Unusual Wedding Scenario

Unusual Wedding Scenario
Part 4


__ADS_3

"Daddy...," panggil lirih Langit pada Daddy Alam. Ia tidak suka mendengar Daddynya mengungkit masalah kedudukan.


"Kenapa, Nak? Bukankah ucapan Daddy semuanya benar?" ucap Daddy Alam tersenyum sinis. "Dan sebaiknya kau tetap diam, Nak. Bukankah ini yang kau inginkan?" tambahnya dengan menyindir anaknya.


Langit yang mendengarnya, hanya bisa diam. Ia ingin menyalahkan, tapi posisinya sekarang sedang didukung oleh Daddynya atas apa yang telah ia putuskan.


Alam kemudian menatap tajam Zidan yang menatapnya dengan menahan amarah dan tangan yang terkepal kuat. Alam menarik nafas dalam sebelum berkata dengan penuh ancaman, "Lebih baik, sekarang kau pulang, Zidan. Dinginkan kepalamu yang emosimu itu. Putrimu masih membutuhkanmu 'kan? Jangan sampai, kau malah mati di sini."


 Zidan menutup matanya dengan tangan mengepal hingga memutih. Rahangnya mengeras mendengar ucapan Tuan Besar yang sudah ia layani selama 20 tahunan. Ia mencoba menahan emosi yang menggejolak di hatinya. Lalu ia membuka mata sebelum berkata, "Saya sedang membela putri saya, Tuan. Saya sangat menyayangi putri saya, hingga tak sanggup melihatnya terluka. Bahkan membayangkannya pun, saya tak mampu. Anda tidak seharusnya membela yang salah. Sekalipun itu anak anda."


"Ck, kau lupa? Aku juga seorang ayah. Aku juga menyayangi putraku. Dan kau pikir aku mau melihat putraku mati di tanganmu?"


"Tapi dia sudah menyakiti putri saya, Tuan. Dan anda tau itu bahkan mengerti maksud saya, tapi anda diam dan malah membelanya?"


"Kau pikir aku tidak marah mendengar keputusannya? Aku marah, Zidan! Sangat marah! Bintang adalah menantu idamanku selama ini. Dia bahkan sudah ku anggap sebagai anakku sendiri. Kau juga harus ingat, Zidan. Aku juga ikut andil merawat putrimu itu. Meski tak sebanyak dirimu, tapi aku tau perasaannya," ujar Alam mengingatkan Zidan tentang perasaannya pada Bintang.


"Anda tidak tau perasaan putriku, Tuan. Anda tidak akan tau sesakit apa dia nanti, saat mendengar pembatalan pernikahan yang diputuskan sepihak oleh putramu. Anda jangan mengada-ada," ucap Zidan dengan pandangan mencemooh sambil menggelengkan kepalannya.


"Kau seharusnya mengerti, Zidan. Mungkin mereka bukan jodoh. Akan lebih baik jika Bintang mencari pria lain, bukan?" balas Alam.


Deg!


Jantung Langit berdetak kencang saat mendengar ucapan Daddy Alam. Matanya menatap tajam pada Daddynya. Dadanya rasanya sangat panas mendengar hal itu. Bahkan amarah yang tadi kian surut karena bogeman calon mertuanya, sekarang amarah itu kembali meradang. Ia tentu belum siap jika harus melihat Bintang bersama dengan pria lain. Meskipun ia telah membatalkan pernikahan ini.


"Sebaiknya kau pergi sekarang, Zidan. Aku sudah lelah berdebat denganmu. Kau pergilah, Bintang masih membutuhkanmu untuk menghapus air matanya," ucap Alam kembali, berniat memutus perdebatan mereka.


Zidan tersenyum remeh sebelum berkata, "Baik, Tuan. Saya akan pergi. Mungkin ini memang sudah mencapai batas waktu saya, untuk melayani Tuan. Saya juga lelah dengan semua ini. Terima kasih untuk semua kebaikan tuan selama ini. Saya—"


"Aku tidak memintamu berhenti bekerja bersamaku, Zidan!" putus Alam berdecak kesal.


"Tapi saya memutuskan untuk berhenti, Tuan. Anda tentu tau, saya harus menenangkan putri saya yang akan patah hati. Dan saya butuh waktu luang yang banyak untuknya. Karena saya lebih memilih kehilangan semua harta saya dari pada putri saya. Saya juga tidak akan sanggup bekerja di bawah kekuasaan anda lagi, Tuan. Saya tidak sanggup melihat wajah anak anda yang dulu selalu meyakinkan saya, tentang cintanya pada putri saya. Saya tidak sanggup melihat bajingan itu, Tuan." Tekan Zidan panjang lebar. Matanya tak lepas dari dua pria itu—ayah dan anak yang selalu ia hormati.


Alam hendak menanggapi ucapan Zidan, tapi Zidan langsung mengangkat tangannya ke depan Alam. "Izinkan saya bicara, Tuan. Dan ini mungkin akan jadi perkataan saya yang terpanjang," sela Zidan.

