
Bintang mengemas makanan yang sudah ia masak ke dalam kotak bekal. Ia akan pergi ke perusahaan ABV. Industrial Group.
"Kenapa harus bawa bekal segala?" tanya Papa Zidan memicingkan matanya menatap kotak bekal di tangan Bintang.
"Sekalian buat makan siang Mas Langit, Pa."
"Ck, dia itu sudah jadi mantan. Masih aja perhatian," cibir Papa Zidan dengan nada ketus.
"Kok Papa bilang gitu sih. Bukannya didoain juga anaknya biar baikan lagi, ini malah jatuhi harapan anaknya." Bintang mengerucutkan bibirnya tanda tidak suka dengan cibiran Papa Zidan.
"Kenyataannya 'kan gitu."
"Tapi Bia enggak suka dengar Papa bilang mantan tau...."
"Ck, Papa hanya bisa berdoa semoga kamu mendapatkan kebahagian mu, Nak. Meski bukan bersama pria baji*gan itu," ucap Papa Zidan seraya menepuk pundak putrinya.
"Makasih doanya, Pa. Tapi Bia harap, pria itu tetap Mas Langit." Bintang yang melihat Papanya akan kembali berbicara lagi, segera mengangkat kotak bekal yang sudah siap. "Ya sudah, Bia langsung pergi yah, Pa. Nanti Bia kabari Papa hasilnya," pamit Bintang seraya mengecup punggung tangan Papa Zidan.
"Hati-hati di jalan. Papa harap, hasilnya tidak mengecewakanmu." Papa Zidan menatap punggung Bintang yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Bintang mendudukkan dirinya di bangku kemudi, lalu meletakkan kotak bekal makan siang yang di tangannya ke samping. Lantas ia mengemudikan mobilnya menuju ke perusahaan Langit.
Setelah tiba ditempat tujuan, Bintang segera turun dan masuk ke dalam perusahaan yang sangat besar bagai pencakar langit dengan jumlah lantai sekitar 20 lantai. Ia berjalan ke arah resepsionis untuk menanyakan kehadiran Langit.
"Mas Langit ada, Mbak?" tanyanya sopan seperti biasa.
"Ada, Nona." Jawab resepsionis itu seraya menyipitkan matanya menatap Bintang dari atas sampai bawah. Semua karyawan di perusahaan sudah tau kekasih bos mereka adalah Bintang karena Bintang memang selalu berkunjung ke perusahaan. Jadi mereka akan langsung memberitahukan keberadaan bos mereka jika Bintang menanyakannya.
"Ya sudah, Mbak. Terima kasih. Kalau begitu, saya permisi ke ruang Mas Bumi. Bye Mbak," pamit Bintang yang merasa tidak enak dipandang seperti itu oleh resepsionis tadi.
Dengan perasaan bersemangat, Bintang berjalan dan sesekali tersenyum ramah pada para karyawan. Tapi melihat pandangan karyawan yang menatapnya dengan pandangan mengejek dan kasihan, membuat suasana hati Bintang jadi jelek. Lalu tanpa sengaja Bintang mendengar percakapan di antara para karyawan yang membuat telinganya panas.
"Itu 'kan calon istri Pak Bos, hadir disini? Ternyata pernikahannya benar-benar batal hari ini."
"Hahaha, iya. Sepertinya sudah dicampakkan sama bos deh."
"Pffft... Pak Bos pasti cuma jadiin dia mainan."
"Sungguh kasihan, mungkin dia datang kesini mau ngemis cinta sama Pak Bos."
"Yah wajar sih, Pak Bos 'kan kaya. Sudah pasti dia datang kesini untuk ngemis cinta."
"Cewe murahan kali, mungkin sudah dipakai sama si Bos. Makanya dibuang. Hahaha..."
__ADS_1
Bintang yang mendengar itu mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya ia menjambak rambut karyawan wanita yang sedang mencibirnya itu. Tapi ia seketika sadar dengan tujuan awalnya datang ke perusahaan. Tanpa menghiraukan cibiran yang keluar dari mulut pedas mereka, Bintang dengan cepat berjalan menaiki lift khusus menuju lantai 20 di ruangan pribadi kekasihnya—Langit.
