
Kota X, 12 Desember 2000
Seorang pria tampan dengan tubuh kekarnya dan perut sixpacknya, tengah tertidur dengan nyamannya di atas ranjang. Memeluk sesuatu yang menurutnya sebuah guling. Ia merasa semakin nyaman dan terbuai dalam tidurnya.
"Ughhh" lenguhan seorang wanita terdengar jelas di telinga pria itu. Apalagi ia merasa tangan seseorang menyentuh pipinya.
Pria itu membuka mata kirinya untuk sekedar mengintip. Matanya mengerjap. Mulutnya menganga melihat wajah wanita di depannya yang ternyata tubuhnya yang sesungguhnya. "Hah dirinya ?" itu yang terfikir dalam otaknya.
"Siapa yang menaruh cermin di sini?" gumamnya pelan.
Pria tampan itu bertambah sadar saat merasakan kaki wanita didepannya memeluknya begitu erat.
Bahkan wanita itu memajukan wajahnya ke dada bidangnya. Dan bertambah sadarlah dia saat merasakan dirinya yang tidak memakai baju. Ia melihat tubuh kekarnya yang telanjang.
"Aaaaaaaaaa.... Tubuhku" teriaknya mendorong tubuh wanita di depannya. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada.
Benar, itu adalah Ree. Lebih tepatnya, jiwa Ree berpindah pada tubuh seorang pria tampan yang tidur bertelanjang dada.
Dan di sampingnya sekarang, ada tubuhnya yang sebenarnya dan entah masih bergerak atau sudah tidak bergerak lagi.
Ternyata teriakannya membangunkan tubuh Ree yang tidur di sampingnya. Tubuhnya itu langsung terduduk dan mengucek matanya.
"Siapa sih yang teriak pagi pagi gini" gerutu tubuh Ree setengah sadar.
"Siapa kau ?!" tanya Ree pada tubuhnya dengan suara bassnya. Ree menutupi tubuh kekarnya yang telanjang dengan selimut.
"Alan" jawabnya yang belum sadar sepenuhnya. Jiwa yang ada dalam tubuh Ree bernama Alan. Ia menguap dan melempar kembali tubuhnya ke belakang.
Alan menutup kembali matanya. Memeluk Ree yang menutup tubuh kekarnya dengan selimut.
"Hey! Siapa kau di dalam tubuhku ?!" teriak Ree memberontak dalam pelukan Alan. Hingga Alam terjatuh membuat Alan sadar dan menatap ke samping kanan.
"Awww... Ssshh..." keluh Alan merasakan bokongnya yang sakit. Dia pun berdecak kesal. 'Siapa yang berani melakukan ini padanya sepagi ini' pikiran Alan.
Alan bangkit dari jatuhnya dengan kesadaran penuh.
"Beraninya Kau-" bentak Alan terhenti saar melihat wajah orang yang mengganggunya pagi ini.
"Duarrr"
Alan begitu terkejut melihat tubuhnya sendiri yang mengganggunya. Mulutnya menganga tidak percaya. Tubuhnya membatu. Dia bahkan mengucek matanya beberapa kali dan menajamkan penglihatannya.
"Apa aku masih dimimpi? Kenapa aku melihat diriku sendiri. Bahkan menutupi tubuhnya dengan selimut. Seolah tubuhku yang di depanku telah dilecehkan" ucap Alan yang mengira semuanya mimpi. Bahkan dia belum sadar dengan tubuhnya sendiri.
Alan naik ke atas ranjang dan mencubit pipi tubuhnya itu. "Aww... sakit tau... Hei! Sadarlah! Ini bukan mimpi! Kau mengambil tubuhku" seru Ree dengan penekanan. Menatap Alan yang memasang wajah bingung.
Alan masih mencernah maksud ucapan Ree. Dan detik kemudian, dia melihat tangannya yang berubah menjadi kecil. Menyentuh pipinya yang tirus, bibirnya yang ranum, hingga dia menyentuh bagian dadanya yang ternyata kenyal.
