
Kota X, 11 Desember 2012
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat berlalu. Sudah hampir sebelas bulan, Ree hidup sendiri di rumahnya tanpa sosok Ibunya. Kehiduannya juga selama ini terbilang monoton. Bangun, pukul 5 pagi. Berangkat ke rumah makan untuk bekerja, pukul 7 pagi. Pulang dalam keadaan letih, pukul 5 sore. Makan malam dengan nasi bungkus. Setelah itu, tidur.
Sepulang kerja, biasanya dia akan singgah di jembatan yang menjadi ikon Kota X. Orang sering menyebutnya "Jembatan Cinta". Sebelum Ibunya meninggal, dia hanya sesekali kesana saat telah bertengkar masalah pernikahan dengan Ibunya. Tapi setelah Ibunya meninggal, ia sering kesana setiap pulang kerja.
"Jembatan ini selalu mengingatkanku tentang pertengkaran kecil kita, Mom." gumam Ree lirih, menatap langit berwarna jingga dan memegang tiang pembatas jembatan.
Ree melirik ke kanan dan ke kiri. Ia tersenyum kecut melihat pasangan yang tengah bermesraan. "Dan setiap kesini, aku selalu mengingat permintaan terakhirmu itu. Ck...bagaimana mungkin, saat sekarat pun, kau masih memohon agar aku menikah. Huh" gerutunya sambil memukul pelan tiang besi pembatas jembatan itu.
"Sepertinya sudah waktunya aku pulang. Mom, aku sudah berusaha mencari pasangan. Setidaknya aku sudah berusaha datang ke Jembatan Cinta ini agar menemukan lelaki kaya yang akan menikah denganku nanti. Tapi calon suamiku yang kaya itu, masih sibuk mengumpulkan uang untukku. Hingga belum menjemputku disini. Jadi jangan salahkan aku, sampai sekarang belum menikah" batinnya sedikit berhalu dan memutar tubuhnya untuk melangkah.
Setalah 10 menit berada di sana, dia memutuskan kembali ke rumahnya. Hanya butuh 10 menit untuk berada di jembatan itu. Karena kalau lebih, dia yang akan kepanasan melihat keromantisan para pasangan yang tengah memadu kasih.
Ree ke sana memang berniat untuk mencari pasangan seperti biasanya saat dia bertengkar dengan Ibunya tentang nikah. Padahal dia disana, hanya berdiam diri dan memandang langit. Sesekali melirik ke arah pasangan kekasih di samping kanan dan kirinya.
Ree berjalan masuk ke rumahnya dengan menenteng plastik yang berisi lauk. Ia melempar tasnya ke sembarang arah. Dan beranjak ke dapur untuk makan.
Ree membuka plastik yang ternyata berisi nasi bungkus dengan lauk tahu dan tempe plus ikan asin. Ia duduk di kursi dan bersiap untuk makan.
"Selamat makan dunia" ujarnya menangkup kedua tangannya di depan dadanya. Setelah itu, menikmati makanan itu seperti biasanya.
Semenjak Ibunya meninggal, Ree memang selalu membeli lauk di warung. Dia tidak tau cara memasak. Dulu Ibunya yang sering memasak walaupun itu cuma tahu, tempe dan ikan asin juga, tapi Ibunya memasak lauk itu dengan sangat lezat untuk Ree.
Dan lauk di depannya sangat beda rasanya dengan masakan Ibunya. Ree hampir menitikan air matanya lagi saat mengingat hal itu.
Drrrtt...drrttt...drrtt
Ree minum dan segera berlari mengambil ponselnya di dalam tas yang tadi dia lempar sembarang arah.
"Bu Bos galak tapi baik" ucapnya saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
"Untuk apa Bu Bos menelfon" gumamnya dan segera mengangkatnya.
"Halo, Bu. Selamat malam"
__ADS_1
"Malam, Ree. Saya tau kamu sudah di rumah " jawab Bu Bos di seberang sana.
"Iya, Bu. Hmm... Ada apa yah, Bu ?" tanyanya dengan suara lembut tak mau basa basi lagi.
"Saya butuh tenaga kamu malam ini. Dan akan langsung saya beri gaji 500 ribu. Bagaimana ?"
"500 ribu ?! Beneran, semalam 500 ribu, Bu ?!" jawabnya sedikit berteriak, membuat orang yang di seberang menggerutu kesal.
"Maaf, Bu. Saya terlalu exaited." ucap Ree cengengesan.
"Iya gak apa. Jadi bagaimana ? Kalau kamu mau, langsung ke sini"
"Tunggu, Bu. Saya pikirin dulu. Kerjanya, seperti biasakan, Bu?"
"Tentu saja. Nanti kamu cuci piring, bersihin wc, ngepel dan lain-lain. Soalnya akan pesta kecil-kecilan di rumah makan saya ini. Sudah di pesan sama pengusaha. Baru kali ini rumah makan sederhana saya ini di pesan oleh pengusaha. Jadi saya butuh tenaga bersih bersih kamu segera. Biar rumah makan saya ini konclong" jelas Bu Bos di seberang sana dengan sangat bahagianya.
"Tumben banget ada pengusaha yang datang. Hmmm... pantas saja gajinya 500 ribu cuma buat malam ini. Horang kaya yang datang" batin Ree sembari berfikir.
