
Di sebuah ruang tertutup di salah satu clubs' malam, seorang laki-laki dan wanita sedang tertawa bahagia dengan berhadap-hadapan sambil mengacungkan gelas wine satu sama lain.
"Bagaimana?" tanya wanita itu sambil menaikkan turunkan kedua alisnya.
"Tinggal satu langkah lagi," jawab laki-laki itu dengan seringai di wajahnya.
"Bukankah sudah berakhir? Dan sekarang kita sedang merayakannya 'kan?" tanya wanita itu bingung.
"Masih ada yang harus dilakukan lagi. Aku takut, semua rencana kita berantakan hanya karena perasaan mereka yang terlalu kuat."
"Ck..., terlalu kuat katamu? Bahkan sekali tendang saja, mereka sudah jatuh. Dari mananya yang kuat?" sahut wanita itu memicingkan matanya.
"Hahaha... Kau tidak tau saja ly, mereka bisa saja kembali bersatu. Jika mereka jujur dengan perasaan mereka satu sama lain. Dan sudah bisa dipastikan semua yang kita lakukan gagal total jika itu terjadi," ucap laki-laki itu tertawa seraya menyalakan puntung rokoknya. Ia menghembuskan asap dari mulutnya sebelum berkata kembali, "Aku masih punya satu rencana yang harus dilakukan, agar mereka benar-benar berpisah."
"Apa itu?" tanya wanita itu penasaran. Tapi yang ia dapat hanya seringai dari laki-laki di depannya sebagai jawaban.
Wanita itu tak ambil pusing akan hal itu. Karena baginya sekarang adalah merayakan rencana pertama mereka yang berhasil. Ia kemudian meneguk kembali minumannya hingga ia kehilangan kesadaran bersama dengan laki-laki di sampingnya.
Berbeda dengan kedua pasangan yang sedang di mabuk wine, Bunga sekarang masih menatap ponselnya yang terus menghubungi Bintang. Ia menggunakan ponsel yang baru ia beli, sebab ponselnya yang lama telah rusak. Ponselnya rusak saat ia membantingnya karena terkejut mendengar guci yang dibanting Paman Zidan.
"Fyuhh" Bunga menghembuskan nafas lelah. Ingin rasanya ia mendatangi langsung rumah Bintang dan menanyakan keadaannya. Tapi ia sungguh masih merasa takut dengan amarah Paman Zidan. 'Bisa-bisa ia dibanting guci juga jika kesana' begitulah pemikiran Bunga. Kemudian Bunga berdigik ngeri membayangkan hal itu.
Sudah lama Bunga menghubungi Bintang, tapi ponselnya tak kunjung menunjukkan tanda-tanda balasan sahabatnya itu. Ia bahkan melupakan makan malamnya karena khawatir akan keadaan Bintang. Tapi yang ia khawatirkan malah mematikan ponselnya.
Bunga akhirnya memilih tidur dan memikirkan untuk menemui Bintang besok pagi. Sekaligus mencari tau kebenaran dibalik pembatalan pernikahan yang dilakukan kakaknya— Langit.
Malam itu semua orang tertidur dengan perasaan berbeda-beda. Ada yang merasa bahagia, sakit hati, khawatir, marah, dan kasihan. Tapi yang pasti semua kerumitan ini akan terbongkar pada waktunya.
.
.
.
******
Cahaya sang surya sudah menyelusup perlahan dari balik pintu balkon yang tidak tertutupi gorden. Bintang mengerjapkan matanya saat merasa silau menyentuh mata. Lalu perlahan mendudukkan dirinya dengan masih memejam dan sesekali mengerjap.
"Pagi putri Papa yang cantik," sapa suara tegas yang Bintang tidak sadari keberadaannya. Itu Papa Zidan yang sekarang sedang berdiri memegang gorden balkon yang baru saja dibuka.
Bintang yang mendengar suara itu, mengucek kedua matanya. Kemudian meneliti setelan Papanya sambil memicingkan mata. "Jam berapa, Pa? Tumben Papa masih di sini? Enggak kerja?" tanya Bintang heran.
"Papa sedang tidak ada pekerjaan. Sekarang sudah jam 9, kamu tidurnya pulas sekali. Tapi syukurlah," jawab Papa Zidan seraya berjalan ke sisi ranjang.
"Terus Papa juga yang tutup pintu balkon? Bia lupa tutup," ucap Bintang saat mengingat kejadian tadi malam. Ia hanya menangis sampai lupa menutup pintu balkon.
