
"Sayang, Mas mau keluar." ucap Langit
"Akhhhh..." Lenguh keduanya bersamaan saat merasakan hentakan terakhir yang Langit lakukan. Langit langsung melepaskan penyatuannya dengan cepat dan mengeluarkan cairan kental putih di atas buah dada kekasihnya.
Langit tersenyum bahagia memandang wajah lelah berkeringat milik kekasihnya. Ia lalu membaringkan tubuhnya ke samping. Ia menghadapkan tubuhnya ke tubuh polos kekasihnya, kemudian mengelus dahi kekasihnya dan menciumnya dengan penuh perasaan. "Aku sangat mencintaimu, Bi."
Cup... Langit mengecup bibir merah mudah milik kekasihnya, kemudian menatap mata hazel yang selalu membuatnya bahagia. Ya, mereka berdua adalah Langit dan Bintang yang saat ini masih dalam keadaan polos tanpa pakaian.
Bintang yang mendengar ungkapan cinta kekasihnya itu, tersenyum seraya meletakkan tangan kanannya ke pipi pria yang sangat ia cintai. "Aku juga mencintaimu, Mas."
"Mas boleh minta lagi?" tanya Langit yang mendapat anggukan malu-malu dari sang kekasih. Tanpa menunggu lagi, Langit kembali melanjutkan permainannya hingga Bintang merasakan pelepasan berkali-kali.
Langit dan Bintang melakukan permainan panas mereka malam itu, hingga dini hari dan berakhir dengan Bintang yang tenggelam di dad* Langit.
******
Di villa atas bukit, sinar sang surya menerobos masuk dibalik kaca yang gordennya tidak tertutup. Sedangkan sepasang kekasih masih saling berpelukan di bawah selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Sudah jadi kebiasaan mereka saat malam tidak menutup jendela dengan gorden. Sebab mereka sangat menyukai pemandangan malam dengan langit berbintang yang selalu membuat mereka mengingat cinta mereka.
Tubuh Langit yang miring menghadap ke jendela, merasakan cahaya sang surya di matanya. Ia segera mengerjapkan dan mengucek matanya, kemudian perlahan membuka mata. Merasakan sesuatu di dada serta kakinya. Matanya menatap tangan lembut yang menyentuh dadanya serta kaki mungil tanpa kain melingkar di kakinya. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman saat mengingat permainan panas yang terjadi tadi malam.
Langit menatap wajah teduh kekasihnya yang selalu membuatnya merasa sangat bahagia. Ini ketiga kalinya mereka melakukan permainan panas di atas ranjang tanpa adanya ikatan suami istri. Perlahan tangan langit mengelus pipi mulus milik kekasihnya. Hingga membuat wanita itu mengeluarkan lenguhan lembut.
"Uwkh... Mas," ucap Bintang lembut dengan mata yang perlahan menatap mata hitam pekat milik Langit.
Cup... cup... cup... Langit mengecup mata, hidung serta bibir ranum kekasihnya sebelum berkata dengan senyum memikat, "Sudah bagun, sayang."
Bintang hanya mengangguk lalu tersenyum pada sang kekasih. Tapi perlahan senyumnya memudar saat merasakan kulitnya bersentuhan dengan kulit kekasihnya yang polos tanpa pakaian di bawah selimut. Perlahan ia mendudukkan tubuhnya bersandar di sandaran ranjang dengan menarik selimut menutupi tubuh polosnya. Matanya berkaca-kaca menunjukkan kesedihan di sana.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Langit seraya mendudukkan tubuhnya.
"Mas, kita—" suaranya tercekat untuk mengatakan apa yang sekarang dipikirannya. Ada rasa takut di dalam hatinya saat menyadari kegiatan panas semalam yang membuatnya terbuai.
"Hus... tidak apa, lagi pula Mas akan menikahi mu. Jadi tenang yah, sayang. Kita akan bertunangan secepatnya." Langit tersenyum sambil menarik Bintang kedalam pelukannya seraya mengelus surai kecoklatan milik kekasihnya itu. Ia bisa melihat ketakutan di wajah kekasihnya dan menurutnya, itu pasti karena kejadian yang mereka lakukan semalam.
