Unusual Wedding Scenario

Unusual Wedding Scenario
Part 8


__ADS_3

Bintang yang melihat punggung dingin Langit, ingin mencoba untuk menggapai tangannya. Tapi matanya teralihkan saat melihat tangan kanan Langit terikat oleh perban dan terlihat darah kering di sana. Bintang tidak bisa untuk tidak cemas melihat hal itu. Meski hatinya saat ini sedang kecewa dengan pria yang memunggunginya ini.


"Tanganmu kenapa, Mas? Kenapa bisa terluka seperti ini?" tanya Bintang cemas seraya menarik tangan yang diperban itu dengan lembut.


Tapi tangannya malah di tepis oleh Langit dengan kasar hingga membuatnya sedikit mundur. "Pergilah!! Dan jangan pernah menunjukkan wajahmu padaku!!! Meskipun tanpa sengaja!!! Karena aku tidak sudi bertemu denganmu lagi!!!" seru Langit dengan suara dinginnya. Padahal dalam hatinya saat ini tidak karuan. Apalagi merasakan sentuhan lembut dan perhatian Bintang pada lukanya.


Sedangkan Bintang yang mendengar ucapan menusuk dari Langit, seketika menegang. Jantungnya berdegup kencang dengan rasa nyeri yang menyelusup masuk ke dadanya setelah mendengar seruan pria yabg dicintainya. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menekan rasa sakit di hatinya. "Apakah ini yang namanya patah hati karena putus cinta? Mengapa sesakit ini? Aku tidak kuat..." ucapnya dalam hati. Ia menutup matanya sebentar untuk menerima kenyataan yang ia dengar dan dilihat langsung dengan mata kepalanya sendiri.


Hubungannya sudah hancur, dan sekarang pria yang dicintainya tidak sudi bertemu dengannya lagi. Bahkan sudah memiliki wanita lain yang dicumbui. "Sebenci itukah Mas Langit padaku? Ia menghianati cintaku. Sakit sekali melihatnya bersikap begini, oh Tuhan," batinnya.


Kemudian Bintang menatap punggung Langit dengan tatapan kecewa bercampur perasaan hancur. Ia menarik nafas dalam agar menguatkan hatinya. Lantas berkata, "Aku tidak menyangka hubungan kita akan berakhir sepahit ini, Mas. Aku pikir—" ia menjeda ucapannya seraya tersenyum miris mengingat tujuannya datang menemui Langit. "Aku pikir kita bisa memperbaiki hubungan kita, Mas. Dan memperbaiki kesalahan yang mungkin aku perbuat. Tapi sepertinya... aku salah. Ck, aku berfikir... aku masih bisa menarik tanganmu kembali padaku. Tapi ternyata... sudah ada tangan lain yang merangkul tanganmu. Akh... pikiranku salah lagi, Mas." Bintang menarik senyum kecut di sudut bibirnya. Ia merasa sangat miris saat ini.


Bintang melihat Langit yang tidak bergerak seolah tak terganggu dengan ucapannya. Bahkan pria itu masih teguh membelakanginya dengan tangan wanita itu yang bergelayut manja di tangan kiri pria itu.


Bintang menengadahkan tatapannya. Ia tidak sanggup menatap ke depan lagi. Air matanya sudah merembes ke pipinya. Tapi ia ingin mengucapkan semua perasaannya pada Langit. Setidaknya untuk yang terakhir kalinya sebelum mereka benar-benar tidak bertemu lagi. Jadi ia mencoba menguatkan hatinya dan menarik nafas sedalam-dalamnya agar bisa berucap lagi.


"Aku datang ke sini untuk menanyakan alasanmu memutuskan hubungan kita, Mas. Dan berharap bisa memperbaiki semuanya. Tapi yang ku dapat, sungguh membuatku kecewa. Bahkan s—sakit, Mas. Rasanya sangat sakit, Mas...," ucap Bintang lirih menepuk-nepuk dadanya dan sesekali menyeka air matanya. Suaranya diselingi isakan tangis, tapi ia yakin kalau Langit masih mendengarnya karena jarak mereka hanya satu meter. Ia menghapus air matanya hingga dirasa mengering, kemudian menarik nafas panjang dan melanjutkan ucapannya.