Setelah sampai di lantai 20, Bintang berjalan ke ruangan Langit yang bertuliskan 'Ruang CEO'. Tapi sebelum ia membuka handel pintu, ia sudah di hadang oleh tangan kekar seorang laki-laki berumur 26 tahun.
"Kenapa menahan ku? Biarkan aku masuk," ucap Bintang mengerutkan alisnya menatap laki-laki itu.
"Tidak boleh, Nona."
"Mengapa tidak boleh, Harry? Apa karena berita pembatalan pernikahanku? Atau— karena dia tak mau bertemu denganku?" tanya Bintang dengan suara mengecil di ujung ucapannya tapi masih mampu ditangkap pendengaran Harry.
Pria itu adalah Harry yang menjabat sebagai asisten sekaligus sekretaris satu dari Langit. Bukan hanya itu, Harry juga termasuk orang kepercayaan Langit karena merupakan sahabat Langit sejak sekolah dulu.
"Bukan begitu, Nona. Tuan saat ini sedang sibuk," jawab Harry melirik ke pintu ruangan yang bertuliskan 'Ruang CEO'.
"Ck..., Tapi aku ingin menemui Mas Langit. Jadi beri tahu dia kalau aku datang," ucap Bintang meneliti Harry dari atas sampai bawah seraya melipat tangannya di depan dada seolah sedang menantang Harry.
"Tapi, Nona—" Harry melirik sekilas ponselnya yang menyala kemudian senyum misterius terbit di sudut bibirnya.
"Tapi apa? Akhh, apa dia benar-benar tidak ingin bertemu denganku. Padahal aku ingin sekali bertemu dengannya dan memberikan makan siang," keluhnya dengan wajah memelas.
"Kalau begitu, anda boleh masuk."
"Hah? Beneran?" sahut Bintang dengan wajah berbinar sekaligus terkejut. Sedangkan Harry menjawabnya dengan senyum simpul serta anggukan kepala.
"Akhirnya... kalau begitu aku masuk dulu, Harry. Btw, sudah berapa kali ku bilang untuk tidak terlaku formal padaku."
"Ah... Kau ini 'kan sahabat Mas Langit, artinya juga sahabatku. Santai saja," balas Bintang.
"Tetap saja, ini kantor. Kecuali jika kita di luar kantor. Mungkin saya akan bersikap seperti biasannya."
"Ck, Ya sudah aku masuk ke dalam dulu. Capek banget bicara sama kamu."
Bintang melangkah dengan wajah berbinar dan perlahan membuka handel pintu ruangan CEO tanpa mengetuk.
"Mas Lang—" ucapnya terhenti dengan wajah terkejut melihat apa yang terjadi di depannya.
PRANG! Kotak bekal yang di pegang Bintang terjatuh dan berhamburan ke lantai.
"Bintang?" ucap Langit pelan saat menoleh ke arah Bintang.
Bintang menutup mulutnya tidak percaya melihat kekasihnya berciuman dengan seorang wanita dan lebih parahnya, posisi mereka tengah duduk berpangku. Ia merasa ada yang menusuk tepat di jantungnya. Hatinya memanas, darahnya berdesir memanas, bahkan matanya sudah memerah menahan tangis.
Sedangkan Langit langsung mendorong wanita yang duduk di pangkuannya hingga meringis kesakitan. Ia berdiri dari duduknya dan menatap Bintang yang berada di ambang pintu dengan sedikit terkejut, tetapi sedetik kemudian ia kembali memasang wajah datar saat menyadari sosok wanita itu.
__ADS_1
Langit berdehem sebelum berkata, "Ada apa kau ke sini?" Bintang yang mendengar pertanyaan Langit yang tak selembut dulu, merasa ingin segera menumpahkan air matanya. Bintang benar-benar tidak menyangka jika hubungan yang ingin ia perbaiki ternyata sehancur ini.
Bintang melepas tangannya dari mulut dan sedikit menggigit bibirnya dari dalam. "Aku datang kesini—" jawabnya terputus saat air matanya mulai menetes, "mau memper—" ucapannya terhenti. Ia mengusap air matanya kemudian matanya tak sengaja bersitatap dengan mata hitam milik Langit yang perlahan mendekatinya.
