
Malam itu sunggu menjadi hari duka bagi keluarga korban peledakan rumah makan sederhana tempat Ree bekerja.
Sama halnya dengan semua orang yang bersedih karena kejadian itu, seorang wanita tengah mengeguk wine di tangannya karena syok mendengar berita peledakan itu.
Wanita itu duduk di atas ranjangnya dengan lima kaleng wine sudah dia sediakan di atas nakas untuk menenangkan pikirannya. Ia menatap kosong ke kiri dan melihat langit gelap dari balik jendela.
"Aku hampir saja mati. Tapi seperinya Tuhan masih mencegah kematianku" gumam wanita itu mengusap wajah dan dadanya.
"Sepertinya belum saatnya, Ree bertemu Mommy di syurga" ucapnya tersenyum kecut seraya menaruh kaleng wine yang telah kosong.
Wanita itu adalah Ree. Wanita pekerja keras yang telah kehilangan pekerjaannya malam ini. Bukan hanya pekerjaannya yang hilang, tapi nyawanya juga hampir hilang.
Ree sangat syok mendengar berita ini. Syok karena nyawanya hampir saja melayang.
Ree bukannya tidak sedih melihat nyawa yang meninggal dalam kejadian itu. Apalagi yang meninggal adalah teman sesamanya bekerja disana. Hanya saja, kesedihannya sebatas kasihan. Dia malah lebih sedih karena pekerjaannya telah hilang.
Selama 12 tahun hidup di luar dari kemewahan, Ree menjadi sosok wanita yang berbeda. Nona muda yang dulunya manja, ceria, jail, dan selalu membawa tawa, juga berubah 180 derajat.
Ree menjadi wanita yang pendiam, sulit bergaul dan pekerja keras. Dia tidak memiliki teman dan tak ada juga yang mau berteman dengannya. Dulu sebelum mengganti namanya, dia masih melanjutkan sekolahnya.
Di sekolah, dia sering di bully karena miskin dan jelek oleh orang yang dulunya selalu mendekatinya karena statusnya yang seorang nona muda keluarga kaya. Hingga ia memutuskan berhenti sekolah dan membenci kata "pertemanan" bahkan "persahabatan".
"Aku sungguh prihatin karena kematian kalian. Meski kalian sering mencibirku bahkan menghinaku, karena hanya seorang cleaning servis, sedangkan kalian satu tingkat di atasku. Pelayan-" ucap Ree turun dari ranjangnya dan berjalan ke sisi kiri kamarnya. Sisi kiri kamar Ree ada jendela kecil yang tertutup rapat.
"Sekarang pekerjaanku sudah menghilang. Apakah besok aku bisa mendapatkan pekerjaan baru ?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Ree membuka pintu kaca jendela. Ia menghirup udara malam yang begitu sejuk setelah hujan mengguyur Kota X beberapa jam yang lalu.
"Untung aku membantu nenek itu. Kalau tidak, mungkin aku juga akan mati bersama mereka" gumamnya merentangkan tangannya keluar dan merasakan sisa air hujan.
Flashback on
Setelah Ree bersiap dengan setelan baju santainya, dia pun segera berangkat ke tempat kerja.
Ree sudah sampai di halte untuk meunggu bus. Tak lama kemudian, ada bus berhenti di depannya. Penumpang bus itu keluar dan Ree berdiri untuk bersiap naik ke bus.
Sampai seorang nenek terjatuh dan berteriak minta tolong. Awalnya mata Ree hanya fokus ke pintu belakang bus. Tapi saat mendengar suara teriakan, Ree segerah menoleh dan melihat seorang nenek terjatuh di pintu depan bus saat akan turun.
Tidak ada yang membantu nenek itu. Bahkan orang yang keluar dari pintu depan bus hanya acuh tak acuh dan tak berniat menolong.
"Nenek tidak apa apa ?" tanya Ree segera mendekat untuk menolong nenek itu.
"Apa kalian tidak punya mata! Ada nenek nenek yang kesakitan dan kalian tak ada yang mau menolongnya!" teriak Ree pada orang disekitarnya. Sedangkan semua orang hanya mengernyit melihatnya dan tak menggubris teriakan Ree.
Ree mendengus kesal. Ia membantu nenek itu berjalan duduk di halte. Dan tak lama, bus yang seharusnya ditumpangi Ree pergi.
