Unusual Wedding Scenario

Unusual Wedding Scenario
Iklan Novel


__ADS_3

Kota X, 21 Februari 2012


Sore hari di jembatan yang menjadi salah satu ikon Kota X, tengah ramai dipenuhi oleh para pasangan kekasih yang tengah menikmati langit yang berwarna jingga. Jembatan itu memang selalu ramai saat sore hingga malam. Bahkan ada pedagang kecil yang menjajakan dagangannya.


Suasana di jembatan Kota X bukan hanya dipenuhi oleh pasangan kekasih saja. Banyak juga orang yang datang kesana malah mencari jodoh. Sama halnya dengan seorang wanita yang tengah menatap nanar ke arah langit jingga dan kedua tangannya memegang pembatas jembatan. Sesekali dia melirik ke kanan dan ke kiri dan mendapati keromantisan para pasangan yang membuat jiwa kejombloannya meronta-ronta.


Seorang wanita berumur 25 tahun yang sudah menyandang status jomblo dari lahir. Wanita itu bernama Reese Oswald. Hari ini bertepatan hari ulang tahunnya yang ke- 25 tahun. Dan dia berharap bisa melepas masa jomblonya di jembatan ini. Setidaknya dia bisa terhindar dari omelan ibunya tentang menikah saat pulang nanti.


"Akh... sepertinya jodohku masih jauh" desisnya mengasihani dirinya sendiri saat melihat pemandangan romantis di jembatan itu.


Ree melepaskan genggaman tangannya pada pembatas jembatan. Berniat pergi meninggalkan pemandangan yang menguras jiwa kejombloannya. Saat Ree baru berbalik ingin melangkah, ia malah terjatuh karena tidak sengaja tertabrak tubuh seorang pria yang berlari seperti tengah mengejar seseorang. Pria itu memakai setelan jas berwarna biru gelap dengan topeng yang menutupi mata dan sebagian wajahnya.


"Auh..." keluh Ree saat merasakan sakit di bokongnya. Dia menatap pria yang menabraknya. Tapi pria itu hanya menatap datar Ree. Dan berkata "Ck... makanya, gunakan mata dan kakimu dengan benar" lalu berlari meninggalkan Ree mengutuk dirinya.


Ree menatap punggung pria yang berlari setelah membuatnya terjatuh. "Heiiiii.... Dasar pria tak tau malu! Kau yang menabrak, malah aku yang disalahkan. Kurang ajar! Dasar buruk rupa! Tak bertanggung jawab!" teriaknya memaki pria itu. Tapi dia tidak sadar kalau semua mata menatapnya kasihan. Karena mereka beranggapan bahwa Ree adalah seorang wanita yang telah dicampakan oleh kekasihnya setelah memberikan segalanya.


Wajar jika pemikiran orang orang seperti itu. Karena orang orang di jembatan tidak fokus dengan keadaan yang sebenarnya. Mereka lebih fokus memadu kasih dengan pasangan mereka. Sehingga menimbulkan spekulasi seperti itu.


"Yah... dia pasti buruk rupa. Makanya menutup wajahnya dengan topeng. Cihh... sudah jelek, kurang ajar pula! Aku berharap tak bertemu dengan orang jelek itu" gerutunya tak henti dengan suara yang sudah dipelankan.


Sumpah kerapah dia ucapkan untuk pria itu. Hingga ada salah satu pedagang tua menghampirinya. Seorang nenek memakai topi hitam di kepalanya yang berambut putih. Ia menepuk punggung Ree dan berkata, "Sudah ngomelnya.... tenangkan dirimu. Ayo ikut Nenek" ajak nenek itu menarik tangan Ree.


Ree yang ditarik hanya diam dan menganggukkan kepalanya. Dia berjalan mengikuti nenek itu, hingga berhenti di salah satu lapak dagang di pinggir jembatan itu.


"Liat dagangan Nenek, siapa tau kamu tertarik membeli dagangan Nenek tua ini" ucapnya mengambil posisi dibelakang dagangan yang sudah berjajar di sebuah meja yang lumayan lebar.


Ree melihat barang dagangan yang dijual nenek tua itu dengan mata berbinar. Nenek tua itu menjual barang yang unik bahkan bisa di bilang antik. Tapi mata lentik Ree tertuju pada satu benda yang membuatnya tertarik. Seolah terhipnotis, Ree mengambil benda itu yang merupakan sebuah buku usang berwarna biru dongker dengan cover bergambar jam dan sepasang kekasih. Buku itu hanya ada satu disitu dan itu yang membuatnya tertarik


"Ini" ucap Ree memperlihatkan buku yang telah ia pilih. Nenek itu tersenyum misterius dan berkata, "Pilihan yang bagus. Semoga kau mendapatkan kebahagianmu"


"Berapa yang harus Ree bayar untuk buku ini, Nek ? Jujur, Ree sangat suka membaca. Jadi Ree ambil yang ini saja" ucapnya dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Ambil saja, dan anggap saja itu hadiah dari nenek karena melihatmu diperlakukan seperti itu oleh pria tadi" ujar nenek tua.

