
Di depan pintu kamar yang terkunci, Papa Zidan menggedor-gedor pintu kamar setelah mendengar suara pecahan dan teriakan di dalam kamar putrinya. Ia dengan wajah panik memanggil putrinya yang tidak merespon panggilannya. Hingga akhirnya ia mencoba membuka pintu secara paksa di bantu pelayan pria yang sudah mengelilinginya.
BRAK!!!
Pintu kamar yang tadi terkunci akhirnya terbuka lebar menampilkan wajah terkejut papa Zidan bersama dengan para pelayan di depan pintu.
"Nak!" pekiknya berlari masuk ke dalam kamar dengan panik. Ia melihat genangan darah di lantai bersamaan dengan pecahan dari bingkai foto.
"Siapkan mobil sekarang!" teriaknya pada kepala pelayan pria yang mengikutinya.
"Baik, Tuan." Kepala pelayan itu segera menunduk dan berlari keluar kamar.
Papa Zidan menatap putrinya yang terbaring di ranjang. Ia bisa melihat pergelangan tangan putrinya yang menjuntai hingga darah merembes ke lantai dan juga luka di dahi putrinya yang berdarah.
Tanpa banyak bicara, dengan cepat Papa Zidan mengambil kotak P3K di dalam nakas dan mengambil perban di sana. Ia segera menggulung perban di dahi putrinya yang berdarah dan juga di pergelangan tangan putrinya untuk mengurangi pendarahan. Para pelayan juga bergerak membantu tuannya memotong perban itu.
Kemudian Papa Zidan menggendong tubuh putrinya yang terlihat pucat. Ia segera berlari dengan raut wajah khawatir sekaligus panik. Perasaan sesak menjalar di dadanya, sama seperti perasaan saat istrinya meninggal dulu.
Mobil sudah siap dan gerbang juga sudah terbuka lebar. Papa Zidan yang menggendong putrinya segera masuk ke dalam mobil di bantu para pelayan dan pengawal yang mengikutinya.
"Ke rumah sakit terdekat. Cepat!" perintahnya pada supirnya yang sudah siap di dalam mobil.
"Baik, Tuan." jawab supir dengan segera menarik pegal gas. Melajukan mobil dengan cepat menuju rumah sakit.
Sementara Papi Zidan tak henti-hentinya menatap wajah pucat putrinya yang berbaring di pangkuannya. Tangannya terulur ke pipi putrinya. Mengelusnya lembut dan perlahan air matanya menetes dari sudut mata hazelnya.
"Kumohon... jangan tinggalkan Papa sendiri," ucapnya lirih dengan tangis pilu sambil menepuk pelan pipi putrinya. Terlihat ketakutan di wajahnya yang biasanya tegas. Inilah yang ia takutkan sejak kemarin. Ia takut putrinya kehilangan akal dan melukai diri sendiri. Dan sekarang semuanya benar-benar terjadi.
Papa Zidan bahkan sudah menyingkirkan benda tajam di kamar putrinya semalam. Tapi ia tetap tidak bisa mencegah kejadian ini. Ia hanya bisa pasrah dan segera memberikan putrinya pertolongan pertama sebelum membawanya ke rumah sakit.
Rumah sakit membutuhkan waktu 30 menit jika mobil melaju dalam keadaan normal. Mobil Papa Zidan melaju dengan kecepatan tinggi karena Papa Zidan tak-hentinya berteriak pada sang supir.
"Papa mohon bangun, sayang..." ucap Papa Zidan seraya memeluk erat tubuh putrinya dengan air mata yang sudah menggenang di wajahnya.
******
Langit duduk bersandar di sofa apartemennya. Setelah kekacauan di kantornya, ia memilih untuk pulang ke apartemen yang baru saja ia beli. Ia tidak ingin pulang ke mansion utama, sebab ia selalu terbayang wajah mantan kekasihnya—Bintang. Terlalu banyak kenangan di mansion itu akan kebersamaannya dengan Bintang.
Sehingga Langit memutuskan untuk berada di tempat yang baru hanya untuk melupakan mantan kekasihnya.
__ADS_1
KRING!!! KRING!!!
Ponselnya berbunyi lagi. Dan di layar ponsel itu menampilkan nama adiknya. Langit menatap malas pada ponselnya yang sudah lima kali ia abaikan. Hingga akhirnya ia memutuskan mengangkat panggilan telepon dari adiknya itu.
"Iya," ucap Langit dengan malas.
"Kakak... kakak di mana? Aku mau bicara sama kakak," tanya Bunga di seberang telepon.
"Di apartemen," jawabnya singkat.
"Hah? Di apartemen? Sejak kapan kakak punya apartemen? Aku kok enggak tau?" tanya Bunga heran.
"Sejak sekarang. Apa yang mau kamu bicarakan. Bicarakan saja di telepon sekarang!" tukas Langit.
"Ish... kakak... aku tuh cuma mau bilang. Aku enggak setuju kakak putus dengan Bintang. Pokoknya kakak harus minta maaf sama Bintang dan lanjutin hubungan kalian. Titik!" seru Bunga menggebu-gebu.