__ADS_1
Alan menyeringat tidak jelas. Otaknya menjelajah entah kemana. Merem*s dadanya yang kenyal. Dan semua tingkahnya itu tak luput dari pandangan Ree.
"Hei kau! Jangan menyentuh tubuhku!" teriak Ree saat paham dengan situasi yang dialaminya. Dia yakin jiwanya dan jiwa pria yang dia masukin telah tertukar. Dengan kata lain, 'Ree menjadi Alan, dan Alan menjadi Ree'. Dan itu berarti, seorang pria tengah menyentuh tubunh Ree.
"Khmm... " Alan berdehem dan melepaskan tangannya dari dadanya. Ia membuang pikiran kotornya. Sungguh, pikirannya tidak tepat waktu disituasi yang sulit ini.
"Maaf. Aku hanya memastikan tubuh yang ku gunakan sekarang ini" ucap Alan begitu santai tanpa beban.
"Kenapa kau begitu santai ?! Kau memakai tubuhku dan Tubuhmu ini aku pakai. Dan kau masih bisa bicara santai ?" tanya Ree heran dengan pikiran pria di depannya.
"What ?!" teriak Alan memasang ekspresi kaget. "Apa kau ingin aku berteriak seperti itu ?" tanyannya.
"Tapi--" ucap Ree terpotong saat melihat Alan memposisikan tubuhnya untuk menatap Ree. Bahkan menarik selumut yang menutupi tubuh kekar Ree.
"Apa yang kau lakukan!" seru Ree menarik kembali selumutnya.
"Bangunlah. Buka selimut itu dari dadamu. Aku mau melihat dadaku. Apakah masih utuh atau tidak" perintah Alan menarik selimut. Ree mengidahkan perintah Alan.
"Aku sedang telanjang! Kau jangan lihat!" ucap Ree memberi tatapan tajam ke Alan.
"Pffft... Hahahaha" Alan merasa geli mendengar kata yang keluar dari suara bass itu. Ia gelak tawa Alan menggema. Bahkan tawanya sulit untuk dia hentikan. Dia memegang perutnya yang terasa sakit karena tertawa.
Alan terlihat geli melihat diri sendiri yang begitu takut dilecehkan hanya karena bertelanjang dada. Seperti seorang wanita.
"Memang jiwa wanita ini" batin Alan menatap Ree dengan masih terkekeh.
"Buukk... buukk... buuukkk" Ree memukul Alan tak henti sampai Alan memohon ampun.
"Oh My... " Alan mencoba menghentikan tawanya. Merapatkan bibirnya hingga terlihat tersenyum karena menahan tawa. Membuang bantal jauh jauh, agar dia tak kena pukul lagi.
"Baiklah... pertama-tama kutanya, Siapa namamu? Eh... Lebih tepatnya, nama pemilik tubuh yang jelek ini ?" tanya Alan setelah mengontrol tawanya. Mencoba berfikir dengan serius.
"Kau menghinaku ?!" teriak Ree penuh amarah.
Alan yang melihat amarah Ree segera turun dari ranjang dan berdiri. Ia merentangkan satu tangannya ke depan.
"Bukan begitu maksudku. Oh ayolah... Jaga emosimu. Aku sedikit ngeri melihat wajahku sendiri saat marah. Kau tau kenapa ? Karena aku akan tertawa lagi. Hahaha" ucap Alan dengan gelak tawanya.
"Tutup mulutmu itu!" tunjuk Ree pada Alan.
"Oh my god. Baiklah. Pertama-tama, ambil ini dan pakai. Aku tak mau melihat tubuhku sendiri seperti telah dilecehkan" Alan menahan tawanya dan melempar baju kaosnya yang ada dilantai kepada Ree. Ree segera memakainya dan mendudukkan tubuhnya dengan benar.