Langit berjalan dan berhenti dengan jarak satu meter dari Bintang. "Katakan urusanmu dengan jelas, dan segera pergi dari sini!" ucap Langit tegas dengan wajah datar.
Bintang menggeleng tidak percaya. Perkataan Langit sangat menusuk relung hatinya. Ia merasakan sesak mendengar suara yang dulu selalu berkata lembut padanya, berubah menjadi sangat menakutkan.
Bintang memegang dadanya yang terasa sakit dengan air mata yang sudah menggenang. Ia menundukkan kepalanya, melihat bekal makan siang yang ia bawa dengan penuh harapan. Bahkan untuk membawa bekal itu, ia harus bertengkar kecil dulu bersama Papanya. Lalu ia melepas tangan dari dadanya, kemudian memberanikan diri menatap mata kelam milik Langit yang dulu selalu menatapnya penuh cinta dengan perasaan kecewa.
Tangan Bintang bergerak menghapus pipinya dari sisa air mata. "Jadi—" ucapnya terjeda untuk menarik nafas dalam. Matanya melirik sekilas pada wanita yang berdiri di belakang Langit, lalu kembali menatap Langit. "Jadi ini alasanmu membatalkan pernikahan kita, Mas?" akhirnya pertanyaan itu lolos dari bibirnya dengan susah payah menahan sakit di hatinya.
"Tentu saja, iya. Cih... siapa juga yang mau mempertahankan wanita sepertimu?" ucapan ketus itu terdengar di telinga Bintang. Ia menoleh ke asal suara dengan hati yang kian memanas. Suara itu bukan berasal dari Langit, tapi suara itu berasal dari wanita yang berjalan mendekat ke samping Langit.
Bintang menatap mereka berdua bergantian, kemudian menetapkan pandanganya pada Langit dengan penuh rasa sakit. "Apa benar yang dikatakan wanita itu, Mas?" tanyanya untuk memastikan perkataan wanita itu. Ia masih berharap, Langit akan menjawab 'tidak' padanya. Ia masih mengharapkan hubungan mereka membaik. Walaupun dilihat dari sudut manapun, hubungan mereka sudah hancur.
Tiba-tiba gerakan tangan wanita itu bergelayut manja dil lengan kiri Langit dengan tersenyum mengejek pada Bintang.
Bintang yang melihatnya, mengepalkan kedua tangannya. Apalagi saat melihat Langit sama sekali tidak terlihat risih dan menepis tangan wanita itu.
"Mas, kalian berdua?" tanya Bintang lirih tapi penuh penekanan.
"Apa yang kau harapkan dari jawabanku, Bintang? Kau tentu tau jawabannya 'kan?" jawab Langit dengan memasang wajah dingin seraya menatap sekilas tangan wanita di sampingnya. Ia seolah mengisyaratkan jawaban 'iya' pada Bintang.
"Tapi, Mas—" Bintang ingin menyangkal pikirannya. Tetapi suara tegas nan dingin yang keluar dari mulut laki-laku yang dicintainya membuat ia berhenti berbicara.
"Pergilah!!! Hubungan kita sudah berakhir!"
Deg!
Jantung Bintang terasa disirami bara api yang perlahan melahapnya habis. Ia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari laki-laki yang sangat ia cintai.
"Kenapa menyakitiku seperti ini, Mas?" gumam Bintang lirih serasa menunduk.
Langit yang masih mendengar gumaman lirih Bintang, kemudian membalikkan badannya membelakangi Bintang. Memberikan punggung dinginnya pada Bintang. Namun tangannya mengepal kuat menahan emosi merasa tak sanggup bertemu dengan kekasihnya, atau mungkin lebih tepatnya mantan kekasih.
.
.
.
******
__ADS_1
Maaf banyak typo guys. Novel ini akan di revisi jika sudah banyak babnya atau bahkan jika sudah and. Semoga menikmati, soalnya saya hanya penulis pemula dan berharap novel ini bisa menghibur waktu senggang kalian guys. Thanks you... Jangan luoa LIKE, COMENT, VOTE DAN FAVORITIN yah guys. Love you my lovely readers😘
Wait me again😘