__ADS_1


"Silahkan, tapi hanya bicara! Jangan mencoba melukai anakku,"  kata Alam seraya mendudukkan tubuhnya kembali di sofa.


Zidan tersenyum sinis, menatap Langit yang masih berdiri kokoh di depannya. Lalu ia menatap pada Tuan yang sudah sangat ia kenal luar dalamnya.


"Saya tentu tidak akan menyakitinya, Tuan. Meski saya ingin sekali membunuhnya. Saya masih ingat dengan putri saya yang mungkin, akan sangat marah jika tau saya membunuh kekasihnya. Ups..., mantan kekasihnya. Putri saya adalah satu-satunya harta paling berharga yang saya punya. Bintang adalah putri yang sangat... saya sayangi. Dan Bintang—" Zidan menjeda ucapannya, lalu menatap Bumi dengan pandangan berbeda.


Deg!


Langit merasakan sengatan di dadanya saat mendengar nama kekasihnya disebut oleh pria paru baya di depannya. Apalagi saat melihat mata Papa Zidan yang menunjukkan kepedihan, bukan amarah seperti yang ia terima tadi.


Zidan menarik nafas kasar sebelum berkata sambil menunjuk ke dada Langit, "Bintang memilihmu untuk menjadi pendamping hidupnya. Tapi kenapa, Nak? Apa salah Bintang selama ini? Kenapa kau memberinya harapan, tapi kau juga yang menghancurkan harapannya? Bukankah kau yang datang padaku, membujukku, dan meminta Bintang padaku?"


Zidan menurunkan telunjuknya dari dada Langit sebelum berkata, "Kau bilang, akan membuat Bintang bahagia. Kau bilang, tidak akan membiarkan setetes air mata jatuh di pelupuk matanya. Kau bilang, selalu ingin bersama Bintang untuk selamanya. Lalu kemana semua ucapanmu itu, Nak?" Zidan berucap lembut dengan penekanan di setiap katanya, namun terdengar menyakitkan di telinga Langit.


Langit mengepalkan kedua tangannya. Ada rasa sesak yang menyelusup masuk ke hatinya saat mendengar ucapan pria paruh baya yang selalu ia panggil 'Papa'.


"Nyatanya, kau hanya memupuk harapan dan menumbuhkan cinta. Lalu kau menggoreskan luka dalam padanya, dengan menghancurkan semua harapannya. Kau tahu, Nak? Menikah denganmu adalah pernikahan yang sangat Bintang impikan. Bintang sangat mencintaimu! Lalu bagaimana perasaannya? Saat tau tentang pernikahannya yang batal? Dan yang pasti, akan lebih menyakitkan saat ia tau, yang membatalkan pernikahan ini adalah laki-laki yang sangat ia cintai. Apa kau memikirkan semua itu, Nak?"


Zidan menengadahkan kepalanya. Lalu menutup matanya yang menahan keluarnya air mata. Ia melihat Langit yang hanya diam mendengarnya. Setelah beberapa detik, ia kemudian menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapan terakhirnya.


Semua orang diam dengan pikiran masing-masing. Tanpa semua orang sadari, Alam yang tengah duduk di sofa menahan air matanya dengan tangan mengepal kuat. Ia merasa tertohok dengan setiap ucapan Zidan. Seolah Zidan sedang menyindirnya.


Sedangkan Langit hanya diam dan tatap berdiri di tempatnya. Wajahnya sudah sangat berantakan dengan luka di sudut bibirnya sebab bogem mentah dari Papa Zidan.


Berbeda halnya dengan Bunga dan Mommy Rania yang sedari tadi tidak henti-hentinya menangis sambil berpelukan. Mereka merasa sangat sedih melihat kejadian ini.


Ruangan keluarga Abhivandya yang biasanya bersih dan menjadi tempat berbagi tawa, sekarang tampak kacau dengan banyaknya dekorasi pernikahan yang berhamburan bersama dengan pecahan guci yang di lempar Zidan.


"Bersihkan kekacauan ini," perintah Alam pada para pelayan sebelum berdiri dan pergi meninggalkan kekacauan di depan matanya.


Langit melihat kekacauan yang telah ia buat hari ini. Lalu ia memilih melangkah pergi ke kamarnya dengan wajah datar.


BAM!

__ADS_1


Langit menutup pintu kamarnya dengan sangat keras. Ia mengepalkan kedua tangannya, seraya menghantam dinding dengan pukulan bertubi-tubi.


BHUK! BHUK!


Langit menghentikan tinjunya setelah  melihat tangannya mulai mengeluarkan darah. Bukannya langsung mengobati dengan mengambil kotak P3K, ia malah berjalan ke arah balkon. Matanya menatap ke arah langit yang tampak mendung. Menengadahkan tangannya yang berdarah untuk merasakan butir hujan yang perlahan mengenai tangannya.


