Unusual Wedding Scenario

Unusual Wedding Scenario
Part 11


__ADS_3

Langit berlari di koridor rumah sakit harapan bunda dengan raut wajah panik. Hingga ia menjadi pusat perhatian. Bukan hanya karena ketampanannya. Tapi juga karena ia merupakan orang terpenting dan terkaya di jakarta.


"Bro, sini!" teriak seorang pria di pojok ruangan memanggil Langit.


Langit menoleh ke sumber suara dan mendapatkan sosok sepupunya yang sekarang sedang melambaikan tangan padanya. Ia segera berlari ke arah sepupunya itu.


"Mana ruangannya?" tanya Langit begitu berhadapan dengan sepupunya—dr. Fajar.


"Ck, di sana... belok kiri. Dia di bawa ke IGD. Lo ke sana aja. Nanti juga lo bakal ketemu sama mantan calon mertua lo di sana," jawabnya seraya menunjuk arah kirinya. Lalu Fajar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebelum tersenyum dan menambahkan ucapannya. "Duh... gelar Paman Zidan sekarang kepanjangan. Mantan calon mertua. Sudah mantan, calon, mertua pula... Hah... dan lagi, lo sekarang gelarnya udah jadi mantan calon menantu. Tapi lo sekarang malah khawatir ingin ketemu sama mantan calon istri lo yang sedang sakit. Lama-lama bisa jadi judul film ikan terbang loh... kasus lo nih," gerutu Fajar menyindir sepupunya itu seraya menatapnya sinis.


"Thanks," ucap Langit singkat yang merasa tidak peduli dengan sindiran sepupunya itu karena yang sekarang dipikirannya hanya Bintang.


"Tunggu..." tahan Fajar yang melihat Langit sudah ingin pergi.


"Apa lagi?" tanya Langit malas meladeni Fajar.


"Lo yakin bakal ke sana? Gue dengar, mantan lo itu melakukan aksi bunuh diri. Dan gue bisa pastikan itu semua karena perbuatan lo," tutur Fajar dengan serius mempertanyakan kesungguhan Langit.


Langit mematung mendengarnya. Ia tidak bisa menampik perasaan cemas di hatinya. Bahkan rasa bersalah juga mulai menggerayangi dadanya.


"Lo diam? Berarti lo benerin ucapan gue dong. Atau lo sekarang ragu buat ke sana? Gue sih takutnya... nanti lo malah dibunuh sama Paman Zidan," tambahnya seraya memicingkan matanya menatap sepupunya itu.


"Gue akan tetap ke sana," ucap Langit dengan tegas. Mau bagaimanapun, Langit tidak bisa membohongi hatinya untuk tidak datang menemui mantan kekasihnya yang ternyata nekat bunuh diri karenanya.


"Bagus... pilihan yang tepat. Jadi, apa lo juga bakal balikan lagi sama Bintang?" tanya Fajar yang merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan Langit nantinya.


Langit terdiam sejenak sebelum menjawab, "Tidak."


"Hah?" Fajar terbengong mendapatkan jawaban singkat dari Langit.


"Gue cuma mau liat keadaan dia. Bukan mau balikan lagi sama dia. Itu dua hal yang berbeda," tambah Langit


"Gila yah... lo bodoh atau tolol sih? Ego lo ketinggian man... jelas jelas, lo keliatan takut kehilangan dia. Buktinya, lo ke sini setelah gue telepon. Gue juga bisa liat lo sekarang lagi frustasi dari penampilan lo yang acak-acakan kek gini. Mikir yang bener bro... gue cuma enggak mau sepupu gue nyesel," cibir Fajar menunjuk-nunjuk Langit dengan sengit.


"Gue tetap pada keputusan gue. Dan sekarang gue cuma mau mastiin keadaan dia baik-baik aja. Setelah itu gue bisa tenang ninggalin dia," balas Langit yang perlahan menampilkan wajah datar nan dingin.