Karena tak ada tanggapan dari Ree, Bu Bos diseberang sana mulai berfikir keras untuk membujuk Ree. "Ini kan masih jam 6, jadi masih ada waktu untuk bersih-bersih. Kapan lagi, rumah makan Ibu didatengin pengusaha. Kamu datang yah... Ibu butuh tenaga kamu banget nih.. Jam 07:30 PM, acaranya dimulai. 500 ribu semalam lumayan loh... Kerjanya bentar aja, Ree. Setelah pengusahanya pergi, kamu bersihin semuanya. Terus pulang deh dengan 500 ribu ditangan" lanjut Bu Bos mencoba merayu.
"Baik, Bu. Saya kesana segera" ucap Ree dan langsung mematikan sambungan telfonya. Dia bergegas menghabiskan makanannya dan mengambil jubah mandinya untuk membersihkan diri sebelum pergi ke rumah makan.
"Pengusaha ? Mungkinkah aku akan mendapatkan pria kaya disana ? Lalu menikah ? Umm" gumamnya cengengesan saat melihat pantulan wajahnya di cermin.
Ree bersiap seperti biasanya dia akan pergi bekerja. Meskipun dia masih lelah setelah bekerja seharian, tapi demi gaji semalam 500 ribu, dia rela.
"Demi 500 ribu! Ree, Semangat!" ucapnya mengepalkan tangannya dan mengangkatnya ke depan, guna untuk menyemangati dirinya.
***
Kota Z, Pukul 07:00 PM.
Berbeda dengan Ree yang semangat bekerja tambahan demi 500 ribu. Diseberang sana, di sebuah perusahaan besar di Kota Z, ada seorang pria yang tengah duduk di kursi kerjanya.
Pria itu terlihat sibuk menatap berkas di depannya. Kemeja birunya digulung sampai ke lengannya. Wajahnya yang beribawa begitu fokus. Sesekali dia melirik ke arah jam kecil besi berwarna coklat yang seperti jam tangan, tapi ada rantai kalung terpasang di jam itu. Jam itu terlihat unik dan antik karena hanya dia yang memilikinya.
__ADS_1
"Tuan, apakah tuan tidak ikut dalam perjanjian kerjasama itu?" tanya asisten sekaligus tangan kanan pria yang dipanggil "Tuan" itu.
"Tidak perlu. Biarkan Firex yang membereskan mereka. Apakah kau khwatir dengannya, Lex ?" ucap pria itu bangkit dari kursinya dan mengambil jam unik itu. Ia berjalan ke arah jendela kaca dan menggenggam jam itu erat.
"Bukan gitu, Rich. Aku hanya berfikir ada sesuatu yang aneh dengan perjanjian itu." ucap asistennya yang bernama Alex secara non-formal, karena mereka memang sudah bersahabat lama.
"Aneh apa maksudmu ?" tanyanya seraya berbalik menatap Alex dengan tajam.
"Saya dengar, perjanjian kerja sama itu akan terjadi di sebuah rumah makan sederhana. Dan menurutku, itu sedikit mencurigakan. Bukankah seharusnya mereka melakukan perjanjian itu di tempat yang lebih elit" jelas Alex mengusap dagunya berfikir.
"Kau benar. Kita berangkat ke Kota X sekarang" ucap pria itu dan memasukkan jam uniknya ke saku celananya. Sesangkan Alex segera mengangguk dan menyiapkan kebutuhan untuk ke Kota X.
***
Kota X, Pukul 08:30 PM.
Boom... Booooommmmm... Booommmm
Di Rumah Makan Sederhana tempat Ree bekerja, sebuah ledakan menghancurkan tempat itu. Banyak suara teriakan terdengar saat menyaksikan kejadian itu.
Api mulai berkobar melenyapkan nyawa manusia yang ada di dalam rumah makan itu. Untungnya, disekitar rumah makan tidak ada bangunan lain selain lahan kosong yang baru akan di jual. Jadi, api tidak merambat ke bangunan lainnya.
"Betul-betul tempat strategis untuk melakukan kejahatan" gumam seseorang saat melihat siaran di televisi yang menayangkan kejadian ini.
Sebuah mobil penadam kebakaran dan ambulance sudah bersiap masuk ke lokasi untuk menyelamatkan nyawa yang sekiranya bisa diselamatkan. Polisi juga sudah di lokasi untuk mengamankan warga yang berkumpul di sekitar lokasi.
Ctarrr... Ctarrrr... Ctarrr
Langit mulai bergemuruh. Suara petir terdengar begitu menakutkan. Hujan deras turun membasahi Kota X.
Sepertinya langit pun marah dan bersedih, melihat orang yang tak berdosa harus mati dalam ledakan orang jahat itu.
Sedangkan pria di ujung sana hanya menatap rumah makan itu dengan datar. Ia mengusap wajahnya yang basah karena air hujan dan masuk ke dalam mobil.
"Kita kembali" ucapnya dengan tegas. Kedua pria yang ada di dalam mobil yang sama hanya bisa mengangguk dan salah satunya segera mengijak pedal gas.
__ADS_1
...⛵⛵⛵⛵⛵⛵⛵⛵⛵⛵⛵⛵...