__ADS_1


"Jadi nenek melihatnya ?" tanya Ree dengan serius dan dijawab anggukan kepala oleh nenek.


"Wah... Nenek pasti berpihak denganku dong. Memang pria tadi itu kurang ajar! Bla bla bla...." seru Ree tak henti hentinya mengomel untuk meluarkan kekesalannya pada pria itu. Nenek yang mendengarnya hanya geleng kepala dan mencoba untuk mengentikan Ree.


"Tenanglah anak muda. Suatu saat nanti Nenek yakin kau akan bahagia" ucapnya dan Ree akhirnya menghetikan seruannya.


"Kalau begitu, Ree pulang dulu. Lagit juga sudah mau gelap" pamitnya dan meninggalkan tempat itu setelah mendapat anggukan dari sang Nenek.


Nenek itu tersenyum misterius memandang punggung wanita yang menarik perhatiannya. Ree yang merasa ada yang menatapnya, menoleh kebelakang dan melihat tak ada orang yang mentapnya. Bahkan Nenek dan barang dagangannya yang tadi dia lihat, malah tak ada di tempat. Ia sedikit melongo melihat keganjalan itu. Tapi sedetik kemudian, berfikir bahwa Nenek itu pasti langsung pergi setelah memberinya buku yang ditangannya. Sebetulnya masih ada yang mengganjal dalam pikirannya. Mengingat tak mungkin memindahkan barang dalam waktu yang ringkas. Tapi dia bodo amat dengan hal itu dan membuang jauh jauh pikiran anehnya yang menganggap Nenek itu hantu.


"Mana mungkin ada hantu di tempat yang banyak orang begini. Pasti hantunya kabur duluan lah. Apalagi kalau hantunya jomblo. Hahaha" celotehnya dan melanjutkan langkahnya.


**


Setelah berjalan kaki 15 menit, Ree akhirnya sampai di sebuah rumah kecil berlantai dua. Rumah berukuran 10×5 akan ditemui setelah melewati sebuah gang sempit sehingga tidak akan ada mobil mewah yang lewat di depan rumah Ree. Karena gang itu hanya bisa di lewati oleh motor. Rumah ini menjadi saksi hidup Ree bersama Ibunya selama 12 tahun setelah kejadian mengenaskan yang membuat kehidupannya berputar 180 derajat.


Kejadian mengenaskan itu adalah saat dia mendengar berita kematian Ayahnya yang menjadi tulang punggung keluarga dan menjadi kebanggaan keluarga. Hidup Ree dan Ibu Ree runtuh seketika mendengar berita itu. Keluarga yang dulunya sangat kaya, terpandang, dan dikenal semua orang di Kota X, sekarang sudah terbalik. Ree yang lahir menjadi seorang nona muda satu satunya, harus menghapus gelar itu saat usianya 13 tahun dan harus banting tulang membantu Ibunya mencari nafkah. Karena setelah kematian Ayahnya, entah bagaimana bisa, kekayaan yang dimilikinya juga menghilang. Dia juga tidak tau kenapa bisa begitu.


Saat dia mulai mengeluh pada Ibunya, Ibunya hanya mengatakan bahwa ini sudah takdir. Huh... dia tau ini takdir, tapi pasti ada pemicunya. Dan sampai sekarang, dia tak menemukan jawabannya.


***


Pov Ree


"Mommy.... Ree pulang" teriakku membuka pintu dan menguncinya. Aku memasuki rumah dengan memeluk buku yang diberikan oleh Nenek tua di Jembatan tadi. Aku melirik kesana kemari, untuk mencari sosok yang aku rindukan setelah pulang bekerja. Sampai langkah kakiku berhenti di dapur. Dimana disana sudah ada sosok yang kurindukan tengah berkutat dengan wajannya.


"Sudah pulang yah, putri cantik Mommy. Ayo duduk sayang. Mommy sudah masak enak banget hari ini" ucap Ibuku meninggalkan kompor yang sudah dimatikan dan memelukku dengan erat. Aku meletakkan buku yang kupegang di nakas dekatku berdiri. Setelah itu, aku membalas pelukan Ibuku yang terasa sangat hangat. Ibuku melepaskan pelukannya, dan aku melirik makanan yang ternyata benar terlihat enak.