__ADS_1
"Hufffhh" Ree menghela nafas untuk meredakan kekesalannya. Bagaimana mungkin tak ada orang yang peduli dengan seorang nenek yang tergeletak di jalan karena jatuh dari bus ? Pikirnya.
"Nenek tidak apa, nak. Makasih sudah tolongin nenek. Cuman nenek tidak bisa jalan. Bisa bantu nenek untuk pulang, nak ? Rumah nenek sudah tidak jauh lagi kok. Sekalian temanin nenek buat beli minyak urut" ujar nenek itu dengan wajah sendu seperti tengah menahan sakit.
"Baiklah, Nek. Ree bantu nenek sampai ke rumah nenek. Apa tidak perlu ke rumah sakit, Nek ?" Ree duduk di samping nenek itu dan melihat kaki nenek itu yang bengkak karena keseleo.
"Tidak perlu ke rumah sakit, nak. Nanti biar nenek yang urut sendiri. Kamu cukup temenin nenek. Kamu mau kan ?"
"Okey. Tapi sepertinya lama yah nek ?" ucap Ree dan melihat wajah sendi nenek itu seraya berfikir.
"Hmm... Okey, Nek. Tapi tunggu dulu, Ree mau hubungin bos Ree dulu"
Setelah pembicaraan itu, Ree segera menghubungi Bu Bos untuk membatalkan perjanjian 500 ribu itu. Bu Bos begitu marah dengannya saat mendengar dia tak bisa hadir. Bahkan mengatakan akan memotong gajinya. Tapi Ree pasrah demi menolong seorang nenek.
"Sekali sekali menolong orang, Ree. Tabungan buat ke syurga jangan di tolak, Ree. Uang nanti akan nyusul" batin Ree menyemangati dirinya sendiri dan mencoba menekan kesedihannya saat mendengar kata "gaji dipotong".
"Ayo, Nek. Ree bantu" ucap Ree membantu Nenek itu
Flashback Off
"Huffh.. Selamat" ucap Ree mengelus dadanya. Ia berjalan ke arah lemari pakaiannya di sisi kanan kamarnya. Mengambil jaket di dalam lemari dan memakainya.
"Sepertinya duduk di atas atap sambil minum wine, cukup bagus" gumamnya seraya mengambil satu kaleng wine di atas nakas.
Ree keluar dari rumahnya. Mengunci pintu rumah dari luar dan menyimpan kuncinya ke saku jaketnya.
Ree menaiki tangga itu dengan membawa satu kaleng wine ditangannya.
Saat sampai di atas atap, Ree segera mencari posisi nyaman untuk melihat langit sambil minum wine. Ree duduk di pinggir atap rumahnya. Kakinya menjuntai kebawah dan di gerak gerakkannya. Ia menatap ke langit dan mengernyitkan keningnya.
"Aneh... Kenapa malam ini banyak bintang ? Padahal habis hujan. Hmm entahlah" gumamnya saat melihat langit yang ternyata di penuhi bintang.
"Lagi pula, aku tak tau masalah astronomi. Hmm... astronot atau otonomi ? Hmm... apalah itu namanya, yang jelas pelajaran tentang tata surya. Aku kan cuma lulusan sekolah sadar. Hehehe dasar" gerutu Ree sambil senyum-senyum sendiri. Mungkin pengaruh wine itu sudah mulai bereaksi. Apalagi dia sudah menghabiskan satu kaleng wine di kamarnya tadi.
Ree memang kuat kalau masalah minum wine. Dulu saat dia ada masalah, dia selalu minum wine. Karena kata orang, wine bisa menenangkan.
Ree memang suka sekali mendengar kata orang. Dan ini adalah salah satu kelemahannya.
Cressss...
Ree membuka kaleng winenya dan meneguknya tiga kali. Ia memandang langit yang penuh bintang dengan kaleng wine di tangannya.
"Mommy, Ree lelah" ucapnya seraya meletakkan kasar kaleng itu di sampingnya.
Ree menutup matanya. Air mata dari kelopak mata beningnya terjatuh. Mata berwarna abu-abu itu terbuka dan menatap sendu ke langit.
__ADS_1
"Pekerjaan apa yang mau menerimaku. Ckck... Kenapa sulit sekali pekerjaan" Ree berdecak kesal. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kemudian menusap kasal wajahnya.