"Pfyuh... Papa benar, seharusnya aku tidak ke sini. Karena yang aku dapat hanyalah sebuah penghianatan— Ck... kalau aku tau jatuh cinta sesakit ini, aku tidak akan pernah mengubah perasaanku dulu padamu. Tapi bodohnya, aku malah cinta mati padamu. Bahkan memberikan masa depanku padamu." tambahnya dengan diselingi tertawa masam mengingat kebodohannya yang menyerahkan mahkota masa depannya pada kekasihnya saat permainan panas di atas ranjang.


Bintang berbalik membelakangi punggung Langit, kemudian memegang handel pintu di dekatnya.

__ADS_1


"Aku akan pergi jauh darimu. Kau tenang saja, Mas. Aku tidak akan pernah muncul dan mengganggu hidupmu lagi. Dan ku harap... kau bahagia dengan keputusanmu itu," ucapnya untuk yang terakhir kalinya sebelum menarik pintu ruangan itu dan meninggalkan semua luka di sana.


Bintang berlari keluar dengan perasaan hancur di hatinya tanpa mempedulikan panggilan Harry yang terus mengejarnya.


"Bintang!" teriak Harry.


Bintang memasuki lift dan menekan tombol lantai bawah. Tapi sebelum pintu tertutup, Harry berhasil masuk.


"Bintang!" Harry menarik Bintang untuk tenggelam di dada bidangnya. Ia menahan wanita itu di sana. Ia tahu gadis itu sedang patah hati dan sangat bersedih. Dan ia mencoba untuk menenangkannya sambil mengelus punggung Bintang.


Bintang yang merasakan dada bidang yang memberikannya kehangatan saat hatinya sedang hancur, tanpa sadar terisak dalam pelukan itu. Tetapi kemudian ia sadar jika masih berada di area kantor saat mendengar suara lift berbunyi. Ia mengelap air matanya dan segera melepas pelukan itu sebelum berkata, "Maaf."


"Tidak perlu minta maaf, Bi. Kamu kayak bicara sama siapa saja," canda Harry pada gadis yang tengah patah hati itu. Tapi Bintang tidak menghiraukannya.


"Biar aku antar," tawar Harry seraya menggenggam tangan Bintang. Tapi seperti biasa, Bintang selalu menepis tangan itu. Sempat ia merasa bahagia saat tadi Bintang menangis di pelukannya, meski hanya sebentar. Tapi sekarang tangannya masih saja ditepis oleh wanita itu.


"Tidak perlu," tolaknya singkat seraya langsung melangkah dan berlari keluar dari lift itu. Bintang sungguh sudah tak sanggup berada di sana lagi. Sebab itu hanya akan mengingatkannya tentang kejadian di ruangan mantan kekasihnya—Langit.


Sedangkan Harry menatap kepergian Bintang dengan tersenyum tipis. Lalu ia menatap tajam para karyawan yang menatapnya. "Kembali bekerja!" perintahnya yang membuat mereka segera menunduk.


******

__ADS_1


Di ruangan CEO sudah sangat berantakan dan sangat kotor. Bekal makanan yang tadi tumpah masih berhamburan di lantai dan belum dibersihkan. Bahkan banyak barang-barang yang seharusnya di meja, malah sekarang berada dilantai.


Setelah kepergian Bintang, Langit tidak bisa mengontrol emosinya hingga menghancurkan barang-barang di atas meja. Perasaannya sungguh kacau setelah kejadian tadi. Bahkan tangan yang tertutupi perban bertambah parah setelah ia memukul tembok sesekali.


Sekarang kesunyian mengisi ruangan yang berantakan itu, bahkan wanita yang tadi bergelayut manja di tangan Langit sudah pergi entah kemana.


Langit duduk di sofa ruangannya sambil memijit pelipisnya setelah menguasai emosinya yang tadi meledak-ledak. Tapi sekarang pikiran Langit diserang oleh bayang-bayang wanita yang telah ia campakkan begitu saja.


Perlahan mata Langit melirik kesuluruh arah. Kemudian menatap bekal makanan yang berhamburan di lantai dengan pandangan sulit diartikan.


"Aku juga tidak menyangka akan sesakit ini. Apalagi saat melihatmu begitu hancur karena ku. Tapi aku juga tidak bisa lagi mempertahankan hubungan ini. Karena sekarang... aku sangat membencimu," batinnya membayangkan wajah kekasihnya yang menangis dengan tangan terkepal kuat tanpa mempedulikan rasa sakit di tangannya yang diperban.


.


.


.


.


******

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, COMENT, VOTE DAN FAVORITIN yah my lovely readers muach😘 Karena semuanya gratis ye kan😍


Wait me again😘


__ADS_2