
Bintang menutup pintu mobil dengan kuat saat keluar dari mobilnya begitu ia sampai di rumahnya. Ia menyeka air mata yang tak keluar dari sudut matanya. Ia berlari masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan teriakan Papanya yang melihat kedatangannya.
"Nak!" teriak pria paru baya itu saat melihat putrinya pulang dengan air mata. Ia mengikuti putrinya saat merasa putrinya mengindahkan panggilannya.
BRAK!
Bintang menutup pintu kamarnya dan langsung menguncinya. Meninggalkan Papanya yang menatap nanar pintu kamarnya.
Bintang menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ia menekuk kedua kakinya dan memeluk kedua lututnya dengan kepala yang tenggelam di sana. Membelakangi pintu dengan air matanya yang tak henti-hentinya mengalir. Hatinya sudah sangat hancur berkeping-keping hari ini. Bahkan ini lebih sakit dari kemarin.
Bintang bisa mendengar Papa Zidan tak hentinya memanggilnya dari balik pintu. Tapi ia menulikan kupingnya. Saat ini ia sangat lemah. Ia tidak sanggup memperlihatkan dirinya yang lemah pada Papanya.
"Sayang, buka pintunya, Nak. Jangan seperti ini. Papa sangat khawatir," teriak Papa Zidan sambil sesekali mengetuk pintu kamar putrinya.
Bintang yang mendengar itu merasa sedikit bersalah pada Papanya. Ia menengadahkan wajahnya, kemudian berteriak, "Tolong biarkan Bia sendiri dulu, Pa. Pergi, Pa!"
Papa Zidan dapat mendengar suara teriakan Bintang yang terdengar serak. Sebab ruangan Bintang tidak kedap suara.
"Tapi, Nak. Kamu—"
"Bia mohon, Pa! Pergi!" teriaknya lagi menyela ucapan Papanya sebelum menggigit bibir bawahnya.
Papa Zidan menghela nafas sebelum berkata, "Papa akan beri kamu waktu sendiri. Tapi Papa juga mohon, jangan berlakukan sesuatu yang menyakitimu, Nak."
Bintang hanya diam tidak membalas teriakan Papanya di balik pintu. Ia kembali menenggelamkan wajahnya disela lututnya seraya memeluk erat kedua lututnya.
Sedangkan Papa Zidan yang tak mendapat jawaban dari putrinya, hanya bisa menghela nafas pasrah. Apalagi putrinya sudah bersikeras memintanya untuk pergi. Sedetik kemudian ia merasa putrinya memang membutuhkan waktu untuk sendiri. Jadi ia memutuskan untuk menunggu saja di depan pintu atau mengawasi putrinya dari luar.
******
"Mengapa sesakit ini mencintaimu, Mas? Mengapa aku harus melihatmu menyentuh wanita lain? Bukankah seharusnya aku membencimu, Mas? Tapi sayangnya, aku tidak bisa membencimu, Mas. Sebab cintaku sangat dalam dan tulus untukmu. Dan mungkin aku hanya bisa membencimu saat cinta itu benar-benar sudah hilang, Mas." batin Bintang lirih dengan perasaan sesak yang sudah menjalar di dadanya.
Dertt... Dertt! Kring!!!
Ponsel di dalam sling bag Bintang bergetar disertai dering yang menandakan ada seseorang yang tengah meneleponnya. Bintang yang mendengar suara ponselnya sudah beberapa kali berbunyi, segera menengadahkan kepalanya. Lalu tangannya bergerak mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya.
Bintang menggeser tombol merah karena yang menelpon adalah nomor tak dikenal. Menolak panggilan itu dengan mendengus kesal. Tapi ponselnya kembali bergetar dengan nomor yang sama. Ia ingin menekan tombol merah pada ponselnya lagi, tapi ia urungkan saat melihat banyak notifikasi pesan yang mengatakan 'angkat teleponnya, aku sangat khawatir~Bunga'.
__ADS_1
Bintang menghapus air matanya dan menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya dengan kasar. Kemudian ia menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Halo, Bi. Astaga... kenapa ponselmu dari kemarin tidak aktif? Kau tau, aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Aku mau ke tempatmu. Tapi aku masih takut melihat wajah garang Paman Zidan," sergah Bunga di seberang sana dengan cepat.