"Tabungan sudah habis, gaji bulan ini tidak dibayar karena ledakan itu, pekerjaan hilang. Mengapa aku begitu menyedihkan. Huh... bagaimana mungkin pria impianku akan melirikku kalau begini. Kalau begini terus, akan lama nikahnya" Ree mengambil kaleng winenya.
Ree menunduk menatap kaleng wine di tangan kananya. Menumpahkan isinya perlahan hingga kosong.
Ree kembali menatap bintang di langit yang begitu indah.
"pfffhh... Andai aku menjadi pria saja, aku pasti tak akan repot memikirkan pernikahan dan keuanganku" ucap Ree menghembuskan nafas lelah dan meremas kaleng kosong yang masih di genggamannya.
"Apa yang ku katakan ? Sepertinya aku sudah sangat mabuk. Heheh... Sebaiknya aku pergi tidur" gumamnya seraya tersenyum kecut, menyadari ucapannya yang sudah tidak jelas dan tidak mungkin.
Ree melempar kaleng wine yang sudah kosong ke sembarang arah. Lalu bergegas turun dari atap rumah, menggunakan tangga yang tadi dia pakai naik.
Ree menuruni tangga secara perlahan. Saat sampai di anak tangga yang dekat dengan jendelanya yang terbuka, dia segera melompat masuk ke dalam kamar.
Ree menutup pintu kaca jendela dengan rapat. Berjalan ke sisi kanan untuk mengambil pakaian tidur di lemari pakaiannya.
Setelah mengganti pakaiannya, Ree atas ranjang. Ia melirik ke jam di atas nakasnya yang menunjukkan pukul 11:45 PM.
Seperti kebiasaannya yang setiap malam membaca, malam ini juga sama. Dia membuka laci nakasnya untuk mencari buku bacaan. Matanya menemukan buku yang belum pernah dia baca.
Buku berwarna biru dongker dengan sampul yang menggambarkan seorang pasangan. Buku itu berjudul "Antara Rasa dan Waktu".
"Kapan aku membeli buku ini ?" tanyanya dalam hati. Mengeluarkan buku itu dan menutup lacinya.
Ree naik ke atas kasur dengan buku itu di tangan kanannya. Sejenak dia memperdalam pandangnya pada buku itu untuk mengingat kapan dia membelinya.
"Akh... Aku ingat. Ini buku pemberian seorang nenek di jembatan saat ulang tahunku" ucapnya setelah mengingat asal usul buku itu.
"Antara Rasa dan Waktu" gumamnya membaca judul buku itu.
"Apakah ini buku tentang kisah romantis ? Aku penasaran. Sebaiknya aku baca saja" batinnya seraya membuka buku itu.
Saat membuka lembar pertama, Ree mengeryitkan keningnya. Alis kirinya terangkat.
"Perasaan antara cinta dan benci sangat dekat dalam hati. Antara cinta yang berubah jadi benci dan benci jadi cinta. Hanya waktu yang menentukan" gumamnya membaca kata pembuka di lembar pertama buku itu.
Ree membuka lembar selanjutnya. Dan ternyata kosong.
"Buku apa ini ? Kenapa isinya kosong ? Cih...Pantas saja nenek itu memberikannya padaku. Bahkan tidak ada kata pengantar dalam buku ini." Ree membuka setiap lembarnya sampai akhir.
"Cuma ada kata singkat di awal, tengah dan akhir. Membaca kata awalnya aja sudah mengesalkan karena begitu tak bermutu. Apa tadi ? Perasaan antara cinta dan benci sangat dekat dalam hati. Antara cinta yang berubah jadi benci dan benci jadi cinta. Hanya waktu yang menentukan ?!" gerutu Ree mengulangi kata yang dia baca di awal buku itu dengan nada mengejek.
"Cih... Baru kali ini aku membaca buku seperti ini. Untung saja aku tidak mengeluarkan uang untuk buku jelek ini. Kata awal saja begitu, apalagi kata awal dan akhir ? Aku malas membacanya. Membosankan!" Ree melempar buku itu kesembarang arah. Dan langsung mengambil posisi untuk tidur.
__ADS_1
"Semoga mimpi indah, Ree" gumamnya seraya menutup kelopak mata lentiknya.