
"Berjanjilah satu hal padaku, Shun. Jagalah Yuki dengan baik. Aku mencintai kalian berdua..."
Kalimat itu terus terngiang dalam pikiran. Kedua mata Shun bahkan masih terbuka padahal ini sudah pagi. Ia berdiri di depan jendela kamarnya, mengamati Hina yang sedang berjalan sambil dituntun oleh Yuki keluar.
"Cinta," gumam Shun seakan tengah bertanya sesuatu dalam hati dan pikirannya.
Selama ini, Shun tak pernah melihat Yuki banyak bicara atau bahkan tersenyum. Shun banyak mengabaikannya, bahkan menganggap jika anak itu tak pernah ada di dunia ini. Namun permintaan mendiang istri untuk menjaga Yuki membuat Shun memilih untuk menyewa pengasuh dibanding dijaga oleh dirinya sendiri.
Lihatlah saat ini. Yuki yang selalu murung, bermain sendiri di pekarangan rumah dengan bola kumalnya, dan berlarian sendiri berburu di hutan, sekarang seperti orang bahagia dan hidup setelah ditemani Hina.
Harusnya istrinya, Nakahara Sako, yang saat ini ada di posisi Hina. Seharusnya dia saat ini memandangi Sako yang sangat dicintainya, bukannya Hina.
"Ah, bodoh sekali!" geram Shun pada dirinya sendiri yang mulai dilema.
Sementara itu...
"Hina, apa lukamu masih terasa sakit?" tanya Yuki mendongak dengan polos sambil memeluk bolanya yang mulai kempes.
"Tidak. Ini sudah agak baikan," balas Hina mengelus pergelangannya yang dililit perban.
"Lihat. Aku sudah berlatih ini selama kau istirahat."
"Apa?"
Yuki melempar bolanya ke atas lalu dia sundul-sundul dengan kepala hingga bola itu kini malah memantul jauh darinya. Yuki dan Hina sama-sama menoleh pada bola yang menggelinding ke depan kaki Shun yang tiba-tiba ada di sana.
Hina melongo melihat Shun menginjak bola itu dengan keras sampai benar-benar kempes dan rusak. Dilihatnya Yuki yang mengepalkan tangan penuh dendam pada Shun.
"Bola tidak berguna!" seru Shun menendangnya asal dari hadapan.
"Hei, kenapa kau kasar sekali? Itu mainan milik Yuk--"
"Masuklah ke mobil," titah Shun yang berbalik mendekati mobilnya terparkir tak jauh dari sana.
"Apa maksudnya?" gumam Hina tak mengerti.
"Kau juga," lanjut Shun menoleh menatap Yuki. "Masuk ke mobil."
Alhasil, Hina dan Yuki pun berada di dalam mobil. Mereka bertiga hanya diam di sepanjang perjalanan. Hina merasa canggung karena Shun fokus menyetir dan Yuki hanya diam di kursi belakang sambil memalingkan wajah memandangi jalanan di luar.
"Kau mau membawa kami ke mana?" tanya Hina sedikit ragu juga curiga.
"Jangan banyak bertanya. Kau ikut saja," balas Shun acuh.
Hina mencebik sebal. Meski begitu, ia tetap ikut hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah toko mainan anak-anak yang begitu besar.
"Apa maksudmu membawa kami kemari?" tanya Hina saat baru keluar dari mobil.
__ADS_1
"Tidak bisakah kau diam? Kau pengasuhnya. Lakukan saja apa yang menjadi tugasmu. Aku membayarmu mahal-mahal bukan untuk terus bertanya padaku."
"Kenapa kau malah memarahiku? Aku hanya bertanya, Tuan. Tidak bisakah kau jawab dengan baik saja?"
"Astaga, aku tidak marah. Aku hanya--" Kalimat Shun terhenti saat matanya melirik ke arah Yuki yang mulai masuk ke dalam toko itu dengan senyuman senang.
"Temani dia. Aku akan menunggu dalam mobil," titah Shun hendak membuka pintu.
Hina langsung menahan Shun hingga pintu mobil tertutup kembali. "Kau ayahnya. Kau juga harus menemaninya."
Terpaksa, Shun ikut bersama Hina dan Yuki yang sedang asyik melihat dan memilih berbagai mainan di sana. Dia hanya berjalan dengan malas mengikuti keduanya dari belakang. Sementara Hina tengah asyik membahas satu per satu mainan yang bisa Yuki beli.
"Hina?"
Panggilan itu membuat Hina menoleh pada seorang lelaki yang berjalan mendekatinya.
"Kei-Keiji?" Hina melirik Yuki yang tiba-tiba menggenggam sebelah tangannya.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Hina penasaran.
"Aku sedang memilih mainan untuk Hisato," jawabnya.
