaudah terserah lo,gue mau cari angin. Lo juga keliatan sumpek banget ,abis ribut sama pacar lo ya? Lagian gue gak doyan sama lo" ,"Oh ya ,ati ati aja kalo malem malem sendirian di sini,lo kan gatau tuh setannya Australia galak apa kaga" Lanjut Aga.


"Bagaimana Aga tau jika dirinya sedang berantem dengan Okta?"

__ADS_1


Tiba tiba Bulu kuduk Silla lansung berdiri mendengar ucapan Aga. Segera dia menyusul Aga yang sudah hampir sampai pagar.


"Tungguin nyet!"


......................


Hujan Salju tak begitu lebat hari ini. Meskipun begitu,cuacanya masih sangat dingin seperti biasanya. Silla mengeratan Jaket putihnya,memeluk dirinya sendiri. Terlihat Aga berjalan didepannya dan hanya diam sedari tadi.


Silla juga penasaran,kenapa Aga seperti memikirkan sesuatu. Dari tampangnya,dia terlihat sangat kalut dan juga sedikit ketakutan. Tapi Silla tak berani bertanya. Mungkin memang benar,jika dirinya maupun Aga butuh udara segar agar fikiran mereka bisa teralihkan.


Langkah kaki Aga ternyata membawa mereka ke taman. Aga menoleh, "Duduk sini bentar apa mau balik lagi aja?" tanya nya pada Silla.


Silla yang melihat wajah Aga seperti itupun tak tega. Aga benar benar tidak terlihat baik baik saja.


Dengan kikuk Silla menjawab "Udah sampe sini ya duduk dulu bentar"


Mereka duduk di bangku taman. Masih dengan jarak dua meter. Aga menyenderkan punggungnya,dan memasukkan tangannya pada saku jaket. Mencoba mencari kehangatan. Silla hanya diam memperhatikan.


Tak tau harus berkata apa untuk menghibur Aga, Silla pun hanya diam. Mungkin satu satunya hal yang bisa Silla lakukan adalah menemaninya.


"Ehemm" dehem Silla memecah keheningan


"Jangan diem aja lo,nanti kesurupan demit Canberra gue minta tolong ke siapa?" lanjutnya


Aga hanya tersenyum. Namun pandangannya kosong.


"Gapapa kan kalo gue gak baik baik aja?"


Silla diam,tak tau harus bagaimana.


"Lagi gak baik baik aja gue Sill"


Itu pertama kalinya Aga memanggil namanya. Silla sedikit tersentuh.


"Ya gapapa. Lagian memang manusia ada kalanya kaya gitu. Kita bukan dewa. Kalo merasa gak baik baik aja juga bukan suatu hal yang harus ditutupi. Klise memang,tapi kadang orang takut menunjukkan perasaan seperti itu"


"Banyak hal yang ga orang tau tentang gue" Ucap Aga


"Hal yang ga orang tau tentang lo,juga mungkin hal yang ga ingin lo liatin ke orang orang. Jadi,tetep keep your'e secret. Kalo pun lo suatu saat mau liatin ke orang,pilih orang yang tepat buat bisa bener bener paham"


"Tapi kalo dunia tau tentang rahasia terbesar yang selama ini gue pendem mati matian gimana?"


"Perihal gimana sikap orang orang nanti,itu sikap mereka. Penilaian bagus atau jelek yang menilai orang lain. Kita emang gak bisa nebak nebak,gak bisa juga maksa orang tetep suka sama kita. Yang senang akan bertahan,yang benci akan pergi. Just let it flow" Silla menasehati.


Aga menganggukkan kepalanya. Sedikit takjub dengan perkataan Silla yang menyadarkan dirinya.

__ADS_1


"Bisa gak sih kita temenan aja Sil? Capek banget kalo tiap ketemu lo ngomongnya sambil ngotot. Lama lama putus urat urat gue"


Silla tersenyum mendengar Aga sudah kembali seperti biasanya.


"Nah ,senyum gitu kan cantik" ucap Aga membuat dirinya terkejut saat mendengar kata kata itu keluar dari mulutnya.


Silla pun tersipu. Mendengar pujian dari Aga tentu menjadi hal baru.


"Udah enakan? Balik yuk" Ajak Silla, dan di iyakan oleh Aga.


Mereka berjalan bersebelahan. Masih canggung karena sebelumnya mereka hanya tau caranya bertengkar. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dan saling menyembunyikan senyum masing masing.


"Makasih ya Sil,udah temenin gue malem ini" Ujar Aga sesaat sebelum mereka tiba didepan pintu pagar Villa.


"Never mind,gue juga lagi butuh udara segar. Simbiosis mutualisme" jawab Silla


"Kita bener bener damai kan Sil?" tanya Aga memastikan


"Lo maunya gimana?"


"Damai aja lah Sil,masa disini gue doang yang lo jutek in"


"Hahaha,lagian lo ngeselin banget. Dan sebenarnya gue juga capek marah marah ke lo,buang buang energi gue" sahut Silla


"Damai nih ya,beneran ya! Deal ya!"


"Deal !" Tegas Silla.


Mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamar masing masing. Arloji sudah menunjukkan pukul 01.23 pagi. Silla kaget saat melihat jam. Jangan sampai dia telat untuk berangkat besok pagi. Kenapa waktu berlalu begitu cepat? Silla tak menyangka sudah menghabiskan waktu selama itu dengan Aga.


Dia bergegas mencuci muka dan melakukan kegiatan wajib bagi perempuan sebelum tidur,yaitu mengenakan skincare.


Setelah semua ritual sudah selesai,dia melirik jam di nakas sudah menunjukkan pukul 01.55. Dia harus segera memaksa memejamkan matanya . Baru saja menarik selimut dan menyelimuti dirinya,ada dering notifikasi pada ponselnya. Silla melirik, dengan jelas disana tertulis.


'Episode 10 : Twenty Five Twenty One' dari netflix.


Notifikasi terkutuk!!!!! Kenapa rilis di jam segini!!!


Silla mengabaikannya. Tidak ! Jangan sampai dia tergoda di jam jam kritis seperti ini. Dia semakin erat memejamkan matanya.


Satu


Dua


Tiga

__ADS_1


Silla meraih ponselnya, dia sudah tidak tahan dengan godaan drama favoritnya. Kelanjutan kisah Na Hee Do dan Baek Yi Jin sangat menghantui fikirannya "Satu episode aja" Ujarnya.


__ADS_2