"Tapi kita sudah melakukan ini tiga kali, Mas. Aku takut Papa tau tentang perbuatan kita. Pasti Papa kecewa banget sama aku," ucap Bintang lirih.
"Tenang sayang. Mas janji akan menikahi mu secepatnya."
"Janji?" tanya Bintang seraya melepas diri dari pelukan kekasihnya.
"Janji! Mas berjanji! Bahkan Mas berjanji demi Tuhan akan menikahi mu. Jadi jangan khawatir yah sayang. Mas akan secepatnya meminta kamu dari Papa. Lagipula Mas juga enggak bakal tahan setiap pisah sama kamu, sayang." Langit mengelus pucuk kepala Bintang sambil menarik sudut bibirnya bagai bulan sabit. "Kamu tidak lupa meminum obat yang Mas kasi 'kan?" tanya Langit setelah menjatuhkan tangannya ke pundak kekasihnya yang penuh dengan bercak merah yang ia beri kemarin.
"Tentu saja, Mas. Aku pasti minum obat itu. Lagi pula aku juga sangat takut kalau aku hamil sebelum nikah sama kamu," ucap Bintang yang merasa sedikit lega setelah mendengar janji Langit yang akan menikahinya secepatnya.
"Bagus. Kalau begitu, Mas mandi dulu. Cup..." Langit bangkit berdiri dengan tubuh polosnya setelah mencium dahi Bintang.
Bintang yang melihat itu menahan panas yang menjalar di pipinya karena membayangkan hal kotor. Sudah dipastikan pipinya sekarang memerah. Ia menarik selimut dengan erat di depan dadanya. Kemudian salah satu tangannya menarik tangan kekar Langit sebelum benar-benar pergi ke bathroom.
"Mas..."
Langit berbalik saat merasakan tangan mulus Menggenggam tangannya. Alis kanannya terangkat ketika mendengar panggilan kekasihnya. "Ada apa sayang? Mau mandi bersama? hem?" goda Langit yang membuat pipi Bintang kian memerah karena malu.
"Bu—bukan... hem..."
"Lalu apa, sayang? Kamu senang yah, melihat Mas telanjang begini? Sampai enggak rela biarin Mas mandi?" Langit menatap wajah cantik Bintang dan tangan Bintang yang masih memegang tangannya secara bergantian.
Bintang langsung melepaskan tangannya dari tangan Langit. "Mas, jangan godain terus dong. Aku mau nanya hal penting," ucap Bintang mengerucutkan bibirnya seraya menatap mata Langit.
__ADS_1
Langit yang mendengarnya segera mendudukkan kembali dirinya di ranjang. "Ya sudah, mau nanya apa sih Bintangku sayang?" Langit yang gemas dengan kekasihnya, mencuri kecupan lagi di bibir ranum itu.
"Mas enggak bakal ninggalin aku 'kan setelah melakukan ini?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Bintang. Jujur dia sangat ragu dengan Langit, meski Langit sudah mengucapkan janjinya berkali-kali.
"Kamu ragu sama mas?"
"Bukan begitu, Mas. Aku cuma—"
Langit mengelus pucuk kepala Bintang. "Jangan ragukan Mas yah. Mas tidak akan meninggalkanmu sampai kapanpun. Kamu tau kenapa?" Bintang hanya diam sambil menatap mata segelap malam milik Langit yang memancarkan ketenangan. "Karena Mas sangat mencintaimu. Kamu Bintangku dan hanya milikku. Kalau perlu, setelah kita pulang dari villa, Mas akan langsung kasi tau Mommy dan Daddy untuk melamar mu menjadi istriku. Kamu mau jadi istriku 'kan?"
"Tentu saja. Makasih, Mas. Aku juga mencintaimu," ucap Bintang yang langsung menghambur memeluk Langit tanpa menyadari selimutnya yang melorot.