Ah, Hina tahu jika Akibara Hisato adalah adik dari tunangan Keiji saat ini, Akibara Rinako.
...----------------...
"Kau suka game perang?" tanya Keiji ketika mengambil sebuah pistol mainan yang menyala dan bersuara.
"Kau tidak suka?" tanya Keiji agak kecewa. "Padahal Hisato menyukai ini."
Hina hanya tersenyum kikuk membalas Keiji yang sedari tadi berusaha mengajak bicara Yuki.
"Ah, bagaimana kalau mobil-mobilan?" usul Keiji berlari kecil ke rak lain yang berisi mainan mobil-mobilan terbungkus lalu kembali.
"Ini. Kau suka? Ini bisa melaju sendiri menggunakan remote."
Yuki mengambil mainan itu tanpa mau buka suara. Meski begitu, Keiji tetap tersenyum ramah bahkan saat ini mengelus gemas rambut Yuki.
"Kau mau lihat mainan lain? Aku punya banyak rekomendasi di sini. Kau pasti sangat menyukainya," bujuk Keiji.
Yuki mengangguk kecil, kembali menggandeng tangan Hina lalu pergi bersama Keiji yang merangkul punggung Yuki di sebelahnya.
Hal itu membuat Shun yang sedari tadi mengamati dari belakang merasa aneh. Perasaannya seakan terganggu, apalagi membayangkan tiga orang itu adalah keluarga.
Bayangan itu mendadak berubah menjadi dirinya, Yuki, dan Sako. Shun berjalan lurus menyusul mereka dan...
"Kau sudah menemukan mainannya?" tanya Shun sambil memegang lengan Hina yang kini berbalik.
__ADS_1
"Ah, sepertinya Yuki ingin mainan lain. Tapi dia juga ingin mobil-mobilan itu," jawab Hina. "Yuki, kau mau bola juga?"
Yuki mengangguk.
"Jika sudah, ayo kita pulang," ajak Shun.
Keiji yang tak mengerti apapun keadaan itu mulai bertanya, "Hina, ini temanmu?"
Hina melirik ke arah Shun. "Ah, dia ayahnya Yuki."
"Oh, begitu." Keiji menjulurkan sebelah tangan pada Shun. "Namaku Ishimoto Keiji."
"Takada Shunji," sahut Shun acuh tanpa mau membalas uluran tangan Keiji.
"Ayo kita pergi setelah kalian mendapat mainannya," ajak Shun.
Hina pun pamit pergi duluan saat Keiji masih harus mencari mainan lain untuk Hisato. Lelaki itu terheran dengan sikap dingin Shun seakan tak ingin Hina berada di sana lebih lama bersama Keiji.
Perjalanan kembali dilalui dengan keheningan bahkan ketegangan. Meski membeli banyak mainan, Yuki tak terlihat senang sama sekali sedari tadi. Suasananya begitu kaku sampai Hina merasa ingin lompat pergi saja dari mobil itu.
"Berhenti di sini!" seru Hina.
"Kenapa aku harus berhenti?" tanya Shun meliriknya tajam.
"Aku ingin mengajak Yuki jalan-jalan dulu. Jika kau tak mau ikut, kau bisa tunggu di mobil."
"Sebentar lagi malam," kata Shun masih terus melajukan mobil.
"Kubilang berhenti, Tuan Shun. Aku hanya ingin melakukan tugasku sebagai pengasuh untuk membuat putramu nyaman dan terhibur," tutur Hina berusaha mengulas senyum ramah.
Shun pasrah. Mereka berhenti di sebuah taman hiburan yang mulai dikunjungi banyak orang. Meski dirinya vampir, syukur Shun tidak seperti vampir umumnya yang tergiur untuk menghisap darah manusia di mana pun mereka berada.
Shun dan Yuki adalah vampir berbeda. Mereka tak merasa haus akan darah, bahkan bisa berbaur dengan manusia lainnya tanpa ada masalah apapun.
"Kau mau ikut?" tanya Hina yang membuyarkan lamunan Shun.
"Apa?"
"Menaiki komedi putar. Kau mau ikut?" tunjuk Hina pada wahana di depannya yang membuat kening Shun mengernyit aneh.
"Ya sudah. Kau tunggu saja di sini. Kami akan pergi menaiki wahana itu dulu." Hina menggandeng tangan Yuki. "Ayo!"
Yuki mengangguk antusias. Mereka berdua pun pergi dari hadapan Shun yang hanya diam memandangi punggung keduanya yang semakin menjauh.
Hangat.
Shun yakin jika hatinya merasa hangat. Tapi dari mana itu muncul?
__ADS_1
Di samping kebenciannya pada Yuki, setelah melihat anak itu antusias dengan Hina, membuat Shun merasa... lega?
"Ah, sial!" caci Shun memalingkan wajah ke arah lain.