"Wow... Mommy masak enak. Emang, Mommy nangkap ayam di mana ?" ucapku tengah berpikir setelah melihat menu hari ini adalah ayam. Karena dalam hidupku 12 tahun terakhir ini, ayam menjadi makanan paling mahal yang bisa kumakan. Kalaupun aku makan enak, itu pasti dikasi tetangga. Setiap hari, biasanya aku hanya makan nasi, tahu, tempe, dan ikan asin. Ini dilakukan untuk menghemat pengeluaran. Lebih tepatnya, aku yang makan sepeti itu. Karena ibuku tidak boleh makan makanan seperti itu.


"Tangkap di kolong jembatan. Dasar anak bodoh!" ucap Ibuku mengetuk keningku.


"Aduh... Mom!" keluhku mengusap keningku.

__ADS_1


"Tentu saja Mommy ambil uang tabungan, untuk beli ayam. Apalagi ini hari ulang tahun kamu. Jadi makanannya, harus sepeciiiiiaaallll" lanjut Ibuku dengan nada suara bahagia dengan senyum merekah.


Aku pun memeluk Ibuku karena terharu. Meskipun sedikit kesal karena uang tabungan itu seharusnya untuk biaya pengobatan Ibuku setelah uang tabungan sebelumnya habis untuk membeli rumah sewa ini.


Ibuku 7 tahun terakhir mengalami sakit jantung yang mengakibatkan ia tak boleh kelelahan. Hingga akhirnya, aku yang harus bekerja keras untuk biaya makan sehari hari dan biaya obat Ibu. Dulu Ibuku diminta untuk melakukan operasi. Tapi kami tidak punya uang yang banyak untuk biaya operasi itu. Dan jalan satu-satunya, ibu hanya berobat jalan. Dengan syarat tak boleh bokerja dan makan makanan yang bergisi yang tentunya atas saran dokter.


"Kecut" ucap Ibuku mengendus bajuku saat aku memeluknya.


"Mom!" rengekku memasang wajah sedih karena diledek seperti itu.


"Mandi dulu deh kamu. Bau acem gini. Gak jadi, Mommy suruh kamu dudul makan. Sana..." mendorong tubuhku masuk ke kamar mandi.


"Tadi disuruh duduk, sekarang mandi" gerutuku dengan suara pelan, hingga tak terdengar ditelinga Ibuku. Tapi aku hanya bisa menurut pasrah masuk ke kamar mandi satu satunya di rumah kami.


"Mommy tanggung jawab! Ree gak bawa handuk" teriakku di dalam kamar mandi.


"Keluar gak pakai handuk juga gak apa Ree. Toh di rumah cuma ada Mommy. Hehehe.... kecuali kamu udah nikah. Baru Mommy gak boleh liat. Hahahaha" canda Ibuku dengan tertawa ringan.


"Mommy....! kasihanilah anakmu" teriakku dengan suara manja supaya Ibuku sedikit tersentuh. Tapi aku malah mendengar gelak tawanya saat aku meneriakinya dengan suara manjaku. Sudah sering seperti ini, dan pada akhirnya kata "Menikah" akan keluar dari mulut Ibuku. Padahal kupikir Ibuku tak akan mengucapkan kata keramat itu lagi, mengingat hari ini adalah hari spesialku. Apalagi saat melihat sikap Ibuku yang menyambutku tadi dengan pelukan hangat dan senyuman merekahnya.


"Huh" aku hanya bisa menghela nafas saat membayangkan pertempuran meja makan nanti, saat membahas tentang pernikahan. Aku harus menyiapkan telingaku untuk mendengar ceramah tentang pernikahan nanti.


***


Halo semuanya.... Jangan lupa tinggalin jejaknya yah kak. Supaya diriku ini juga semangat nulisnya. Hehehe....


Ini Novel pertamaku dan mungkin akan slow update. Aku bakal liat respon kakak kakak juga pastinya. Kalau kakak suka, makanya jangan lupa sukung author. eh dukung! Hehehe.... Biar author semangat nulisnya.


Kalau ada typo atau sesuatu koment aja yah kak. Karena aku juga baru belajar dan beneran gak ngerti tentang penulisan yang benar. hihihi


Butuh saran juga dari reader semua.


lup lup buat readers terlup lah.♡♡♡

__ADS_1


♡papay♡ di episode 2


☆☆☆☆☆☆☆☆Hiyaaw☆☆☆☆☆☆☆☆


__ADS_2