__ADS_1


"Ck, serah lo dah. Lo emang gila. Capek gue. Sudah sono, pergi. Belok kiri yah," ucap Fajar yang malas meladeni sepupunya itu. Ia berbalik meninggalkan Langit yang juga segera pergi ke tempat yang ditunjuk sepupunya itu.


Setelah Langit sampai, ia bisa melihat Papa Zidan yang sedang menangis di depan pintu tanpa rasa malu. Ia menghampiri Papa Langit dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.


"Papa..." panggilnya yang membuat Papa Zidan menoleh dengan wajah yang penuh dengan air mata.


Papa Zidan yang melihat keberadaan Langit, tidak bisa untuk tidak mengeraskan rahangnya. Tangannya terkepal erat hingga terlihat urat-uratnya. Wajahnya memanas memancarkan amarah yang sangat besar untuk pria baji*ngan di depannya yang telah berani menemuinya di sini. Ia menghapus kasar air matanya. Kemudian berjalan mendekati Langit.


BHUK... BHUK...!!!


Dua bogeman mentah dilayangkan Papa Zidan dikedua pipi Langit. Hingga Langit hanya bisa meringis menahan sakit dengan tubuh yang sudah tersungkur ke lantai.


"Mau apa kau ke sini?!! Puas kau buat putri saya begini?!! Hah?!!" pekik Papa Zidan pada Langit yang sekarang mencoba berdiri.


"Saya hanya ingin melihat keadaan Bintang, Pa."


"Cuih... sudah ku bilang jangan memanggilku papa. Aku tidak sudi kau memanggilku papa. Bajingan!!!" dengus Papa Zidan menatap tajam Langit.


"Maaf," ucap Langit seraya menundukkan kepalanya saat ia sudah berhasil berdiri.


"Aku tak butuh maafmu, Bajin*an!!! Kau bilang ingin melihat keadaan putriku?" Papa Zidan tertawa sinis saat mendapat anggukan dari Langit.


"Ck... bilang saja kalau kau ke sini hanya mau memastikan putri saya sudah meninggal?!! Iya 'kan?!!! Sebaiknya kau pergi dari sini, Baji*gan!!!" tukas Papa Zidan mengusir Langit.


Deg!


Jantung Langit seolah di remas saat mendengar hal itu. Perlahan wajahnya yang tadi datar berubah cemas. Ada ketakutan dalam hati Langit saat mendengar kata 'meninggal' yang dikatakan Papa Zidan. Ia menatap nanar pintu IGD yang di dalamnya pasti ada Bintang.


Langit ingin mengucapkan kalau dia juga khawatir dengan mantan kekasihnya itu, dan tidak ada niatan seperti yang dipikirkan Papa Zidan. Tapi lidahnya keluh hanya untuk berbicara. Apalagi melihat Papa Zidan yang sangat amarah dan sangat tidak menginginkan kehadirannya.


"Kau puas 'kan sekarang?!!! Setelah menyakiti hati putriku. Sekarang keadaannya jadi begini. Inilah yang saya takutkan dari kemarin setelah mendengar keputusan bejatmu itu. Dan ternyata semuanya terjadi setelah putriku mendatangimu ke kantormu. Entah apa yang telah kau perbuat padanya hingga ia hilang akal dan memilih jalan bunuh diri," ucap Papa Zidan yang perlahan merendahkan suaranya membayangkan wajah putrinya yang menangis sambil berlari setelah pulang dari kantor Langit.


Langit yang mendengar hal itu, mengepalkan salah satu tangannya. Perasaan bersalah menggerayangi dadanya saat membayangkan wajah kecewa mantan kekasihnya di kantor tadi.


"Sekarang putriku terbaring lemah di ruangan rumah sakit. Entah bagaimana keadaannya. Dokter masih berjuang antara hidup atau mati putriku" tambahnya lirih seraya menundukkan wajahnya yang mengeluarkan cairan bening melalui matanya.

__ADS_1


Tapi tangan Papa Zidan kembali terkepal saat menyadari pria baji*gan yang menjadi alasan putrinya begini.


BHUK! BHUK!