__ADS_1
"Menurutmu siapa lagi? Kamu tau jelas, kalau Papa setiap malam pasti selalu mengecek keadaanmu. Baik dulu maupun sekarang. Dan Papa enggak nyangka ternyata kamu lupa menutup pintu balkon. Bagaimana kalau ada orang jahat yang masuk dari sana?" tutur Papa Zidan.
"Maaf, Pa. Bia lupa banget," ucap Bintang sambil menundukkan kepalanya.
"Enggak apa, Papa paham keadaan kamu. Pasti kamu lupa karena masih terbawa suasana sedih setelah mendengar pembatalan pernikahanmu 'kan?"
"Itu—"
"Papa tau, kamu sakit hati, Nak. Tapi kamu juga harus menjalani hidup baru lagi," pinta Papa Zidan dengan tatapan sayu.
"Iya, Pa." Bintang menatap Papanya dengan wajah sendu.
"Ya sudah, kalau begitu kamu mandi sana. Sudah siang masih bau asem, ihhh..." goda Papi Zidan sambil menutup hidungnya sekaligus mengalihkan perhatian anaknya.
"Ihh, Papa kok gitu. Iya, iya, Bia mandi." Bintang mengerucutkan bibirnya mendengar godaan Papanya.
"Bagus, gitu dong. Ya sudah, Papa keluar. Kalau sudah mandi, langsung turun ke bawah untuk sarapan yah," pinta Papa Zidan seraya mengusap rambut Bintang hingga berantakan sebelum melangkah keluar dari kamar.
"Ih..., Papa." Terdengar suara teriakan Bintang di telinga pria paruh baya itu yang malah membuatnya menarik sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman.
Papa Zidan merasa sedikit lega melihat keadaan putrinya baik-baik saja pagi ini. Meskipun ia bisa melihat mata putrinya membengkak karena terlalu banyak menangis. Sekarang yang ada dipikirannya, bagaimana caranya agar putrinya bahagia kembali setelah kejadian ini. Ia berjalan ke ruang keluarga dan duduk di sofa. Lalu menikmati kopi hangat dan membaca koran yang sudah dibuat pelayan untuknya.
Sedangkan Bintang sekarang sedang melamun di dalam bathtub yang penuh dengan busa dan wangi lavender yang menyeruak hingga ke panca indra penciuman.
"Aku sudah sangat mencintai Mas Langit. Jika aku tidak bersikap dewasa dan hanya membiarkan masalah berlarut-larut, maka aku akan benar-benar kehilangannya. Setidaknya aku harus mengetahui alasannya." Bintang bermonolog sambil memainkan busa.
Kemudian Bintang menatap jam dinding yang ia sengaja taruh di dalam bathroom untuk mengingatkannya akan waktu. Ia memang orang yang sangat disiplin untuk masalah waktu. Dan itu salah satu yang membuat Langit sangat nyaman bersama Bintang.
"Sudah jam 10, aku harus segera sarapan. Papa pasti sudah menungguku," ucapnya seraya berdiri, ia berjalan keluar dari bathtup. Kemudian membersikan tubuhnya di bawah shower dan setelahnya ia mengambil handuk untuk memakainya.
Bintang keluar dari bathroom dan berjalan ke lemari pakaiannya. Mengenakan dress merah selutut yang nampak elegan, lalu menghias wajahnya dengan bedak dan sedikit lipstik.
Bintang menatap pantulan dirinya di cermin. Lalu berucap dengan penuh keyakinan dan harapan, "Aku akan menemui Mas Langit saat jam makan siang saja. Mas Langit pasti makan siang di kantor. Sekalian saja aku membawakannya bekal, agar ia tak kelaparan. Hingga mau berbicara baik-baik denganku."
Bintang berjalan keluar dari kamarnya dan segera turun ke lantai bawah untuk bertemu Papi Zidan yang ternyata sudah duduk di meja makan menunggunya.
"Pa, maaf. Bia lama banget," ujar Bintang seraya mendudukkan tubuhnya ke kursi.
"Tidak apa-apa. Ayo kita mulai sarapannya," ajak Papa Zidan.
"Iya, Pa."
Mereka berdua makan dengan nikmat dan tenang. Hingga suara Papa Zidan memecahkan suasana.
"Apa rencana mu sekarang, Nak? Papa lihat, kamu sangat rapi. Mau kemana?" tanya Papa Zidan seraya mengambil gelasnya yang sudah berisi air minum.