"kita selesaikan masalah ini dengan cepat. Maaf, Aku memang bersikap santai tadi. Tapi bukan berarti otakku ini tidak kacau karena memikirkan hal yang tak masuk akal ini terjadi pada kita" seru Alan sembari duduk di kursi sisi kiri.
"Aku juga tidak mengerti kenapa hal ini terjadi" Ree menundukkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca. Dan Alan menyadari itu.
"Tenanglah dulu. Kita selesaikan masalah ini dengan tenang. Kau pernah dengar pepatah mengatakan "ada udang dibalik bakwan" kan ?" tanya Alan dengan wajah serius. Memegang dagunya seolah berfikir.
__ADS_1
"Apa hubungannya pepatah itu dengan masalah kita. Tolong jangan bercanda disaat seperti ini" ucap Ree seraya mengangkat pandangannya ke Alan. Dia tampak kesal mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Alan.
"Sunggu ucapan tak bermutu!" gerutunya pelan.
"Hei! Jangan mengataiku! Ishh" desis Alan saat mendengar gerutuan Ree. Tapi dia mencoba menenangkan kekesalannya.
"Jadi, katakan siapa namamu" Alan menunjuk tubuhnya itu seraya menaikkan alis kirinya.
"Hufh... Ree" jawab Ree membuang nafas berat.
"Baiklah. Sekarang akan saya jelaskan pada anda Nona Ree. Pepatah yang tadi saya ucapkan itu berarti. Setiap sesuatu yang terjadi, pasti ada alasannya dan penyebabnya. Sama seperti masalah kita ini. Pasti ada pemicu yang membuat jiwa kita tertukar" jelas Alan dengan bahasa formal karena masih merasa kesal.
Jiwa di tubuhnya benar-benar membuat emosinya campur aduk. Kadang merasa kesal dan kadang merasa geli. Tapi yang terpenting, Alan tetap memasang wajah tenang.
Ree yang mendengarnya, nampak berfikir.
"Jadi maksudmu, kita harus mencari pemicunya ?" tanya Ree setelah merasa apa yang di ucapkan Alan benar.
"Ya" Alan menganggukkan kepalanya.
"Tapi bagaimana caranya ?" tanya Ree menatap Alan penuh harap.
"Aku juga tidak tau" jawab Alan menaikkan kedua bahunya.
"Jadi bagaimana ini ? Aku tidak mau di tubuh ini..." ucap Ree lirih dengan kepala yang mulai menunduk. Ternyata badan tampan nan kekar yang digunakan jiwa Ree mulai meneteskan air mata.
"Eh... eh.. jangan menangis. Oh my... kau pikir aku mau masuk ke tubuhmu !?" seru Alan saat melihat air mata menetes di wajah tubuhnya itu. Dia mengusap kasar wajahnya untuk menenangkan emosinya karena sikap jiwa tubuh yang di tempatinya.
Alan berniat menenangkan Ree. Tapi dia bingung bagaimana caranya. Terlebih lagi, dia harus menenangkan tubuhnya sendiri. Itu terlihat aneh baginya.
"Oh wajahku yang tampan mengeluarkan air mata karena jiwa tubuh ini" batin Alan seraya berfikir tentang masalah pertukaran jiwa yang di alaminya.
Beda halnya dengan Ree yang berangsur menghilangkan jejak tangisnya dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Aaaa... Bagaimana mungkin aku mengalami time travel seperti di dalam novel. Dan lebih parahnya, jiwaku masuk ke tubuh pria ini" teriak Ree dalam hati.
Setelah beberapa menit hanya ada keheningan, Ree tiba-tiba teringat sesuatu.
"Tunggu! Tahun berapa sekarang ?" tanya Ree menepuk bahu Alan yang masih sibuk berfikir.
"2000" jawab Alan singkat.
"What!?" teriak Ree membuat Alan menutup telinganya.
****
...Dibuang sayang!!!!! ...
__ADS_1