Rasanya perih, tapi tak seperih hatinya. Langit menarik tangannya, kemudian mengepalkan kedua tangannya itu. Wajahnya masih memerah karena amarah. Tapi ada rasa sesak yang mencoba ia sembunyikan. Ia berjalan masuk ke arah ranjang king sizenya. Lalu mendudukkan dirinya di sana seraya membuka laci nakasnya.


Mengambil kotak P3K dan segera membaluti tangannya yang berdarah dengan kain kasa. Perlahan tapi pasti, kain kasa itu menutupi luka di tangannya.


Langit melihat tangannya yang sudah ditutupi kain kasa. Tapi matanya tertuju pada sesuatu yang melingkar di jarinya. Menatap nanar pada benda berkilau yang menjadi pengikat hubungan antara ia dan kekasihnya menuju kejenjang pernikahan. Sebuah cincin pertunangan yang sebulan lalu melekat di jari manisnya.


Kemudian Langit menutup matanya saat bayangan Bintang muncul dalam pikirannya. Kenangan dalam waktu tiga tahun itu, bermunculan di kepalanya. Bagaimana ia selalu merasa bahagia setiap pulang ke rumah, karena selalu melihat Bintang yang akan bersama dengan adiknya.


Bahkan sekelebat kenangan tak terlupakan saat mereka menghabiskan malam panas pertama mereka di villa saat liburan juga menghantui pikiran Langit. Ya, mereka memang sudah sering memadu kasih di atas ranjang setelah kejadian di villa satu tahun lalu, saat Langit mengajak Bintang liburan sekaligus merayakan happy anniversary mereka yang ke dua tahun. Saat itu Langit sungguh merasa bersalah karena telah mengambil keperawanan kekasihnya. Tapi ia tidak menampik rasa bahagia di hatinya karena ia adalah orang pertama yang melakukan itu pada Bintang.


Saat itu Bintang sangat marah, bahkan mendiami Langit selama sebulan. Langit yang mengerti perasaan kekasihnya, selalu berusaha meminta maaf. Hingga akhirnya hubungan mereka terus berlanjut dan sesekali mereka akan liburan jika nafsu menginginkan mereka beradu di atas ranjang. Dan semua kegiatan itu, hanya menjadi rahasia mereka berdua saja.


Langit mengusap kasar wajahnya. Lalu melepas cincin yang mengikat jarinya. Menyimpan cincin itu ke dalam laci bersamaan dengan kotak P3K di tangannya. Ia harus melepaskan semuanya. Tapi yang ia pikirkan, apakah ia mampu melepaskan sesuatu yang sudah ia klaim sebagai miliknya? Tapi bagaimanapun ia harus mampu melepasnya karena ia sudah memutuskan pembatalan pernikahannya dan harus siap dengan semua resikonya.


Langit melangkah ke bathroom untuk membersihkan dirinya sekaligus mendinginkan amarahnya. Ia menyalakan shower air dingin dan mengguyur habis badannya tanpa melepas pakaiannya. Ada air mata yang jatuh dari mata hitam jernihnya bersamaan dengan air shower yang mengguyurnya. 


Langit merosot ke lantai dengan menyandar pada dinding. Kemudian ia menutup matanya dengan rasa sesak yang menjalar ke hatinya. Ia tidak suka dalam keadaan lemah seperti ini. Ia juga merasa sangat sakit hati, saat harus memutuskan pernikahan dengan wanita yang sangat ia cintai. Tapi tak ada yang memikirkan hal itu.


"Akh...," pekiknya memukul lantai yang sudah basah dengan air.


"Kenapa kau melakukan ini padaku, Bintang. Sialan kau!" ucap Langit dengan tangan yang menutupi wajahnya. Emosi yang tadi perlahan menghilang, sekarang terasa lagi. Ia berteriak-teriak, memukul lantai dan dinding untuk melampiaskan emosinya, saat ia mengingat alasan ia membatalkan pernikahannya bersama kekasihnya itu.


Tangan Langit yang sudah diperban, kembali mengeluarkan darah. Air yang ada di lantai juga perlahan berubah warna menjadi merah. Tetapi Langit sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Ia menengadah menatap shower dengan sesekali mengusap wajahnya yang terkena airnya. Kemudian Langit melipat kedua kakinya di depan dada lalu menyanggah kepalanya yang perlahan menunduk dengan satu tangannya. Ia menitihkan air matanya, mengeluarkan semua sesak yang sejak tadi bersemayam di hatinya.


Teriakannya sudah berubah menjadi isakan tangis. Tangannya sudah tak lagi memukul lantai. Sekarang, rasa sakit di hatinya benar-benar membuatnya lemah.


Dengan suara melemah, ia berkata dengan penuh rasa sakit, "Aku sangat mencintaimu, Bintang. Tapi mengapa kau lakukan ini padaku? Hingga aku harus memilih keputusan yang sulit ini."

__ADS_1


******


__ADS_2