"Bi... " panggil Bunga saat tidak mendengar balasan dari lawab bicaranya.
"I—ya," jawab Bintang terbata-bata dan suara serak. Ia sesekali menghapus ingus dan air mata di wajahnya dengan ujung bajunya. Tidak ada tisu, jadi membuat Bintang menggunakan bajunya. Hingga membuat ujung bajunya basah. Dan itu sudah kebiasaan Bintang saat menangis.
Bahkan Bunga bisa mendengar suara yang menurutnya menjijikan itu. Ingin rasanya Bunga menghujat sahabatnya itu. Tapi sayangnya waktunya tidak tepat, karena disatu sisi ia juga iba dengan keadaan sahabatnya.
"Astaga, Bi. Kamu dengar aku 'kan? Kumohon Maafkan kakakku. Aku tau kakak sangat menyakitimu dengan keputusannya membatalkan pernikahan kalian hari ini. Bahkan suara tangis mu saja, terdengar sangat memilukan di telingaku saat ini," ucap Bunga yang merasa kian khawatir dengan sahabatnya itu.
Bintang hanya diam mendengar perkataan sahabatnya tanpa ingin menjawabnya.
"Bi, denger aku baik-baik. Aku akan mencari tau apa alasan Kak Langit membatalkan pernikahan kalian. Tapi kumohon jangan bersedih, semuanya pasti akan membaik. Aku yakin itu" tambah Bunga dengan yakin dan tegas.
"Tidak perlu, Nga. Aku sudah tau alasannya kok," lirih Bintang menunduk. Ia masih mengingat kejadian di kantor tadi. Dan hatinya masih sakit saat mengingatnya.
"Benarkah? Bagus kalau kamu sudah tau alasannya. Jadi kamu bisa memperbaiki hubungan kalian 'kan? Karena aku sangat yakin, Kak Langit tidak akan melakukan ini tanpa alasan yang jelas." Mau bagaimana pun, Bunga akan tetap membela Langit. Sebab Langit adalah kakaknya. Meski ia belum tahu alasan Langit sebenarnya. Tapi ia sangat yakin dengan kakaknya itu.
Kemudian Bintang menutup matanya. Ia menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya yang terputus dengan mata terpejam. "Mas Langit sudah tidak mau melihatku lagi, Nga. Dia bilang langsung padaku bahwa hubungan kami sudah berakhir. Aku—aku tidak bisa memperbaiki hubungan ini lagi, Nga. Semuanya... sudah berakhir."
"Aduh... Bi, kamu tenang dulu. Aku akan berusaha berbicara dengan Kak Langit yah....Aku akan membujuknya. Aku tau dia menyakitimu. Tapi hanya kamu yang pantas untuknya. Jadi kumohon, jangan membenci Kak Langit," pinta Bunga penuh harap dengan suara yang kian panik.
"Bagaimana aku membencinya? Sedang aku masih sangat mencintainya?" gumam Bintang dalam hati dan penuh rasa sakit seraya memegang dadanya yang terasa sesak.
"Bi, aku berjanji akan membuat cinta kalian kembali bersatu. Ingat janjiku ini, Bi." Bunga memberikan sebuah janji dengan penuh penekanan di setiap ucapannya. Ia sungguh tidak ingin hubungan kakak dan sahabatnya hancur. Ia hanya ingin sahabatnya yang menjadi kakak iparnya.
"Tidak perlu berjanji seperti itu, Nga. Mungkin cinta kami memang hanya sebatas ini saja," tukas Bintang seraya menghapus ingusnya dan air mata yang menggenang di wajahnya. "Sayangnya, cintaku yang tidak terbatas untuknya," batin Bintang.
"Aku akan tetap melakukannya, Bi. Aku tidak bisa melihat hubungan kalian hancur. Kau tenang saja, aku bisa diandalkan." Bunga mematikan sambungan telepon itu hingga Bintang hanya bisa menghela nafas kasar.
Bintang menjatuhkan ponselnya dan kemudian ia bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah ranjang. Kemudian mendudukkan bokongnya di sudut ranjang dekat dengan nakas. Ia melihat benda yang ada di atas nakas itu. Tangannya merambat mengambil bingkai foto yang berisi foto dirinya dan Langit yang sedang berpelukan dengan tertawa bahagia menghiasi wajah.