"Sshh... sayang. Apakah kamu berniat mengulang kejadian semalam? Jangan menggodaku, sayang." Tangan nakal Langit bergerak mengelus mainan kesukaannya. Bintang yang menyadari itu, sudah tidak bisa menghindar lagi. Akhirnya mereka mengulang permainan panas di atas ranjang untuk yang kesekian kalinya. Hingga akhirnya mereka melangsungkan pertunangan dua bulan setelah kejadian ini. Dan akan menikah sebulan setelah pertunangan.
Flashback off
Langit terjaga dalam tidurnya. Menatap jendela yang tidak tertutup gorden. Malam ini langit gelap tanpa ada bintang yang menyinari. Langit hanya bisa mendengus kesal saat hati dan pikirannya membayangkan kekasihnya. Ia kembali mengingat moments dimana ia berjanji pada kekasihnya setelah melakukan permainan panas. Dan hal itu mampu membuat Langit tidak bisa tidur malam ini. Ia bergerak turun dari ranjangnya, kemudian menutup jendela dengan gorden.
"****! Kenapa aku tidak bisa melepaskan dia dari pikiranku. Oh, Tuhan." Langit mengusap kasar wajahnya. Lantas ia berjalan kembali ke ranjang dan menjatuhkan kembali tubuhnya ke ranjang dengan kasar.
"Ck, Aku mengingkari janjiku, Bi. Maaf, tapi aku sungguh tak bisa menjadikanmu sebagai ibu dari anak-anakku. Huh," gumam Langit lirih dengan wajah sendu yang perlahan berubah menjadi amarah.
.
.
.
*****
Hawa dingin malam menyergap kulit mulus wanita cantik yang sekarang tengah patah hati. Wanita yang seharusnya besok akan menjadi seorang pengantin. Ia adalah Bintang, yang saat ini sedang menatap langit dengan tatapan kosong. Sesekali ia menyapu pipinya yang basah.
Bintang tidak bisa menahan nyeri di dalam dadanya. Ingin rasanya ia menangis sekencang-kencangnya, lalu terjun dari balkon untuk melupakan semua rasa sakit yang ia alami. Tapi ia tidak bisa melakukan itu. Karena masih ada hati seorang Ayah yang harus ia jaga.
Bintang menunduk, melihat keadaan rumah dari atas balkon. Tangannya memegang tiang pembatas di depannya. Angin menerpa dress selutut berwarna putih tulang yang ia kenakan, merasakan hawa dingin yang kian menusuk kulit mulus seputih susu.
Bintang menutup matanya yang kian berair, merasakan dingin malam yang menemani kesedihannya. Air matanya menggenang di wajahnya. Kemudian ia berkata dengan pilu, "Kenapa kau lakukan ini padaku, Mas?"
Tangan Bintang bergerak menekan dadanya yang sakit. Ia sangat ingin menumpahkan perasaannya pada Langit. Saat ini ia begitu rapuh. Dengan mata yang tertutup, ia membayangkan Langit berada di dekatnya. Lalu ia berkata dengan diikuti isakan tangisnya, "Kenapa begitu sakit luka yang kau beri, Mas? Dadaku terasa sangat sakit. Aku rasanya ingin mati saja, Mas."
"Apa salahku, Mas? Kenapa kau membuatku terjun dalam api cinta, yang malah membakarku hanya dalam sekali waktu? Hiks... hiks..." suaranya tercekat karena isakan tangis. Ia menepuk-nepuk dadanya yang terasa begitu sakit.
"Aku tak kuat, Mas. Aku sangat mencintaimu," lanjutnya lirih.
Perlahan tangannya bergerak menghapus air matanya, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menangis pilu di bawah langit malam tanpa sinar bintang. Seolah langit malam juga merasakan perasaannya, menurunkan air hujan sedikit demi sedikit diselingi angin kencang.
TOK! TOK! TOK!
