VAMPIRE SITTER

VAMPIRE SITTER
05. Terjebak Antara Dua Vampir


__ADS_3

Apa aku keluar saja dari sini?


Hina merasa kalau sekarang nyawanya sebagai manusia sedang terancam. Kegelisahan tak hentinya menyelimuti. Ia sampai tak sadar sudah menggigiti kukunya sendiri ketika terduduk penuh pikiran di tepi ranjang.


"Aku harus pergi," tekad Hina lantas bangkit lalu menarik koper yang berisi barang-barangnya yang sudah kembali dikemas.


Ceklek!


Pintu terbuka. Hina keluar dengan perlahan, mencoba agar Yuki ataupun Shun tak tahu jika dirinya akan kabur dari rumah itu.


"Kau mau pergi?" tanya Shun saat bertemu di tengah tangga saat Hina bersusah payah mengangkat kopernya untuk turun.


"A-ah, sepertinya... Sepertinya aku harus pergi. Kau tak perlu membayarku lagi."


"Kau mau pergi dengan berjalan? Tak ada kendaraan lewat di sekitar sini," kata Shun mulai mendekat, membuat Hina malah berjalan mundur menaiki tangga dengan pelan.


"A-aku..."


"Kau sudah tahu kalau kami bukan manusia?" tanya Shun saat Hina terduduk di tangga karena lemas.


"Kau tahu kalau kami adalah makhluk penghisap darah?" lanjut Shun seraya merengkuh dagu Hina untuk mendongak menatapnya.


"Jangan bunuh aku!" pinta Hina memegangi sebelah kaki Shun dengan tatapan penuh permohonan. "Aku masih harus hidup. Jangan ambil darahku. Tolong lepaskan aku."


Shun tersenyum kecil dengan kepala menunduk seakan ada yang sedang menggelitik hatinya.


"Melepaskanmu?" Shun menghela nafas kecil. "Apa selama ini aku sudah mengurungmu? Menawanmu di sini?"


Tidak, sih. Pokoknya Hina hanya ingin saat ini Shun melepaskannya untuk pergi dari sana meski nantinya Hina harus berjalan berkilo-kilo meter untuk mencari kendaraan agar bisa sampai ke kota.


"Aku tidak akan bisa menghisap darahmu sekarang," cetus Shun mulai menegakkan tubuhnya sehingga kini menjulang di depan Hina.


"Yuki juga tak menghisap darah manusia. Jadi kenapa kau takut?"


Karena kalian vampir, sialan!


Hina jadi teringat akan semua mitos tentang vampir ditambah semua referensi kengeriannya dari beberapa film yang pernah ia tonton.


"Baiklah. Kalau kau mau pergi, silahkan."


Shun menyisi, memberikan jalan yang cukup luas bagi Hina untuk pergi dari sana. Dengan cepat, Hina kembali menarik kopernya. Namun saat mencapai tangga akhir, kepala Hina menoleh dan mendapati Yuki tengah berdiri di tangga atas sambil melemparkan pandangan yang begitu sendu sebelum akhirnya pergi kembali ke kamar.

__ADS_1


Kaki Hina kembali melangkah, melihat keadaan di luar sudah sore. Ia terus menarik koper tanpa mempedulikan rasa takut ketika menjauhi rumah itu. Pohon-pohon yang dilaluinya mendadak memberikan sudut gelap yang membuat Hina menundukkan kepala sambil berjalan lurus dengan langkah cepat.


"Yuki," gumam Hina teringat dengan raut sedih anak itu seakan tak ingin Hina pergi. Lebih tepatnya ia sedih karena Hina terlihat takut padanya sampai memutuskan pergi seperti ini.


"Apa aku harus kembali?" pikir Hina menengok ke sana kemari saat dirinya masih berdiri di tengah jalan yang begitu sepi dan hari sudah mulai gelap.


"Ah, persetan. Aku tak ingin mati digigit vampir," tekadnya kembali maju menyeret koper.


Lama berjalan, Hina mulai kelelahan. Ia berkacak pinggang sambil menormalkan nafas. Disadarinya sekitar sudah gelap, hanya mengandalkan cahaya bulan yang mulai tertutup awan malam.


"Ah, aku mati saja di sini," kata Hina terduduk di sana sendirian. Matanya sudah berbinar ingin menangis.


"Ini menyebalkan! Aku tidak ingin mati. Huwaaaaaaaaa," rengek Hina mulai menangis keras di tengah keheningan malam.


"Hina?"


Hina mulai mengangkat wajah dengan air mata yang terus berlinang setelah mendengar panggilan itu.


"Yuki?"


Anak itu melihat-lihat sekitar lalu berlari kecil mengambil ranting yang tiba-tiba menyalakan api di bagian ujungnya setelah disentuh. Cahaya dari api itu menerangi kegelapan yang sedari tadi menyelimuti mereka.


