Unusual Wedding Scenario

Unusual Wedding Scenario
Up 3


__ADS_3

"Huhh... hanya mimpi" Ree terbangun dari tidurnya karena mimpi. Ia melihat jam di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 3 dini hari.


Ree segera turun dari ranjang. Mengikat rambutnya asal. Dia berlari turun ke lantai bawah. Melangkah menuju dapur. Mengambil gelas dan menuangkan air yang ada di ceret ke gelas untuk dia minum.


"Kenapa aku mimpi aneh seperti itu. Pasti karena terlalu banyak membaca novel, membuat imajinasiku sampai membawaku kemimpi aneh itu. Dan mungkin juga, karena aku terlalu memikirkan perkataan Mommy semalam" gumamnya setelah meminum habis air penuh di gelasnya.


Ree mendudukkan dirinya di kursi dan menopang dagunya. "Akh... Mimpi menikah dengan seorang wanita ? Aku masih normal, Tuhan. Huh!" Memijit pelipisnya saat mengingat mimpi yang membangunkannya.


Yah... Ree bermimpi berada di atas altar pernikahan. Orang mengatakan, dia yang akan menikah. Hal itu membuat Ree penasaran dengan pria yang akan dia nikahi. Tapi bukannya pria yang datang, malah seorang wanita yang tidak bisa ia ingat wajahnya datang padanya. Menggandeng tanganya dan wanita itu berkata pada Ree, "Aku siap menikah denganmu". Hal itu membuat Ree tertegun.


"Aku akan menikah denganmu. Ayo kita mengucap janji sucinya, sayang" ucap wanita itu memeluk lengan Ree. Hingga akhirnya Ree tersadar dan menutup telinganya.


"Tidakkkk.....!" teriak Ree dengan keras dan berlari meninggalkan altar. Dia melihat dibelakangnya, wanita itu mengejarnya membuat dia semakin gusar. Tak hentinya ia berteriK di dalam mimpi. Hingga akhirnya ia terbangun dari tidurnya dan melihat kasurnya yang berantakan. Guling dan seprei sudah ada di lantai.


Setelah merasa tenang, Ree bangkit dari duduknya. Melangkah ke arah tangga. Berniat kembali tidur. Lagi pula masih jam 3.


Tapi langkah Ree terhenti di dekat nakas. Dia melihat buku berwarna biru dongker di atas nakas itu. Mengambil buku itu. Tapi kemudian dia letakkan lagi. Karena dia mendengar ada suara terjatuh dari dalam kamar Ibunya.


Ree berlari ke kamar Ibunya. Membuka pintu kamar yang memang tak pernah terkunci.


"Mommy!" teriaknya saat melihat Ibunya terbaring di lantai. Ree berlari menghampiri Ibunya.


"Mom. Kenapa bisa begini ? Mommy!" teriaknya saat tak mendapat jawaban dari Ibunya. Ia pun segera mengambil ponselnya yang ada di kamarnya.


Ree memegang ponselnya dengan gemetar. Mengetikkan angka untuk menelpon pihak ambulance. Setelah menelpon ambulance, dia pun turun ke bawah untuk ke kamar Ibunya.


Ree memeluk Ibunya dan menangis memanggil Ibunya.


Julie tidak sadarkan diri dilantai. Tapi sesaat, Ree merasakan pergerakan dari Julie. Ree pun segera menangkup tangannya ke pipi sang Ibu.


"Hiks.. hiks... hiks.. Mommy" Ree mengusap air matanya yang tak terbendung.


"Maaf...kan... Mommy, Sayang. Selama ini, Mom hanya men...jadi bebanmu... Mommy ingin put...ri...Mom, bahagia" ucap Julie terbata bata.


"Mommy bukan beban Ree. Ree bahagia ada Mommy di samping Ree... hiks...hiks"

__ADS_1


Julie menarik nafas panjang dan melanjutkan ucapannya, "Mommy pengen banget li...at kamu...nikah, tapi seper...tinya tidak bi...sa" Julie mengusap pipi putrinya yang tengah menangis dan memeluknya.


"Mommy bisa! Pasti bisa! Makanya, Mommy harus sembuh. Mommy jangan tinggalin Ree. Ree bakal nikah. Ree janji! Ree, Hiks hiks hiks" Julie yang mendengar ucapan Ree tersenyum.


"Ja...ngan menangis. Terus...lah hidup dan bahagia. Ree adalah put...ri Mommy yang ku...." ucapan Julie terhenti. Ia menghembuskan nafas dan perlahan matanya tertutup untuk selamanya. Detak jantungnya sudah berhenti. Ree merasakan itu dalam pelukannya. Hatinya sungguh sakit, ditinggal oleh satu satunya orang yang sangat dia sayangi. Sekarang dia sendiri. Dan itu membuat air matanya tak berhenti.


Suara sirine ambulance terdengar. Orang di luar rumah Ree pun gaduh. Ree menangis sejadi-jadinya.


Seseorang datang menangkat tubuh Ibunya. Ree hanya diam dalam tangisnya. Tak lama kemudian, dia pingsan.


"Kehilangan lagi" batinnya.


***


POV Ree


Mataku terbuka melihat cahaya lampu yang menyilaukan. Terasa tangan seseorang mengusap rambutku. Aku tak tau itu siapa.


Samar-samar, ku lihat wajah tua orang itu. Tapi wajahnya tak terlihat jelas. Aku mengerjapkan mataku. Saat pandanganku mulai jelas, usapan tangan dikepalaku juga menghilang bersama dengan bayangan orang tua itu.