"Bi..., boleh Papa masuk?" izin Papa Zidan yang mengetuk pintu kamar putri.
Bintang yang mendengar ketukan itu, segera mengusap wajahnya kasar. Menghapus jejak tangis di wajahnya. Namun sayangnya, matanya tidak bisa menyembunyikan semua itu. Sebab sekarang, matanya sudah sembab karena menangis.
Bintang balik ke kamarnya, membiarkan pintu balkon tetap terbuka. Lalu berjalan membuka pintu kamarnya sebelum berkata pada Papa Zidan, "Masuk, Pa." Bintang tersenyum menyambut sang Ayah. Tapi Papa Zidan bisa melihat luka yang begitu dalam, yang coba putrinya sembunyikan darinya.
"Kenapa belum tidur, em?" tanya Papa Zidan menelisik kamar Bintang sekilas, lalu beralih kembali ke wajah cantik putrinya.
"Belum ngantuk, Pa. Nanti juga tidur, kalau sudah ngantuk." jawabnya seraya tersenyum untuk memberi tahu pada Papanya, jika ia baik-baik saja.
__ADS_1
"Papa cuma mau melihat keadaanmu, Nak. Jangan terlalu banyak menangisi baji*gan itu, Nak. Huh... tidurlah, Nak." pinta Papa Zidan dengan lembut seraya mengelus surai coklat putrinya.
"Iya, Pa." Hanya itu yang bisa terucap dari bibir Bintang. Ia tidak bisa menentang keinginan sang Ayah, meski hatinya menentang hal itu. Ia hanya bisa mengucapkan 'iya' agar Papanya itu tidak khawatir.
Papa Zidan tersenyum dan menarik Bintang dalam pelukannya. "Papa yakin, Bia anak yang kuat."
Bintang hanya menjawab dengan anggukan di dalam pelukan Papa Zidan. Ia mencoba menahan kesedihannya dari Papanya. Matanya sudah memanas hingga ia menggigit bibir bawahnya untuk menetralkan perasaannya saat ini.
Papa Zidan melepas pelukannya. Menepuk tangan putrinya lalu berkata, "Papa keluar dulu. Kalau ada apa-apa, panggil papa yah."
"Iya, Pa. Papa tidak perlu khawatir. Bintang baik-baik saja kok," jawabnya seraya menutup pintu kamarnya.
Setelah pintu kamarnya tertutup sempurna, Bintang menjatuhkan dirinya ke lantai. Menangis sembari meringkuk memegang lututnya.
Tentu saja ia tidak bisa, untuk tidak bersedih atas apa yang terjadi padanya. Apalagi mengingat kenangan indah yang sudah ia lalui bersama dengan kekasihnya itu. Bintang menangis sampai ia puas, hingga berhenti karena rasa lelah.
Bintang berjalan ke ranjangnya, menenggelamkan diri di bawah selimut dan memeluk bantalnya. Ia menghapus air matanya yang sesekali masih keluar, meski ia sudah lelah untuk menangis. Perlahan ingatan tentang janji Langit yang tidak akan meninggalkannya dan akan menikahinya muncul dalam pikirannya. Hingga membuatnya merasa tidak percaya dengan semua yang ia dengar hari ini dan kalaupun benar, ia merasa semua ini hanya kesalahpahaman antara ia dan Langit.
"Entah kenapa, aku merasa masih memiliki harapan untuk bersamamu, Mas. Besok aku akan datang untuk meminta penjelasan mu. Sekaligus memperbaiki semua ini. Aku sungguh tak sanggup kehilanganmu, Mas. Aku sangat mencintaimu," batin Bintang.
"Aku harap semuanya masih bisa diperbaiki, Mas. Aku tidak ingin hubungan kita putus, Mas. Hatiku hampa dan terasa sangat sakit, jika harus kehilanganmu. Aku sungguh takut kehilanganmu," lirih Bintang bicara pada dirinya sendiri, seolah berbicara di depan Langit. Bintang menutup matanya dengan tubuh bergetar dan perlahan larut dalam mimpi.