Bintang menatap bingkai foto itu dengan tatapan sendu dan mata yang sudah membengkak. Ia mengelus foto Langit yang sangat tampan sebelum berkata, "Dulu kau bilang, akan mengajarkanku tentang cinta yang bisa membuatku merasa sangat bahagia. Dan aku bisa merasakan kebahagiaan itu. Tapi dulu, kenapa kau tak pernah mengatakan kalau sakitnya juga luar biasa?"
Bintang menutup matanya. Bayangan kenangan tiga tahun bersama dengan Langit, seakan berputar dalam pikirannya.
__ADS_1
Bintang kemudian membuka matanya dan tertawa miris. "Aku memang bodoh! Seharusnya aku tidak terbuai dengan rayuan mautnya. Akh... aku bodoh karena mempercayai semua janji manisnya. Hahaha...dan sekarang ia mencampakkan ku. Ck, dan kebodohan ku yang paling besar adalah memberikan mahkotaku padanya," gerutu Bintang dengan suara rendah diakhir ucapannya.
PRANG!
Bingkai foto itu terjatuh ke lantai dengan serpihan beling yang berserakan. Bintang sengaja melempar bingkai itu. Kemudian ia berjongkok melihat belingnya. Sekarang air matanya sudah mengering, tapi hatinya tidak berhenti merasakan sakit.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" teriaknya mengisi ruangan itu sambil meremas rambutnya hingga berantakan.
Perlahan tangan Bintang merambat mengambil foto dibalik beling. Kemudian menatap dengan mata hazenya yang menyipit tajam.
SRETTT!!!
Bintang merobek foto dan meremasnya dalam genggamannya. "Sekarang aku sudah tidak ada harganya lagi. Aku bukan lagi seorang gadis. Semuanya sudah kau ambil dariku. Sudah tidak ada lagi yang bisa kubanggakan. Kau membuatku tidak ada bedanya dengan seorang pel*cur saat ini, Mas. Dipakai dan dibuang jika puas. Ck, Aku memang bodoh!!!" ucapnya menyesali kebodohannya dengan senyum yang menyiratkan luka.
Bintang melempar foto digenggamannya. kemudian mengambil pecahan beling yang berserakan di lantai itu. Ia menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Aku wanita yang sudah tidak perawan lagi sebelum menikah. Dan jika Papa tau putrinya yang ia banggakan seperti ini, ia pasti akan malu memiliki putri sepertiku. Dan aku tidak bisa membayangkan ia akan sedih atau bahkan akan membenciku." Setetes air mata terjun dari pelupuk matanya tanpa ia sadari. Sekarang pandangannya menatap kosong pada beling di tangannya.
CRASS!
Darah mulai keluar dari pergelangan tangan Bintang. Ia sudah melukai tangannya dengan pecahan beling itu. Dan bintang hanya memandangi darah itu dengan senyum tipis di wajahnya.
"Ternyata luka yang kau beri lebih sakit dari ini, Mas. Hatiku rasanya sangat sakit," ucapnya.
Bintang berdiri dengan kepala yang sudah terasa pusing karena sudah banyak kehilangan darah. Ia berjalan mendekat ke dinding dekat ranjang.
BHUK!! BHUK!! BHUK!!
Bintang membenturkan kepalanya dengan keras di sana. Hingga ia berhenti setelah darah keluar di dahinya. Ia segera mendudukkan dirinya ke ranjang. Lalu perlahan pandangannya mulai terlihat buram. Ia terjatuh baring di ranjang dengan tangannya yang penuh luka menjuntai ke bawah.
"Aku hanya berharap luka ini membawa pergi luka hatiku. Dan ketika aku terbangun, aku kehilangan ingatanku. Hingga aku bisa dengan tenang membenc—" ucapannya terputus karena pandangannya sudah menghitam.
Bintang sudah kehilangan kesadarannya. Wajahnya kian memucat dengan mata yang sudah menutup rapat. Sedangkan darah di pergelangan tangannya kian merembes ke lantai. Hingga membuat gendangan darah di sana.
******
Semoga suka😊 Jangan lupa tinggalkan jejak my lovely reader😘
__ADS_1