"Ck... ini bukan urusanmu!"
"Ini urusanku juga kak. Karena Bintang itu sahabat aku. Dan aku enggak mau kalian putus. Kakak jangan putus yah... " ucap Bunga dengan suara yang memelas.
"Ck... kalau kamu cuma mau bilang itu, sebaiknya hentikan. Karena keputusanku tidak akan berubah," sahut Langit mendengus kesal seraya mematikan sambungan teleponnya.
"Langit," ucapan lirih seorang pria di seberang sana menghentikan ucapan Langit.
"Hah," Langit lantas melihat nama yang meneleponnya di layar ponselnya. Dan ternyata itu dari 'dr. Fajar'.
"Langit... lo denger gue enggak?" tanya Fajar di seberang sana.
"Iya, gue dengar."
"Lo enggak ke rumah sakit liatin mantan calon istri lo?" tanya Fajar.
"Hah? Mantan? Maksud lo?" tanya Langit mengeryit heran.
"Ck... gue tadi enggak sengaja liat dia di bawa ke rumah sakit digendong sama Paman Zidan," ujar Fajar seraya berdecak kesal.
"Huftt... dan sepertinya dia terluka sangat parah soalnya dia dibawa ke IGD," tambahnya yang membuat Langit seketika mematung di tempat dengan tubuh tegak di sofa.
"Woyy... lo kenapa diam?" teriak Fajar di seberang sana karena tidak mendapatkan balasan dari sepupunya itu.
__ADS_1
"Dia— di rumah sakit mana?" tanya Langit dengan raut wajah cemas yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Yah... di rumah sakit tempat gue kerja lah! Dasar bego! Gue kan bilang, gue liat dia di—"
Tut... tut... tut... sambungan telepon segera dimatikan oleh Langit tanpa mendengarkan Fajar selesai bicara. Ia segera bergegas pergi ke rumah sakit tempat sepupunya itu bekerja sebagai dokter. Dengan perasaan cemas bercampur sesak di dadanya, ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Dalam tatapan Langit terlihat jelas ketakutan di sana setelah mendengar ucapan sepupunya yang merupakan salah satu dokter di rumah sakit miliknya. Entah kenapa, saat ini ia malah takut mantan kekasihnya itu terluka. Padahal saat di kantornya, ia jelas telah membuat mantan kekasihnya terluka batin.
Pikirannya melayang pada bayangan mantan kekasihnya yang tersenyum manis padanya. Entah kenapa, ia takut kehilangan senyum itu. Padahal ia jelas tau, bahwa dia yang sudah memudarkan senyum itu dengan tangisan.
"Maafkan aku! Ku harap kamu baik-baik saja" gumamnya yang tanpa sadar menangis membayangkan mantan kekasihnya. Padahal di seberang sana, keadaan Bintang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
******
Dua dokter berjas putih di ruang IGD sedang menangani pasien yang terluka pergelangan tangan dan dahinya.
"Dokter, pasien masih membutuhkan transfusi darah. Ia mengalami cukup banyak pendarahan pada pergelangan tangannya. Meskipun keluarganya sudah melakukan pertolongan pertama," ucap dokter wanita yang memegang pergelangan tangan Pasien.
"Yah benar. Kita juga perlu melakukan CT scan pada otaknya karena benturannya yang dia alami," jawab dokter pria paruh baya spesialis ahli saraf menatap luka pada dahi pasien wanita yang tidak lain adalah Bintang.
"Baik, kita lakukan segera!" tambahnya lagi dan segera menangani pasien di depannya.
Sementara Papa Zidan berdiri di depan pintu ruang IGD tempat putrinya. Ia menatap sendu pintu ruang IGD di depannya dengan perasaan cemas bersamaan rasa sakit di hatinya. Ia takut, bahkan tak kuat jiga apa yang ia pikirkan terjadi. Bagaimana jadinya kehidupannya jika putri yang sangat ia cintai pergi menyusul mamanya. Ia tak mau itu terjadi.
Air mata tak surut dari pelupuk matanya. Bahkan ia tak merasa malu dengan pengawalnya yang juga ikut bersamanya. Sesekali ia menghapusnya dan menyentuh pintu itu dengan perasaan takut.
"Papa takut, Nak... Kumohon jangan tinggalkan Papa. Hiks...."
Sedangkan di dalam ruangan IGD, nampak wajah panik di raut wajah dokter paruh baya yang sedang menangani pasien di depannya.
"Jantung pasien melemah dokter," ucap salah satu perawat.
Dokter itu hanya mengangguk dan segera bergerak menangani pasien yang sudah di pastikan telah melakukan percobaan bunuh diri.
******
Masih konflik awal😭
Jangan lupa LIKE, COMENT, VOTE DAN FAVORITIN yah my lovely readers muach😘 Karena semuanya gratis ye kan😍
__ADS_1
Waitme again😘