Papa Zidan kembali melayangkan bogeman mentah pada Langit. Ia menarik kerah Langit, lalu memukulnya sepuasnya. Bahkan Papa Zidan tak segan mendorongnya ke dinding dan kembali memukul perut dan wajahnya hingga Langit terjatuh ke lantai dengan meringis menahan sakit.


Langit menerima semua pukulan Papa Zidan tanpa perlawanan. Sebab Ia sadar bahwa apa yang diucapkan Papa Zidan sebagian benar.


Papa Zidan masih ingin menarik kerah baju Langit dan memukulnya lagi. Tapi ia segera ditahan oleh para pengawalnya.


"Lepaskan!!! Biar aku bunuh bajingan ini!!!" teriaknya memberontak pada pengawal yang memegang tangannya.


"Tapi, Tuan. Anda tidak boleh membunuhnya—" Keempat pengawal yang menahan tangan kanan dan kiri Papa Zidan mengeratkan pegangannya agar tuannya itu tidak bertindak kelewat batas. Karena jika para pengawal melepaskan tuannya, bisa jadi ada dua mayat yang akan ia tangani.


"Lepaskan sekarang!!! Atau kalian yang saya bunuh," ancam Papa Zidan pada keempat pengawal itu. Hingga akhirnya para pengawal melepaskan genggamannya.


"Cih... Apa lagi yang kau tunggu?!!! Pergi dari sini sebelum saya benar-benar membunuhmu!!! Putriku begini karena baji*gan sepertimu!!! Semuanya terjadi karena mu!!! Pergi kau baji*gan!!! Pergi!!! Jangan munculkan wajahmu di hadapanku dan putriku lagi!!! Pergi!!!" pekik Papa Zidan dengan wajah merah padam menahan amarah dan nafas terengah-engah seraya menunjuk tajam pada Langit.


"Tuan, sebaiknya anda segera pergi. Tuan sedang dalam keadaan tidak baik," bisik salah satu pengawal Papa Zidan yang membantu Langit untuk berdiri.


Sebenarnya Langit masih ingin bersikeras menemui mantan kekasihnya. Tetapi melihat kondisi Papa Zidan sekarang membuat ia akhirnya lebih memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu.


"Kalau begitu saya permisi," ucap Langit dengan sopan seraya berbalik meninggalkan ruang IGD dan Papa Zidan yang masih menatap punggungnya dengan tajam.


Langit berjalan perlahan dengan memegang perutnya yang terasa sakit. Langkahnya terasa kaku hanya untuk berjalan. Hatinya masih ingin menemui mantan kekasihnya yang terbaring di ruang IGD. Tapi ia tidak bisa ke sana karena Papa Zidan benar-benar marah padanya.


Langkah Langit terhenti. Kemudian ia menoleh ke belakang. Ia bisa melihat Papa Zidan yang sudah kembali ke posisi awalnya tanpa melihat ke arahnya. Cairan bening menetes dari sudut matanya. Matanya memerah menahan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya.


Langit menatap ke depan tanpa peduli orang sekitarnya. Ia langsung menghapus kasar air mata yang sudah menetes di pipinya. Wajahnya menengadah agar air matanya tidak jatuh lagi.


"Maafkan aku," gumamnya lirih. Kemudian ia menatap ke depan lagi setelah mengontrol perasaan yang menumpuk di dadanya. Berjalan meninggalkan dan mengubur tujuannya untuk bertemu dengan mantan kekasihnya.


"Mungkin aku memang egois.Tapi bertemu dan kembali, dua hal yang berbeda. Dan aku hanya ingin bertemu. Tanpa niatan untuk kembali. Maaf... kita memang sudah ditakdirkan untuk berpisah," batin Langit menatap nanar gedung rumah sakit saat memikirkan perkataan Fajar sebelum bertemu dengan Papa Zidan.


******

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, COMENT, VOTE DAN FAVORITIN yah my lovely readers muach😘 Karena semuanya gratis ye kan😍


Waitme again😘


__ADS_2