__ADS_1
"Bia mau ketemu sama Mas Langit—"
Uhuk..., uhuk.... Papi Zidan terbatuk-batuk karena tersedak air minumnya setelah mendengar jawaban putrinya itu. Lalu ia segera mengambil serbet untuk mengelap mulutnya. Ia menatap wajah putrinya tidak percaya.
Sedangkan Bintang langsung bergerak untuk mengelus pundak Papanya. Setelah merasa Papa Zidan baikan, ia kembali duduk di kursinya dan melihat wajah Papa Zidan yang juga sedang menatapnya.
"Kenapa kamu mau ketemu bajingan itu sih? Ck, Dia sudah menyakiti hatimu. Papa tidak mau kamu tersakiti lagi olehnya," tegas Papa Zidan sambil berdecak kesal mendengar kemauan putrinya.
"Aku hanya ingin menanyakan alasannya membatalkan pernikahan kami, Pa." Bintang menundukkan wajahnya menatap dan mengaduk-aduk nasi goreng di piringnya yang belum habis.
"Huh, Papa sudah menanyakan alasannya. Tapi dia tetap bungkam."
"Tapi ini 'kan beda, Pa. Sekarang Bia yang mau ke sana. Bertemu dengan dia dan bertanya langsung alasannya. Mas Langit pasti jawab Bia, karena Bia 'kan ke—"
"Ke apa? Kamu mau bilang kamu kekasihnya? Mantan kekasih yang benar!" potong Papa Zidan yang membuat Bintang kembali mendongak menatap Papanya dengan memasang wajah cemberut. "Dia sudah memutuskan pernikahan kalian tanpa alasan. Bahkan jika ada alasan yang jelas pun, semuanya akan tetap sama. Apa kamu pikir? Setelah kamu bertemu dengan dia, semuanya akan berubah?" tambah Papa Zidan.
"Mungkin," lirih Bintang tidak yakin.
"Tidak akan berubah, Nak. Dan kalaupun dia berubah pikiran, kamu pikir Papa akan merestui hubungan kalian lagi? Jangan harap!" Papa Zidan mendengus kesal dengan sifat keras kepala yang dimiliki anaknya. Bahkan Papa Zidan merasa melihat istrinya saat melihat putrinya itu. Bintang begitu mewarisi sifat istrinya yang memiliki hati yang lemah lembut dan keras kepala.
"Papa tidak boleh bicara seperti itu. Papa 'kan tau, Bia sangat mencintai Mas Langit. Dan Bia sangat berharap masih memiliki kesempatan memperbaiki hubungan kami," tutur Bintang menatap mata hazel milik Papa Zidan sambil mengerucutkan bibirnya.
"Belajarlah melupakannya, Nak. Itu lebih baik."
"Tapi Bia tidak bisa melupakannya, Pa. Hati Bia memang masih sakit saat tau pembatalan pernikahan ini. Tapi Bia tidak bisa membenci Mas Langit. Bia malah merasa sakit karena takut kehilangan Mas Langit, Pa. Bia—" Bintang menjeda ucapannya dengan mata yang sudah menggenang. Lalu berucap kembali dengan nada lemah, "Bia tidak ingin berpisah darinya, Pa."
Papa Zidan yang melihat putrinya itu menangis, perlahan berdiri dari kursinya dan mendekat pada putrinya seraya membenamkan tubuh putrinya ke dalam pelukannya. Memberi kekuatan melalui dekapan hangat seorang Ayah. Ia mengelus pundak Bintang sebelum berkata, "Baiklah.... Pergilah bertemu dengannya, Nak. Namun jika jawabannya menyakitimu, maka tutup rapat hatimu untuk dia."
"Bia tidak sanggup, Pa. Bintang sungguh tidak sanggup untuk melupakan Mas Langit."
"Kamu pasti bisa, Nak. Semuanya hanya butuh waktu."
Bintang hanya diam menyesap pelukan hangat Papa Zidan. Sekarang yang ia pikirkan hanya, 'apakah ia sanggup mendengar jawaban Langit nantinya?'. Ia hanya berharap semuanya masih bisa diperbaiki.
.
.
.
******
Jangan lupa LIKE, COMENT, VOTE DAN FAVORITIN yah my lovely readers muach😘 Karena semuanya gratis ye kan😍
Wait me again😘
__ADS_1