Sedangkan di seberang sana, laki-laki yang sedang ditangisi Bintang dan yang diajak Bintang berbicara, sedang menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang. Menatap laptop dengan sesekali memijat pelipisnya.
Langit mencoba mengalihkan semua perhatiannya pada pekerjaan di laptopnya. Sudah berkali-kali ia mencoba untuk tidur. Tapi hati dan pikirannya selalu melayang pada sosok gadis cantik yang sangat ia cintai—Bintang.
"Apakah keputusanku sudah benar yah?" tanyanya pada dirinya sendiri. Tapi sedetik kemudian, ia menggelengkan kepalanya menyingkirkan pertanyaan itu.
"Tidak. Ini sudah pilihan yang sangat tepat. Aku memang tidak cocok dengan wanita seperti itu," yakinnya pada dirinya sendiri.
"Tapi mungkin kah ia benar-benar sedih? Tentu saja tidak, dan kalaupun iya, maka ia pantas mendapatkannya." Pikiran Langit berkecamuk. Tapi keputusannya sudah bulat, meski sesekali ia mempertanyakan keputusannya.
TRING!
Bunyi notif pesan masuk di ponsel, membuat Langit segera mengalihkan pandangannya dari laptop ke ponselnya. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di bawah selimut. Lalu membaca pengirim pesannya sebelum berkata, "Dia lagi."
~Selamat atas pembatalan pernikahanmu, Kawan. Aku terkejut dan tidak menyangka akan mendengar kabar yang tidak mengenakkan ini. Padahal aku sudah menyiapkan baju ke pesta pernikahanmu. Hihihi~ Isi pesan itu yang tertera nama 'SEA' di kontak teleponnya.
~Ini sudah akhir keputusanku.~ Balas Langit dengan malas sambil menekan tombol send.
~Aku ingin bicara langsung. Tapi sepertinya aku sangat sibuk. Padahal aku sudah menyiapkan waktuku besok untuk ke pernikahanmu. Tapi kenapa malah jadi begini akhirnya.😥~ Pesan Sea kembali.
~Tidak perlu.~ Balas singkat Langit. Tapi Sea dengan cepat membalas dengan kata singkat Langit.
~Semoga kau tidak akan menyesal! 😈~
"Tidak akan," gumam Langit lirih tanpa membalas pesan Sea. Entah kenapa, perasaannya jadi tidak karuan setelah membaca pesan terakhir Sea. Ia tidak suka dengan pesan Sea yang membuatnya malah tidak mood lagi untuk bekerja.
Langit mematikan ponselnya, lalu melemparnya ke samping. Ia juga menutup laptop berlogo apel setengah gigit yang masih menyala. Kemudian meletakkannya di atas nakas.
Langit membaringkan tubuhnya terlentang sambil menatap ke langit-langit kamarnya. Menjadikan kedua tangannya sebagai penyangga kepalanya. Ia menutup matanya seraya menghembuskan nafas kasar saat sekelebat bayangan kekasihnya tersenyum melambai padanya.
Saat ini Langit harus memaksakan dirinya untuk segera tertidur. Sebab besok, pasti akan terjadi sesuatu yang ia sendiri tidak tau. Tapi firasatnya sangat tidak enak saat ini.
Besok adalah hari yang seharusnya menjadi hari terpenting bagi Langit dan juga Bintang. Karena besok, Langit seharusnya menggenggam tangan kekasihnya sebagai seorang istri. Sama seperti saat ia menggenggam tangan itu, waktu dulu menjadikannya kekasih. Tanggal dan bulan yang sama. Besok juga adalah hari anniversary Langit dan Bintang yang ketiga tahun dan ternyata juga akan menjadi hari berakhirnya hubungan mereka.
******
__ADS_1
Jangan lupa tinggalakan Like, Coment, dan juga Votenya. Tekan tombol ❤ biar gak ketinggalan updatenya.
Love you guys. Wait me again😘