
"Nona, apa kau yakin ingin datang ke sini?" tanya sopir taksi, melirik seorang perempuan yang sedang terduduk di kursi belakang melalui cermin kecil di depannya.
"Aku yakin," balas perempuan bernama Yamanaka Hina. Dia mengalihkan pandangan dari koran yang sedari tadi diamatinya untuk memastikan sesuatu.
"Apa masih jauh?"
Sang sopir mengarahkan pandangan ke depan. "Ah, sepertinya sudah sampai. Di depan sana ada sebuah gerbang."
Saat dilihat, benar ada sebuah gerbang besar yang membuat mereka susah payah membukanya sebelum kembali melaju menggunakan taksi.
Hina melihat-lihat sekitar, di mana beberapa pohon di sisi jalan menjulang tinggi seakan tak memberi cahaya. Namun jalanan suram itu berhasil dilaluinya saat mendekati sebuah air mancur di depan rumah bak kastil.
"Aku tidak tahu ada rumah sebesar ini di sini," kata sang sopir ikut melihat penuh decak kagum.
"Nona, kau mau kutunggu? Aku bisa mengantarmu kembali pulang," tawarnya.
"Tidak perlu, Pak. Takutnya aku membuatmu menunggu lama. Terimakasih sudah mengantarku jauh-jauh kemari." Hina keluar dari taksi setelah membayar.
Dia masih berdiri di tempat sambil memandangi rumah kastil itu. Matanya tak sengaja menangkap sebuah bayangan, merasa seseorang tengah mengamatinya dari jendela yang ada di lantai atas.
Bel pun ditekan. Hina berdiri di depan pintu sambil mengatur penampilan. Ia berdeham mengatur tenggorokan, berlatih memperkenalkan diri sendiri.
Ceklek!
Pintu terbuka. Hina mengulas senyum, tapi tak ada siapa pun yang menyambutnya. Lantas siapa yang membukakan pintu?
"Permisi?" Hina menyembulkan sedikit kepala ke pintu untuk memastikan keadaan di dalam. "Apa ada orang?"
Tak ada yang menyahut sedikit pun. Saat masuk, hanya keheningan yang menyambut. Manik mata Hina beredar penuh kekaguman dengan interior klasik yang ada di sana.
"Siapa?"
Suara itu membuat Hina menoleh ke sana kemari untuk mencari sumbernya. Dia tak melihat siapa pun, hingga wajahnya sedikit mendongak mendapati seorang lelaki berkemeja hitam agak terbuka di bagian dada sedang berdiri sambil sedikit bertopang tubuh ke pagar yang menyambung dengan tangga.
"Namaku Yamanaka Hina. Aku melihat lowongan dari koran ini," sahutnya sedikit mengangkat koran. "Apa kau Tuan Takeda Shunji?"
Lelaki itu masih terdiam, mengamati Hina dari hazel birunya. Tatapan intens dari kejauhan itu berhasil membuat Hina salah tingkah. Dia merasa tak ada yang salah dengan penampilannya saat ini, tapi kenapa lelaki itu terus menelitinya?
"Kau sangat butuh uang?" tanyanya dengan suara agak bergema, hasil dari suara beratnya yang memantul di ruangan luas sekitar.
"A-ah, ya."
Shun mulai berjalan dengan sepatunya yang mulai mengetuk lantai, menuruni satu persatu tangga berwarna keemasan hingga akhirnya berdiri di depan Hina.
__ADS_1
"Kau pasti sangat membutuhkannya sampai rela ke tempat jauh dan terpencil ini."
Hina melirik ke arah lain dengan canggung. "Ya. Begitulah. Tapi jika... lowongannya sudah ditutup, mungkin aku akan pergi sekarang."
"Masih ada. Kau bisa mulai bekerja hari ini," cetusnya membuat Hina mengerjap selama beberapa saat.
"Lalu... Di mana anaknya, Tuan? Mungkin sebelum mulai mengasuhnya, aku harus... Kau tahu kan? Tak kenal maka tak sayang. Jadi kami harus--"
"Sebentar lagi dia pulang," selanya melenggang dari sana. "Ah, jika dia pulang, langsung saja mandikan dia."
"Ya?" Hina kebingungan.
"Aku akan membuatkanmu teh hangat. Kau bisa menunggunya di sofa sambil istirahat."
"Ba-baik, Tuan."
Tak jauh dari rumah itu, sopir yang tadi mengantar Hina masih melajukan mobilnya menuju ke gerbang besar yang seakan menjadi pemisah antara bagian rumah itu dengan yang lain.
Brakkk!
Mobil berhenti secara mendadak saat sopir itu tak sengaja menabrak seorang anak kecil yang dilihatnya tengah berdiri di tengah jalan sambil memegangi bola.