Hina terisak memandangi tangan itu. Hatinya masih ragu karena kenyataan bahwa anak polos dan lucu di depannya adalah vampir penghisap darah. Jika kembali, Hina merasa sudah masuk ke dalam kandang singa.


"Aku tidak akan menggigitmu. Aku janji," ucap Yuki.


Hina membalas uluran itu dengan hati-hati. Ia pun berdiri seraya menyeka air mata dengan sebelah tangannya.


...----------------...


"Pergilah ke kamarmu," titah Shun pada Yuki yang berdiri tak jauh dari Hina.


"Aku ingin bersama Hina," jawab anak itu menundukkan kepala, tak mau melihat tatapan tajam Shun yang kini mengarah lurus padanya.


"Tidak bisakah kau patuh padaku?"


Yuki mengepalkan tangan mendengar nada bicara Shun yang seperti mau membentaknya jika tak ada Hina di sana. Terpaksa, Yuki pun pergi meninggalkan Hina bersama Shun.


"Minumlah," titah Shun yang menyajikan secangkir teh hangat ke meja depan Hina yang terdiam penuh ketegangan sekembalinya ke rumah itu.


"Aku hanya bisa menghisap darah manusia ketika mereka tidur," aku Shun seraya duduk dengan santai di kursi tanpa mempedulikan wajah Hina yang semakin tegang saat ini.

__ADS_1


"Jadi, mimpiku kemarin..."


"Kau beruntung masih kubiarkan hidup," kekeh Shun tak lama. "Kau memiliki seorang ayah yang sedang memiliki penyakit berat. Dan kau membutuhkan uang yang banyak untuk pengobatannya, bukan?"


Rasa takut Hina yang sedari tadi membuatnya tegang perlahan surut ketika Shun mengungkit Naoya.


"Coba kuingat, siapa namanya tadi? Mmh... Yamanaka Naoya?"


Hina sontak bangkit, mengambil cangkir teh yang ia tumpahkan begitu saja untuk menggunakan cangkirnya sebagai senjata ancaman pada Shun.


"Kalau kau berani menyentuh ayahku, aku tak akan segan-segan bilang pada dunia kalau kau adalah vampir! Mereka akan memburumu," ancamnya.


Shun melirik tumpahan teh buatannya di atas meja. Bukan ancaman Hina yang membuat geraman kecil muncul dari tenggorokan, melainkan melihat teh buatannya yang masih belum diminum dan hangat, malah dibuang begitu saja.


"Kau tahu? Aku berbohong saat bilang hanya bisa menghisap darah manusia dalam mimpi mereka," ungkap Shun yang bangkit dari duduk. Ia melangkah santai mendekati Hina yang terus mundur sampai kembali terduduk karena sofa di belakang menghalangi pergerakannya.


"Saat kau kemari, untuk pertama kalinya, aku tergiur dengan aroma manusia. Makannya aku datang ke mimpimu agar aku bisa mencicipi lalu menghisap darahmu sampai habis. Tapi saat merasakan darahmu di luar mimpi, itu membuatku tersadar kalau aku bisa menggigitmu sekarang juga," tuturnya sambil mengukung Hina bahkan Shun memiringkan kepala hendak menargetkan leher Hina.


Saat itu, tubuh Shun seakan ditarik oleh angin, menjauh dari Hina hingga tubuhnya terlempar sampai membentur tembok cukup keras.


Hina melotot kaget melihat kejadian itu. Yuki menurunkan sebelah tangannya lalu berdiri di dekat Hina dengan mata mengarah penuh ketegasan pada Shun tengah berusaha berdiri.


"Jangan menyentuh Hina! Aku tak akan membiarkanmu menghisap darahnya," ancam Yuki penuh pembelaan.


Shun tersenyum sinis merapikan penampilan sebelum akhirnya mengalihkan hazel birunya pada Yuki.


"Apa kau sengaja mau menyombongkan kekuatan di depanku?"


Yuki mundur, berusaha melindungi Hina di belakangnya saat Shun kembali datang mendekati mereka dengan air muka lebih dingin dari sebelumnya.


"Kau harusnya tidak meremehkanku. Kau harusnya tidak ada di dunia ini untuk membuatku lebih banyak menyimpan kebencian pada sesuatu."


Hina tak mengerti apa yang sedang anak dan ayah itu perdebatkan. Namun melihat ketegangan di antara keduanya membuat Hina memilih untuk diam dari pada menjadi korban.


"Keberadaanmu di sini hanya membawa bencana!" seru Shun sebelum melenggang pergi dari sana.


Hina memandangi punggung Yuki yang mulai surut, menghilangkan rasa percaya diri yang tadi keluar. Kepalanya tertunduk seakan tengah menangisi sesuatu yang membuat hatinya merasa begitu sedih.


Apa yang terjadi?


Hina malah jadi bingung, terjebak di antara dua vampir di malam itu.

__ADS_1


__ADS_2