Saat turun, aku melirik ke sebelah kanan rumahku. Disana ada pintu kamar seseorang yang sudah pergi meninggalkanku. Kamar yang sudah tak terisi. Tak terasa sudah 7 hari, Ibuku pergi meninggalkanku untuk selamanya. Dan selama 7 hari itu juga, setiap pagi aku merasa usapan tangan seseorang yang selalu menghilang saat penglihatanku sudah jelas.


Kehilangan sosok Ibu yang selalu menyayangiku setelah kepergian Ayahku sungguh mengguncangkan hatiku. Tapi bagaimanapun, aku harus ikhlas menerimanya. Karena semuanya sudah takdir yang tak bisa ku ubah.


Aku melangkahkan kakiku ke sebelah kiri rumahku. Di lantai bawah hanya ada satu kamar dan terdapat di bagian sebelah kanan rumahku. Sedangkan disebelah kiri ada dapur dan kamar mandi.


Aku membuat sarapanku terlebih dahulu. Setelah itu aku mengambil jubah mandi yang sudah ku gantung di dekat kamar mandi.


Aku berjalan ke kamar mandi dengan malas. Semenjak Ibuku meninggal, aku merasa tak punya semangat hidup lagi. Tapi aku selalu mengingat pesan Ibuku. "Teruslah hidup dan bahagia". Dan itu membuatku tak jadi mengakhiri hidupku.


"Ishhh... Apa Mommy benar benar mengira aku akan bunuh diri setelah kepergiannya. Bagaimana mungkin Mommy mengucapkan kata kata itu" ucapku dan perlahan air mataku turun bersama dengan turunnya air shower membasahi wajahku.


Setelah selesai mandi, aku bergegas ke kamarku. Mengganti jubah mandiku dengan baju kaos dan celana jins. Tak lupa aku memakai jam tangan dan switer.


Kalau kalian berfikir tentang pekerjaan apa yang menggunakan pakaian sesantai ini, kalian akan tau nanti.

__ADS_1


Aku berjalan ke meja rias. Memakai bedak tipis di wajahku yang berkulit sawo matang. Aku mengambili lipstik berwarnah merah terang dan memakainya sedikit di bibir tipisku. Tapi diakhir, kuhapus lipstiknya agar tidak terlihat mencolok.Rambutku yang sudah kering, kusisir dan kuikat tinggi.


Setelah melihat penampilanku, aku melihat jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 06:30. Aku pun segera menyambar tasku dan keluar dari kamar. Saat menuruni tangga, mataku melirik ke kanan dan melihat kamar Ibuku. Biasanya Ibuku akan mencium keningku dan mengucapkan kata semangat untukku sebelum pergi bekerja. Tapi sekarang, semuanya sedah berubah.


"Aku merindukanmu, Mom" gumamku dan melanjutkan langkahku. Mengambil sepatu kets yang diletakkan di belakang pintu keluar. Aku terdiam saat melihat sepatu yang kupakai. Bayangan Ibuku mengambilkan sepatu saat aku akan berangkat kerja, masih teringat jelas dalam ingatanku. Hal ini selalu terjadi saat aku akan pergi kerja.


"Apa aku bisa bahagia, Mom ?" batinku dan segera keluar rumah. Ku kunci pintu rumahku dan segera berlari ke halte bus.


Ku lihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 7.


"Hufhh" aku hanya bisa menghela nafas lega saat sampai di halte tepat waktu. Karena masih ada bus yang berhenti.


Aku segera menaiki bus itu dan duduk didekat jendela. Tak lama menunggu, bus berjalan. Dan Saat tempat tujuanku sudah di depan mata, aku pun memberhentikan bus. Membayar 15 ribu pada kernetnya dan segera turun.


Aku masuk ke rumah makan sederhana yang ada dipinggir jalan. Dari luar sudah terlihat banyak mobil truk terparkir yang menandakan sudah banyak pelanggan.


Aku memasuki rumah makan itu dengan senyum seperti biasanya.


"Pagi Ree" sapa salah satu pelayan bernama Nandini.


"Pagi juga din" balasku padanya dan berjalan menuju dapur.


Kulihat sudah banyak piring menumpuk di sana. Dan ini adalah tugasku untuk membersihkan semuanya.


"Hufhh... semangat Ree" ucapku untuk menyemangati diriku sendiri. Ini sudah jadi kebiasaanku saat ingin memulai pekerjaanku.


Aku bekerja sebagai tukang bersih bersih di rumah makan ini. Cleaning servis rumah makan sederhana mungkin lebih keren untuk mendiskripsikan pekerjaanku.


Aku sudah 5 tahun bekerja disini. Meskipun sudah lama bekerja disini, jabatanku tidak berubah. "Setidaknya naik satu tingkat menjadi pelayan" pikirku. Aku pernah berniat mencari pekerjaan lain. Tapi tidak ada pekerjaan yang mau menerimaku, yang hanya memiliki ijaza sekolah dasar.


Dulu aku sempat pindah-pindah tempat kerja. Tapi pekerjaan yang kudapat hanya sebagai penggantar koran dan tukang cuci piring. Tidak ada perkembangan untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi.


Sebenarnya dulu, aku sempat masuk sekolah menengah pertama. Tapi saat aku naik kelas 3 SMP, keluargaku malah hancur. Dan akibatnya, aku harus keluar dari sekolah dan hanya memiliki ijazah SD.


Gajiku setiap bulan bekerja di rumah makan ini adalah 1,2 juta, dengan bekerja dari jam 7:30 sampai jam 5 sore. Dan ada tunjangan makannya.

__ADS_1


Sungguh sangat melelahkan bekerja seperti ini. Apalagi dulu aku adalah seorang nona muda keluarga Oswald yang terlupakan.


__ADS_2