Sopir itu panik, takut membuat anak yang ditabraknya mati. Meski begitu, ia tak ingin dianggap pembunuh karena lari dari tanggung jawab.
"A-apa itu tadi? Apa... Apa ada hantu di sekitar sini?" monolognya ketakutan. Ia pun buru-buru pergi dari sana menggunakan taksinya.
Padahal seorang anak kecil terlihat tengah berjalan pergi terlihat dari belakang mobil itu sambil melempar-lempar bolanya ke udara.
...----------------...
Hina mulai membuka kedua mata. Dia langsung duduk tegak setelah menyadari dirinya malah ketiduran selama menunggu. Dia mendapati Shun tengah duduk santai di sofa depannya sambil menyesap secangkir teh hangat.
"Ah, maafkan aku. Aku ketiduran. Apa ini sudah malam?" Hina melirik ke arah jendela tak jauh dari pandangannya yang memperlihatkan keadaan di luar memang sudah gelap.
"Baguslah kalau kau sudah bangun. Aku dari tadi menunggumu," kata Shun.
Hina terkesiap saat lelaki itu tiba-tiba ada di hadapannya, memiringkan kepala ke arah leher seakan ingin menggigitnya.
"AAAARGHHH, TIDAK!!!" teriak Hina begitu keras.
Nafasnya terengah-engah. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar dengan sikap waspada. Mimpi barusan terasa begitu nyata, bahkan hembusan nafas lelaki itu saat hendak menggigit lehernya juga masih terasa.
"Kau bermimpi buruk?" tanya seseorang dari belakang yang sontak membuat Hina bangkit.
__ADS_1
"Astaga!" Hina memegangi dadanya yang semakin berdebar. Ketakutan, ditambah sekarang terkejut mendapati seorang anak laki-laki berusia sekitar 6 tahunan ada di sana.
"Kau... Apa kau anak yang tinggal di sini? Di mana ayahmu tadi?" Hina melihat secangkir teh yang mulai dingin sudah tersimpan di atas meja. Artinya, Shun memang sudah sempat menghampiri Hina.
"Ah, kau yang akan jadi pengasuhku?" Anak itu duduk di sofa dengan santai tanpa mempedulikan tubuhnya yang kotor menodai kursi mahal itu.
"Siapa namamu?" tanyanya berkedip polos menatap Hina.
"Yamanaka Hina."
"Namaku Takeda Yuki," jawab Yuki terlihat mengulas senyum geli. "Aku sudah mencium baumu dari kejauhan."
"Apa?" Hina menghirup-hirup tubuhnya dengan perasaan malu.
"Ayo, Hina. Aku ingin mandi," ajaknya turun dari kursi lalu menggapai sebelah tangan Nina untuk digandengnya begitu saja.
"Ah, benar." Shun memang sudah menyuruhnya untuk memandikan Yuki jika datang.
Tapi di mana lelaki itu sekarang?
"Ayahku sudah pergi. Dia akan pulang larut malam," cetus Yuki seakan mendengar pertanyaan dari hati Hina.
Hina pun menunggu Yuki berendam sambil bermain-main busa dalam sebuah bathtub. Ia terduduk dengan perasaan cemas, merasa pekerjaannya ini aneh dan mengganjal. Di sisi lain, ia juga penasaran dengan rumah sebesar kastil itu yang hanya ditinggali oleh dua orang saja.
"Yuki, apa kau hanya tinggal dengan ayahmu di sini?" tanya Hina penasaran.
Yuki mengangguk.
"Lalu... Mmh, di mana ibumu? Apa dia...?"
"Ibuku meninggal setelah aku keluar dari perutnya."
"Apa?" Hina melongo mendengar jawaban santai dari anak itu. "Maafkan pertanyaan lancangku barusan."
"Hina, mau bermain petak umpet denganku?" ajaknya tersenyum jenaka menatap Hina.
"Petak umpet?" Hina menggaruk kecil kepalanya. "Mungkin aku harus pulang setelah ini. Aku tak bisa meninggalkan ayahku. Dia sendirian di rumah sakit, tak ada yang menemaninya selain aku."
"Kau juga tidak punya ibu?" tanya Yuki mendekat ke sisi bathtub untuk melihat Hina lebih dekat.
"Punya. Hanya saja ibuku pergi ke tempat lain." Lebih tepatnya, wanita itu sudah punya keluarga lain.
"Apa ibumu jahat?" celetuk Yuki menyandarkan kepala di sisi bathtub sambil melemparkan tatapan kasihan pada Hina.
__ADS_1
"Tidak," balas Hina mulai bangkit. "Sepertinya kau sudah lama berendam. Ayo kita bersiap-siap sebelum ayahmu kembali."